My Culun CEO

My Culun CEO
Miliki Aku Malam Ini



Nathan sudah kembali ke kantor setelah meeting diluar bersama Harvey. Ia segera menuju ke ruangannya karena ia ingin melihat keadaan Sheila. Sejak kepulangan mereka dari Paris, Sheila lebih banyak murung dan jarang bicara.


Nathan tahu ini pasti karena Tarjo. Pria culun itu telah membuat dunia Sheila terbalik. Tapi Nathan sudah bertekad untuk berhenti menjadi Tarjo. Ia tak bisa membohongi Sheila lebih dari ini.


Nathan akan menggantikan sosok Tarjo. Itulah yang direncanakannya saat ini. Ia sudah keluar dari rumah kontrakan dan juga pekerjaannya di bengkel.


Dengan percaya diri, Nathan melangkah dengan membawa makanan kesukaan Sheila. Senyum sumringah menghiasi wajah tampannya.


Tiba di ruangan Sheila, Nathan tertegun karena mendengar suara isakan tangis dari dalam. Itu adalah suara tangisan Sheila. Ia juga mendengar curahan hati Sheila yang merindukan sosok Tarjo.


Nathan kembali dilema. Tekadnya yang sudah bulat untuk membuat Sheila melupakan Tarjo nyatanya kembali di uji. Ia mengusap wajahnya kasar.


Niatnya yang akan menemui Sheila kembali pudar dan malah kembali pergi meninggalkan gedung Avicenna Grup. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup kencang.


Nathan marah. Ia marah pada dirinya sendiri. Ia marah karena dirinya terlalu lemah. Ia lemah jika melihat air mata seorang gadis. Apalagi gadis itu adalah gadis yang ia cintai.


...💟💟💟...


Hari libur kembali menyapa, Sheila yang biasanya pulang ke rumah orang tuanya, kini hanya berdiam diri di rumah kontrakannya. Ia bergulang guling diatas tempat tidur dan hanya bermalas-malasan. Ia mengutak-atik ponselnya namun bingung ingin menghubungi siapa.


Sheila mengirim pesan pada Naina. Namun sepertinya Naina tidak mengaktifkan ponselnya.


"Hmm, pada kemana sih semua orang?" gerutu Sheila yang seakan tak memiliki teman. Memang Sheila tidak memiliki banyak teman.


Suara ketukan di pintu rumahnya membuat Sheila terkejut. "Siapa yang datang? Jangan-jangan si gumpalan es!"


Sheila bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu rumahnya. Tubuhnya membeku melihat siapa yang ada di depan pintu rumahnya.


"Hai, Sheila..." sapa orang itu.


Sheila tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sosok yang selama ini dirindukannya kini tiba-tiba muncul. Gemuruh dihatinya bercampur menjadi satu.


Marah, senang, kecewa dan juga cinta. Semua rasa melebur menjadi satu.


"Maaf..." Hanya satu kata yang bisa diucapkan oleh pria yang kini berhadapan dengan Sheila.


Buliran bening meluncur bebas ke pipi Sheila.


"Maafkan aku..."


Tangis Sheila makin keras. Ia tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa menangis. Dengan sigap pria itu segera membawa tubuh Sheila kedalam pelukannya.


"Maafkan aku..." ucapnya berkali-kali.


Setelah cukup menangis, kini Sheila duduk bersebelahan dengan sosok yang tak lain adalah Tarjo. Ya, setelah berminggu-minggu tak ada kabar, kini Tarjo kembali ke kehidupan Sheila.


"Kemana saja kamu selama ini?" tanya Sheila merengut. Suaranya serak karena menangis.


"Maaf, Shei."


Sheila memukul lengan Tarjo. "Sejak tadi kamu hanya meminta maaf. Sebenarnya apa maumu?" sungut Sheila.


"Aku hanya..."


"Sheila!" Sebuah suara lain mengejutkan Sheila dan Tarjo.


"Mama?!" Sheila menatap Tarjo lalu menatap Sandra.


Sandra mendatangi dua orang yang sedang duduk di sofa. Sheila bangkit dari duduknya diikuti Tarjo. Pria culun itu hanya bisa menundukkan wajahnya.


"Apa ini? Siapa dia?!" tanya Sandra yang terlihat marah.


"Ma, aku bisa jelaskan semuanya!" Sheila panik karena hubungannya dan Tarjo telah diketahui oleh Sandra.


Sandra menarik tangan Sheila dan membawanya ke kamar gadis itu.


"Ma, dengarkan dulu penjelasan Sheila. Aku tahu aku salah. Tapi aku sudah menjalin hubungan dengan Tarjo jauh sebelum aku bertunangan dengan Nathan. Dan Nathan juga tahu kalau aku sudah memiliki kekasih."


Sandra memegangi kepalanya. Ia terduduk di tepi ranjang.


"Apa kamu tahu jika papamu sedang sakit? Jika papamu tahu soal ini, dia pasti akan sangat syok. Kamu tahu itu kan, Shei?"


"Maafkan Sheila, Ma. Tapi Sheila mencintai Tarjo, Ma. Sheila tidak bisa melanjutkan pertunangan ini!"


Sandra menggeleng pelan. "Keterlaluan kamu, Shei. Tega sekali kamu melakukan ini pada mama dan papa! Sebaiknya cepat akhiri hubunganmu dengan pria itu! Kamu sudah bertunangan, Shei. Apa yang akan kita katakan pada keluarga Nathan nanti?"


"Mama... Aku pikir mama bisa mengerti aku. Selama ini aku selalu menuruti semua keinginan mama dan papa. Sheila hanya minta satu hal sama mama. Sheila ingin hidup bersama Tarjo. Hanya itu, Ma!"


Sandra menggeleng kemudian keluar dari kamar Sheila. Sebelum pergi, ia menatap Tarjo dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia tak berpamitan pada Sheila maupun Tarjo.


Sheila kembali menangis di dalam kamarnya. Ia tak menyangka jika Sandra akan datang secara mendadak.


Tarjo masih diam di ruang tamu. Ia merasa sangat bersalah karena sudah membuat Sheila dibenci oleh ibunya sendiri. Sepertinya ia kembali salah dalam mengambil keputusan.


Tarjo melepas kacamatanya dan mengusap wajahnya. Ia mengambil air minum di dapur dan meneguk beberapa gelas air hingga tandas.


"Apa yang harus kulakukan sekarang? Semuanya bertambah rumit karena aku kembali menjadi Tarjo!"


Tarjo kembali menenggak air hingga tandas. Tenggorokannya terasa kering.


"Aarrgghh! Sial! Aku memang bodoh!"


Tarjo menghampiri Sheila yang masih belum keluar dari kamarnya. Ia melihat Sheila duduk di tepi tempat tidurnya.


Tarjo duduk di samping Sheila. Ia menatap wajah gadis itu sendu. Sungguh ia tak ingin menambah masalah untuk Sheila. Tapi nyatanya semua sudah terlambat. Semua sudah terjadi dan ia harus menghadapi ini.


"Shei..." ucap Tarjo pada akhirnya.


"Jo..."


Sheila menatap Tarjo dengan lamat dan dalam. Ia meraih wajah Tarjo dan merangkumnya.


"Miliki aku malam ini, Jo..."


Tarjo membulatkan mata. "Apa yang tadi Sheila katakan?"


"Tolong miliki aku, Jo. Dengan begitu semua orang tidak bisa memisahkan kita. Kumohon..."


"Astaga, Sheila! Kenapa kau..."


Tanpa bisa berkata lagi Tarjo hanya bisa diam ketika Sheila sudah membungkam bibirnya. Sebuah ciuman biasa yang kemudian berubah menjadi lebih dalam dan panas.


Sheila menarik tubuh Tarjo naik keatas ranjang. Pertautan mereka tak terlepas sama sekali. Tangan Sheila melepas satu persatu kancing kemeja milik Tarjo.


Mereka saling menatap untuk beberapa detik. Sheila melepaskan kemeja Tarjo dan nampaklah tubuh bagian atas Tarjo di depan matanya.


Sheila kembali menarik Tarjo dan mencium bibirnya dengan lembut. Tarjo membalas tak kalah lembut namun menuntut. Gairah mereka sama-sama tak bisa dihentikan.


Tarjo menciumi leher Sheila hingga tubuhnya meremang. Ia memeluk leher Tarjo erat.


"Miliki aku, Jo..." bisik Sheila dan membuat Tarjo kembali melumaat bibir Sheila. Sheila melepas kancing piyama tidurnya dan memperlihatkan tubuh indahnya di depan Tarjo.


Tentu saja itu membuat Tarjo menelan ludahnya. Ia adalah pria normal. Dan gairahnya memuncak karena Sheila kembali menarik tubuhnya mendekat dan tak berjarak.


#bersambung...


*Hayooo, Tarjo khilap kagak nih, hihihi


Buat yg geregetan karena semua gak kebongkar2, tahan yes, puasa masih 28 hari lagi, heheh. Tunggu kejutan selanjutnya 😘😘😘