
Merlin berteriak memanggil ayahnya yang sedang bekerja di kebun. Akhirnya ia kembali ke kampung halamannya setelah lama merantau.
Drajat begitu terkejut melihat putrinya kembali ke kampung. Drajat memeluk putrinya dengan erat.
"Bagaimana kabarmu, Nak?"
"Aku baik. Bagaimana kabar Bapak?"
"Seperti yang kau lihat. Bapak baik-baik saja."
Tak ingin ayahnya banyak bertanya, Merlin segera masuk ke dalam rumah bersama sang ayah. Meski Drajat merasa ada yang tidak beres dengan putrinya, tapi ia tidak ingin banyak bertanya. Biarlah Merlin sendiri yang akan bercerita kepadanya.
Sementara di tempat berbeda, Giga merasa separuh jiwanya hilang entah kemana. Ingin sekali membantah keputusan ayahnya yang memecat Merlin. Giga sungguh banyak berubah dan itu karena Merlin.
Tak terasa enam bulan bulan telah berlalu. Giga sudah memantapkan hati untuk terus melanjutkan hidup dan memimpin perusahaan menggantikan Nathan.
Nathan memberi hukuman pada Mira dengan mengasingkannya jauh dari keluarga Avicenna. Nathan mengangkat Karel untuk menjadi wakil Giga mewakili Avicenna Grup.
Giga benar-benar bekerja dengan serius. Hingga semua orang heran dengan perubahan yang terjadi pada pria itu.
"Aku tidak menyangka jika kau sudah sangat berubah, Giga," ucap Karel saat mereka baru saja menemui klien.
Giga tersenyum sinis. "Semua orang bisa berubah kan? Aku hanya ingin melanjutkan hidupku saja."
Karel mengangguk paham. Getaran di ponselnya membuatnya harus sedikit menyingkir untuk menerima panggilan.
"Ada apa, Carissa? Sudah lama kau tidak menggangguku dan sekarang kau kembali hadir." Karel duduk berhadapan dengan Carissa di sebuah kafe.
"Aku hanya ingin berpamitan."
Karel mengerutkan kening. "Kau mau pergi?"
Carissa mengangguk. "Aku akan pergi ke New York. Aku akan tinggal disana."
"Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Giga?" tanya Karel basa basi.
"Kau mengejekku? Aku dan Bang Giga bahkan denganmu tidak memiliki hubungan apapun!" tegas Carissa sedikit kesal.
"Ya tapi sebaiknya kalian selesaikan semuanya sebelum kau pergi."
Nasihat yang diberikan Karel, nyatanya benar-benar dilakukan oleh Carissa. Gadis itu menghubungi Giga dan meminta untuk bertemu. Meski malas meladeni Carissa, tapi Giga tetap menemuinya untuk alasan kesopanan.
"Aku ingin kita berpisah secara baik-baik." Carissa mengutarakan maksudnya.
"Kita sudah lama berpisah, Rissa."
"Aku tahu! Tapi aku tidak pernah menganggap kita putus! Sekarang ... kita akan benar-benar berpisah. Aku akan pindah ke New York. Aku akan meniti karir disana." Kalimat Carissa terasa tercekat.
"Selamat kalau begitu. Aku harap kau menemukan kebahagiaanmu disana."
Carissa tersenyum getir. "Harusnya kau katakan itu pada dirimu sendiri. Jika kau memang mencintai Merlin, maka kejarlah! Cinta tidak akan menunggumu, Bang. Cinta haruslah diperjuangkan, harus dikejar. Sama seperti aku yang dulu mengejarmu. Ya meskipun ... kisahnya tidak seindah yang kumimpikan."
Giga hanya membalas dengan seulas senyum. Entah kenapa Carissa merasa jika Giga banyak berubah.
"Ini! Alamat Merlinda. Kau kejarlah dia dan perjuangkan dia! Aku yakin Om Nathan akan melihat perjuangan cintamu kali ini." Carissa menyodorkan secarik kertas ke hadapan Giga.
"Kalau begitu aku pergi, Bang. Semoga saat kita bertemu lagi, kau benar-benar sudah menemukan kebahagiaanmu." Carissa pamit undur diri dari pandangan Giga.
Giga memandangi kertas yang ada di atas meja. Hatinya dilema apakah harus mengambil kertas itu atau tidak.
#
#
#
Merlin bekerja di sebuah gudang swalayan sebagai seorang manajer. Tak jarang ia juga ikut membantu untuk mengangkat barang-barang. Merlin sudah terbiasa dengan pekerjaan ini. Memang sangat berbeda dengan pekerjaan menjadi seorang asisten pribadi.
Merlin menyeka keringatnya. Ia duduk sebentar untuk beristirahat dan merekap barang yang masuk ke gudang.
"Mbak Merlin, ada yang mencari Mbak tuh!" Seorang pekerja menghampiri Merlin.
"Siapa, Pak?" tanya Merlin.
"Aku!" Sebuah suara yang sudah lama tidak didengar oleh Merlin membuat matanya membulat sempurna.
"Tuan Giga?" gumam Merlin.
Dengan santainya Giga melihat-lihat sekeliling tempat Merlin bekerja.
"Jika hanya segini, aku rasa aku bisa membeli ini!" ucap Giga yang mendapat cibiran dari Merlin.
"Jangan menggunakan hartamu untuk merendahkanku. Pergilah! Aku sedang bekerja!" Merlin berlalu pergi namun Giga mencekalnya.
"Kita harus bicara!" tegas Giga sambil menatap Merlin tajam.
Merlin membawa Giga ke sebelah gudang yang agak sepi.
"Aku minta maaf karena baru sekarang aku menemuimu. Butuh waktu yang lama untuk meyakinkan hatiku jika aku tidak bisa hidup tanpamu!" ucap Giga tanpa perlu berbasa basi lagi.
"Kita tidak memiliki hubungan apapun, Tuan. Jadi jangan membebani hati Tuan!" tegas Merlin.
Giga tersenyum kecut. "Kau yakin? Kau yakin kita tidak memiliki sesuatu dalam hati kita? Kau yakin kau tidak mencintaiku?"
"Tuan, aku tidak..." Tanpa banyak menunggu, Giga menarik tubuh Merlin dalam dekapannya.
Merlin merasa hatinya terenyuh mendengar pengakuan Giga. Bahkan pelukan Giga begitu hangat hingga menyentuh hatinya. Jujur ia juga sangat merindukan mantan bosnya itu.
#
#
#
Merlin mempersilakan Giga masuk ke dalam rumahnya. Ayahnya sedang pergi ke kampung lain untuk bekerja. Tinggalah Giga dan Merlin di rumah itu.
"Aku sudah menceritakan semuanya pada bapak. Dia merasa sangat bersalah pada keluarga Tuan."
"Jangan memanggilku tuan. Aku bukanlah tuanmu."
"Kenapa kau bisa ada disini? Apa ayahmu tidak marah kau pergi kesini? Apa dia tahu jika kau..."
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Merlin. "Kau terlalu banyak bicara, sepertinya aku harus membungkammu." Giga menyeringai.
"Apa maksudmu?"
Giga menarik tubuh Merlin. "Aku mencintaimu, Merlinda. Dan aku ingin kau terus berada disisiku. Tidak peduli kau anak seorang penculik atau siapapun. Yang jelas aku mencintaimu."
"Tapi, Tuan..."
Giga kembali menautkan bibirnya dengan bibir Merlin. Semua terjadi begitu saja. Merlin juga sangat menyukai sentuhan Giga kali ini. Terasa begitu lembut dan meluluhkan hatinya.
Giga mengusap bibir Merlin. "Aku akan memperjuangkan cinta kita, Merlinda. Aku janji!"
Merlin menundukkan kepala. Ia tidak tahu harus menjwab apa. Hatinya memang mencintai Giga, tapi ia merasa halangan dari keluarga Giga pastilah akan menjadi dinding pembatas bagi hubungan mereka.
"Bisakah aku meminta sesuatu darimu?" tanya Merlin.
Giga mengangguk.
"Jika kau benar-benar mencintaiku, apakah kau bersedia untuk meninggalkan seluruh embel-embel keluargamu? Apa kau bersedia melepas statusmu sebagai seorang CEO dan masuk dalam kehidupanku yang seorang biasa?"
Giga menatap Merlin lekat. Ia tahu jika Merlin hanya khawatir. Khawatir akan penolakan yang dilakukan oleh keluarga Avicenna.
"Jadi, kau ingin aku masuk ke dalam duniamu?" tanya Giga.
Merlin mengangguk. "Aku tidak mungkin masuk dalam duniamu. Kita terlalu banyak berbeda."
Giga melepaskan pelukannya. "Jika aku bisa melakukannya, apa kau bersedia untuk bersama denganku? Menikah denganku dan hidup bersama denganku selamanya?"
Merlin tersentak. "Apa Tuan sedang melamarku?"
"Iya! Aku sedang melamarmu. Dan aku ingin kita segera menikah!"
Merlin berpikir sejenak.
"Kau yakin bisa meninggalkan semuanya demi aku?" tanya Merlin ragu.
Giga terdiam. Ia hanya mengulas senyum penuh arti kepada Merlin.
#
#
#
Jodoh itu memang tidak tertebak. Terkadang apa yang kau inginkan, tidak selalu kau dapatkan.
Terkadang hal yang kau benci, itu adalah hal terbaik untukmu. Semuanya butuh perjuangan. Bahkan ketika cinta sampai di titik yang paling rendah, kita tidak tahu apa yang bisa membuatnya kembali hangat.
Satu yang pasti, cinta akan membawamu kembali pada apa yang kau sebut cinta sejati. Kemanapun kau pergi, cinta pasti akan membawamu kembali kepadaku...
#
#
#
Desa Selimut,
"Tolong perhatikan lagi material bahan-bahan untuk bangunan ini ya!" titah Giga pada para pekerja proyek.
"Tuan, hari ini sepertinya akan ada badai. Tuan kembali saja ke pondok! Saat malam hari udara juga akan sangat dingin," ucap seorang sesepuh desa.
Giga mengangguk kemudian berjalan kembali ke pondok. Tiba di dekat pondok, Giga melihat seseorang tengah menunggunya.
"Sayang, udaranya mulai dingin, kenapa tidak menunggu di dalam saja?" ucap Giga.
"Aku sengaja menunggumu. Aku ingin masuk bersamamu."
Giga tersenyum pada wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya.
"Baiklah. Kalau begitu berikan aku pelukan! Aku merasa kedinginan saat ini!" Giga merentangkan tangannya dan disambut oleh sang istri.
"Aku tidak akan tenang sebelum aku memelukmu!" ucap sang istri.
Mereka berdua pun saling berpelukan di depan pondok. Untuk beberapa bulan ke depan mereka akan tinggal di desa Selimut ini karena Giga harus mengurus proyek yang dulu pernah mereka rancang bersama.
...T a m a t...