My Culun CEO

My Culun CEO
Pria yang Hangat (1)



Tarjo kembali ke rumah kontrakannya dengan mengendarai sepeda motor. Matanya melirik ke arah rumah Sheila ketika melewatinya. Pikirannya memang sedang kacau karena banyaknya kejutan di hari ini.


Tarjo memasuki rumah. Masih pukul sembilan malam dan dia menunggu Sheila yang biasanya datang menemuinya. Namun setelah menunggu beberapa saat, Sheila tak kunjung datang.


Tarjo menghela napas kasar. "Sudahlah! Mungkin dia sudah tidur."


Tarjo memandangi dirinya di depan cermin. Sejak menjadi Tarjo, ia jadi lebih sering mematut diri di depan kaca.


Kata demi kata yang diucapkan kakaknya kembali terngiang. Sungguh ia tak bermaksud menyakiti Sheila dan juga keluarganya.


Tarjo mengusap wajahnya. Lagi dan lagi ia kembali galau dengan keputusannya menjadi Tarjo.


Malam kian larut namun mata tak jua terpejam. Tarjo membolak-balikkan badan mencari posisi yang bisa membuatnya terpejam. Dan masih juga gagal.


"Aarrgghh!" Tarjo bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.


Ia membasuh muka berharap semua bayangan buruk tidak akan pernah terjadi. Ia menatap cermin kembali.


"Aku tidak akan membiarkan Sheila berselingkuh. Aku harus mendapatkan hati Sheila sebagai Nathan, bukan Tarjo."


Nathan yang tak memakai aksesoris sebagai Tarjo akhirnya mengendarai motornya di tengah malam yang galau ini. Ia pergi meninggalkan rumah kontrakannya. Ia mengikuti apa yang dikatakan hatinya saat ini.


Nathan tiba di rumah Agus dan mengetuk pintu dengan sopan. Ya meskipun bertamu di tengah malam tentunya tidak sopan.


"Tuan Nathan?" Agus membulatkan mata. Ia mengucek matanya karena takut ia salah lihat.


"Ini saya kembalikan kunci motor bapak," ucap Nathan.


"Heh?!" Agus masih tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.


"Tuan mau kemana?" tanya Agus.


"Aku akan ke apartemen." Nathan meminta kunci mobilnya. Kemudian ia berpamitan pada Agus yang masih kebingungan.


Nathan melajukan mobilnya dengan cukup kencang. Beruntung jalanan sudah lengang karena sudah tengah malam.


Nathan tiba di apartemennya pukul satu dini hari. Tubuh lelahnya langsung ia rebahkan di kasur empuk miliknya. Kasur king size ini bisa membuatnya bergerak dengan bebas kesana kemari. Tak seperti kasur yang ditempatinya di rumah kontrakan.


Nathan terbangun karena bunyi alarm dari ponselnya yang cukup memekakkan telinganya. Tangannya terulur mengambil ponsel diatas nakas. Pukul lima pagi, batin Nathan.


Nathan segera bangun dan menuju kamar mandi. Kehidupannya telah diatur sedemikian rupa, jadi ia terbiasa dengan hidup disiplin.


Nathan mencuci wajah dan menggosok gigi. Ia mengganti kaus tidurnya dengan kaus tanpa lengan. Ia menuju tempat gym kecil yang ia buat di apartemennya. Ia berlari kecil di threadmil lalu mengangkat beban.


Sudah lama Nathan kurang berolahraga karena harus menjadi Tarjo. Keringat mulai bercucuran di tubuhnya. Menambah kesan tampan yang terpancar di wajah Nathan.


Tiga puluh menit dirasa cukup untuk berolahraga. Ia mengambil handuk lalu menyeka peluh yang membasahi pelipisnya.


Ia menuju dapur dan menyiapkan sarapan sehat untuk dirinya sendiri. Sepotong sandwich lengkap dengan isian sayur dan daging rendah lemak. Ia membuatkan satu porsi untuk ia berikan pada Sheila.


Usai sarapan, Nathan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Dirinya kembali mematut diri di depan cermin dan menyisir rambutnya dengan rapi.


Pukul 07.30 Nathan telah tiba di depan rumah kontrakan Sheila. Sheila yang baru saja keluar rumah dan mengunci pintu, dikejutkan dengan kedatangan Nathan. Matanya membola dengan mulut sedikit menganga.


"Nathan?" gumam Sheila.


"Hai, selamat pagi, Sheila..." sapa Nathan dengan senyum merekah di bibirnya.


"Ada apa dengannya? Kenapa dia ada disini? Dan ada apa pula dengan senyum itu?" batin Sheila meleleh dengan senyum manis di wajah pria itu.


Sheila ingin menolak tawaran Nathan untuk berangkat bersama dengannya. Tapi rasanya tidak etis. Sheila melirik cincin di jari manisnya. Nathan adalah tunangannya. Dan Sheila harus ingat itu.


Sheila mengangguk menyetujui ajakan Nathan. Pria itu segera membukakan pintu untuk Sheila.


"Terima kasih," ucap Sheila yang merasa tidak enak dengan Nathan.


Nathan berjalan memutar lalu duduk di kursi pengemudi. Nathan mengambil satu kotak sandwich yang tadi dibuatnya.


"Ini, makanlah!" ucap Nathan.


Sheila menatap kotak makan itu. Ada sedikit keraguan namun Sheila menerimanya. Sheila masih memperhatikan Nathan yang kini sibuk menatap arah depan. Mobil telah melaju menuju gedung Avicenna Grup.


Tiba di kantor, Nathan dan Sheila segera masuk ke ruangan masing-masing. Nathan langsung sibuk dengan pekerjaannya.


Sheila membuatkan secangkir kopi untuk Nathan. Pria itu hanya mengangguk seraya mengucap terima kasih. Bibirnya tak bisa mengucap karena ia sedang berbicara di sambungan telepon dengan kliennya.


Sheila memperhatikan Nathan dengan intens. Ada sesuatu yang berbeda dengan pria ini, pikirnya.


Sheila mengusir rasa itu dan segera kembali berkutat dengan pekerjaannya. Ia melirik lagi kearah Nathan sambil memegangi dadanya.


"Ya Tuhan! Apa yang terjadi denganku? Kenapa rasanya begitu berdebar?"


Sheila menggeleng cepat. Ia kembali fokus pada laporan didepannya.


Pukul 10 pagi, seorang pria paruh baya datang menemui Nathan. Sheila hanya mempersilakan pria itu masuk karena sudah mendapat izin dari Nathan.


Pria paruh baya itu memperhatikan Sheila dengan seksama. Sheila mengernyit heran dengan tatapan pria paruh baya itu.


Pria itu masuk ke ruangan Nathan dan saling berjabat tangan. Sheila tidak mengenali orang yang baru saja datang itu.


Sheila lihat jika mereka berdua sedang membicarakan hal yang sangat serius. Ia tak ingin memusingkan tamu Nathan dan kembali bekerja.


Dari dalam ruangannya, Nathan menatap Sheila. Pria paruh baya itu mengerti dengan arti tatapan Nathan pada Sheila.


Pria paruh baya itu menepuk bahu Nathan. "Maafkan atas sikap putriku selama ini. Aku janji dia tidak akan mengganggumu lagi," tegas pria yang bernama David Hoffman.


"Terima kasih, Om. Kuharap kerjasama kita akan tetap berjalan dengan baik." Nathan mengulurkan tangannya.


David menyambutnya. "Ya, tentu saja. Jadi, dia adalah gadis itu?" tunjuk David dengan dagunya.


Nathan salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Begitulah, Om." Nathan menjawab dengan malu.


"Jika kau mencintainya, maka kau harus berjuang. Luluhkan dia dengan kehangatan cintamu."


David pamit undur diri dari ruangan Nathan. Ayah dari Marina ini sengaja datang untuk memperjelas masalah kemarin antara Nathan dan putrinya. Nathan bisa bernapas lega karena kini Marina sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya. David sendiri menginginkan Marina bisa menemukan pria yang baik juga seperti Nathan.


Saat istirahat siang di kantin, Sheila membawa bekal yang diberikan Nathan pagi tadi. Ia membuka kotak makan itu.


Wajah Sheila mengukir sebuah senyum manis. Hatinya begitu berbunga hanya dengan sebuah sandwich yang diberikan Nathan.


Sheila menggigit satu suap. Ia merasakan sebuah rasa enak di lidahnya. Nathan memang pintar mengolah rasa. Termasuk rasa kepada Sheila.


Saat sedang menikmati menu makan siangnya, Sheila di kejutkan dengan getaran ponselnya di saku celananya. Sebuah pesan dari Sandra.


..."Shei, nanti malam datang ke rumah keluarga Avicenna. Jangan menolak! Kita akan makan malam bersama mereka. Oke?"...


Sheila menghela napas berat. "Kenapa rasanya masih berat? Padahal tadi aku sempat berbunga karena sikapnya yang hangat."


Sheila kembali bimbang. Ingatan tentang Tarjo dan juga Celia. Sheila ingin terus maju menuju Nathan. Namun sekali lagi, seakan ada bongkahan batu besar yang menghalanginya.


*Transformasi Nathan 👇👇👇






...-Nathan & Sheila-...