My Culun CEO

My Culun CEO
Ujian Ikatan Cinta



Tiap-tiap manusia memiliki ujian hidupnya masing-masing.


Tiap-tiap hubungan memiliki konflik sendiri dalam perjalanannya


Dan setiap cinta diuji dengan sebuah kata kesetiaan


...***...


Sheila sedang berdiri di depan cermin memakai gaun pengantin yang akan digunakannya untuk pesta pernikahannya nanti. Setelah pertemuan dengan Celia malam itu, gadis itu tak pernah lagi menghubungi Nathan.


Entah bagaimana kondisinya saat ini, Sheila juga tidak ingin tahu menahu. Sudah cukup Nathan membantunya dengan menyewakan rumah untuk tempatnya tinggal. Sheila pikir sudah saatnya Celia berjuang untuk hidupnya sendiri. Meski kadang terbersit rasa bersalah dalam benak Sheila. Tapi ia juga tak bisa mempertaruhkan hubungannya dengan Nathan.


Kartika memperhatikan calon istri keponakan suaminya ini dengan seksama. Akhirnya setelah melewati ujian dalam hubungan mereka, kini mereka akan meresmikan hubungan ini ke jenjang selanjutnya.


"Kamu sangat cantik, Sheila," puji Kartika.


"Terima kasih, Bibi. Em, apa Nathan belum datang?"


"Hmm, belum sayang. Mungkin dia masih ada pekerjaan."


Sheila mencoba tersenyum meski hatinya cukup takut. Ia takut jika Nathan tidak datang di acara fitting baju hari ini. Mereka sengaja memilih pernikahan sederhana meski sebenarnya kedua keluarga menginginkan pesta yang meriah.


"Hai, Shei."


Di tengah lamunannya sebuah suara mengagetkannya.


"Nate! Kau sudah datang?" Sheila berbinar senang.


"Ada apa? Kenapa wajahmu tegang begitu?"


"Tidak apa. Aku hanya..." Sheila tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Sungguh ia masih takut dengan bayang-bayang Celia. Meski ia sudah bertekad akan menguatkan hati untuk menghadapi gadis itu, tetap saja rasa cemas tak bisa ditutupi.


"Aku pasti datang, Shei..."


Sheila tersenyum. Ia memeluk Nathan.


"Berjanjilah kamu tidak akan membuatku cemas lagi!" ucap Sheila.


"Iya, aku janji."


"Ehem! Kalian ini!" Tiba-tiba Kartika datang untuk membawakan setelan tuxedo milik Nathan. Membuat kedua sejoli ini terpaksa mengurai pelukan masing-masing.


"Ini, kamu coba dulu saja! Kalau ada yang kurang kamu bisa kasih tahu Bibi. Oke?" ucap Kartika.


"Iya, Bi. Terima kasih."


Nathan masuk ke ruang ganti. Sementara Sheila menunggu di luar kamar ganti. Sheila duduk sambil memainkan ponselnya.


Tiba-tiba terdengar bunyi getar ponsel milik Nathan yang ada di meja. Sheila melirik sekilas. Ada sebuah pesan masuk disana.


Sheila menghela napasnya. Ia tahu itu adalah pesan dari Celia. Setelah sekian lama gadis itu kembali menghubungi Nathan.


Nathan keluar dari kamar ganti dan melihat Sheila melamun.


"Sayang, ada apa?" tanya Nathan.


"Itu ... ponselmu bergetar."


"Hmm?" Nathan mengernyitkan dahinya.


"Aku tidak perlu membalasnya, bukan?" tanya Nathan.


Sheila menggeleng. "Entahlah. Mungkin ada baiknya kamu baca dulu apa yang dia katakan."


Entah kenapa Sheila masih ingin tahu seperti apa reaksi Nathan tentang Celia.


"Jadi, kamu ingin aku membuka pesan dari Celia?" tanya Nathan memastikan.


Sheila mengangguk. Walau didalam hati ia berteriak, sebisa mungkin ia harus meredam itu. Pernikahan bukanlah hal main-main. Ia harus membuktikan jika Nathan memang benar-benar menghargai hubungan ini.


Sheila memperhatikan Nathan yang membaca pesan dari Celia. Nampak raut wajah cemas tergambar di air muka Nathan.


"A-apa yang dia katakan?" tanya Sheila ragu.


"Dia bilang orang tua angkatnya datang kemari. Mereka menyalahkan Celia karena sudah membatalkan pernikahan dengan Sandy," ujar Nathan.


Sheila tahu Nathan cemas. Nathan sudah menceritakan semua kisahnya bersama Celia di masa lalu. Juga kesulitan hidup yang dialami Celia selama menjadi anak angkat keluarga barunya.


Batin Sheila bergemuruh. Satu sisi ia juga iba dengan hidup yang dijalani Celia. Satu sisi ia tidak ingin melepas calon suaminya untuk sekedar bertemu dengan Celia.


Sheila memejamkan mata mencoba memilih jalan yang tepat.


"Temuilah dia, Nate!" ujar Sheila.


"Mungkin saja dia sedang dalam masalah kan? Temui dia!"


Nathan tertegun mendengar permintaan Sheila. Ia tahu hati gadis di depannya sedang tidak baik-baik saja. Banyak hal yang terjadi dengan hubungan mereka akhir-akhir ini. Baru saja mereka mengecap sebuah rasa kebahagiaan, kenapa kini harus menguji kekuatan cinta mereka lagi?


"Nate! Aku percaya padamu. Jadi ... tolong jangan khianati kepercayaanku ini! Kau temui dia dan bantu masalahnya. Aku tahu ini permintaan konyol, tapi aku juga tahu jika hidup Celia menderita selama ini. Jadi ... temuilah dia!"


Nathan menghela napas kasar. Ia tak mungkin menolak permintaan Sheila. Ini akan menjadi ujian cinta terberat mereka.


"Baiklah, aku akan menemuinya," putus Nathan.


#


#


#


Sebenarnya banyak hal bisa dilakukan untuk membuktikan ikatan cinta yang terjalin antar dua manusia. Kadang malah ujian itu hadir tanpa kita memintanya.


Namun berbeda dengan Sheila yang seakan ingin cintanya ia uji sendiri. Dengan kepercayaan penuh pada sang pujaan hati, akankah kesetiaan tetap ia dapati?


Nathan menemui Celia di sebuah taman. Celia duduk di taman itu sendiri. Nathan menyapanya.


"Niel... Kamu datang?" Air mata Celia menetes melihat kedatangan Nathan.


"Apa orang tuamu menyakitimu?"


Celia mengangguk pelan. Nathan mulai tersulut emosi.


"Aku akan gugat mereka agar melepas hak adopsi atas dirimu. Mereka mengadopsi seorang putri hanya untuk dijual kepada keluarga kaya. Orang-orang itu tidak pantas dimaafkan, Cel. Kamu tenang saja, aku akan mengurus semuanya. Sekarang sebaiknya kamu pulang."


Celia menyeka air matanya. Ia bangkit dari duduknya, namun tak lama tubuhnya ambruk. Beruntung Nathan segera menangkapnya.


"Celia! Celia!" Nathan menepuk pelan pipi Celia.


Tak memiliki pilihan lain, Nathan membawa Celia kembali ke rumah yang di sewanya.


Tubuh Celia mengalami demam. Dengan sigap Nathan melakukan pertolongan pertama. Ia memasangkan plester pereda demam di kening Celia.


Sementara di sisi Sheila, ia masih memandangi langit dari balkon kamarnya. Hingga sekarang ia belum mendapat kabar lagi dari Nathan.


Sheila menatap layar ponselnya yang masih menghitam. Setelah lama berpikir, akhirnya ia mengirim pesan pada Nathan.


Sheila: "Bagaimana kondisi Celia? Apa dia baik-baik saja?"


Sheila menunggu dengan harap-harap cemas. Ia memohon pada semesta untuk tetap membawa kekasihnya kembali padanya.


Getar ponsel membuat Sheila terlonjak kaget. Pesan balasan dari Nathan.


Nathan: "Celia sakit. Aku harus bagaimana? Apa aku harus menemaninya? Atau meninggalkannya?"


Sheila menghela napasnya. Untuk kesekian kalinya ia harus memutuskan apa yang harus dilakukan Nathan.


Sheila menyeka air mata yang tiba-tiba lolos dari matanya. Sheila mengetik pesan balasan dengan tangan yang bergetar.


..."Temani dia, Nate."...


Hanya itu yang Sheila tulis. Ia memejamkan mata setelah mengirim pesan itu pada Nathan.


Di sisi Nathan, ia tertegun membaca pesan balasan dari Sheila. Memang ia juga peduli dengan Celia, tapi bagaimana dengan perasaan Sheila?


Nathan gusar. Ia tak bisa meminta Sheila menentukan semua ini sementara ini terkait dengan hatinya. Nathan sendiri yang menentukan kemana hatinya akan berlabuh. Dan ia sudah memiliki satu nama yang ia simpan disana.


Nathan beranjak dari duduknya dan hendak pergi, namun tangan Celia meraih tangannya.


"Jangan pergi, Niel..." lirih Celia.


Nathan menatap wajah pucat Celia. Namun sekelebat bayangan wajah Sheila juga menghiasi pikirannya.


#bersambung...


*Akankah Nathan pergi atau tinggal? 😵😵


Temukan jawabannya di next episode ya kesayangan 😉