My Culun CEO

My Culun CEO
#1 1 6



Damian membawa Vania ke sisi kanan kapal yang memang terlihat sepi. Vania menatap Damian tajam. Sungguh saat ini Vania tidak ingin menemui Damian dengan cara seperti ini.


"Katakan mau bicara apa?" tanya Vania ketus.


Damian masih diam dan menatap lekat-lekat gadis yang ada didepannya.


"Tuan Damian! Jika Anda hanya ingin membuang waktu saya, maka..."


"Apa ini benar kau, Vania?" Damian bergumam.


Vania memutar bola matanya malas. "Saya rasa Anda sedang mabuk! Sama seperti malam itu!"


Vania berbalik badan dan hendak pergi. Namun Damian menghadangnya.


"Apa mau Anda, Tuan?" tanya Vania kesal.


"Aku mau kamu, Vania..."


Vania tersenyum miris. "Anda pikir saya percaya? Tidak! Minggir! Saya harus pergi ke tempat kak Rizka!"


"Aku tahu kau juga merasakan hal yang sama denganku. Benar kan?"


Kalimat Damian membuat Vania bungkam. Hatinya memang tidak baik-baik saja saat ini. Apalagi jika memikirkan tentang Damian.


"Vania! Aku akan jujur padamu. Aku ... aku..." Damian gugup.


"Ah sudahlah! Tidak ada gunanya aku mendengarkan bualanmu, Tuan Damian!"


Vania melewati tubuh Damian dan beranjak pergi.


"Aku menyukaimu, Vania!" seru Damian.


Langkah Vania terhenti. Matanya membola mendengar pernyataan Damian. Vania membalikkan badan.


"A-apa katamu?" gumam Vania.


"Ya, aku menyukaimu, Vania. Aku selalu memikirkanmu sejak kau mencuri ciuman pertamaku!"


"APA?! Mencuri ciuman?!" Vania tidak terima.


Damian melangkah hingga mereka kini saling berhadapan.


"Ya, kaulah gadis yang sudah mencuri ciuman pertamaku!"


Vania tercengang dengan penyataan Damian. "Jangan sembarangan bicara! Kau yang mabuk lalu mencuri ciuman pertamaku dengan paksa!" Vania menunjuk wajah Damian dengan telunjuknya.


Damian segera meraih tangan Vania yang menunjuknya. "Kau tahu, tidak ada gadis yang berani menunjukku seperti ini."


Vania segera menarik kembali tangannya.


"Jadi, itu adalah ciuman pertamamu? Itu berarti ... itu sama-sama ciuman pertama kita." goda Damian.


"Menyebalkan! Mana mungkin itu ciuman pertamamu! Kau bahkan selalu bermesraan di tempat sepi dengan Sitta!"


Damian menyilangkan tangannya. "Kau harus ingat jika kau adalah bawahanku! Kenapa bicara seberani ini denganku, hah?!" Damian melangkah maju hingga membuat Vania terpojok.


"I-ini bukan di kantor! Jadi tidak ada yang namanya atasan dan bawahan!" balas Vania dengan sedikit takut.


Damian melangkah mundur. "Sejak kapan kau dekat dengan Edo?" tanya Damian sambil berpegangan pada penyangga kapal.


"Kenapa Tuan ingin tahu?" tanya balik Vania.


"Aku cemburu..."


Mata Vania kembali membola. Ia sedang berpikir apakah semua yang dikatakan Damian adalah kebenaran atau hanya kebohongan semata.


"Aku serius, Vania. Aku cemburu! Aku tidak pernah merasa seperti ini terhadap seorang gadis. Hanya kau saja yang membuatku hampir gila seperti ini..." Damian kembali menatap Vania.


"Ke-kenapa harus aku? Aku ... aku bahkan tidak cantik. Dan aku juga tidak kaya. Aku miskin dan kampungan. Aku..."


Damian meletakkan jarinya di bibir Vania. "Jangan bicara lagi! Cukup kau tanyakan pada hatimu saja. Apa kau merasakan sesuatu atau tidak..."


Vania menatap kedalam mata Damian. Mereka sama-sama sedang menyelami dan memahami perasaan masing-masing.


Tiba-tiba terdengar suara kembang api menggema di langit malam yang syahdu ini. Kembang api itu bertuliskan, 'Happy Birthday Rizka Hanggawan'.


Vania tercengang melihat kembang api yang indah itu.


"Wah... Indah sekali..." gumam Vania.


"Aku malah melihat sebuah keindahan yang lain," lirih Damian.


"Eh?" Vania menoleh kearah Damian yang kini sedang menatapnya. Wajah Vania merona karena sangat malu di pandangi Damian dengan intens.


"Dengar, aku akan selesaikan urusanku dengan Sitta, lalu..."


"Lalu aku mohon terimalah perasaanku..."


Vania memalingkan wajah. "Apa semua pria kaya dengan mudah mempermainkan perasaan gadis miskin seperti aku? Apa bagi kalian aku ini mainan?"


Damian memegangi kedua bahu Vania. "Aku bersama dengan Sitta karena dia terus mengancamku. Aku juga tidak menyukainya. Aku hanya menyukaimu saja, Vania. Bisakah kau melihat hatiku?"


Vania diam. Ia bahkan tidak membalas apapun lagi.


...***...


Vania kembali ke kamarnya lalu merebahkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamar yang mewah itu.


Vania mendesah kasar. "Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa ... semuanya semakin membingungkan."


Sebuah ketukan di pintu membuat Vania kembali bangkit dari tempat tidur.


"Vania! Kau sudah tidur?"


Itu adalah suara Rizka. Vania membuka pintu.


"Vania? Kau baik-baik saja?" tanya Rizka panik. Ia tak melihat Vania sejak tadi ia pamit ke toilet.


"Kau kemana saja? Aku mencarimu sejak tadi."


"Maaf, Kak. Aku baik-baik saja kok. Sekali lagi aku minta maaf."


Rizka tersenyum. "Ya sudah. Sebaiknya kau beristirahat saja. Besok jangan lupa kita sarapan pagi pukul tujuh."


Vania mengangguk. "Iya, Kak. Kakak juga istirahat! Ah iya, aku lupa sesuatu, kak."


Vania kembali ke dalam kamar lalu membawa kotak yang sudah ia siapkan dan memberikannya pada Rizka.


"Apa ini?" tanya Rizka.


"Ini kado untuk kakak. Selamat ulang tahun ya, Kak. Semoga kakak suka."


"Aku buka ya!"


Vania mengangguk. Rizka dengan antusias membuka kado dari Vania. Sebuah kue kering dengan berbagai macam bentuk produk kosmetik milik Rizka.


"Terima kasih, Vania. Ini sangat cantik. Aku jadi tidak tega memakannya."


Vania terkekeh.


"Apa kau yang membuatnya sendiri?"


"Iya, Kak."


Rizka memeluk Vania. "Terima kasih, Vania. Aku tidak pernah mendapat kado ulang tahun yang berkesan seperti ini. Kado yang dibuat dengan usaha dan juga cinta."


Vania membalas pelukan Rizka. Vania senang karena Rizka menerima kado darinya meski itu harganya tidak seberapa, tapi lihatlah berapa banyak cinta yang tercipta dari sebuah kue kering dengan sebuah perjuangan disana.


...***...


Pagi harinya, Vania bangun dengan hati yang cukup bahagia. Semalam ia banyak bercerita dengan Rizka. Ternyata nona muda Hanggawan itu adalah orang yang menyenangkan.


Vania melihat jam di ponselnya. Matanya membelalak.


"Hah?! Udah jam 7? Gawat! Bukankah kak Rizka bilang jika sarapan dimulai pukul 7? Dan sekarang sudah pukul tujuh! Mati aku!"


Vania segera bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri. Ia tak bisa berlama-lama di kamar mandi karena ia akan sangat malu karena terlambat bangun.


Vania memakai dress yang diberikan Rizka semalam. Ia memakai lensa kontak dan menata rambutnya dengan rapi.


Vania keluar kamar dan melihat Rizka juga baru saja keluar kamar.


"Kak Rizka?" Vania bingung kenapa Rizka masih ada di paviliun mereka.


Rizka terkekeh karena melihat wajah panik Vania.


"Maaf ya, semalam aku mengerjaimu. Jangan khawatir! Kau belum terlambat kok. Sarapan dimulai pukul delapan."


"Hah?! Kakak!" Vania cemberut.


Rizka makin terbahak karena ternyata Vania percaya dengan apa yang dikatakannya.


"Ya sudah! Jangan marah lagi, nanti cantiknya hilang lho! Ayo kita keluar!"


Rizka meraih lengan Vania dan mengajaknya keluar. Saat mereka keluar paviliun, tiba-tiba suara seseorang membuat keduanya menoleh.


"Vania!"