My Culun CEO

My Culun CEO
#156 - Bisakah Kami Bersama?



Pagi ini Damian begitu bersemangat untuk kembali pulang ke apartemennya. Hanya satu hari berada di rumah sakit sudah membuatnya tidak betah.


Josh sudah merapikan semua barang-barang Damian. Sementara Jonathan mengurus administrasi terlebih dahulu.


Usai membayar tagihan, Jonathan kembali ke kamar Damian. Jonathan melihat senyum merekah selalu ditampilkan oleh putranya.


"Nak, ayo kita pulang!" ajak Jonathan.


"Tunggu sebentar, Ayah. Kita tunggu Freya datang dulu." Damian celingukan melihat pintu kamarnya lalu meraih ponselnya. Ia menghubungi Freya namun ponsel Freya tidak aktif.


"Ayah! Ada apa dengan Freya? Kenapa ponselnya tidak aktif?" tanya Damian menatap Jonathan dan Josh bergantian.


"Tuan harus banyak istirahat. Kita pulang dulu saja! Ayo, Tuan!" Josh mencoba membujuk Damian.


Jonathan menatap Damian penuh harap. Berharap jika putranya mau mengerti keadaan yang terjadi saat ini.


"Ayo, Nak! Kita pulang ke rumah dulu ya! Kau harus tinggal bersama Ayah."


"Tapi, Ayah..."


"Percayalah pada Ayah! Ayah hanya melakukan yang terbaik untukmu, Nak!" ucap Jonathan dengan suara menenangkan.


Hal yang tidak terduga pun terjadi. Damian yang biasa memberontak, kini hanya pasrah dan menuruti apa yang dikatakan Jonathan.


Bahkan Josh sangat terkejut melihat Damian tidak memberontak sama sekali. Jonathan merangkul bahu Damian dan membawa putranya keluar dari ruangan berwarna putih itu.


Josh mengikuti langkah Jonathan dan Damian di belakang. Ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Freya. Namun hasilnya juga sama. Ponsel gadis itu tidak aktif. Josh memutuskan untuk menemui Freya di kantornya.


Josh menunggu di ruang tunggu karena Freya sedang rapat dengan kliennya. Josh tidak akan menyerah sebelum dirinya bertemu dengan Freya. Ia ingin bertanya apa alasan Freya tidak datang ke rumah sakit pagi ini.


Dua jam sudah Josh menunggu Freya keluar dari ruang meeting. Hingga akhirnya Josh berhasil menemui Freya dan bicara empat mata dengannya.


"Kenapa Nona tidak datang pagi ini? Bukankah Nona sudah tahu jika tuan Damian keluar rumah sakit hari ini?"


Freya menatap Josh. Pria ini memang sangat loyal kepada Damian. Freya bisa melihat itu.


"Maaf aku juga sangat sibuk pagi ini. Aku juga harus mengurus pekerjaanku," jawab Freya santai.


Tanpa Freya duga, Josh tiba-tiba bersimpuh di depan Freya.


"Josh! Apa yang kau lakukan? Tidak seharusnya kau melakukan ini!" pekik Freya terkejut dengan sikap Josh yang tak terduga.


"Saya mohon jangan tinggalkan tuan Damian! Dia sangat mencintai Nona. Dan dia hanya membutuhkan Nona dalam hidupnya."


"Bangunlah, Josh. Jangan seperti ini. Urusan hubunganku dengan Damian, biar aku sendiri yang mengurusnya. Tolong jangan ikut campur!"


Josh menggeleng kuat. Ia sungguh tangguh agar bisa meluluhkan hati batu Freya.


"Apa Nona akan meninggalkan tuan Damian?"


Josh masih tertunduk dengan berlutut di depan Freya.


"Bangunlah, Josh. Takdir kami tidak akan berubah meski semesta menentangnya."


Kemudian Josh bangun dan menatap Freya. "Maafkan saya, Nona. Saya terlalu emosional. Apapun yang akan Nona lakukan, saya harap itu tidak akan menyakiti kalian berdua. Saya permisi! Terima kasih atas waktu Nona."


Freya menghela napas usai melihat Josh pergi. Sungguh ia tak menyangka jika Josh sangat peduli pada Damian.


"Kau beruntung, Damian. Kau memiliki Josh dalam hidupmu," gumam Freya.


#


#


#


Freya menemui kliennya di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka bertemu di sebuah resto yang ada di sana.


Freya dengan antusias menerima kerjasama dengan tangan terbuka. Sebenarnya pekerjaan ini harusnya menjadi tanggung jawab Edo. Tapi karena Freya juga ingin belajar tentang bisnis, maka kini sedikit demi sedikit ia mulai mempelajari soal itu.


Freya berjabat tangan dengan kliennya kemudian berlalu dari sana. Freya berjalan bersama Aisha dan sedikit cuci mata sambil merilekskan diri usai berkutat dengan pekerjaan.


"Nona, bagaimana kalau kita ke butik sana? Itu milik istrinya tuan Julian Avicenna lho!" ajak Aisha.


"Oh ya? Boleh deh! Ayo!"


Freya berjalan beriringan dengan Aisha. Freya memang tidak pernah membeda-bedakan karyawannya. Ia selalu bersikap ramah dan sopan terutama kepada karyawan yang lebih tua darinya.


Memasuki butik milik Kartika, mata Freya berbinar senang melihat koleksi terbaru di butik itu. Ia mengajak Aisha untuk memilih beberapa potong pakaian kerja.


Saat Freya sedang memilih barang kesukaannya, suara tiga orang gadis yang terdengar nyaring di telinga Freya.


"Wah wah wah! Vania! Kau Vania kan? Kau Vania si culun itu kan?" ucap salah satu gadis sarkas.


"Wow! Penampilanmu sungguh berbeda dengan yang dulu. Lihatlah! Dia terlihat sombong sekarang!" ujar gadis satunya.


"Kalian mau apa?" tanya Freya mencoba berani.


"Kau tanya kami mau apa?" Salah seorang gadis mengulang pertanyaan Freya.


"Kami hanya tidak menduga, ternyata uang memang bisa mengubah segalanya. Lihatlah si culun yang dulunya hanya jadi bahan olokan. Aku tidak percaya jika dia kini menjadi seorang Cinderella."


"Hei, Vania! Harusnya kau malu karena kau mendapatkan semua ini dari keluargamu. Mana gadis culun pemberani yang sok jadi pahlawan di depan kami? Kau sudah banyak berubah! Dan itu membuatku muak!" ucap salah seorang gadis membuat Freya mulai emosi.


"Hentikan!" pekik Freya dengan mengepalkan tangannya.