My Culun CEO

My Culun CEO
#1 2 8 - Freya Moremans



Hari ini, Laurent Moremans ingin bertemu dengan Vania alias Freya, putrinya secara langsung. Dia mendadak kembali ke Indonesia setelah Edo memberitahu jika Freya masih hidup.


Semua hal memang masih misteri. Bahkan Edo sendiri belum memberitahu Vania mengenai kebenaran ini. Rencananya malam ini mereka akan mengatakannya di depan Vania namun tanpa kehadiran Liliana.


Pastinya Liliana sudah lebih dulu tahu tentang hal ini. Kondisinya memang mulai stabil. Tapi Edo berencana akan mempertemukan ibu dan putrinya itu nanti ketika Vania sudah mengetahui yang sebenarnya.


Pintu kamar Vania diketuk. Terlihat Imah ada di balik pintu.


"Non, ditunggu tuan besar di ruang keluarga," ucap Imah.


"Eh? Ah iya. Aku akan mengganti pakaianku dulu. Tidak sopan rasanya jika aku menemui ayah bang Edo dengan pakaian tidur."


Imah tersenyum dan mengangguk. Memang sifat sopan Vania sangat berbeda dengan gadis seusianya. Sungguh terlihat jika Vania memang bukan putri sembarang orang.


Ketika sudah berganti pakaian dengan sebuah dress rumahan yang cukup bagus, Vania keluar kamar dan menemui Edo dan ayahnya.


Laurent langsung beranjak dari duduknya ketika melihat Vania.


"Selamat malam, Tuan..." sapa Vania ramah.


Laurent menghampiri Vania dan langsung memeluknya.


"Freya! Papa yakin kamu memang Freya!" ucap Laurent masih memeluk Vania.


Gadis itu bingung. Sangat bingung. Semuanya selalu menyebut tentang Freya.


Kini mereka bertiga duduk santai namun membahas hal yang serius. Sebelumnya Edo meminta maaf karena sudah lancang melakukan tes DNA tanpa persetujuan dari Vania.


Edo membeberkan hasil tes DNA dirinya dan Vania. Disitu benar tertulis jika mereka memiliki satu garis keturunan yang sama.


Vania membeku. Ia masih tak bisa percaya semua ini. Hidup seakan selalu mempermainkannya.


"Jika aku benar adalah adik bang Edo, kenapa aku tidak memiliki ingatan sebagai Freya? Aku bahkan tidak mengenal kalian..." ucap Vania dengan suara bergetar.


"Mungkin karena kecelakaan waktu itu," jawab Laurent.


Vania diam.


"Apa kita perlu menemui Vicky lagi? Aku sudah menemuinya namun dia tidak mau mengatakan kebenarannya. Mungkin dengan kamu menemuinya, dia akan bicara jujur," sahut Edo.


Vania menghela napas. Sungguh ia harus menemukan semua jawaban kebingungannya ini.


"Baiklah. Kita temui bang Vicky besok pagi," putus Vania.


#


#


#


Vania kini duduk berhadapan dengan Vicky. Edo tidak ikut bergabung dan memilih untuk menunggu saja. Ia ingin memberikan Vania waktu untuk bisa mencerna semuanya.


"Apa semua ini benar, Bang? Aku bukanlah adik kandung abang?" tanya Vania dengan menyodorkan kertas hasil tes DNA.


Vicky tersenyum getir. "Jadi, orang kaya itu bergerak cepat, huh!"


"Bang! Aku minta abang jujur! Apa aku bukanlah Vania tapi Freya?" tanya Vania dengan mata yang berkaca-kaca.


Vicky memalingkan wajahnya. "Aku tidak tahu."


Vania mendesah pelan.


"Aku tidak tahu kau ini siapa..."


Vania menatap Vicky. Ia yakin jika Vicky akan mengatakan yang sebenarnya.


"Saat itu bapak dan ibu membawa seorang anak kecil yang terluka parah. Sepertinya karena kecelakaan. Mereka membawa gadis kecil itu ke klinik terdekat."


Vania mendengarkan dengan seksama.


"Adikku memang benar bernama Vania. Tapi dia sudah meninggal karena sakit."


"Eh?"


"Setelah gadis kecil itu sembuh, ternyata dia kehilangan ingatannya. Bapak dan ibu langsung berinisiatif untuk memberikan nama Vania padanya. Lalu mereka memutuskan pindah dari sini dan tinggal di kota kecil."


Vania terdiam. Air matanya tiba-tiba mengalir.


"Maafkan kami karena tidak pernah mengatakan yang sebenarnya. Aku pikir keluargamu sudah tidak mencarimu lagi. Lagipula, kau tidak kekurangan kasih sayang dari sebuah keluarga. Bapak dan ibu sangat menyayangimu, begitu juga denganku. Sekali lagi maafkan kami, Vania..."


Tangis Vania pecah. Tubuhnya bergetar hebat. Vicky ingin sekali memeluk adik kecilnya itu. Namun petugas sipir sudah memberinya peringatan. Vicky meninggalkan Vania yang masih terisak.


Edo yang berada di luar segera masuk dan menghampiri Vania.


"Vania..." lirih Edo.


"Abang..." tangis Vania makin kencang ketika Edo membawanya kedalam sebuah pelukan hangat.


#


#


#


Satu bulan kemudian,


"Selamat pagi, Nona Freya!" sapa seorang satpam ketika Freya melewati lobi kantor.


"Selamat pagi, Pak," jawab Freya ramah.


Sepanjang perjalanan menuju ruang kerjanya, Freya selalu menyapa setiap karyawan yang ditemuinya. Banyak karyawan yang begitu suka dengan sikap Freya yang hangat.


Tiba di sebuah ruangan yang bertuliskan 'Direktur Keuangan', Freya disambut oleh sang asisten yang bernama Aisha.


"Selamat pagi, Nona Frey!"


"Pagi Aisha. Bagaimana laporan yang kemarin. Apa sudah kamu minta di tiap bagian?"


Aisha mengikuti langkah Freya memasuki ruangannya. Namu tidak dengan seorang pengawal yang dipekerjakan Edo untuk mengawal Freya.


"Kau tunggu disini saja ya, pengawal tampan!" bisik Aisha genit.


Si pengawal hanya diam dan terus bersikap dingin dan sikap tegap sempurna. Ia menunggu di depan pintu.


"Berhenti menggoda pengawalku, Aish!" lerai Freya.


"Hihihi, maaf Nona. Habisnya pengawal nona itu sangat misterius. Dan dia membuatku penasaran."


Freya menggeleng. Freya tahu jika abangnya terlalu berlebihan dengan membayar seorang pengawal. Freya harus menuruti keinginan abangnya, jika tidak ia tidak bisa pergi kemanapun.


Sejak diumumkannya sosok Freya kehadapan publik, kini Edo menjadi lebih protektif terhadap adik semata wayangnya itu.


"Ini akan kuperiksa lebih dulu. Kau kembalilah bekerja!"


"Baik, Nona Frey!"


Aisha memberi hormat kemudian keluar dari ruangan Freya. Seperti biasa, Aisha sedikit menggoda si pengawal tampan yang berdiri di depan pintu.


"Mister V, jika kau lelah dan ingin duduk, datang saja ke ruanganku ya!" bisik Aisha kemudian berlalu.


Tak ada respon ataupun semburat senyum dari wajah dingin si pengawal.


Freya memeriksa satu persatu berkas yang ada di mejanya. Sejak masuk menjadi anggota keluarga Moremans, Vania yang sudah mengubah namanya menjadi Freya, meminta Edo agar dirinya juga bisa bekerja di More Trans. Ia sangat suka bekerja. Dan akhirnya Edo menyetujui keinginan Freya dan mengangkatnya menjadi direktur keuangan. Latar belakang pendidikan Freya sangat membantunya dalam pekerjaan ini.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Freya menelepon kakaknya dan ingin makan siang bersama. Namun ternyata kakaknya itu sedang bersama dengan Rizka, kekasihnya.


Ya, sejak kejadian itu, Edo mengutarakan ingin menjalin hubungan yang lebih dengan Rizka meski masih dalam tahap penjajakan. Freya tentu saja menyetujui hal itu. Ia mengenal Rizka sebagai sosok yang baik. Dan mereka sangat cocok.


"Haaah! Ya sudah! Aku akan makan sendiri saja!"


Freya mengambil tas slempang bermereknya lalu keluar ruangan.


"Aku ingin makan makanan Jepang. Antar aku kesana!" ucap Freya pada si pengawal yang sekaligus supir pribadinya.


"Baik, Nona."


#


#


#


Freya tiba di sebuah restoran Jepang yang direkomendasikan oleh Naina. Freya mencoba menghubungi Naina namun ternyata Naina tidak bisa keluar kantor.


Alhasil, Freya benar-benar harus makan sendiri. Namun tiba-tiba ia melirik sang pengawal yang berdiri di belakangnya.


"Duduklah! Ayo temani aku makan!" ucap Freya.


"Tidak, Nona. Terima kasih."


"Ck, jangan membantah! Ayo duduk!" Freya menarik lengan si pengawal dan menyuruhnya duduk.


"Jangan sungkan, Bang. Aku tetaplah adikmu meski aku..."


"Saya tidak bisa, Nona! Tuan Edo menggaji saya untuk menjaga Nona!"


Freya terlihat sedih. "Aku sudah melupakan semuanya, Bang. Jadi, abang juga harus memulai semuanya dari awal. Meski abang adalah pengawalku, dan aku adalah nonamu. Tapi, jangan memperlakukanku dengan berbeda. Abang sudah jadi kakakku selama 10 tahun. Dan sekarang akan tetap begitu..."


Si pengawal yang tak lain adalah Vicky hanya bisa tersenyum. Sungguh ia sangat kagum dengan hati lapang yang dimiliki Freya.


Untuk membalas kebaikan keluarga Tanuja yang sudah merawat Freya, Edo memutuskan untuk mengeluarkan Vicky dari penjara lalu mempekerjakannya sebagai pengawal Freya. Setidaknya Edo akan lebih tenang jika ada yang mengganggu Freya.


Ya memang, gangguan itu tidak datang dari orang asing, melainkan hanya dari Damian saja yang masih mengejar maaf dari Freya. Bahkan Damian tidak pernah menyerah untuk selalu menemui Freya. Namun gadis itu masih enggan untuk menemui Damian.


"Vania!" panggil seseorang yang menghampiri meja Freya dan Vicky.


"Vania!"


Secepat kilat Vicky sigap menghalau pria yang adalah Damian. Entah kenapa mereka selalu dipertemukan dengan cara yang tidak terduga.


"Maaf, Nona tidak mau diganggu oleh Anda. Sebaiknya Anda pergi."


"Vania! Aku mohon bicaralah denganku!"


Freya memejamkan mata kemudian berhadapan dengan Damian.


"Aku bukan Vania! Namaku Freya! Mister V, sebaiknya kita pergi dari sini. Aku sudah tidak ingin makan disini lagi!" ucap Freya tegas kemudian pergi meninggalkan Damian.


"Vania! Tunggu! Van... Freya!"


"Tolong jangan mengganggu Nona kami!" halau Vicky.


"Kau! Bisa-bisanya kau menjadi pengawal Freya, hah!" Damian tetap tak bisa berbuat apapun karena tubuh Vicky lebih besar darinya.


"Damian!" Suara wanita cantik berlari menghampiri Damian.


Freya menatap malas mereka berdua.


"Freya! Kita harus bicara!" Damian masih mendesak Freya meski mereka kini ada di tempat parkir yang terbuka.


"Damian, ayo kita pergi! Untuk apa kau terus memohon pada gadis sombong ini? Hanya karena sekarang dia sudah jadi putri orang kaya, lalu sikapnya bisa semena-mena dan sok jadi putri raja!" cibir wanita yang tak lain adalah Sitta.


Freya menggeleng pelan. "Kalian berdua sama saja! Sama-sama sampah!"


Freya masuk ke dalam mobil dan meminta Vicky segera melajukan mobil.


"A-apa dia bilang?! Sampah? Dasar jaalang! Berani sekali dia bicara begitu padaku! Damian! Kenapa hanya diam saja?"


Damian menepis tangan Sitta yang terus merengek padanya. "Sudahlah, aku lelah! Aku mau kembali ke kantor saja!"


Damian masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Sitta yang kini mengomel tak jelas.