My Culun CEO

My Culun CEO
#1 2 1



Dua orang ini kini hanya diam dan saling menatap. Masih belum ada yang bicara setelah tadi Vania sangat terkejut dengan kedatangan Damian yang tiba-tiba.


Seolah-olah pria itu memiliki GPS yang mengetahui kemanapun Vania pergi.


"Kenapa tidak menjawab? Apa yang kau lakukan disini?" ulang Damian.


"Eh? Aku..."


Damian menatap bangunan yang baru saja di datangi oleh Vania. Itu adalah rumah tahanan. Dan memang benar Vania keluar dari sana.


"Apa yang kau lakukan di dalam sana?"


Vania masih tidak menjawab. Ia lebih memilih diam daripada harus berkata jujur pada bosnya ini. Lagipula ia tidak harus menjelaskan semua masalah pribadinya kepada Damian.


Tak lama sebuah sepeda motor menghampiri Vania. Dia adalah driver ojek online yang dipesannya. Tanpa menunggu lama, Vania menaiki motor.


"Bang, cepat jalan!" perintahnya.


"Vania!" Damian tak menyangka jika Vania akan meninggalkannya.


"Hei, Vania!" teriak Damian namun Vania tak menggubris.


Vania hanya melirik Damian yang terlihat kecewa dan marah.


"Sebaiknya aku menghindari tuan Damian. Biar bagaimanapun, aku dan dia tidak akan bisa bersatu. Semuanya terlalu sulit," batin Vania.


Damian nampak meninju udara. Dia buru-buru pergi dari acara makan siangnya bersama ayahnya dan Sitta hanya karena mendapat kabar tentang Vania yang mendatangi rumah tahanan.


Damian hanya ingin membantu Vania jika memang gadis itu memiliki masalah. Namun tampaknya Vania tidak suka dengan Damian yang ikut campur urusan pribadinya.


Di tempat berbeda, Sitta yang akhirnya makan siang hanya dengan Jonathan hanya bisa mengulas senyum palsu setelah kepergian Damian. Sitta memaklumi sikap Damian yang sok sibuk karena mengurus pekerjaan.


Sitta melihat layar ponselnya yang masih menghitam. Ia menunggu kabar dari orang suruhannya.


"Maafkan sikap Damian ya Sitta. Dia memang terkadang sangat egois dan tidak memikirkan perasaan orang lain."


Sitta kembali mengulas senyumnya. "Tidak apa, Om. Aku sangat mengerti jika Damian orang yang sangat sibuk."


"Emh, Sitta. Apa tidak apa jika Om tinggal terlebih dahulu. Om masih ada janji dengan klien."


"Tentu saja, Om. Saya masih ingin disini."


"Baiklah. Sekali lagi terima kasih atas undangan makan siangnya. Dan, tolong titip Damian. Meski dia suka keras kepala, tapi sebenarnya dia memiliki hati yang rapuh. Om percaya padamu, tolong jaga dia."


"Tentu saja, Om. Aku pasti akan menjaga Damian."


Jonathan berdiri dari duduknya. Ia pun pergi meninggalkan Sitta yang sebenarnya sangat kesal dengan sikap Damian.


Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari orang suruhannya. Sitta langsung membuka pesan itu.


Matanya membola melihat sebuah foto yang dikirimkan oleh orang suruhannya.


"Brengsek! Jadi dia pergi menemui gadis culun ini?"


Sitta menggeram. Emosinya sudah tidak bisa lagi ia bendung.


"Sudah cukup kau bersenang-senang, Vania. Aku akan membuat Damian membencimu dan melupakanmu selamanya! Lihat saja nanti!"


Sitta segera menghubungi seseorang.


"Halo, kau sudah lakukan semuanya?"


"........."


"Bagus! Kita lanjutkan rencana selanjutnya. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi!"


Beberapa hari kemudian,


"Wah, rumah kontrakanmu lumayan juga," ucap Naina ketika membantu Vania pindah rumah.


Vania tersenyum. "Iya lumayan, Kak."


"Kau sangat pintar memilih rumah, Vania. Dan ini juga dekat dengan kantormu," puji Harvey yang juga membantu Vania membereskan barang-barang.


"Terima kasih karena kalian sudah bersedia membantuku."


Naina dan Harvey saling pandang.


"Kau tidak memberitahu tuan Edo, Van? Atau tuan Damian?" tanya Naina hati-hati.


Vania menggeleng. "Aku rasa aku akan mulai menghindar dari mereka. Terlalu banyak masalah jika aku dekat dengan mereka berdua. Lebih baik aku menghindar. Benar kan?"


Naina mengusap punggung Vania.


"Terserah kamu saja, Van. Kamu pasti tahu mana yang terbaik untuk dirimu."


Vania mengangguk. "Iya, Kak. Sekali lagi terima kasih ya."


Pagi ini Vania berangkat dengan berjalan kaki. Rasanya moodnya hari ini benar-benar sangat bagus. Entah karena sudah tinggal di rumah kontrakannya sendiri atau karena ada hal lain.


Yang jelas Vania terlihat menyapa ramah para security yang berjaga di depan kantor. Vania berjalan memasuki lobi dan melihat orang-orang menatapnya dengan tatapn yang aneh.


"Kenapa sih? Kok mereka ngelihatinnya gitu amat? Apa ada yang salah dengan pakaianku?" batin Vania sambil memperhatikan penampilannya.


Vania berusaha tidak peduli dan tetap melangkah menuju ruang kerjanya.


"Lihat dia! Masih berani muncul disini? Dasar menjijikkan!"


"Iya, apa dia tidak punya cermin di rumahnya?"


"Masih punya nyali dia muncul di kantor ini!"


Vania makin tidak nyaman dengan semua desas desus tentang dirinya. Ia melangkah cepat menuju ke meja kerjanya.


Di depan ruangannya, Vania kembali terkejut karena teman satu ruangannya kembali menegur.


"Vania? Kamu masih bisa berangkat kerja dengan santai?"


"Ada apa memangnya, Kak Emma?" tanya Vania yang sudah dibuat penasaran.


"Kamu lihat saja di layar LCD yang ada di hall tengah itu!"


Vania langsung berlari menuju tempat yang di maksud Emma. Beberapa orang sudah berkumpul disana.


Vania membelah kerumunan orang-orang itu. Ia menutup mulut melihat apa yang sedang di tampilkan di layar LCD itu.


Vania menggeleng kuat. "Siapa yang tega melakukan ini?" batin Vania.


"Akhirnya kau datang juga!"


Suara itu sangat dikenali Vania. Itu adalah Damian.


Vania menoleh dan melihat Damian beserta Sitta dan Josh sedang menatap kearahnya.


"Tu-tuan..." ucap Vania terbata.


"Apa yang ingin kau katakan lagi? Semuanya sudah jelas."


Vania menggeleng. "Tidak, Tuan. Ini tidak seperti yang tuan kira. Saya bisa jelaskan..."


"Jelaskan apa?!" Suara Damian menggelegar ke seluruh ruangan.


"Sekarang aku bertanya padamu, apa benar pria yang ada di balik jeruji besi itu adalah kakakmu?"


"I-itu..."


"Sudahlah! Jawab saja pertanyaan Damian!" Sitta ikut bicara dan memperkeruh suasana.


"Itu memang benar! Dia adalah kakak saya, tapi..." Vania sangat takut saat ini.


"Lalu pria satunya?" Damian menunjuk ke layar LCD.


Vania membulatkan mata. Itu adalah pria yang secara tak sengaja ia tolong beberapa hari lalu. Orang itu kehilangan dompet dan Vania yang menemukan dompet itu. Disana tertera kartu nama si pemilik dompet. Vania menghubungi nomor itu dan mereka membuat janji untuk bertemu di kafe. Lalu Vania mengembalikan dompet orang itu tanpa imbalan apapun. Memang orang itu berniat memberi sejumlah uang namun Vania menolaknya. Ia ikhlas membantu orang tersebut.


Namun semua foto-foto yang kini sedang ditampilkan di layar adalah seolah-olah Vania menerima sejumlah uang. Dan juga saat pengembalian dompet, sempat isinya terjatuh yaitu sebuah flashdisk. Vania mengambil flashdisk yang jatuh dan mengembalikannya. Bahkan ia tidak tahu apa isi didalamnya.


"Kau tahu jika di dalam flashdisk itu adalah data-data perusahaan yang kini jatuh ke tangan mereka. Kau tahu siapa orang itu? Dia adalah CEO di perusahaan pesaing kita dalam bidang periklanan. Dan kau ... sudah membuat perusahaan rugi milyaran rupiah. Sekarang apa yang akan kau katakan? Kau sudah menjual data perusahaan dan kau mendapat imbalan untuk itu. Apa kau juga seorang kriminal seperti kakakmu?!" bentak Damian.


"Tidak! Itu tidak benar!" Suara Vania mulai bergetar. Ia amat takut sekarang. Tidak akan ada satu orangpun yang membelanya saat ini.


"Mana ada maling yang mau mengaku. Iya kan?" cibir Sitta.


Vania menggeleng cepat. "Tuan! Saya tidak bersalah! Bahkan saya tidak kenal dengan orang itu! Tuan! Saya mohon percayalah!" pinta Vania.


Damian memalingkan wajahnya. Ia ingin mempercayai Vania. Namun semua bukti mengarah padanya. Bahkan data akuntansi itu hanya dipegang oleh Vania dan kini sudah jatuh ke tangan musuh. Damian harus memutuskan sesuatu tentang masalah ini.


"Kemasi barang-barangmu dan jangan pernah datang lagi kesini. Jangan perlihatkan wajah sok polosmu itu di depanku lagi! Mulai detik ini, kau dipecat!" ucap Damian dingin lalu pergi meninggalkan kerumunan itu.


Tubuh Vania melemas. Air matanya kini mulai mengalir. Ia terduduk lemas di lantai.


"Apa yang kalian lihat?! Semuanya kembali ke ruangan masing-masing!" ucap tegas Josh yang ternyata masih ada disana.


Vania menatap Josh dengan mata yang dipenuhi air mata.


"Tuan Josh? Apa tuan percaya padaku?" tanya Vania dengan terisak.


"Ayo bangunlah! Kita pergi dari sini!" ucap Josh.


Vania dibantu oleh Josh untuk berdiri. Rasanya tubuh Vania bagaikan sehelai kapas yang melayang.


"Bertahanlah, Vania! Aku yakin kau pasti kuat! Ayo!" Josh memapah tubuh Vania.


Josh membawa Vania pergi dari sana. Dengan langkah gontai Vania berjalan keluar dari gedung yang sudah beberapa bulan ini menjadi tempatnya mencari rejeki. Kini semuanya sirna sudah. Dengan berat hati Vania harus pergi dari Ford Company.