
Untuk beberapa saat, Giga dan Merlin berada dalam sebuah situasi yang cukup hangat. Saling berpelukan dan saling menenangkan. Merlin menggerakkan tangannya lembut menepuk pelan punggung Giga.
Giga yang awalnya terus meracau kini mulai tenang. Napasnya mulai teratur dan kembali normal.
Sejenak Giga tertegun ketika mendapati dirinya sedang berpelukan dengan asistennya sendiri. Bahkan tadi Giga yang lebih dulu menarik tubuh Merlin mendekat padanya.
Sejenak Giga terlenamerasakan aroma tubuh Merlin yang membuatnya tenang. Namun ketika semua suara riuh khas rumah sakit mulai tetdengar di telinganya, Giga segera kembali ke alam sadar. Ia segera mendorong tubuh Merlin menjauh darinya hingga Merlin terjungkal ke belakang.
"Aw!" pekik Merlin merasakan terkejut dan sakit secara bersamaan.
"Apa yang kau lakukan?" Giga bertanya seolah-olah Merlin bersalah padanya.
"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja." Merlin bangkit dan berdiri berhadapan dengan Giga.
"Kau pergi kemana, hah? Bukankah aku menyuruhmu untuk menunggu di luar ruangan?" Giga menunjukkan rasa kesalnya akibat ulah Merlin.
"Maaf, Tuan. Saya kembali ke parkiran. Saya pikir..."
"Aku menyuruhmu menunggu di luar ruangan! Bukan di tempat parkir."
"Sekali lagi maafkan saya, Tuan." Merlin membungkukkan badannya.
"Ya sudah! Kita kembali ke kantor!" Tanpa menggubris Merlin lagi, Giga segera berjalan keluar rumah sakit. Merlin hanya menggeleng pelan melihat kepergian Giga.
"Maaf, Tuan. Apa traumamu sebesar itu? Aku jadi makin merasa bersalah. Aku harus bisa membuatmu kembali normal, Tuan." Merlin bergumam dalam hati.
Setibanya di kantor, Giga harus rapat dengan Nathan dan Merlin memilih untuk beristirahat sejenak. Merlin menuju rooftop gedung yang ternyata sangat asri.
Ada sebuah taman di atap gedung. Merlin duduk di salah satu bangku panjang yang ada disana. Ia memikirkan cara bagaimana untuk membuat Giga melepaskan rasa traumanya.
"Wah, kau ada disini juga!"
"Oh?! Tuan Karel?" Merlin beranjak dari duduknya dan menyapa Karel.
"Kau juga suka kemari?" tanya Karel.
"Ah tidak juga. Hanya sesekali saja, Tuan."
"Ada apa? Apa Giga melakukan sesuatu padamu?" selidik Karel.
"Ah, tidak Tuan. Hanya saja..."
"Apa Giga mengira kau adalah mata-mata?"
"Hah?!" Merlin menutup mulutnya. "Bagaimana Anda bisa tahu, Tuan?"
Karel menunjukkan senyum tipisnya. "Aku sangat tahu sifat Giga. Tapi kau tenang saja. Kau bisa bercerita denganku jika ada masalah."
Sebuah senyum terbit di bibir Merlin. "Terima kasih banyak, Tuan."
"Sudah waktunya kembali ke kantor. Ayo!" ajak Karel. Merlin hanya mengangguk kemudian mengikuti langkah Karel.
Merlin dan Karel memasuki lift bersama. Mereka juga akan turun di lantai yang sama. Karena memang ruangan kerja Karel dan Giga berada di lantai yang sama.
Ketika pintu lift terbuka, bersamaan dengan Giga yang juga berada di depan pintu lift. Ia mencari keberadaan Merlin usai meeting bersama ayahnya namun ternyata Merlin tidak ada di meja kerjanya.
"Kalian?" Tunjuk Giga pada Karel dan Merlin.
"Ah, kami hanya tidak sengaja bertemu." Karel menjawab dengan santai. Dengan santai pula ia keluar dari lift dan melewati tubuh Giga.
Giga menatap tajam kearah Merlin.
"Kau! Cepat masuk ke ruanganku!" perintah Giga.
Merlin mengangguk patuh dan mengikuti langkah Giga.
#
#
#
Malam harinya, Merlin dan Resti sedang menatap langit di balkon kamar mereka. Kamar rumah susun yang sangat sederhana itu sudah menjadi teman Merlin selama beberapa tahun terakhir. Hanya tempat ini saja yang memiliki harga sewa termurah, meski tempatnya hanya ala kadarnya.
"Yah, begitulah. Aku merasa sangat beruntung karena bertemu dengan Tuan Karel. Dia adalah orang yang sangat baik dan perhatian." Merlin bercerita dengan mata yang berbinar.
"Ya ampun, Mer. Sepertinya kau sedang terkena sindrom."
"Sindrom Karel Avicenna dong pastinya!"
"Ish, kau! Jika kau bertemu dengannya, kau pasti akan terpesona juga."
"Iya iya, Mer. Aku melihatnya beberapa kali di media cetak dan online. Tapi aku belum pernah bertemu dengan Karel yang asli."
Mereka berdua pun terus bercerita dan tertawa bersama hingga tengah malam.
Sementara itu di rumah keluarga Avicenna, Giga masih terjaga sambil memandangi langit-langit kamarnya. Ia kembali ingat dengan kejadian siang ini antara dirinya dan Merlin.
Wajah Giga memerah mengingat apa yang sudah dirinya lakukan bersama Merlin. Pelukan hangat Merlin membuatnya tenang. Usapan lembut tangan itu mengingatkannya pada seseorang.
"Haish! Tidak-tidak!" Giga menggeleng cepat.
"Jangan berpikiran macam-macam, Giga!" Giga segera memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur.
#
#
#
Keesokan harinya,
"Sebentar lagi peringatan hari jadi perusahaan yang ke 100. Kau harus menyiapkan diri untuk menjadi pewaris Avicenna Grup yang baru, Giga." Nathan bicara sambil menyantap sarapan pagi bersama dengan Giga dan Lian.
"Berikan pidato yang terbaik di depan semua rekan bisnis kita," sambungnya.
"Jadi, kau akan mengumumkan pengangkatan Giga?" Lian nampak mengernyitkan dahi kemudian menatap Giga.
"Iya, Ma. Sudah saatnya Giga mengambil alih perusahaan. Kau!" Sorotan tajam mengarah kepada Giga.
"Kau harus bersiap menghadapi sorotan publik mengenai dirimu. Jadi kau harus berusaha sebaik mungkin untuk menjaga imej dan kinerjamu. Apa kau mengerti?"
Giga hanya diam dan menganggukkan kepalanya. Ia sudah tahu dengan perangai ayahnya. Menolak pun rasanya percuma.
Pukul tujuh pagi Merlin tiba di rumah keluarga Avicenna. Seperti biasa ia menyapa Lian dengan ramah meski terkesan sedikit urakan karena ketidaktahuannya jika Lian adalah nenek Giga.
"Wah, nenek sangat rajin ya! Usia nenek sudah tidak muda lagi tapi masih rajin bekerja. Harusnya nenek bilang saja pada tuan rumah disini untuk pensiun. Lagi pula kejam sekali mereka! Mempekerjakan wanita tua untuk mengurus kebun," cerocos Merlin panjang lebar.
Lian hanya menggeleng pelan dengan sifat Merlin yang terbuka dan apa adanya. Ia tahu ada sisi Merlin yang bisa mengubah sifat Giga suatu saat nanti.
"Kau sudah datang? Cepat! Kita harus pergi ke kantor. Hari ini banyak pekerjaan yang harus aku urus!"
Saat Merlin memasuki rumah, ternyata Giga sudah bersiap dengan pakaian kerjanya. Penampilan Giga memang tidak seformal Karel yang selalu rapi dengan setelan jasnya. Giga lebih memilih dengan gayanya sendiri yang terkesan santai. Giga memakai kaus pada bagian dalam yang ia tutup dengan blazer dan celana kain.
Menurut Merlin selera Giga sedikit aneh karena kadang ia memakai kaus bergambar tokoh kartun Disney. Ya meskipun tak bisa di pungkiri jika ketampanan Giga tetap tidak luntur meski hanya memakai pakaian ala kadarnya.
Seharian ini Giga dan Merlin bekerja di dalam ruangan Giga. Pria itu harus mempersiapkan pidato yang bagus untuk hari peringatan Avicenna Grup yang ke 100 nanti.
Merlin membantu Giga untuk menuliskan pidato yang baik dengan mencari informasi mengenai perusahaan tempatnya bekerja ini. Mereka duduk bersebelahan di sofa ruangan Giga.
Merlin nampak mengetik naskah pidato dengan cermat dan hati-hati. Dari arah samping Giga memperhatikan mimik wajah Merlin yang berubah-ubah ketika menggumamkan naskah yang sedang diketiknya.
"Tuan, sepertinya sudah tidak ada yang perlu diganti lagi. Bagaimana, Tuan?" Merlin menoleh ke arah kanan dan mendapati Giga yang juga yang sedang menatap kearahnya.
Matanya membola karena posisinya begitu dekat dengan Giga.
"Tu-tuan?" Merlin gugup karena Giga menatapnya.
Sementara Giga masih betah menatap Merlin dengan pikiran yang sudah entah kemana. Ia ingat bagaimana perjuangan Merlin untuk membuatnya percaya jika dia bukan mata-mata. Ia ingat bagaimana Merlin datang ke kamarnya dan membangunkannya. Dan yang tetakhir, ia ingat ketika Merlin membantunya di rumah sakit. Pelukan hangat Merlin ternyata membuat Giga tidak bisa melupakannya.
"Kau sudah mencuri perhatianku. Gadis biasa yang bahkan tidak cantik, tidak seksi, dan tidak modis. Tapi dia berhasil mencuri perhatianku. Apakah ini?" batin Giga.
#bersambung