My Culun CEO

My Culun CEO
Kalau Cinta Jangan Cengeng



...Terkadang untuk mengakui hati kita, diperlukan suatu ketegaran dan keberanian....


...***...


Sheila terdiam selama perjalanan menuju pulang. Ia tak menyangka akan bertemu Nathan di tempat tadi. Hatinya begitu bergemuruh. Ingin rasanya bicara apa yang digumamkan hatinya. Namun ternyata tak semudah yang ia bayangkan.


Danny melirik Sheila. Sepertinya ia tahu jika gadis itu masih memikirkan pertemuan tadi. Ia tahu jika hati Sheila masih tertambat pada Nathan. Tapi Sheila sendiri masih enggan untuk mengungkapkannya.


"Shei..." panggil Danny.


"Hmm, iya Kak." Sheila melirik kearah Danny.


"Kamu baik-baik saja?"


Sheila tersenyum. "Iya, kak. Aku baik-baik saja."


"Mau kemana lagi?"


Sheila menggeleng. "Kita langsung pulang ke rumah aja, Kak."


Danny mengangguk. "Shei, jika ada yang ingin kamu ceritakan, jangan sungkan untuk bicara denganku. Aku adalah kakakmu juga kan?"


Sheila kembali tersenyum. "Iya, kak. Kakak adalah kakak keduaku setelah kak Rangga."


Danny tersenyum kecut. Setelahnya tidak ada lagi percakapan diantara mereka. Hingga akhirnya mobil Danny tiba di depan rumah Sheila.


"Terima kasih, Kak."


"Iya. Jika kamu sudah siap bekerja, kamu hubungi aku saja. Aku akan siapkan ruang kerja untukmu."


"Iya, Kak. Terima kasih. Kalau begitu aku turun ya! Kakak hati-hati menyetirnya."


Sheila turun dari mobil Danny. Ia langsung berlari masuk kedalam kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya disana.


Bayangan kebersamaan Nathan dan Marina kembali muncul di pikirannya. Air mata Sheila kembali mengalir. Dengan cepat ia menghapusnya.


"Enggak! Aku gak boleh lemah."


Namun semakin Sheila menguatkan diri, semakin deras air mata yang mengalir.


"Ada apa denganku? Kenapa air matanya gak mau berhenti juga sih?" keluh Sheila pada dirinya sendiri. Hingga akhirnya Sheila lelah dan tertidur dengan air mata yang mulai mengering.


...💟💟💟...


Malam harinya, Nathan telah tiba di apartemennya. Ia membersihkan diri di kamar mandi, lalu setelahnya ia kembali merenung.


Bayangan Sheila yang dibawa pergi oleh Danny membuatnya kembali mendidih. Ia tak sanggup jika harus melihat Sheila bersama pria lain.


Nathan meraih kunci mobilnya lalu melaju menuju rumah Sheila. Ya, ia tak bisa menunggu lagi. Meski Sheila meminta untuk jangan menemuinya lagi, tapi itu tak bisa ia lalukan.


Cinta tidak akan bisa kita raih jika kita tidak mengejarnya. Begitulah pemikiran Nathan saat ini.


Tak butuh waktu lama, Nathan telah tiba di depan rumah Sheila. Ia turun dari mobil dan bertemu dengan para penjaga disana.


Setelah menunggu beberapa lama, yang menemui Nathan adalah Adi Jaya dan Sandra. Nathan tak pantang menyerah. Ia berteriak keras memanggil nama Sheila. Ia takkan menyerah hingga Sheila bersedia menemuinya.


Adi Jaya dan Sandra tak kuasa untuk melerai Nathan. Kedua orang tua ini tahu jika mereka masih saling mencintai. Hanya saja ada ego yang berada di tengah mereka. Tapi kini Nathan telah menurunkan egonya dan berusaha meyakinkan Sheila jika cintanya benar tulus.


Dari dalam kamarnya, Sheila mendengar teriakan Nathan. Ia masih belum bisa menemui Nathan. Ia masih ingin meyakinkan diri jika Nathan memang benar cinta sejatinya.


Meski tak ada tanda-tanda jika Sheila akan menemuinya, Nathan tetap berusaha menyerukan nama Sheila dan mengucap jika dirinya hanya mencintai Sheila.


Hingga akhirnya, Nathan harus pasrah ketika Boy datang bersama Choky dan membawanya pergi dari rumah Sheila. Boy meminta maaf pada Adi Jaya dan Sandra atas sikap Nathan.


Dengan susah payah Boy berhasil membawa Nathan pergi. Ia segera melajukan mobil dan menuju rumah keluarga Avicenna.


Selama perjalanan, Nathan terus meracau jika dirinya sangat mencintai Sheila. Boy yang tidak tega dengan kondisi adiknya, memutuskan untuk berhenti sejenak dan menepi.


"Nate, kakak tahu bagaimana perasaanmu. Tapi jangan berbuat seperti ini. Berikan Sheila waktu untuk bisa menyadari perasaannya."


"Sampai kapan, Kak? Aku tidak bisa menunggu lagi. Aku tidak mau!" Kini Nathan mulai menangis. Ia terisak dengan kisah cintanya. Begini deh baru pertama jatuh cinta, sekali jatuh benar-benar sakit rasanya.


"Baiklah. Keluarkan semua emosi dalam dirimu agar kau merasa lebih baik. Tapi besok kau harus bisa bangkit kembali."


...💟💟💟...


Ivanna menemui Sheila karena merasa tak enak hati dengan hubungan Nathan dan Sheila yang berakhir. Sedikit banyak ia sudah membantu Nathan untuk mengubah dirinya menjadi Tarjo.


Sheila menemui Ivanna dan duduk berhadapan dengannya. Ivanna sudah mendengar cerita lengkapnya dari Boy tentang yang terjadi semalam.


"Aku minta maaf, Shei. Aku tahu apa yang sudah kami lakukan tidak bisa di maafkan begitu saja. Tapi dengan menghukumnya seperti ini, kurasa ini sudah cukup. Dia sangat mencintaimu, Shei. Hanya kau saja. Aku mengenal Nathan sejak kami masih remaja. Dia tidak pernah mengenal satu gadis pun, Shei. Kau adalah yang pertama. Dan aku harap kau akan menjadi yang terakhir untuknya."


Usai mengatakan maksudnya, Ivanna pamit undur diri dari rumah Sheila. Sedangkan gadis itu hanya bergeming mendengar penjelasan Ivanna.


Sandra menghampiri Sheila yang masih diam dengan air mata yang kembali mengalir.


"Nak, jika kamu memang masih mencintai Nak Nathan, kenapa tidak mengatakannya saja. Mama rasa dia benar-benar serius dengan ucapannya. Sebaiknya kamu beri dia kesempatan."


Sheila memeluk Sandra dan menumpahkan kesedihannya dalam pelukan sang mama.


.


.


.


Dan disinilah Sheila kini berada. Di tempat pertama kali ia dan Nathan mengungkapkan rasa di hati mereka.


Sheila berdiri di depan wahana bianglala yang menjadi saksi bisu kisah cinta mereka. Sheila mengambil gambar bianglala itu kemudian mengirim gambarnya pada Nathan.


..."Datanglah kesini dalam 15 menit. Aku akan mempertimbangkan untuk memberimu kesempatan kedua jika kau menepati janjimu."...


...💟💟💟...


Saat ini Nathan sedang dalam perjalanan untuk rapat di luar kantor. Kali ini ia sendiri dan tidak bersama Harvey maupun Marina. Ia sedang ingin sendiri.


Nathan membuka ponselnya dan membaca pesan dari Sheila. Matanya terbelalak namun hatinya berbunga.


"Pak, putar balik sekarang!" perintah Nathan yang membuat Agus cukup kaget.


"Baik, Tuan!"


Nathan sudah tak sabar ingin menemui Sheila. Akhirnya perjuangannya akan menemui titik terang.


"Tuan, di depan jalanan sangat padat. Kita tidak mungkin bisa lewat di jam-jam seperti sekarang," ucap Agus.


"Ah, sial! Tidak ada waktu lagi." Nathan keluar dari mobil dan berlari sekencang yang ia mampu. Kali ini ia tidak akan menyiakan kesempatan yang diberikan Sheila.


Terik matahari yang kian menyengat tak menyurutkan langkah Nathan untuk menemui pujaan hatinya. Ia berhenti sejenak untuk melepas jasnya dan membawanya sambil berlari. Ia melonggarkan dasi yang melilit lehernya. Dengan napas yang memburu Nathan terus berlari. Sesekali ia melirik jam tangannya untuk memastikan jika dirinya masih memiliki waktu.


Sheila melirik jam tangannya. Sudah sepuluh menit berlalu. Itu artinya sisa lima menit lagi waktu yang ia berikan untuk Nathan. Akankah pria itu menepati janjinya?


Sheila menatap bianglala yang belum beroperasi. Pasar malam akan mulai dibuka setelah pukul tiga sore.


Matahari mulai menuju puncaknya. Sheila masih betah berdiri menanti seseorang yang akan membuktikan cintanya. Kembali ia melirik jam tangannya. Sudah lewat lima belas menit. Sheila mulai merasa jika ini tidak akan berhasil. Sheila memutar tubuhnya dan hendak kembali pulang.


Sheila terkejut karena melihat Nathan sudah berada di depannya. Ia sedang mengatur napasnya setelah berlari menuju ke tempat Sheila.


"Aku belum terlambat kan?" ucap Nathan. Langkah kakinya mulai mendekat pada Sheila.


Gadis itu terdiam melihat penampilan Nathan yang lusuh dengan peluh yang bercucuran.


"Aku mencintaimu, Sheila Adi Putri."


Satu kalimat itu berhasil membuat Sheila menangis. Nathan mendekat dan ingin meraih tubuh gadisnya.


Sheila memukuli dada Nathan dengan masih berlinang air mata.


"Pukul aku sampai kamu puas, Shei. Tapi setelah itu jangan lagi kamu pergi dariku. Karena aku tidak akan sanggup kehilanganmu."


Pukulan Sheila melemah. Tangannya tak lagi memukuli tubuh Nathan. Tanpa menunggu lama lagi Nathan segera mendekap tubuh gadis yang ia cintai itu. Tangisan Sheila makin keras ketika Nathan memeluknya. Setidaknya kini Nathan tahu jika gadisnya juga mencintai dirinya.