My Culun CEO

My Culun CEO
Kacau Galau



Nathan masih berdiri mematung dan menatap cincin yang dilemparkan oleh Sheila kepadanya. Ia mengambil cincin yang terjatuh itu. Ia menggenggamnya erat.


Sandra yang merasa tidak tega dengan Nathan, segera mendatangi pria itu. Sandra iba melihat Nathan yang masih syok dengan keputusan Sheila untuk membatalkan pertunangan mereka.


"Maafkan atas sikap Sheila, Nak Nathan. Kami juga tidak tahu dari mana Sheila bisa mengetahui hal ini," ucap Sandra.


"Sebaiknya Nak Nathan pergi dulu. Berikan Sheila waktu untuk bisa menerima semua ini. Jangan terlalu memaksanya karena ini akan membuatnya makin menjauh," sahut Adi Jaya.


Nathan mengangguk paham. Ia juga tahu percuma saja bicara dengan Sheila di saat seperti ini.


"Sekali lagi saya minta maaf pada Om Adi dan Tante Sandra. Kalau begitu saya permisi dulu."


Nathan sedikit membungkukkan tubuhnya lalu pergi dari rumah Sheila. Pikirannya sedang tidak sinkron. Ia melepas aksesoris sebagai Tarjo.


Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup kencang. Matanya tertuju pada sebuah klub malam yang di lewatinya. Ia tak pernah mendatangi tempat seperti itu.


Namun malam ini rasanya ia ingin menumpahkan segala kekesalan dan kebodohannya. Ia memarkirkan mobilnya di klub malam bernama Miracle. Klub malam ini ada di sebelah apartemen miliknya.


Nathan turun dari mobilnya dan mulai masuk ke dalam klub. Suara musik yang memekakkan telinga mulai terdengar di tengah cahaya lampu yang temaram.


Nathan duduk di salah satu kursi depan bartender. Ia memesan satu gelas minuman pada bartender. Tak lama minuman pun telah siap saji. Dengan sekali teguk minuman itu langsung tandas ke tenggorokannya.


Ia kembali memesan dan meminumnya hingga tandas beberapa gelas. Pandangannya mulai kabur. Nathan memutuskan untuk menyudahi acara minum-minumnya malam ini.


Nathan memberi beberapa lembar uang pada si bartender kemudian berlalu. Ia berjalan dengan sempoyongan dan hampir saja terjatuh. Beruntung ada seseorang yang menangkap tubuhnya.


...💟💟💟...


Malam ini, Sheila masih berdiam diri di kamarnya. Air matanya sudah memgering sejak tadi. Kini ia hanya melamun dan memikirkan hari esok yang lebih indah.


Ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari Naina. Sheila hanya melirik sekilas kemudian mengabaikannya.


Sheila masih betah memeluk gulingnya. Meski matanya enggan terpejam. Kembali pesan dari Naina masuk ke ponselnya.


"Ck, apaan sih?"


Dengan malas Sheila membuka pesan dari Naina. Namun ia tak membalasnya. Ia lebih memilih tidur dan berharap semua yang terjadi hari ini adalah mimpi.


Di tempat berbeda, tubuh Nathan yang sudah tak sadarkan diri di baringkan di atas ranjang.


"Bagaimana?" tanya seseorang yang baru datang ke kamar apartemen Nathan.


"Tuan Nathan sudah tidak sadarkan diri, Tuan."


Pria yang tak lain adalah Boy hanya memijat pelipisnya pelan.


"Ya sudah, kau boleh pergi. Terima kasih, Choky."


"Baik, Tuan. Permisi!" Choky memberi hormat kemudian berlalu.


Boy menatap Nathan yang terus meracau memanggil nama Sheila.


"Aku harus menghubungi Aleya. Malam ini aku harus tidur disini menemani Nathan. Jika tidak dia bisa saja berbuat hal nekat."


Boy meraih ponselnya dan menekan nomor Aleya. Usai menelepon, Boy berbaring di samping tubuh Nathan.


"Kau tahu, Nate. Antara papa, aku dan dirimu, sama sekali tidak jauh berbeda. Dulu papa juga sangat kacau ketika mama meninggalkannya. Dan aku ... aku juga kacau ketika Aleya menolakku berkali-kali. Lalu sekarang kau. Kita memang tidak ahli dalam memahami cinta. Tapi sekali kita jatuh cinta, kita akan menjaga cinta itu dengan segenap jiwa dan raga hingga maut memisahkan. Kau juga harus melakukan itu, Nate."


Boy menatap Nathan yang kini sudah terlelap.


"Kau harus berjuang jika kau memang sangat mencintai Sheila."


Usai sedikit bercerita tentang masa lalunya, Boy ikut memejamkan mata dan terbang ke alam mimpi.


...💟💟💟...


Keesokan harinya di kediaman Adi Jaya, Naina datang untuk menemui Sheila. Sandra menyambut baik kedatangan Naina untuk bisa menghibur Sheila.


Sandra mempersilakan Naina untuk langsung ke kamar Sheila. Gadis itu menurut dan kini sudah berada di depan pintu kamar Sheila.


Naina ragu untuk mengetuk pintu. karena semalam bahkan pesannya tidak dibalas oleh Sheila.


"Bagaimana ini? Kira-kira Sheila marah tidak ya aku tiba-tiba datang kesini?"


Naina ragu. Tapi dia harus tetap melakukan ini.


Tok tok tok


Naina menunggu beberapa saat hingga akhirnya Sheila muncul dari balik pintu. Naina tersenyum melihat Sheila.


"Naina?" Sheila cukup terkejut karena tak menyangka jika sahabatnya akan datang kemari.


"Ini bukan hari libur, apa kamu bolos kerja?"


"Heh?!" Naina bingung harus menjawab apa.


Kehadirannya disini tidak kurang karena campur tangan Rangga, kakak Sheila. Pria itu datang ke kantor Naina dan memohon agar Naina bisa cuti hari ini hingga seminggu ke depan.


Tentu saja tidak ada yang bisa menolak seorang Rangga Adi Putra, seorang hot daddy yang digemari para emak-emak. Pimpinan Naina pun akhirnya memberikan izin untuk Naina hingga seminggu ke depan.


"Umm, aku sedang cuti kerja, Shei," jawab Naina asal. Tapi itu memang benar.


"Oh, gitu. Ya udah ayo masuk!" Sheila mengajak Naina untuk masuk ke kamarnya.


"Shei, kita liburan yuk!" ucap Naina to the point.


"Hah?! Liburan? Apa gak salah?"


"Enggak lah! Ayolah! Aku rasa aku buruh liburan, dan sepertinya kamu juga butuh liburan."


"Mau kemana?" tanya Sheila mengernyit.


"Ke tempat yang dekat-dekat saja. Kita ke Pulau Ayer di Kepulauan Seribu. Kamu belum pernah kesana kan?" tawar Naina.


"Belum sih. Kapan kita berangkat?"


Tanpa pikir panjang Sheila langsung menyetujui ide dari Naina. Padahal ini adalah ide Rangga agar Sheila bisa melupakan sejenak masalahnya.


...💟💟💟...


Kembali kepada Nathan yang masih bergelung diatas tempat tidur. Rasanya semalam bagaikan mimpi buruk untuknya.


Boy menatap Nathan yang tak kunjung bangun. Ia menggeleng pelan. Ia menghubungi Harvey untuk mengurus pekerjaan Nathan hingga seminggu ke depan.


Boy membuatkan sarapan sederhana untuk Nathan dan dirinya. Apartemen ini terasa kosong tanpa sentuhan tangan wanita.


Mencium aroma yang melezatkan di indera penciumannya, Nathan segera terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap pelan dan memperhatikan sekitar. Ini adalah kamar apartemennya.


Nathan segera bangkit dan membasuk mukanya. Semalam ia tidak ingat apa yang terjadi hingga ia bisa sampai di apartemennya.


"Kak Boy?" Nathan terlihat kecewa karena ternyata bukan Sheila yang sedang memasak untuknya.


"Hai, buddy. Sudah sadar, huh? Kemarilah! Kita sarapan bersama."


Nathan mendekat dan duduk di meja makan.


"Kenapa kakak ada disini?" tanya Nathan polos.


"Kau tidak ingat apa yang terjadi semalam?"


Nathan menggeleng.


"Kau mabuk, dude! Kau tidak sadarkan diri. Beruntung aku sudah meminta Choky untuk mengawasimu."


Nathan tertunduk lesu. Boy tahu apa yang tengah dirasakan oleh adiknya itu.


"Aku tidak tahu siapa yang sudah membocorkan ini kepada Sheila. Tapi yang jelas, itu adalah orang luar," ungkap Boy.


Nathan menatap kakaknya serius.


"Jadi, maksud kakak ada yang sengaja ingin menghancurkan hubunganku dengan Sheila?"


"Entahlah. Mungkin saja. Kau tenang saja! Choky akan mencari tahu soal ini. Dan juga aku meminta bantuan Fajri juga."


"Kak! Sepertinya jangan meminta bantuan Bang Aji. Aku sudah terlalu malu padanya."


"Semakin banyak yang membantumu, semakin cepat masalah ini selesai."


Nathan terdiam. "Terima kasih, Kak. Aku tidak tahu harus bagaimana membalas kalian."


"Sudah, jangan banyak bicara! Makan sarapanmu lalu bersiaplah!"


"Bersiap kemana, Kak?" Nathan masih tidak mengerti apa rencana kakaknya.


"Jika kau memang mencintai Sheila, maka tunjukkan dan buktikan! Kejar dia sekarang juga! Dia ada di Pulau Ayer bersama sahabatnya. Kau temui dia dan minta maaflah padanya!"


Nathan berbinar senang. "Baik, Kak! Sekali lagi terima kasih!"


#bersambung...