My Culun CEO

My Culun CEO
#1 2 4



Naina dan Harvey tertegun setelah mendengar kabar tentang Vania. Mereka berdua langsung mendatangi rumah kontrakan Vania namun hanya bertemu si pemilik kontrakan yang tak lain adalah ketua RT.


Naina merasa bersalah pada Vania. Ia bahkan tidak tahu kemana Vania pergi.


"Ada seorang pria yang membawanya pergi," ucap pak RT.


"Eh? Siapa, Pak?" tanya Naina antusisas.


"Saya tidak tahu namanya, Mbak."


Naina membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah foto.


"Apakah orang ini?" tanya Naina.


"Iya, benar."


Naina dan Harvey saling pandang. Kemudian mereka berpamitan dan pergi dari sana.


"Jadi, tuan Edo yang sudah menolong Vania, Harv. Tapi, kemana dia membawa Vania?"


"Apa kau sudah mencoba menghubungi Vania?" tanya Harvey.


"Sudah, Harv. Ponselnya masih tidak aktif sejak kemarin."


"Ya sudah. Yang penting kita tahu siapa yang sudah menolong Vania."


"Harv, apa kau tahu nomor kontak tuan Edo? Aku ingin bertanya tentang kabar Vania."


"Ada di ponsel. Kamu cari sendiri saja." Harvey menyerahkan ponselnya.


Perjalanan pun di lanjut hingga mereka tiba di rumah Naina.


"Aku sudah mencatat nomor tuan Edo. Kamu mau mampir dulu?" tanya Naina.


"Iya, boleh. Kalau bisa sekalian buatkan makan malam untukku," ucap Harvey sambil menaikturunkan alisnya.


"Hmm, dasar! Ada saja maunya! Ayo cepat turun!"


Baru saja Naina akan membuka pintu gerbang rumahnya, sebuah suara mengejutkannya.


"Naina!"


Naina menoleh. "Sheila!" Naina bersorak gembira. Sudah sangat lama ia tidak mendengar kabar Sheila.


"Kamu sudah kembali?" tanya Naina.


"Iya. Tapi mama dan papa masih belum kembali," jelas Sheila.


"Kamu sendirian?"


"Itu sama Tuan Su!" tunjuk Sheila.


"Selamat malam, Tuan Nathan," sapa Naina ramah.


"Iya, Naina. Selamat malam. Hai, Harv. Bertemu lagi kita!" sapa Nathan yang membuat Harvey sedikit kikuk.


"Ayo masuk!" ucap Naina mengajak semua tamunya masuk.


#


#


#


"Jadi, kamu sudah dengar kabar tentang Vania juga?" tanya Naina pada Sheila ketika mereka mengobrol di ruang tamu.


"Iya. Aku tidak menyangka jika ada orang yang sejahat itu pada Vania!" kesal Sheila.


"Sudah bisa ditebak siapa pelakunya!" celetuk Nathan.


"Eh? Siapa Nate?" tanya Sheila.


Nathan menatap semua orang. "Siapa lagi kalau bukan geng nya Marina CS. Mereka selalu membuat onar."


"Ah, benar juga Nate. Sitta juga pernah berbuat curang kan saat kamu mau menjalin kerjasama dengan Edo. Cih, benar-benar ya dia itu! Nate, kamu harus bantu Vania. Coba minta orang-orangmu untuk menyelidiki semua ini." pinta Sheila dengan manja.


"Shei, sebaiknya kita jangan ikut campur urusan mereka. Lagipula sudah ada Edo yang akan membantu Vania," jawab Nathan santai.


"Ish, kamu ini!"


Setelah berbincang beberapa saat, Sheila dan Nathan pamit undur diri. Mereka akan membiarkan Naina dan Harvey untuk memadu kasih.


"Sebaiknya kalian cepat menikah. Tidak baik berduaan begini. Oke, Harv?" sindir Nathan lalu mengedipkan matanya menggoda Harvey.


"Haaah!" Harvey menghela napas.


"Ada apa? Dia adalah bosmu. Kenapa kamu sejak tadi hanya diam?" tanya Naina.


"Hah! Dia itu memang bosku, dan terlalu bossy!" kesal Harvey.


"Kenapa sih?" Naina masih belum mengerti.


"Jadi, semenjak Sheila menemani orang tuanya tinggal di Amerika, tuan Nathan jadi sering uring-uringan. Semua pekerjaan dia limpahkan kepadaku." keluh Harvey


"Aku datang kesini karena ingin bisa bersantai sejenak. Eh malah dia ikutan datang kesini." lanjutnya.


Naina terkekeh mendengar keluhan kekasihnya.


"Maaf ya. Aku juga tidak tahu kalau Sheila sudah kembali."


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kedua orang tua Sheila?" tanya Harvey penasaran.


Naina mengedikkan bahunya. "Aku tidak tahu, Harv."


"Lah, kamu kan teman dekat Sheila."


"Dia tidak bicara apapun soal ini."


"Hmm, aneh juga. Padahal kalian teman dekat."


"Lalu kamu? Kenapa kamu tidak bertanya pada tuan Nathan saja?"


"Heish! Kamu tahu sendiri dia seperti apa. Dia bahkan lebih mengerikan setelah LDR-an dengan Sheila."


Naina menggeleng. "Ya sudah. Kita jangan terus memikirkan masalah orang lain. Coba pikirkan tentang kita! Apa yang dikatakan tuan Nathan itu benar! Kapan kamu akan membawaku bertemu dengan orang tuamu?"


"Heh?!"


#


#


#


Damian mendatangi panti jompo tempat kakeknya tinggal. Baru satu hari Vania pergi dari hidupnya, kini hati Damian terasa hampa.


Damian duduk sendiri di bangku taman panti. Celia yang melihat Damian melamun akhirnya menghampiri pria itu.


Damian menggeleng. "Kakek pasti akan memarahiku jika aku masuk dan bertemu dengannya."


"Jika takut dimarahi lalu untuk apa Tuan datang kemari?" Celia heran.


"Aku sudah kehilangan dia, Celia..." ucap Damian sendu.


"Aku memang bodoh! Aku yang sudah mengusir dan memecatnya, tapi aku sendiri yang malah merasa bersalah dan menyesal."


Celia tertawa kecil. "Semua hal itu perlu di perjuangkan, Tuan Damian. Mungkin Tuan terbiasa dengan hidup yang mudah. Tapi, kehidupan yang sesungguhnya perlu sebuah perjuangan untuk mencapai sebuah akhir yang indah."


Damian terdiam. "Lalu apa yang harus kulakukan?"


"Apa Tuan bersedia menceritakannya padaku? Siapa tahu aku bisa membantu Tuan."


Damian menceritakan semua masalahnya dengan Vania dan juga kantor. Tanpa Damian tahu, jika Joseph sedari tadi mendengarkan semua obrolan Damian dan Celia.


Damian berhenti bercerita karena tiba-tiba saja kepalanya dipukul dengan gulungan koran.


"Aw!" pekik Damian. Ia memegangi kepalanya yang terasa berdengung.


"Kakek!" seru Damian kaget.


"Dasar bodoh! Kau ini sangat pintar berbisnis tapi sangat bodoh dalam hal cinta. Bagaimana bisa kau menyakiti hati seorang gadis seperti itu, hah? Kakek tidak habis pikir!" geram Joseph melihat kelakuan cucunya.


"Iya iya, aku tahu aku salah. Makanya aku ingin memperbaiki semuanya! Katakan sekarang aku harus bagaimana, Kek?"


"Dasar bodoh! Gunakan otakmu! Cari buktinya jika memang bukan gadis itu pelakunya. Kau ini jangan lemah! Kau harus tegas untuk menindak pelaku yang sebenarnya. Mengerti?"


Damian mengangguk patuh.


"Sekarang pergi dan mulai cari buktinya! Jika kau memang menyukai gadis itu, maka kau harus mengejarnya!"


#


#


#


Di kediaman Moremans, Vania dengan telaten mengurus Liliana yang masih terbaring lemah. Seharian ini Vania menemani Liliana agar kondisinya menjadi lebih baik.


Vania keluar dari kamar Liliana setelah memastikan wanita itu sudah terlelap. Vania bertemu Edo yang baru pulang dari kantor.


"Abang baru pulang? Apa sudah makan malam? Aku buatkan sesuatu ya!" cerocos Vania.


Edo segera mencekal lengan Vania.


"Tidak perlu, Van. Aku dengar dari bibi Imah jika kamu merawat mama seharian ini."


Vania tersenyum. "Iya, Bang. Aku senang bisa melakukan sesuatu untuk mama abang. Selama ini abang sudah banyak membantuku. Kini giliran aku yang membalas budi."


"Terima kasih, Vania. Maafkan mama jika dia agak merepotkan."


"Iya, tidak apa, Bang. Emh, oh ya, Bang. Apa aku ... boleh bertanya sesuatu?"


"Tanya apa?"


"Siapa sebenarnya Freya? Kenapa mama Abang selalu memanggilku dengan nama Freya?"


Edo terdiam. Sungguh ia tidak ingin membuka luka lama yang sudah ia kubur.


"Maaf jika aku terlalu lancang. Kalau begitu aku akan pergi ke kamarku."


Vania melewati tubuh Edo lalu berjalan menuju kamarnya. Edo berbalik menatap punggung Vania yang makin menjauh.


"Apa yang sebenarnya aku rasakan? Apa aku terlalu takut kehilangan kamu, Vania? Atau aku takut menghadapi kenyataan?" batin Edo.


#


#


#


Pagi harinya, Edo sudah berada di kamar Liliana dan menyapa wanita paruh baya itu yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Edo? Kamu disini, Nak?"


"iya, Ma. Bagaimana keadaan mama? Sudah lebih baik?"


Kesehatan Liliana yang terkadang naik turun membuatnya tidak bisa mendampingi sang suami yang mengurus bisnis di luar negeri.


"Mama sangat baik, Edo. Dimana Freya? Seharian kemarin dia menemani mama."


Edo menatap sedih Liliana. "Ma, dia bukan Freya. Dia..."


"Tidak, Edo! Dia Freya! Tanda lahir yang ada di telapak kakinya adalah tanda jika dia adalah Freya. Dia adikmu, Edo! Freya belum meninggal!"


#


#


#


Edo terus memikirkan kata-kata Liliana tentang Vania. Liliana sangat yakin jika Vania adalah Freya. Tapi yang membuat Edo ragu adalah ... kenapa Vania tidak memiliki ingatan Freya sama sekali?


"Aku harus memastikan sesuatu!" gumam Edo kemudian memutar balik kemudinya.


Ia menginjak pedal gas lebih dalam dan melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat. Ia menghubungi Jana untuk memberitahu jika dirinya akan datang terlambat hari ini.


Edo tak ingin membuang waktu lagi. Ia harus bisa mendapatkan jawabannya secepat mungkin.


Dan disinilah Edo kini. Berdiri menatap bangunan yang banyak dihuni oleh orang-orang yang sedang menebus kesalahan mereka.


Edo duduk dengan tidak tenang. Berkali kali ia menggerakkan kakinya untuk mengusir rasa gugupnya.


Seorang pria datang bersama petugas yang membawanya. Pria yang tak lain adalah Vicky kini duduk berhadapan dengan Edo.


"Siapa kau? Aku tidak merasa mengenalmu!" ketus Vicky.


Edo menatap Vicky dengan seksama. Ia memperhatikan setiap tindak tanduk Vicky yang nampak salah tingkah karena ditatap oleh Edo.


"Tuan, jika tidak ada yang ingin anda bicarakan, aku akan kembali ke selku!"


Vicky beranjak dari duduknya dan berbalik badan.


"Apa benar Vania adalah adik kandungmu?"


Pertanyaan Edo membuat langkah Vicky terhenti. Vicky pun kembali berbalik badan dan menatap Edo.


Hola hola, Nathan & Sheila kembali muncul. Kira2 kisah apa yang mereka bawa setelah ini ya?


Lalu bagaimana kisah Damian-Vania? Apakah benar Vania adalah Freya?


Staytuned terus ya! Terima kasih