My Culun CEO

My Culun CEO
#161 - Buanglah Egomu!



"Freya!"


Damian terus mengejar kemanapun langkah Freya pergi.


"Freya, tunggu!" seru Damian namun gadis itu masih tidak mendengarkan seruan Damian.


Damian mempercepat langkahnya bahkan cenderung berlari cepat diantara kerumunan orang yang berlalu lalang. Kantor milik Freya berada di pusat keramaian kota dimana banyak ruko dan gedung perkantoran.


"Freya!" seru Damian untuk terakhir kalinya karena ia berhasil mencekal lengan gadis itu.


Freya terdiam sejenak. Mereka berdua mengatur napasnya yang terengah.


Freya menoleh kearah Damian dan menepis tangan pria itu. Freya menatap Damian yang berpenampilan sangat berbeda. Rambutnya yang dulu pirang kini berubah hitam dengan belahan kanan yang rapi. Wajahnya dihiasi kacamata berbentuk persegi namun tanpa tompel dan juga kumis tipis.


Freya langsung mengenalinya meski orang-orang tidak. Freya masih ingat tatapan matanya yang tajam namun teduh jika menatap dirinya.


"Dia ada disini? Sejak kapan? Apa dia sudah kembali? Atau dia akan pergi lagi?" batin Freya.


Setelah terdiam beberapa saat usai insiden kejar-kejaran tadi, kini dua orang yang masih tetap saling diam itu duduk berhadapan di sebuah kafe. Damian memutuskan untuk mengajak Freya bicara di kafe agar lebih santai. Namun ternyata suasana canggung masih saja menyelimuti mereka berdua. Ditambah lagi mereka sudah tidak bertemu selama tiga tahun.


"Bagaimana kabarmu?" Kalimat pertama yang Damian ucapkan setelah tiga tahun tidak bertemu. Cukup lumayan untuk mencairkan suasana.


"Seperti yang kau lihat. Aku baik," jawab Freya datar.


Seorang pelayan membawakan pesanan mereka berdua. Damian memesankan secangkir coklat hangat untuk Freya. Saat ditanya tadi, Freya hanya diam, hingga membuat Damian harus memutuskan sendiri menu yang dipesan.


Damian tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada si pelayan.


"Minumlah! Coklat hangat sangat bagus untuk membangun moodmu yang terlihat buruk," ucap Damian.


Freya menurut. Ia meminum sedikit demi sedikit coklat hangat yang ada di depannya.


"Kau tidak perlu membelaku!" sahut Freya.


"Eh? Membelamu? Aku tidak membelamu. Kau sendiri yang bertanya kepada kerumunan pendemo itu kan?"


Freya melengos. Apa yang dikatakan Damian memang benar. Dirinyalah yang meminta pembelaan.


"Terima kasih," ucap Freya kemudian.


Damian tersenyum. "Tataplah lawan bicaramu jika sedang berbincang, Frey."


Dengan malu Freya menatap Damian. Sejenak mata mereka beradu untuk menyiratkan sebuah kerinduan.


"Senang bisa melihatmu lagi, Frey..."


#


#


#


BRUK!


Freya menghempaskan tubuhnya di ranjang empuk miliknya. Ia masih tidak percaya jika ia akan bertemu lagi dengan Damian.


"Secepat inikah?" gumamnya.


Freya menatap langit-langit kamarnya. "Tidak! Ini tidak cepat! Tiga tahun bukanlah waktu yang cepat. Selama itu juga aku terus memikirkannya. Aku tidak pernah melupakannya. Tapi egoku selalu mengesampingkan semua kerinduan itu."


Buliran bening itu tanpa di minta mengalir begitu saja dari sudut mata Freya.


"Maafkan aku, Damian..." lirihnya dengan air mata yang terus mengalir.


Di tempat berbeda, Damian juga kembali ke rumahnya. Ia sengaja membangun sebuah rumah sederhana di samping kedai surabi miliknya.


Damian memutuskan kembali ke Indonesia setelah sang kakek berpulang untuk selama-lamanya. Ayahnya masih tinggal di Paris, namun Damian ingin membuka cabang bisnisnya di Indonesia saja.


Damian sadar jika persaingan bisnis makanan sangatlah ketat. Apalagi dengan bermunculannya makanan-makanan dari luar negeri yang ikut menjamur di Indonesia, membuat Damian harus memutar otak agar kue surabi buatannya masih tetap diminati oleh penikmat makanan tradisional yang kini sudah jarang ditemui.


Damian mengulas senyum karena akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan Freya. Gadis yang tak pernah keluar dari hatinya itu masih tetap setia bertahan disana. Banyak godaan yang sempat mendatangi dirinya. Namun cintanya terhadap Freya sangatlah kuat. Ia tidak terpengaruh oleh gadis manapun. Bahkan kini Rachella sudah menyerah dan memilih mengencani rekan sesama selebriti.


Senyum yang tadi terus mengembang kini surut kala mengingat jika Freya masih bungkam dengan perasaannya.


"Harus bagaimana lagi aku membuatmu percaya, Frey?"


Damian memijat pelipisnya pelan. Ia tak akan menyerah kali ini. Ia harus bisa mendapatkan kepercayaan dan hati Freya kembali.


#


#


#


Keesokan harinya, Freya keluar dari kamar dengan wajah sembab dan penampilan kusut yang berantakan. Aisha yang kini tinggal satu apartemen dengannya sudah menyiapkan sarapan untuk Freya.


"Nona, ayo sini sarapan!" panggil Aisha.


Aisha tahu suasana hati nonanya ini sedang sangat buruk setelah kejadian kemarin. Ditambah dengan kejadian pertemuannya dengan Damian. Menambah daftar mood buruk dalam hati Freya. Tapi, Aisha sendiri masih belum tahu jika pria yang kemarin membela Freya adalah Damian.


"Nona, minumlah ini!" Aisha menyodorkan secangkir kopi kesukaan Freya.


"Terima kasih," ucap Freya lalu duduk berhadapan dengan Aisha.


Ponsel Aisha berbunyi. Sebuah notifikasi masuk disana.


"Hah?!" Aisha menutup mulutnya.


"Ti-tidak ada apa-apa, Nona," jawab Aisha gugup.


"Jangan menutupinya. Aku baik-baik saja kok!" sahut Freya yang terdengar tegar.


"Emh, ini Nona. Mengenai kejadian kemarin ... sudah banyak media online yang merilisnya. Dan juga ... saham kita merosot drastis. Banyak klien yang juga tiba-tiba memutuskan kontrak kerjasama dengan kita." Aisha menjawab dengan sangat hati-hati.


Freya mengambil napas dalam dan menghembuskannya pelan. Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan yang bertumpu di meja.


"Ini adalah salahku!" gumam Freya.


"Tidak! Jangan bicara begitu, Nona. Si tua bangka itu yang keterlaluan. Aku harus menjambak rambutnya sampai botak jika bertemu lagi dengannya," sungut Aisha.


Freya tersenyum. "Terima kasih kau mau membelaku. Sekarang kita harus bagaimana?"


Aisha terdiam. Ia tak tega melihat kesedihan Freya. Tapi ia juga bingung harus berbuat apa untuk membantu nonanya.


Seharian ini Freya mengurung diri di kamarnya. Ia tidak melakukan apapun, dan bahkan tidak pergi ke kantor.


Freya tak menyangka jika keberhasilannya hanya sampai disini saja.


"Semuanya sudah berakhir! Semuanya sudah usai!" gumam Freya yang terlihat sangat putus asa.


#


#


#


Tiga hari kemudian...


Bel apartemen Freya berbunyi. Freya yang baru saja akan memasak makan malam untuk dirinya sendiri akhirnya menuju pintu dan membukanya.


Freya tertegun di depan pintu.


"Damian?" gumamnya.


"Hai, bagaimana kabarmu?" tanya Damian dengan mengulas senyumnya.


"Masuklah!" sahut Freya tanpa menjawab pertanyaan Damian.


Damian memperhatikan kondisi apartemen Freya.


"Kau tinggal sendiri?"


"Tidak. Aku bersama Aisha. Duduklah! Aku akan memasak makan malam dulu."


"Biar aku saja yang masak!" sahut Damian cepat.


"Eh?" Freya mengernyit bingung.


"Kau duduk saja! Aku yang akan memasak!" Damian langsung menuju dapur.


Freya hanya terpaku melihat Damian yang dengan cekatan mengolah makanan.


"Apa benar ini kau?" tanya Freya.


"Yup! Memangnya siapa kalau bukan aku?"


"Sejak kapan kau bisa masak?"


"Sejak dua tahun lalu. Aku belajar masak dari koki profesional di rumah Jonathan. Ups, maksudku ayahku." Damian meringis.


Freya tertawa kecil. Ia memilih untuk duduk di meja makan dan menunggu Damian selesai memasak.


Aroma harum mulai memasuki indra penciumannya. Seulas senyum terbit di sudut bibirnya.


"Taraaa! Sudah jadi! Cobalah! Ini bisa mengobati hati yang sedang buruk agar lebih ceria."


"Sepertinya enak! Aku coba ya!"


Damian mengangguk dan Freya langsung mengambil sendok lalu meniup perlahan dan memasukkannya kedalam mulut.


"Emh, enak! Terima kasih. Kalau begitu kau juga ikut makan!"


Entah sejak kapan suasana hangat mulai tercipta di ruang makan itu.


"Kenapa kau bisa tahu jika aku butuh seseorang untuk menghiburku?" tanya Freya usai makan malam.


"Aku mengenalmu, Freya. Tentu saja aku tahu apa yang kau butuhkan."


Freya beranjak dari kursi ruang makan dan bermaksud membawa piring kotor mereka ke wastafel. Namun ternyata tubuh Freya terlalu lemah hingga Damian berhasil menangkapnya yang hampir terjatuh.


"Jangan dipaksakan, Frey! Buanglah egomu! Jangan takutkan apapun karena aku akan selalu bersamamu."


Damian mengangkat tubuh Freya ala bridal dan membawanya ke sofa. Damian merebahkan tubuh Freya dengan hati-hati seolah itu adalah benda mudah pecah.


Jantung Freya berdegup tak beraturan ketika posisi mereka begitu dekat satu sama lain. Freya menatap wajah Damian yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Terima kasih," lirih Freya.


Damian menyunggingkan senyumnya. Ia menatap lekat Freya yang amat dirindunya. Bibir pucatnya mengundang Damian untuk mengikis jarak.


Freya memejamkan mata ketika sentuhan Damian kembali ia rasakan. Lembut dan sarat akan perasaan cinta.


Mungkinkah ini awal untuk mereka kembali bersama?