
"Freya... Menikahlah denganku!"
"Eh?"
Damian panik karena Freya hanya diam.
"Freya... Ada apa?" Damian mengusap pipi Freya.
Gadis itu tersenyum pada Damian. "Jangan memikirkan hal lain dulu. Pikirkan dulu tentang kesembuhanmu. Aku akan menemanimu. Jangan khawatir," balas Freya dengan menggenggam tangan Damian.
"Tanganmu kenapa di perban? Apa kamu terluka?" tanya Freya yang melihat tangan kanan Damian di perban.
"Bukan apa-apa kok. Ini hanya ... luka kecil."
Freya menatap Damian sendu. "Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal bodoh. Cukup percaya saja padaku. Mengerti?"
Damian mengangguk. "Apa yang kamu bicarakan dengan ayahku? Liam bilang jika kamu ... tadi bicara dengan ayahku."
Freya mengulas senyumnya. "Itu ... rahasia!"
"Hei, kenapa main rahasia-rahasia segala denganku?"
"Jangan marah! Kami hanya bicara tentang kisah yang sudah berlalu. Yang tidak pernah kau katakan padaku."
"Kau percaya pada siapa Freya? Masa lalu atau yang terlihat sekarang?"
"Entahlah. Aku ingin mempercayaimu. Bisakah kau membuatku percaya?"
Damian memeluk Freya. "Aku akan membuktikannya. Aku pasti akan membuktikannya," ucap Damian dengan sungguh-sungguh.
Sementara di tempat berbeda, Josh kembali ke apartemen Damian dan membereskan apa yang sudah diperbuat Damian semalam. Pria itu menatap sekeliling ruangan. Banyak barang berserakan dan berantakan.
Josh menuju ke kamar mandi dimana cermin yang ada disana sudah pecah berserakan dengan noda darah disana. Josh sudah bisa memprediksi jika semalam Damian pasti mengamuk lagi.
Beruntung semalam Josh langsung menuju ke apartemen Damian begitu menghubungi ponsel Damian yang tidak aktif. Firasat Josh mengenai Damian sangatlah kuat.
Damian bukan hanya menjadi bos untuknya, tetapi juga seperti seorang adik untuk Josh. Dan seorang kakak akan selalu menjaga adiknya.
"Kapan semua ini akan berakhir, Tuan? Aku ingin melihatmu seperti dulu lagi." Tak terasa air mata Josh jatuh membasahi pipi. Ia segera menyekanya karena petugas kebersihan yang dibayar Josh sudah datang.
"Pak Josh?" panggil seorang pria paruh baya.
"Tolong bersihkan semuanya dan pastikan semua barang-barangnya diganti dengan yang baru," ucap Josh.
"Baik, Pak."
Josh keluar dari kamar mandi dan menuju ke kamar Damian. Kamarnya masih tertata rapi. Josh tersenyum melihat beberapa bingkai foto yang tergantung di kamar Damian.
Ada foto Damian dan kedua sahabatnya, Edo dan Samuel. Lalu fotonya bersama Freya. Dan ada juga foto Josh disana. Josh tersenyum karena ternyata Damian memang menganggapnya sebagai orang terdekatnya.
Josh berlalu dari kamar Damian. Ia mendapat telepon dari Liam jika besok Damian sudah diperbolehkan pulang. Josh bernapas lega.
"Semoga kedepannya, tidak akan ada lagi kejadian seperti ini," gumam Josh dalam hati.
#
#
#
"Ma, Pa, ada apa?" tanya Freya.
"Nak, ada yang mau mama bicarakan denganmu." Liliana menatap Laurent. Sepertinya ada sesuatu yg disembunyikan oleh kedua paruh baya ini.
"Nak, karena mamamu sudah membaik. Papa ingin mengajak mama ikut dengan papa tinggal di luar negeri. Dulu papa meminta mama tetap disini agar bisa lebih nyaman tinggal di rumah sendiri. Apa kamu tidak apa kami tinggal?" ucap Laurent.
Freya tersenyum. "Papa, Mama! Tentu saja tidak apa. Aku baik-baik aja kok disini."
"Mama berharap kamu cepat menikah agar kamu memiliki teman untuk berbagi."
Freya memegangi tangan Liliana. "Ma, saat ini Damian masih dalam masa perawatan. Aku akan menunggunya hingga dia pulih."
"Apa kamu yakin akan memilih Damian?" tanya Liliana.
Freya menghela napas. "Aku ... tidak tahu, Ma. Aku hanya memiliki cinta untuknya. Dan dia membutuhkan aku dalam hidupnya. Aku tidak bisa meninggalkannya."
Liliana dan Laurent mengangguk. "Jangan jadikan ini sebagai beban, Nak. Cinta itu harusnya membuatmu terus bahagia. Jangan malah membebani hatimu. Kamu mengerti?"
Freya mengulas senyumnya. "Kapan Mama dan Papa berangkat?"
"Malam ini, Nak. Kamu tidak perlu mengantar kami ke bandara. Sudah ada Edo dan Rizka yang mengantar kami. Kamu istirahat saja. Kamu pasti lelah sudah berada di rumah sakit seharian ini."
Dua jam kemudian, Freya mengantar kedua orang tuanya hingga sampai depan halaman rumah dan melambaikan tangan kepada mereka.
Freya menatap rumah besar yang di tinggalinya. Sepertinya ia akan mulai kesepian jika hanya tinggal sendiri disini.
"Apa sebaiknya aku membeli apartemen saja?" gumam Freya.
Freya berbalik badan dan akan kembali masuk kedalam rumah. Namun tiba-tiba seseorang memanggil namanya.
"Chef Andreas?" Mata Freya membola melihat Andreas ada di depannya.
"Aku dengar ayah dan ibumu kembali ke luar negeri. Aku ingin berpamitan juga dengan mereka tapi sepertinya aku datang terlambat."
"Ada apa Chef datang kemari lagi?" tanya Freya ketus.
"Aku tahu masalah Damian. Aku turut berduka. Aku harap kau bisa sabar menghadapinya."
"Apa maksud Chef mengatakan hal ini padaku?" sarkas Freya.
"Freya! Kau tidak tahu apa yang sedang kau hadapi. Kepribadian Damian bermasalah. Apa kau sanggup menerima semua itu? Itu bukan penyakit yang bisa disembuhkan dengan mudah, Freya!"
"Cukup!" Freya memejamkan matanya. "Chef tidak berhak menghakimi Damian seperti ini! Dia memang sakit, tapi aku akan jadi penyembuh untuknya! Aku yakin aku bisa melakukannya!" tegas Freya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Freya... Apa kau siap untuk terluka? Kau bahkan sudah pernah mendapatkan luka dari Damian. Apa kau bisa bertahan meski kau terluka?"
Freya tak ingin terus berdebat dengan Andreas. Ia memilih masuk dan meninggalkan Andreas.
Freya menuju ke kamarnya dan duduk di sofa. Air mata yang sedari tadi di tahannya kini tak bisa lagi ia bendung.
Freya menangis sekencang-kencangnya. Kini ia tak perlu bersembunyi dari siapapun lagi. Tangannya memukuli dadanya yang terasa sesak.
Cintanya kini sedang terluka. Dan Freya sendiri masih tidak yakin apakah ia akan bisa menghadapi masa depannya bersama dengan Damian.
Keberanian yang kemarin muncul, tiba-tiba menghilang bak di telan bumi.