My Culun CEO

My Culun CEO
#139 - Ingatan Masa Lalu



Freya dan Udin kembali ke kantor dan berkutat dengan pekerjaannya lagi usai makan siang bersama. Entah kenapa sosok Udin membuat Freya nyaman dengan kesederhanaan dan keluguannya.


Freya merasa ia melihat dirinya yang dulu dalam diri Udin. Hari ini Freya menghabiskan waktunya seharian di kantor dengan setumpuk berkas yang harus ia periksa.


Freya mulai menguap. Tubuhnya mulai meminta untuk diistirahatkan. Ia meregangkan otot-ototnya sejenak.


Ia meminum segelas air mineral yang ada di mejanya. Ketika akan beranjak dari kursi...


"Akh!" Freya memegangi kepalanya. Terasa berdengung dan menyakitkan.


Sebuah siluet hadir dalam pikirannya.


"Ada apa ini? Kenapa kepalaku sakit sekali?" gumam Freya.


Ia berusaha berjalan keluar dari ruangannya. Ia memegangi kepala sambil meraba dinding.


Freya tiba di luar ruangan dan masih memegangi kepala. Bayangan itu kembali muncul.


"Anak itu...? Siapa anak itu?"


Tubuh Freya sempoyongan. Beruntung Udin yang masih belum pulang segera memeganginya.


"Nona? Anda tidak apa-apa?" tanya Udin.


"Udin..." lirih Freya kemudian matanya mulai berat. Semuanya semakin hilang dan menghitam. Freya tak sadarkan diri.


"Nona! Nona Freya! Bangun Nona!" Udin menepuk pipi Freya pelan.


Tak ingin terjadi sesuatu dengan Freya, Udin segera membawanya keluar dan menuju ke rumah sakit terdekat.


Tiba di rumah sakit, Udin mondar mandir di depan ruang IGD. Sebelumnya ia sudah meminta seorang satpam untuk menghubungi keluarga Freya.


Edo berjalan dengan panik menuju ke arah Udin. Pria itu mematung melihat kedatangan Edo dengan wajah paniknya.


"Bagaimana ini? Apa Edo akan mengenaliku?" batin Damian.


Edo menatap Udin dengan dahi berkerut.


"Siapa kau?" tanya Edo.


"Saya office boy yang baru di lantai 7, Tuan," jawab Udin berusaha menutupi kegugupannya.


"Apa yang terjadi? Kenapa Freya bisa sampai pingsan?" tanya Edo lagi.


"Saya juga ndak tahu, Tuan. Nona Freya memegangi kepalanya, sepertinya kesakitan."


"Keluarga Freya Moremans!" Seorang perawat keluar dari ruang IGD.


"Iya, saya kakaknya."


"Silakan masuk, pasien sudah sadar."


Edo mengangguk. Ia menatap Udin dan menepuk bahunya.


"Terima kasih banyak ya, Udin."


Udin mengangguk. Edo langsung masuk ke dalam setelah berterimakasih.


Edo mengikuti langkah si perawat menuju bilik Freya. Ia melihat adiknya terbaring lemah di brankar rumah sakit.


"Frey..." lirih Edo.


"Abang..."


"Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa sampai pingsan?" tanya Edo dengan mengusap puncak kepala Freya.


"Jangan beritahu mama soal ini, Bang..." ucap Freya lirih.


"Iya, abang tahu. Bagaimana perasaanmu sekarang?"


"Aku ... mengingat sesuatu, Bang."


"Eh? Sesuatu apa?"


"Anak itu... Anak laki-laki itu... Yang aku temui di rumah sakit saat abang mengalami cedera saat bermain bola... Itu adalah sebelum aku datang kemari lalu mengalami kecelakaan. Benar kan?" ucap Freya lirih.


Edo tertegun. Ia tak menyangka jika Freya akan mengingat kejadian 12 tahun yang lalu.


"Beristirahatlah dulu disini! Abang akan menemui dokter dan mengurus administrasi."


Edo mengecup puncak kepala Freya kemudian keluar dan masuk ke ruangan dokter yang memeriksa kondisi Freya.


Edo duduk berhadapan dengan dokter jaga yang memeriksa Freya.


"Kenapa dia tidak mengingat soal keluarganya dan malah mengingat tentang orang lain yang tidak penting?" tanya Edo yang cukup bingung dengan kondisi Freya.


"Jangan menganggap sebuah ingatan itu tidak penting, Tuan Edo. Semua ingatan itu penting tergantung dari mana kita melihatnya. Mungkin bagi nona Freya ingatan tentang seseorang itu amat berarti, makanya dia malah mengingat soal itu dibandingkan yang lain."


Dokter bilang jika kondisi Freya sudah membaik, ia sudah diperbolehkan pulang. Edo membayar tagihan kemudian menuju ke bilik milik Freya.


Gadis itu sudah turun dari brankar dan sedang membenahi pakaiannya.


"Kamu sudah baikan?" tanya Edo.


"Iya, bang. Suster bilang aku sudah diperbolehkan pulang."


"Iya jika kamu sudah merasa baikan."


"Aku baik-baik saja. Ayo kita pulang, bang. Mama pasti khawatir."


Edo mengangguk kemudian memapah tubuh Freya yang masih lemah.


"Terima kasih, Bang. Oh ya, siapa yang menghubungi abang?"


"Tadi pak satpam yang menelepon. Tapi yang mengantarku kemari adalah OB baru di lantaimu."


Freya mengangguk. "Oh, namanya Udin."


"Hmm, abang tahu kok."


#


#


#


Esok harinya, Freya berangkat ke kantor lalu mencari keberadaan Udin. Ia ingin kembali berterimakasih pada pria culun itu.


Pria itu biasanya berangkat paling pagi dari OB yang lain. Freya mengedarkan pandangan mencari sosok Udin yang belum terlihat di matanya.


Freya bertemu Jono yang sedang membersihkan ruangan staf. Mau tak mau Freya harus bertanya kepadanya.


"Jono, apa kamu tahu dimana Udin?" tanya Freya sedikit ragu.


"Oh, bang Udin hari ini izin tidak masuk, Nona. Sepertinya ada urusan pribadi." jawab Jono.


"Ah begitu ya. Baiklah kalau begitu. Lanjutkan pekerjaanmu."


Freya melangkah kembali ke ruangannya dengan sedikit kecewa. Padahal baru semalam Udin membantunya pergi ke rumah sakit.


"Apa jangan-jangan dia sedang sakit?" gumam Freya


"Apa aku harus mengiriminya pesan? Ah, tapi aku gak punya nomor ponselnya. Mana mungkin aku bertanya pada Jono ataupun Doni."


"Ah, sudahlah! Aku harus fokus pada pekerjaanku saja!" Freya kembali membuka berkas yang ada di meja kerjanya.


Sementara itu, hari ini Damian tak bisa berubah menjadi Udin karena banyaknya pekerjaan yang sudah menanti dirinya.


Josh memang bisa diandalkan, tapi ada hal yang tidak bisa di wakilkan. Dan Damian harus mengurusnya sendiri.


"Kerja bagus, Josh. Kau sudah mengurusnya dengan baik." ucap Damian sambil membubuhkan tanda tangannya di berkas yang menumpuk di mejanya.


Josh hanya memutar bola matanya malas. Ekspresinya selalu datar dan terksesan dingin juga tak tersentuh.


"Bagaimana dengan rapat bersama Freya kemarin?"


"Baik, Tuan. Semua berjalan sesuai dengan rencana."


"Baguslah. Lalu, hari ini apa yang harus kulakukan."


"Ini, Tuan. Ini jadwal untuk hari ini. Tuan akan sangat sibuk hari ini."


"Benarkah? Aku harus bersemangat hari ini!" Damian meregangkan otot-ototnya sejenak.


"Kau boleh keluar, Josh!" ucap Damian dan diangguki oleh Josh.


Damian kembali memeriksa berkas di depannya. Tertulis More Trans disana dan itu membuatnya mengingat tentang Freya.


"Bagaimana kabar gadis itu? Kemarin dia pingsan dan aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya." gumam Damian sambil mengusap dagunya.


Damian meraih ponselnya. Ia menatap layar ponselnya yang terdapat foto Freya sebagai wallpaper.


"Apa lagi yang harus kulakukan denganmu?"


Ponsel Damian bergetar. Lebih tepatnya ponsel Udin. Tentu saja Damian harus memiliki dua ponsel untuk bisa melakukan penyamaran ini.


Sebuah pesan dari Jono.


"Bang, nona Freya tadi mencarimu. Aku gak tahu kenapa dia mencarimu. Besok sudah mulai masuk lagi kan, bang? Jangan lupa janjinya buat traktir kita makan enak."


Damian terkekeh membaca pesan Jono. Hari ini ia meminta Jono untuk menggantikan tugasnya dan sebagai imbalannya, Damian akan mentraktirnya makan enak.