
"Tuan muda!"
Sebuah suara membuat kedua orang yang sedang merapatkan tubuh mendadak saling melepaskan diri.
Baik Nathan maupun Sheila bersikap salah tingkah dan canggung.
"Maaf, Tuan Muda." Choky merasa ia datang di saat yang tidak tepat.
"Ada apa, Paman?" tanya Nathan datar dan tegas. Sikap dinginnya selalu ia tunjukkan pada bawahannya.
"Bagaimana dengan pria yang bernama Vicky itu? Mau kita apakan dia?"
Nathan beralih menatap Sheila.
"Dia harus membayar hutang pada Naina sebesar lima puluh juta," ucap Sheila.
"Kalau begitu coba geledah semua barang-barang miliknya. Jual saja motor yang tadi dipakainya," titah Nathan. Ia menatap Sheila kembali. Baru kali ini ia harus berkelahi hanya karena uang 50 juta.
"Ayo, kita keluar!" ajak Nathan.
"Iya." Sheila mengangguk dan mengekori langkah Nathan. Kehangatan yang sempat tercipta, kini kembali membeku.
Kini mereka telah tiba di depan mobil Nathan. Sheila melirik wajah Nathan yang dipenuhi luka lebam.
"Ayo, cepat masuk mobil!" perintah Nathan lagi.
"Tunggu! Wajahmu terluka sebaiknya diobati dulu," ucap Sheila.
"Apa kau punya kotak obat di mobilmu?" lanjutnya.
"Ada di dalam mobil. Kau ambil saja sendiri," balas Nathan.
Sheila menemukan kotak obat dan segera menghampiri Nathan yang sedang bersandar di depan mobilnya.
"Sini aku obati!" ucap Sheila dengan berdiri di depan Nathan.
Gadis itu menuang sedikit alkohol dan mengusapnya pelan pada wajah Nathan yang terkena pukulan.
"Aku tidak tahu jika kau pandai berkelahi," tutur Sheila.
"Masih banyak hal yang tidak kau ketahui tentang aku, Shei..." gumam Nathan.
"Hmm? Kau bilang apa?" tanya Sheila.
"Ah, tidak ada," balas Nathan datar.
Nathan terus memperhatikan Sheila yang sedang mengobati luka memar di wajahnya.
"Apa dia benar-benar tidak mendengar pernyataanku kemarin?" batin Nathan kembali bertanya.
"Apakah sakit?" tanya Sheila saat mengoleskan salep perlahan.
"Tidak!"
"Eh?" Sheila menatap Nathan. Mata mereka kembali beradu.
"Ya Tuhan! Ada apa dengan jantungku? Kenapa tidak tenang begini berada di dekat gumpalan es. Tatapannya kenapa begitu?" Batin Sheila meronta.
"Lain kali jangan melakukan hal yang bisa membuatmu dalam bahaya. Kau benar-benar merepotkan! Sudah manja, merepotkan pula!" sarkas Nathan. Kembali ia tak bisa mengontrol diri hingga harus menyakiti Sheila lagi dengan ucapan tajamnya.
Seketika wajah Sheila berubah masam. Gumpalan es telah kembali.
"Iya, maaf. Aku tidak akan merepotkanmu lagi," lirih Sheila.
"Kau ini baru sembuh. Bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu? Orang tuamu menitipkanmu padaku. Apa yang akan kukatakan pada mereka jika kau terluka, hah?!"
Sheila menghentakkan kakinya.
"Iya iya! Sudah selesai ngomelnya? Ngomel mulu kayak ibu pemilik kontrakan!" Sheila yang sudah selesai mengobati Nathan segera berbalik dan masuk ke dalam mobil.
Nathan merutuki dirinya sendiri dalam hati. "Bodoh kau, Nathan!"
Ponsel Nathan berdering. Sebuah panggilan dari Choky. Ia segera masuk ke dalam mobil dan tancap gas dari sana.
"Kita mau kemana?" tanya Sheila.
"Kau bilang ingin pria itu membayar hutangnya pada temanmu. Tentu saja kita akan ke tempat temanmu itu! Dasar merepotkan!"
Sheila mengerucutkan bibirnya. Pria di sebelahnya ini sebentar hangat, sebentar dingin. Sheila tidak tahu apa maunya. Sheila melipat tangannya dan menatap lurus ke depan.
#
#
#
Tiba di kantor Naina, gadis itu melongo melihat kekasihnya yang dibawa paksa oleh anak buah Choky. Kondisi Vicky yang babak belur dan sedikit pincang. Pria itu menatap Naina dengan tatapan sengit. Ia mengira jika ini adalah perintah Naina.
"A-ada apa ini?" tanya Naina bingung.
"Kami di perintahkan oleh Tuan Muda Nathan untuk membawa pemuda ini kemari dan membayar hutangnya," jelas Choky.
"Tuan Muda Nathan?" Naina mengernyit bingung mendengar nama asing di telinganya.
Tak lama, Sheila datang dan memanggil Naina.
"Naina!" seru Sheila.
"Sheila?!" Naina makin bingung dengan semua ini.
Sheila memeluk Naina sejenak. "Na, aku sudah menemukan kekasih brengsekmu ini. Dia akan membayar hutangmu saat ini juga," terang Sheila.
"Eh? Kok bisa?" tanya Naina masih bingung.
"Ya bisalah! Paman Choky, mana uangnya?" tanya Sheila.
"Ini Nona!" Choky menyerahkan bungkusan uang tunai hasil dari penjualan motor Vicky.
Naina menerima uang itu dan menghitungnya.
"Hah?! Ini kebanyakan, Shei," ucap Naina.
"Tidak apa. Anggap saja itu adalah bunganya," ucap Sheila sambil meringis.
Sebuah suara langkah tegap dan berat ikut bergabung dalam obrolan itu.
"Bagaimana? Apa sudah selesai?" tanya Nathan pada Sheila.
"Sudah. Terima kasih banyak, Nathan, Paman Choky," ucap Sheila.
"Dan kau! Jika sekali lagi kau mengganggu kedua gadis ini, maka kau akan berurusan denganku. Mengerti kau?!" tegas Nathan.
Vicky mengangguk lemah.
"Dan mulai sekarang, aku mau kita putus!" ucap Naina tegas.
Nathan memberi kode pada Choky untuk membawa Vicky keluar dan melepaskannya.
Sheila menggenggam tangan Naina.
"Na, aku yakin kau akan menemukan pria baik lainnya. Masih banyak pria baik diluaran sana."
"Iya, Shei. Makasih ya! Aku nggak tahu harus gimana balikin uang itu."
Sheila mengangguk. Naina melirik Nathan.
"Shei, dia siapa?" tunjuk Naina sambil bertanya.
"Eh? Kenalkan ini Nathan, dia ini..."
"Aku calon suami Sheila," tegas Nathan.
Sheila melotot tak percaya. "Apa maksudmu? Bukan, Na. Dia ini..."
"Ciyeee, udahlah Shei. Nggak usah malu. Dia tampan sekali, Shei," goda Naina.
"Iih, apaan sih?" Sheila malu karena Naina terus menggodanya.
Naina menarik lengan Sheila agar sedikit menjauh dari Nathan.
"Shei, jadi akhirnya kau menerima perjodohan ini?" bisik Naina.
"Entahlah, aku tidak tahu," jawab Sheila menunduk. "Aku mencintai Tarjo, Na. Aku tidak mencintai Nathan," lirih Sheila.
"Shei, cinta akan hadir seiring berjalannya waktu. Percaya deh sama aku!" Naina memegangi kedua bahu Sheila.
"Dia tampan, baik, dan dia juga perhatian. Kalian sangat cocok!" ucap Naina.
"Perhatian dari mana? Dia selalu dingin padaku!" gumam Sheila dengan masih menunduk.
"Mungkin dia hanya tidak bisa menunjukkan perasaannya saja. Kau harus menunggu hingga dia mengungkapkan perasaannya. Kulihat tatapannya sangat berbeda padamu. Aku yakin dia menyimpan rasa untukmu."
Sheila mendongak dan menatap Naina. Kemudian gadis itu memeluk sahabatnya itu.
"Mau sampai kapan kalian berpelukan?!" ucap Nathan jengah.
"Aku pergi dulu ya!" pamit Sheila.
"Iya. Sekali lagi terima kasih, Shei. Terima kasih, Tuan Nathan."
Nathan hanya menjawab dengan anggukan. Sheila melambaikan tangannya ketika berjalan meninggalkan kantor Naina. Sheila berjalan di belakang Nathan.
Tiba-tiba Nathan menghentikan langkahnya dan membuat Sheila menabrak punggung Nathan.
"Aduh!" seru Sheila memegangi kepalanya.
"Kalau jalan pakai mata dan kakimu!" ketus Nathan.
"Maaf. Abisnya kamu...."
"Ah, sudahlah! Sini jalan bersamaku!" Tangan Nathan terulur dan menggenggam tangan Sheila.
Langkah lebar Nathan tak bisa Sheila imbangi.
"Pak! Pelan-pelan dong kalo jalan!" keluh Sheila yang jadi sedikit berlari karena ulah Nathan.
"Aku bukan bapakmu!" ketus Nathan lagi.
"Ish! Menyebalkan! Gumpalan es!" gerutu Sheila.
"Dasar siput! Lelet!" ejek Nathan.
Bibir Sheila komat kamit seperti membaca mantra.
"Awas! Kau akan kualat jika menyumpahi bosmu!" ucap Nathan datar dengan tetap menggenggam tangan Sheila seakan tidak mau melepas gadis ini barang sedetikpun.
Sungguh sebenarnya ia sangat khawatir tadi. Ia takut terjadi sesuatu dengan gadisnya. Tapi ya, selalu saja pertengkaran yang terjadi diantara mereka di akhirnya. Aah, entahlah.
#
#
#
Mobil Nathan telah tiba di depan rumah kontrakan Sheila. Hari ini agendanya kacau balau gara-gara Sheila. Tapi di balik itu semua, ia cukup senang karena bisa membantu teman Sheila.
Nathan melirik kearah Sheila yang sedari tadi hanya diam. Nathan tersenyum tipis karena ternyata gadis itu tengah terlelap. Mungkin kejadian hari ini membuatnya cukup kelelahan.
"Shei, bangun!" Nathan menyenggol lengan Sheila.
Gadis itu masih bergeming. Nathan memijat pelipisnya. Tubuh Sheila menggeliat dan menghadap Nathan.
Di tatapnya sejenak gadis yang membuat dunianya berubah. Dunia Nathan yang dulu datar, kini sedikit berwarna sejak kehadiran Sheila. Dia sampai mengubah penampilan demi gadis ini.
Tangan Nathan terulur dan menyibak rambut Sheila yang menutupi wajahnya. Ia mulai menyukai gadisnya yang tertidur dengan damai.
"Coba kau selalu tenang begini kalau matamu terbuka," lirih Nathan.
Sesuatu yang merekah menariknya untuk mendekat.
"Apakah aku harus mencuri ciuman darimu lagi, Shei?"
Nathan tersenyum kemudian memajukan wajahnya mendekati wajah Sheila.
CUP
Otaknya sudah tak bisa berpikir lagi. Ciuman lembut itu terjadi begitu saja. Batin Nathan sangat berbunga bisa merasai bibir itu sekali lagi.
Setelah dirasa cukup lama, Nathan mundur perlahan. Ia terkejut karena mata Sheila terbuka lebar.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menciumku?" tanya Sheila yang mulai sadar jika apa yang dialaminya bukanlah sebuah mimpi.
#bersambung
*Oh oh, kamu ketahuaaan 😅😅😅