My Culun CEO

My Culun CEO
#197 - Terbongkar



Karel memikirkan semua yang dikatakan oleh ibunya. Di kantor, ia tak bisa fokus bekerja. Hingga akhirnya, bunyi ponselnya membuat Karel tersadar.


Sebuah panggilan dari Carissa.


"Halo, ada apa?"


"Kak, bisa kita bertemu?"


"Hmm, dimana?"


"Kafe dekat kantor kakak."


"Baiklah."


Panggilan berakhir. Karel membenahi penampilannya dan keluar dari ruangan. Ia melirik ke arah Merlinda yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya.


Karel tidak menyapa Merlin seperti biasa. Ia langsung pergi menuju kafe.


Tiba disana, Karel duduk berhadapan dengan Carissa. Karel menatap tajam pada Carissa.


"Kenapa menatapku begitu? Apa aku terlihat seperti seorang penjahat?" tanya Carissa.


"Tidak! Tapi aku yakin ini pasti ada hubungannya denganmu."


"A-apa? Apa yang kakak bicarakan? Aku tidak mengerti. Aku meminta bertemu karena aku hanya merasa bosan saja. Itu saja!"


"Aku yakin entah kau atau ibumu yang mencari tahu soal masa lalu Merlinda."


"Apa?! Masa lalu Merlinda?" Carissa masih tak paham dengan kalimat Karel.


"Benar. Ibuku mengatakan padaku jika dia mendapat informasi dari ibumu jika Merlinda adalah anak dari orang yang dulu menculik Giga."


"Hah?! A-apa? Itu tidak mungkin!" Carissa tidak percaya.


"Meski kalian menyudutkannya, aku akan selalu membela Merlinda. Aku hanya ingin mengatakan itu padamu!"


Carissa melongo tak percaya jika Karel akan meninggalkannya begitu saja. Carissa segera menghubungi ibunya dan meminta bertemu.


"Apa yang Mama lakukan? Apa Mama menyelidiki soal Merlinda?" tanya Carissa tanpa basa basi.


"Jadi kau ingin bertemu dengan Mama hanya untuk menanyakan hal yang tidak penting ini?"


"Mama! Apa itu benar? Apa benar jika ayah Merlinda adalah orang yang menculik Giga?"


"Iya, itu benar. Mama mendapatkannya dari sumber terpercaya. Sekarang saatnya kau tunjukkan pada Giga siapa wanita yang disukainya itu!"


"Mama! Aku tidak suka dengan cara Mama. Ini adalah urusanku dengan Bang Giga. Kenapa Mama ikut campur?"


Freya menyilangkan tangannya. "Mama tidak percaya kau berkata seperti ini, Rissa. Kau sendiri yang ingin mengejar cinta Giga. Kau yang ingin memilikinya. Mama hanya membantumu, Nak."


"Tapi tidak dengan cara seperti ini!"


"Tapi ini adalah kenyataannya. Kalau kau tidak percaya, harusnya kita tanyakan saja pada gadis itu langsung. Mama yakin selama ini dia sudah membohongi Giga dan juga kak Nathan."


Carissa diam. Ia memang tidak menyukai Merlin, tapi bukan seperti caranya untuk mendapatkan hati Giga. Lagipula semua itu sudah berllu sangat lama. Dan Giga juga baik-baik saja.


#


#


#


Nathan menerima surat kaleng yang berisi tentang identitas Merlin. Nathan mengernyitkan dahi tidak percaya dengan semua isi surat itu.


Namun bukti-bukti yang ada disana menunjukkan jika memang benar ayah Merlin dan rekannya yang sudah menculik Giga. Bahkan identitas yang mendalangi penculikan Giga juga diungkap dalam surat kaleng itu.


Nathan mulai murka. Ia meminta Harvey untuk memanggil Mira dan juga Karel. Lalu Merlinda juga ikut dipanggil.


Dalam sidang tertutup itu semua akhirnya terbongkar. Merlin akhirnya mengaku jika dirinya adalah anak dari orang yang menculik Giga.


Merlin sengaja merahasiakan identitasnya di depan Giga karena pria itu sendiri tidak mengenali Merlin. Nathan sangat murka sudah ditipu oleh Merlin.


"Kau dipecat!" ucap Nathan dengan emosi tertahan.


Merlin hanya tertunduk lesu. Lalu ia pun keluar dari ruangan Nathan.


Sementara Mira juga sudah kehabisan akal untuk mengelak. Ia sudah tidak bisa lari lagi karena semua bukti sudah mengarah padanya.


Dan untuk Karel, Nathan memaafkannya karena pria itu tidak mengetahui apapun di usianya yang masih muda saat itu. Nathan mengambil semua aset Avicenna Grup yang sedang dikelola Mira.


Kabar mengenai pemecatan Merlin akhirnya terdengar ke telinga Giga. Ia melakukan protes kepada ayahnya.


"Jangan pecat Merlinda! Aku tidak akan membiarkan ayah memecat Merlinda!"


"Giga!"


"Dia tidak bersalah, Ayah. Justru dia yang sudah membantuku agar lolos dari para penculik itu!"


"Tapi tetap saja..."


"Tidak, Ayah! Aku tidak akan membiarkan Merlinda dipecat!"


Malam itu juga Giga mencari keberadaan Merlin. Bahkan di apartemennya, Merlin juga tidak ada. Di kedai milik Resti juga tidak ada.


Giga tidak akan membiarkan Merlin pergi begitu saja.


"Merlinda, kau dimana?" gumam Giga sambil terus menghubungi ponsel Merlin namun tidak pernah dijawab.


#


#


#


Di tempat berbeda, Merlin menatap layar ponselnya yang penuh dengan panggilan dari Giga. Merlin tidak akan mampu bicara dengan Giga saat ini.


"Minumlah!" Sebuah botol kaleng soft drink di sodorkan oleh seseorang yang kini sedang bersama Merlin.


"Terima kasih. Kurasa Tuan tidak perlu menghiburku!"


Pria yang tak lain adalah Karel hanya mengulas senyumnya. "Aku tidak akan menghiburmu. Kurasa kau lebih pintar menghibur dirimu sendiri."


Merlin tertawa. "Benar! Di saat aku sendiri sedih. Aku harusnya bisa menghibur diriku sendiri. Tapi, ternyata itu cukup sulit."


"Tenang saja. Aku akan membantumu untuk mencari pekerjaan yang lain."


Merlin menggeleng. "Tidak perlu, Tuan. Aku sudah banyak menyusahkan Tuan selama ini. Aku tidak akan merepotkan Tuan lagi. Sudah cukup Tuan melakukan banyak hal untukku."


"Huft! Lalu apa yang akan kau lakukan?"


"Aku akan kembali ke kampung saja. Aku akan mencari kerja disana. Mungkin kota ini memang tidak cocok untukku..."


#


#


#


Keesokan harinya, Merlin sudah bersiap merapikan semua barang-barangnya. Resti hanya menatap nanar sahabatnya itu.


"Kau yakin akan melakukan ini? Lalu bagaimana hubunganmu dengan tuan muda Avicenna?"


Merlin mengulas senyumnya. "Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Dan aku..."


"Kau mencintainya, Merlin! Aku mengenalmu sejak dulu. Aku tahu kau mencintainya. Tapi kau selalu beralasan jika kau tak pantas untuknya hanya karena kau anak mantan seorang penculik. Ayahmu sudah tobat, Merlin. Dia bukan lagi seorang penjahat. Jika kau melakukan ini maka kau seolah-olah menganggap ayahmu seorang penjahat." Resti tak kuasa menahan air matanya.


"Aku tahu. Tapi aku tidak bisa ada disini. Aku juga harus mencari pekerjaan. Mungkin di kampung ada pekerjaan yang cocok untukku. Terima kasih karena sudah memberikan tumpangan untukku selama ini."


Resti menghambur memeluk Merlin. "Dasar bodoh! Kita berdua yang membayar sewanya, bukan hanya aku!"


Merlin mengusap punggung Resti yang bergetar. "Sudahlah. Aku akan sering menghubungimu kok."


Resti melerai pelukannya dan mengantar Merlin hingga ke depan apartemen. Mereka berjalan menuju halte bus terdekat.


Saat sedang berjalan, kedua sahabat ini dikejutkan dengan kedatangan seseorang.


"Apa kau akan pergi begitu saja? Tega sekali kau membuatku menang dengan tidak fair!" teriak gadis yang tak lain adalah Carissa.


Merlin memutar bola matanya malas. "Sudahlah, Nona Muda. Aku tidak mengalah untuk membuatmu menang. Dan aku tidak merasa menjadi sainganmu!" tegas Merlin.


"Maafkan atas sikap ibuku! Ini semua karena ulahnya." Entah kenapa Carissa menitikkan air matanya.


"Kumohon jangan pergi, Merlin," isak Carissa.


Merlin menatap Resti lalu menghampiri Carissa dan memeluknya.


"Sudah, jangan menangis. Aku baik-baik saja. Kau jangan khawatir!" Mendengar kalimat Merlin membuat tangis Carissa makin kencang. Merlin terus mengusap punggung Carissa dan menenangkannya.