
Damian mengetukkan jarinya di atas meja kerja seraya memikirkan apa yang dikatakan Harvey semalam kepadanya. Ide yang di kemukakan Harvey cukup bagus. Namun Damian terbiasa berdiskusi dengan Josh tentang segala hal yang akan dirinya lakukan.
Damian menerawang jauh mengingat kata-kata Harvey semalam.
"Jadi begini Tuan. Nona Freya kan dulunya berasal dari gadis biasa. Dia terbiasa dengan kehidupan orang biasa. Jadi menurut saya nona Freya tidak terbiasa berhubungan dengan orang-orang seperti Tuan."
"Lalu?"
"Dulu tuan Nathan menyamar sebagai pria biasa untuk mendekati nona Sheila. Dia berubah menjadi pria culun dan menjadi tetangga nona Sheila."
"Jadi maksudmu ... aku harus menjadi pria culun juga?"
"Itu terserah Tuan saja. Apakah akan mengikuti langkah tuan Nathan atau tidak. Dari pada Tuan terus uring-uringan karena bingung cara mendekati nona Freya, saya rasa ini adalah cara yang bagus."
"Menyamar?" Josh sangat terkejut mendengar ide gila yang di kemukakan Damian.
"Iya, Josh. Hanya ini satu-satunya cara aku bisa mendekati Freya. Dia tidak akan menolak jika aku bukanlah Damian yang sekarang. Cepat kau cari tahu siapa make up artist yang mendandani Nathan waktu itu."
Josh menggeleng pelan. "Tuan yakin akan melakukan ini? Lalu bagaimana jika Tuan ketahuan?"
"Akh! Soal itu pikirkan nanti saja. Yang penting aku berubah dulu menjadi sosok yang lain."
Josh agak ragu dengan ide gila Damian kali ini. Ia harus mempersiapkan segala sesuatunya agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Ponsel Damian bergetar. Sebuah pesan dari Harvey.
"Hah?!" Mata Damian membola. "Lihat ini, Josh!"
Damian menunjukkan ponselnya pada Josh.
"Siapa dia, Tuan?" tanya Josh bingung.
"Ini adalah Nathan!" seru Damian yang menahan tawanya.
"Apa? Nathan? Nathan Avicenna? Yang benar saja, Tuan!"
Damian memperhatikan sekali lagi foto kiriman Harvey.
"Aku sungguh tak mengenalinya. Dia bahkan memakai gigi palsu. Sepertinya aku tidak mau kalau harus memakai gigi palsu seperti itu!" Damian bergidik ngeri.
"Tuan, kalau menurut saya ... ini bukanlah ide yang bagus. Tuan lakukan saja cara yang lain."
Damian menatap Josh horor. "Memangnya kau punya ide yang lebih bagus, hah?!"
Josh menelan ludahnya. "Maaf, Tuan. Apapun yang menjadi keputusan Tuan, saya akan mendukungnya." putus Josh pasrah.
#
#
#
Dan disinilah Damian kini berada. Ia sengaja menyewa sebuah apartemen sebagai tempat untuk dirinya bertransformasi menjadi sosok yang lain.
Damian dan Josh menunggu seorang penata rias yang akan mengubah penampilan Damian.
Bel apartemen berbunyi. Josh membuka pintu dan nampaklah sesosok pria yang berpenampilan gemulai.
"Selamat siang," sapa Josh.
"Selamat siang, perkenalkan namaku...."
Belum selesai pria gemulai itu memperkenalkan diri, dia sudah heboh ketika melihat sosok Damian.
"KYAAAA! Tuan Damian Ford! Benarkah ini dia?"
Damian dan Josh saling pandang.
"Hei, aku menghubungimu untuk bekerja! Bukan untuk main-main!" tegas Damian.
"Ma-maaf, Tuan." Pria gemulai itu terlihat takut melihat seringai Damian yang menyeramkan.
Si pria gemulai mulai memperhatikan Damian dengan seksama.
"Tuan, rambut pirang Tuan, sebaiknya kita sembunyikan saja. Apa Tuan bersedia mewarnainya?" tanya pria gemulai itu.
"Emh, tidak. Aku tidak suka dengan hal seperti itu. Sebaiknya aku memakai wig saja. Bagaimana?"
"Boleh, Tuan. Silakan Tuan lihat-lihat koleksi milik saya."
Damian mengernyit melihat sebuah benda. "Ini ... adalah gigi palsu?" Damian bergidik.
"Iya, Tuan. Itu adalah gigi palsu. Tuan Nathan menggunakan aksesoris itu kemarin."
Damian menggeleng. "Tidak! Aku tidak mau memakainya. Pakai yang lain saja. Itu apa?" tunjuk Damian pada sebuah benda berwarna hitam bulat.
"Oh itu, itu adalah tompel. Biasanya di pakai di wajah."
"Ah iya, tahu. Kalau begitu aku pakai itu saja."
"Baiklah. Mari kita mulai, Tuan."
Damian mengangguk. Ia sudah tidak sabar untuk melihat penampilan barunya.
"Akan seperti apa wajah tampanku nanti ya? Apa para gadis akan tetap berteriak histeris ketika melihatku nanti?" ucap Damian narsis seperti biasa.
Josh dan si pria gemulai hanya saling tatap. Mereka bahkan tidak percaya jika Damian begitu menggebu untuk menyamar.
Setelah berkutat selama kurang lebih satu jam, Damian telah berhasil di ubah. Josh menatap tak percaya dengan seseorang yang kini berdiri di depannya.
"Heh? Seperti apa wajahku sekarang? Apa menyeramkan?"
Damian menuju ke sebuah cermin yang ada di kamar itu.
"Hah?! Aku ... benar-benar jelek dan sangat culun!"
Sebuah penampilan yang tidak pernah Damian bayangkan sebelumnya. Ia rela mengubah imej tampannya hanya demi seorang Freya.
Rambut pirang Damian sudah berganti menjadi rambut palsu berwarna hitam yang di sisir rapi ke kanan. Sebuah tompel menghiasi pipi kanannya. Lalu kacamata tebal berbentuk bulat untuk melengkapi penampilan Damian kali ini.
"Tuan! Anda yakin akan berpenampilan seperti ini setiap hari?" tanya Josh yang merasa ragu.
"Josh! Kau harus mendukungku."
Josh menghela napas. Ia bahkan sudah menyelidiki dengan detil jika di kantor Freya membutuhkan seorang office boy. Dan Damian akan melamar sebagai OB disana.
"Tuan, Anda harus memiliki sebuah nama," celetuk Josh lagi.
"Hmm, bagaimana kalau Udin?" sahut si pria gemulai itu.
"Wah, boleh juga. Baiklah, terima kasih banyak ya." Damian menepuk bahu si pria gemulai.
"Panggil saja Madam Charlotte, Tuan."
"Ah iya, Madam. Aku mengerti!" balas Damian dengan senyum aneh di bibirnya.
#
#
#
Hari ini Damian mematut dirinya di cermin. Rencana pertamanya untuk mendekati Freya akan mulai dilancarkan.
Seperti yang sudah di rencanakan oleh Josh, Damian yang sudah melamar pekerjaan sebagai seorang OB, hari ini mendapat panggilan kerja dari More Trans.
Hatinya begitu gugup menghadapi hari ini. Untuk pertama kalinya dalam hidup ia melakukan hal gila seperti ini.
"Tuan harus ingat jika nama Tuan adalah Udin. Tuan berasal dari kota kecil dengan logat jawa yang begitu kental."
"Iya iya, aku kan sudah mempelajarinya. Lagipula ibuku juga berasal dari Jawa. Aku yakin aku pasti bisa." Damian mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke udara.
Josh hanya bisa pasrah dan menggeleng pelan ketika melepas Damian pergi.
"Haaaah! Entahlah, Tuan. Semoga saja ini memang jalan yang terbaik untuk kalian berdua." gumam Josh dalam hati.
#
#
#
Damian tiba di gedung More Trans dengan langkah yang pelan. Ia membungkuk sopan ketika melewati deretan security yang berjaga.
"Aman tidak yah?" batin Damian.
"Masnya mau ngapain kesini?" tanya seorang security kepada Damian.
"Saya Udin. Saya melamar sebagai office boy, Pak." jawab Damian dengan memakai logat jawanya.
"Oh iya, si lantai direktur keuangan ya? Masnya lurus saja lalu naik lift ke lantai 7. Disana nanti masnya ketemu sama Mbak Aisha. Itu asistennya ibu direktur. Paham tidak?"
Damian manggut-manggut. Ia berpamitan kepada para satpam dengan membungkuk sopan. Damian kembali berjalan memasuki lift untuk menuju lantai tujuh.
Pintu lift terbuka. Damian keluar dari lift dan memeriksa keadaan sekitar. Ia melihat sebuah papan petunjuk arah kemana ruangan Freya berada.
Mata Damian memindai dengan seksama. Ia berharap bisa melihat Freya saat ini juga.
"Ehem!" Suara dehaman seorang gadis membuat Damian menoleh.
"Kamu Udin?" tanya gadis itu dengan memperhatikan penampilan Damian dari ujung kami hingga ujung kepala. Ia adalah Aisha, asisten Freya.
"Culun sekali dia," batin Aisha ketika melihat sekilas penampilan Damian. Rambut klimis, kacamata tebal, kumis tipis dan sebuah tompel di pipi.
"Ayo ikut saya!" ucap Aisha.
Damian segera mengikuti langkah Aisha. Penampilannya ini benar-benar membuatnya tidak bisa dikenali. Sebenarnya tambahan kumis tipis tercetus di menit-menit terakhir. Entah kenapa ia ingin memakainya. Dan ternyata penampilan culunnya makin sempurna dengan tambahan si kumis tipis.
Damian duduk berhadapan dengan Aisha yang memintanya membaca kontrak kerja yang harus ditandatangani.
"Baca dulu dengan seksama sebelum tanda tangan."
Damian mengangguk patuh. Mengenai keahlian dalam menjalankan profesi OB ini, Damian telah belajar dengan OB profesional yang ada di kantornya.
Damian cukup cerdas untuk menghapal setiap detil yang harus dilakukan oleh seorang office boy. Setelah membaca semua berkasnya, Damian membubuhkan tanda tangannya.
"Oke, kamu bisa langsung bekerja. Kamar istirahat OB ada di bilik pojok sebelah kanan." jelas Aisha.
"Baik, Nona Aisha."
Damian berjalan menuju bilik miliknya dan akan mengambil peralatan tempurnya mulai hari ini. Sapu, kain pel, pembersih toilet dan lain sebagainya. Sungguh sangat berbeda dengan kehidupan Damian yang dulu.
Damian melewati ruangan milik Freya yang ternyata tembus pandang itu. Ruangan kaca itu memperlihatkan secara jelas sosok Freya yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Hai, Freya. Akhirnya kita berjumpa lagi. Maaf jika aku harus melakukan ini. Tapi percayalah, aku melakukan ini karena aku mencintaimu..." batin Damian.