
Tarjo dan Harvey tiba di sebuah bangunan berlantai dua yang bertuliskan 'eRHa Cosmetics'. Sejenak Tarjo memandangi bangunan itu.
Tarjo masih tak mengerti kenapa Rizka memintanya untuk datang ke tempat ini.
"Harv, tempat apa ini?" tanyanya.
"Wah, apa Tuan tidak tahu? Ini adalah brand milik nona Rizka. Waktu itu saya sudah bercerita pada Tuan."
Tarjo hanya manggut-manggut. "Ya sudah ayo masuk!"
Begitu memasuki ruangan, mereka disambut oleh karyawan perempuan dengan ramah. Tarjo mengutarakan maksud kedatangannya dan langsung diminta naik ke lantai dua.
Meski sempat bingung, namun Tarjo hanya mengikuti langkah karyawan wanita tersebut.
"Ini ruangan Nona Rizka, silakan masuk!"
Karyawan itu mengetuk pintu kemudian membukakan pintu untuk mereka berdua.
"Eh, Mas Tarjo? Sudah datang?" Rizka berbinar senang. Ia menghampiri Tarjo dan Harvey.
"Ada apa Nona Rizka meminta kami kemari?" tanya Tarjo tak ingin berbasa basi.
"Mari ikut denganku!" ajak Rizka juga tak berbasa basi.
Sebenarnya ia malas untuk bertemu dengan Tarjo, tapi mau bagaimana lagi? Hanya ini cara agar bisa mendapatkan perhatian Nathan.
Rizka menuju ke sebuah etalase di lantai satu yang penuh dengan koleksi parfum milik brandnya. Tarjo dan Harvey menggeram kesal karena rasanya Rizka hanya mengerjai mereka saja.
Jika mereka kembali ke lantai satu, untuk apa meminta mereka untuk naik ke lantai dua? Begitulah isi hati Tarjo yang kesal.
"Mas Tarjo..." panggil Rizka sensual.
"Ini adalah parfum keluaran dari brandku sendiri. Kamu tahu? Aku membuatnya langsung dengan mencampurkan beberapa aroma maskulin menjadi satu. Tolong berikan ini untuk Tuan Nathan ya!" Rizka menyerahkan satu kotak parfum yang sengaja ia siapkan untuk Nathan.
"Wah, terima kasih, Nona Rizka. Jadi, Nona Rizka mengundang kami kemari hanya untuk menunjukkan ini?" sarkas Tarjo.
"Tidak! Bukan begitu. Aku hanya ingin memberi hadiah saja untuk rekan bisnisku. Aku biasa melakukannya," sergah Rizka.
"Lalu bagaimana dengan saya dan asisten Harvey? Bukankah kami juga adalah rekan Anda, Nona Rizka? Kenapa kami tidak diberi hadiah juga. Nona Rizka sendiri tahu jika saat ini tuan Nathan sedang tidak bisa hadir, jadi harusnya Nona Rizka memberikan hadiahnya kepada kami saja. Selama ini kami juga bekerja keras agar proyek ini berjalan dengan baik dan lancar, jadi...."
"Stop!" Rizka menempelkan jari telunjuknya ke bibir Tarjo
"Baiklah! Aku juga punya hadiah untuk kalian. Oke?" Rizka mulai kesal namun memilihkan dua parfum pria bestseller di tokonya.
"Ini untuk Mas Tarjo dan ini untuk Harvey."
"Terima kasih, Nona," balas Harvey.
"Oh ya, sejak kapan Nona Rizka membuka cabang disini?" tanya Tarjo.
"Oh, cabang disini? Sudah agak lama sih. Tapi aku jarang datang kesini. Aku hanya memantau lewat karyawanku saja."
Tarjo manggut-manggut. Ia melihat-lihat koleksi brand kosmetik milik Rizka.
"Aku pikir gadis ini otaknya kosong, tapi ternyata dia hebat juga." Tanpa sadar Tarjo memuji Rizka dalam hati.
"Oh ya, kenapa Nona Rizka tidak berikan hadiah untuk istri tuan Nathan?" tanya Tarjo.
"Hah?! I-istrinya Nathan?"
"Iya, bukankah sebaiknya Nona Rizka juga mempertimbangkan hal itu. Siapa tahu saja itu bisa membuat brand Nona Rizka makin terkenal karena Nona Rizka banyak beramal."
Rizka tersenyum kecut. "Beramal katamu? Masa iya aku harus memberikan hadiah yang mahal untuk pesaingku? Tapi aku akan malu jika aku tidak memberikan istri Nathan hadiah juga!" batin Rizka bertarung dengan egonya.
"Baiklah! Akan kupilihkan yang terbaik untuk istri Nathan.
Rizka memilih parfum wanita dan menyerahkan pada Tarjo.
"Oh ya, omong-omong siapa sebenarnya istri Nathan itu? Kenapa beritanya tidak menyebar di luar negeri?" tanya Rizka menyelidik.
"Oh, istrinya tuan Nathan yang pastinya seorang wanita, Nona Rizka!" jawab Tarjo sambil nyengir kuda.
"Ish! Maksudku bukan itu, Mas Tarjo. Apakah dia dari kalangan atas atau bawah? Oops, maksudku..."
"Istri tuan Nathan wanita baik dan dia bukan perempuan gatal yang suka menggoda pria yang sudah bersuami!" ketus Tarjo.
"Ah Mas Tarjo jangan marah begitu dong!" Rizka mengusap lengan Tarjo.
"Jadi, hari ini Nona Rizka tidak ada agenda untuk pekerjaan kita?"
Rizka menggeleng.
"Baiklah! Kalau begitu saya dan Asisten Harvey pamit undur diri. Terima kasih atas hadiahnya!" ucap Tarjo kemudian memberi kode pada Harvey untuk segera pergi dari sana.
"Semoga kau menyukainya, Nate..." gumam Rizka.
Tak lama ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari ayahnya. Ayah Rizka yang bernama Rio Hanggawan mengirim pesan jika nanti malam ingin makan malam bersama dengan putrinya.
Rizka menghela napas kasar. Sudah sangat lama ia tidak bertemu ayahnya yang selalu sibuk.
"Semoga saja pria tua itu tidak menginginkan sesuatu dariku!" batin Rizka.
#
#
#
Malam ini, Rizka menemui ayahnya di sebuah private room restoran mewah. Rio menyambut kedatangan Rizka dengan suka cita.
"Anak Papa! Apa kabarmu, Nak? Kamu suka Jakarta?" tanya Rio.
"Ya, lumayan!" jawab Rizka datar.
Tak lama dua orang pria juga datang memasuki private room itu. Rizka mengernyitkan dahinya.
"Tuan Rio!" sapa pria paruh baya yang sepertinya seumuran dengan Rio.
"Tuan Jo! Apa kabar? Selamat datang di Indonesia!" balas Rio.
"Yeah. Saya suka Indonesia. Lagipula, ibu Damian juga orang Indonesia," ujar seorang pria yang berlogat asing bernama Jonathan Ford.
"Mari silakan duduk!" ucap Rio.
"Ini ... pasti Damian kan?" lanjut Rio.
"Iya, Om. Namaku Damian," jawab pria muda yang adalah putra Jonathan.
"Oh ya, kenalkan ini putriku satu-satunya, namanya Rizka. Sayang, sapa Om Jo dan juga Damian!" titah Rio.
Rizka tersenyum kecut lalu menyalami kedua pria beda generasi itu. Setelah itu acara makan malampun berlangsung dengan di iringi tawa renyah dari para ayah. Namun anak-anak mereka hanya tersenyum getir.
#
#
#
"Jadi, Papa ingin menjualku?" sarkas Rizka ketika mereka tiba di rumah Rio.
"Jangan bicara omong kosong!" geram Rio.
"Lalu apa maksudnya Papa menjodohkan aku dengan Damian? Bahkan aku tidak mengenalnya!" balas Rizka.
"Kau tahu Ford Company adalah perusahaan dari Eropa! Bisnis kita akan semakin maju jika kau menikah dengan Damian!"
Rizka menggeleng tak percaya.
"Papa memang tidak pernah peduli padaku! Papa hanya peduli pada bisnis Papa saja! Tega sekali Papa menjualku pada keluarga Ford!" lantang Rizka.
PLAK!
Satu tamparan mendarat di pipi Rizka. Gadis itu menatap tajam pada ayahnya sambil memegangi pipinya yang terasa panas.
"Turuti perintah Papa dan kau akan hidup enak! Kau kaya raya dan berkuasa. Tidak perlu cinta untuk memulai sebuah pernikahan. Mengertilah, Nak!" Suara Rio mulai melembut.
"Aku mau pulang ke rumah Kak Radit saja!"
Rio menghela napas.
"Baiklah! Lakukan apa yang kau mau sebelum pertunangan kalian! Tapi jangan pernah menolak apa yang sudah jadi kehendak Papa. Mengerti?!"
Rizka mengangguk. Kemudian ia keluar dari rumah yang tidak pernah seperti rumah baginya. Sejak ibunya meninggal, Rizka tak pernah lagi merasakan kasih sayang ayahnya. Rio hanya memikirkan bisnisnya saja. Dia hanya datang saat ia menginginkan sesuatu dari Rizka, seperti saat ini.
Rizka mengendarai mobilnya dengan berderai air mata. Ia tak menyangka jika ayahnya akan setega itu menjual dirinya kepada keluarga kaya. Ya, Rizka menyebutnya begitu karena baginya itu sama saja. Pernikahan bisnis. Begitulah orang-orang menyebutnya.
#bersambung
*genks, jan pada sewot ya karena bab ini ngebahas Si Rizka 😬
Semuanya akan tetap nyambung kok 😘
*Ada yg inget gak siapa Damian Ford?
jangan lupa dukungannya 😍😍😍