
Sheila bangun di pagi hari dan menggeliat pelan. Semalam ia ingat jika Nathan mengajaknya berbulan madu dan keberangkatannya adalah hari ini.
"Hah?!"
Sheila mengerjapkan matanya. Hari ini agendanya cukup padat karena harus mengurus beberapa berkas kerjasama.
"Hai sayang, kamu sudah bangun?" sapa Nathan yang baru keluar dari kamar mandi.
"Tuan Su, apa yang semalam kamu katakan itu ... nyata atau aku hanya bermimpi?" Tanya Sheila yang membuat dahi Nathan berkerut.
"Tentu saja itu nyata, sayang. Sekarang bersiaplah! Kita akan berangkat berbulan madu."
"Ta-tapi aku..."
"Soal pekerjaanmu? Aku sudah menghubungi Danny dan juga kak Rangga. Tidak ada yang keberatan soal itu."
Tetap saja Sheila merasa tidak enak hati.
"Memangnya kita mau pergi kemana?"
"Aku pilihkan tempat yang dekat saja. Thailand. Kamu suka?"
"Ehm, entahlah. Aku juga belum pernah kesana."
"Kalau kamu kurang suka, aku bisa membatalkannya. Bagaimana kalau kita naik kapal pesiar saja?"
"Hah?! Jangan! Tidak perlu. Aku tidak perlu liburan mewah, Tuan Su."
"Hm, baiklah. Sekarang bersiaplah!" Nathan menghilang di kamar gantinya.
Sheila masih tidak paham dengan situasi yang terjadi.
"Ah ya ampun! Kenapa aku jadi gugup begini?"
Sheila meraih ponselnya dan menghubungi Danny lalu Rangga kemudian kedua orang tuanya. Semuanya menjawab sama. Ternyata Nathan sudah lebih dulu menghubungi mereka.
"Sayang! Kamu masih disini? Ayo cepat!"
Sejenak Sheila tertegun melihat penampilan Nathan dengan kaus casual dan celana jeansnya.
"Sayang, jangan menggodaku! Selama seminggu kedepan kamu bisa menatapku sepuasmu." Nathan mengedipkan matanya.
Sheila segera menuju ke kamar mandi. Nathan hanya menggeleng pelan melihat tingkah Sheila yang masih malu-malu dengannya.
#
#
#
-Gedung AJ Foods-
Danny bersiap menyambut tamu penting yang akan datang ke kantornya hari ini. Sebenarnya ini adalah tugas Sheila karena Rangga meminta Sheila untuk menemui rekan bisnis baru AJ Grup.
Danny mengatur napasnya ketika melihat mobil mewah berwarna hitam terparkir di lobi gedung. Danny tahu itu pasti si klien baru.
Seorang pria muda turun dari mobil dan disambut hangat oleh security yang berjaga di depan. Danny berjalan maju dengan diiringi senyum di bibirnya.
"Selamat datang, Tuan Damian Ford. Senang akhirnya saya bisa bertemu dengan Anda!" sapa Danny dengan mengulurkan tangannya.
"Ah, terima kasih, Tuan Danny. Hmm, tempat ini bagus juga ya konsepnya. Di depan itu adalah kafe?" Damian nampak melihat sekeliling bangunan.
"Betul, Tuan Damian. Mari silakan!" Danny mempersilakan Damian untuk berjalan menuju ruang rapat.
Para karyawan wanita berbisik bisik ketika melihat sosok Damian yang begitu tampan dan sopan. Ia bahkan tak segan menyapa setiap karyawan yang di temuinya. Benar benar sosok pangeran idaman para gadis, hihi.
Mereka tiba di ruang rapat. Danny nenyodorkan berkas kerjasama pada Damian.
"Saya dengar harusnya yang menemui saya adalah adik tuan Rangga. Lalu, dimana dia?" Tanya Damian.
"Oh iya, Tuan. Itu memang benar. Tapi karena adik pak Rangga sedang ada urusan pribadi, makanya digantikan oleh saya. Tuan Damian tenang saja, jika masih ada yang kurang jelas, akan kami sampaikan pada Pak Rangga."
Damian menganggukkan kepala. Ia membaca berkas penawaran dari AJ Foods.
"Jujur saja Ford Company belum pernah melakukan bisnis di bidang makanan. Sepertinya ini menarik." Damian kembali manggut-manggut.
"Syukurlah jika Tuan Damian menyukainya," balas Danny dengan menghela napas lega.
#
#
#
Di tempat berbeda, Celia sedang menemani Joseph duduk di taman panti. Hari sudah mulai beranjak petang namun Joseph masih betah duduk disana.
"Kakek! Ayo sebaiknya kakek masuk dulu ke panti! Ini sudah hampir gelap," bujuk Celia.
"Aku menunggu cucuku datang!" tegas Joseph.
"Saya akan hubungi Tuan Damian lebih dulu, Kek. Mungkin saja beliau sedang ada pekerjaan."
Celia meraih ponselnya dan mendial nomor Damian. Lama ponselnya tidak dijawab, hingga akhirnya...
"Baik, Tuan Damian."
Celia menutup panggilan.
Joseph nampak menghela napasnya.
"Mungkin dia sedang sibuk. Ya sudahlah! Ayo Celia, antar aku ke dalam."
#
#
#
Harvey meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena harus menggantikan tugas Nathan. Seharian ini ia berada di lokasi proyek milik HG Grup.
Harvey menghubungi Naina untuk menambah semangatnya di malam ini. Gadis itu sepertinya juga baru keluar dari kantornya.
Harvey tiba di depan lobi kantor Naina. Gadis itu tersenyum melihat kedatangan Harvey.
"Hai, sudah lama menunggu?" tanya Harvey.
"Tidak, baru saja kok. Ayo, mau makan dimana?" ajak Naina semangat.
Harvey yang tadi begitu lelah, kini kembali bersemangat karena ada Naina di sampingnya. Ternyata memiliki kekasih memang bisa untuk semangat booster, begitulah pikir Harvey.
Mereka makan di warung tenda biasa tanpa ada kemewahan disana.
"Biarpun makana kaki lima, tapi rasanya bintang lima. Percaya deh!" ucap Naina.
"Iya, sayang. Aku percaya!" balas Harvey.
Mereka makan dengan lahap dan diam. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Naina sampaikan pada Harvey, namun rasanya ia masih ragu. Ia takut Harvey marah padanya karena membahas soal Vicky.
"Ada apa, Na? Apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Harvey karena melihat gelagat aneh Naina.
"Ehm, sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu."
Harvey mengerutkan keningnya.
"Soal apa?"
"Ini mengenai Vicky. Tapi, kamu jangan salah sangka dulu. Ini semua karena petugas lapas menghubungiku tadi pagi."
Harvey mencoba untuk mendengarkan tanpa menghakimi lebih dulu.
"Ehm, Vicky bilang ada yang ingin dia bicarakan denganku. Dia memintaku datang besok. Menurutmu bagaimana?" tanya Naina ragu.
"Haaah! Ya sudah. Aku akan menemanimu untuk bertemu dengannya," putus Harvey.
Naina tersenyum. "Terima kasih, Harv."
Naina kembali menyantap makanannya. Ia bersyukur karena ternyata Harvey adalah pria yang pengertian.
Keesokan harinya, Naina yang sudah izin telambat masuk ke kantor akhirnya pergi ke rumah tahanan bersama Harvey. Sebenarnya pria itu memiliki agenda yang cukup banyak karena ia harus menggantikan posisi Nathan selama pria itu berbulan madu dengan Sheila.
Tapi demi Naina, ia sudah menghubungi Nathan dan suami Sheila itu memakluminya. Memang cinta bisa mengubah segalanya. Nathan tahu itu, makanya dia membiarkan Harvey untuk mengejar cintanya. Toh hanya izin selama satu hari.
Kini Harvey dan Naina sudah duduk berhadapan dengan Vicky. Pria itu nampak tersenyum kecut mengetahui mantan kekasihnya sudah bersama dengan pria lain yang tampaknya lebih mapan dari dirinya.
"Cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan pada Naina!" tegas Harvey karena Vicky tak juga bicara.
"Ehm, maaf, Na. Aku sudah membuatmu datang kemari. Sebenarnya ini mengenai adikku, Vania," ucap Vicky.
"Hm? Ada apa dengan Vania?" tanya Naina cemas.
"Dia sudah lulus kuliah. Dan dia bilang dia ingin mencari pekerjaan di kota ini. Bisakah kau membantunya? Maksudku, dia tidak punya tempat tinggal disini. Bisakah dia tinggal denganmu?"
Naina dan Harvey saling pandang.
"Oh, kupikir dia kenapa-napa." ucap Naina lega.
Setelah kepergian ibunya, tentu saja adik Vicky kini hidup sebatang kara. Apalagi posisi sang kakak yang kini sedang terkena kasus hukum begini.
"Baiklah. Dia bisa tinggal dirumahku. Kamu jangan khawatir."
Naina meyakinkan Harvey jika Vania tidak seperti kakaknya. Vania adalah gadis yang baik dan manis.
Naina memutuskan untuk menjemput Vania di stasiun, karena Vicky bilang jika Vania naik kereta api untuk tiba di kota ini.
Naina celingukan mencari keberadaan Vania. Hingga akhirnya...
"Kak Naina!"
Suara seorang gadis memanggil Naina.
"Hai, Vania!" Naina berseru gembira dan memeluk Vania.
Harvey hanya diam menatap kedua gadis yang sedang melepas rindu. Memang benar apa yang dikatakan Naina jika Vania tidak mirip dengan kakaknya. Vania adalah gadis kutu buku dengan kacamata tebal dan rambut kuncir ekor kuda.
#bersambung
*Ehem! ada kah yg tidak sabar menunggu bulan madunya Nathan dan Sheila?π π next part yaa.
*Ada orang baru lagi nih, Kira2 jodohnya siapa ini ya si Vania? π¬
*Jangan lupa jejak dukungannya ya kesayangan ππ
Karena udah mau Lebaran, emak mau kasih tahu kalau lebaran nanti akan tetap diusahakan Up ya kesayangan, meski hanya 1 bab, tp setelah lebaran ayo kita crazy up, hehehe