
Freya berlarian di lorong-lorong rumah sakit untuk mencari keberadaan Josh. Sebenarnya Freya agak bingung ketika Josh memintanya untuk datang ke rumah sakit khusus untuk penyakit psikologis.
Jantung Freya berdegup tak beraturan. Sungguh ia tak mengira jika ia akan datang ke tempat seperti ini.
"Benarkah Damian ada disini? Tapi kenapa? Apa Damian memiliki masalah kejiwaan?" batin Freya bertanya-tanya.
Matanya mulai melihat sosok Josh yang sedang duduk di sebuah kursi di depan sebuah kamar. Kaki yang tadinya melangkah cepat kini mulai melemah. Langkahnya mulai gontai ketika hampir tiba di depan Josh.
Josh menyadari kehadiran Freya. Ia segera bangkit dan menemui gadis itu.
"Nona Freya!" panggil Josh.
"Josh? Ini ... sebenarnya ada apa ya?" tanya Freya dengan raut wajah bingung. Ia masih tidak bisa mencerna semua hal yang terjadi di pagi ini. Ia bahkan terburu-buru datang tanpa meminta penjelasan dari Josh.
"Nona, silakan masuk. Tuan Damian ada di dalam ruangan." Josh tidak menjelaskan apapun dan meminta Freya untuk masuk.
Dengan langkah ragu, Freya memasuki kamar rawat yang benar terdapat Damian disana. Tubuhnya terbaring lemah diatas brankar dengan tangan berbalut perban.
Freya melangkah maju dan duduk di samping brankar. Ia menatap wajah pucat Damian yang masih terpejam.
"Dia masih dalam pengaruh obat bius!" Suara seseorang membuat Freya menoleh. Pria dengan memakai jas putih itu adalah seorang dokter.
"Dokter Liam!" Pria itu memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan kearah Freya.
Freya berdiri dan menyambut uluran tangan dokter muda itu. Freya hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Bisa bicara sebentar dengan Anda, Nona Freya?" tanya Liam.
Freya kembali mengangguk. "Iya." Hanya jawaban singkat yang keluar dari bibir Freya.
Freya mengikuti langkah Liam menuju ke sebuah ruangan yang adalah ruangan dokter muda itu. Freya duduk berhadapan dengan dokter itu.
"Saya tahu Anda pasti bingung, Nona Freya." Liam tahu karena melihat ekspresi Freya yang terus terdiam.
"I-iya. Bisakah Anda jelaskan pada saya, Dokter?"
"Tentu saja. Saya adalah dokternya Damian. Dulu ayah saya yang menangani Damian, lalu kini digantikan oleh saya."
"Menangani bagaimana maksudnya, Dok?"
"Sejak dulu Damian mengidap suatu kelainan dalam kejiwaannya. Tapi bukan berarti dia gila. Dia hanya tidak bisa mengontrol emosinya. Beberapa kejadian di masa lalu membuatnya mengalami ini."
Freya menelan salivanya dengan susah payah. Sungguh sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya mengenai Damian.
"Saat dia bercerita tentangmu...dia terlihat sangat bahagia meski terkadang uring-uringan. Kondisi yang hampir sama juga dialami oleh Nathan Avicenna. Kau bisa saling bertukar cerita dengan Sheila bagaimana cara menghadapi kondisi seperti ini. Itu juga jika kau benar-benar ingin terus di sisi Damian. Tapi jika kau..."
"Tidak! Aku akan tetap di sisinya. Apapun yang terjadi aku akan tetap disisinya," tegas Freya dengan air mata yang sudah mengalir.
"Terima kasih, Nona Freya. Dulu dia pernah kehilanganmu. Tapi kini ia sudah menemukanmu. Jadi kuharap kau akan terus bersamanya. Meski semua ini memang tidaklah mudah."
Freya duduk di bangku taman rumah sakit. Rasanya awal hari ini penuh dengan kejutan untuknya.
Freya menikmati pagi hari ini dengan merasakan hembusan semilir angin yang menerpa wajahnya. Saat asyik memejamkan matanya, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah Freya.
Gadis itu membuka matanya dan melihat pria paruh baya yang dikenalinya ikut duduk di sampingnya.
"Terima kasih karena kau mau datang untuk menemui Damian."
"Ini semua adalah salahku. Aku yang sudah membuat Damian jadi begini," sesal Jonathan.
Freya yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi hanya diam dan mendengarkan.
"Sejak dulu, Damian memang tidak pandai bergaul. Hingga akhirnya dia mengenal Edo dan Samuel. Lalu setelah ada sosok gadis kecil yang menemaninya. Memang, dia sudah lama berteman dengan Rachella. Tapi aku tahu jika putraku lebih tertarik dengan sosok gadis kecil yang ceria dan bersemangat. Yaitu kau, Freya. Damian tumbuh menjadi remaja yang selalu positif. Hingga akhirnya takdir berkata lain. Dia harus kehilangan ibunya di usia yang masih terbilang labil. Lalu satu minggu setelah kepergian ibunya, kau juga dikabarkan hilang dan meninggal dalam kecelakaan. Hati Damian hancur. Dia kembali terpuruk dan depresi. Aku harus membawanya ke psikiater untuk menyembuhkan trauma yang di deritanya. Perlahan semua membaik. Dia mulai bisa hidup dengan normal. Meski bisa dikatakan hidupnya sedikit nakal. Aku pikir itu hal biasa karena dia beranjak dewasa."
Jonathan berhenti sejenak. Sementara Freya? Jangan ditanya lagi. Air matanya sudah mengalir deras mendengar kisah masa lalu Damian.
"Dia kembali mengalami trauma setelah melihat sahabatnya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Aku tahu ini adalah salahku. Aku menggunakan uang dan kekuasaan untuk menyelesaikan masalah dan bukan dengan cara bertanggung jawab. Sejak kakakmu menjauh darinya, Damian akhirnya mengubah sifatnya menjadi orang yang ramah dan selalu tersenyum. Dia ingin mengubah imejnya di mata publik."
Freya menghela napas. Ia melihat sebuah penyesalan yang dalam pada wajah Jonathan.
"Freya... Aku mohon jangan tinggalkan Damian. Dia sudah cukup menderita selama ini. Aku tahu terkadang dia memang bersikap brengsek. Aku tahu dia ... bukanlah pria yang benar-benar baik. Tapi dia memiliki cinta yang besar untukmu. Sejak dulu hingga sekarang."
Freya tersenyum. "Aku juga mencintai Damian, Om. Tolong restui kami," ucap Freya dengan suara bergetar.
Jonathan mengangguk mantap. "Iya, Om pasti merestui kalian."
Freya tersenyum lega. Kini ia hanya tinggal menjalani semuanya dengan Damian. Mendampingi pria itu hingga semua traumanya menghilang.
"Nona Freya! Damian sudah bangun. Dia mencarimu!" ucap Liam yang datang menghampiri Freya dan Jonathan.
Freya menatap Jonathan terlebih dahulu kemudian berjalan mengikuti Liam.
Freya mengatur napasnya sebelum masuk ke dalam kamar rawat Damian. Gadis itu berjalan perlahan hingga tiba di samping brankar Damian.
"Hai..." sapa Damian lirih.
"Hai juga. Bagaimana kabarmu?" tanya Freya.
"Sudah lebih baik setelah melihatmu."
Freya tak kuasa lagi menahan air matanya. Ia menangis sesenggukan di depan Damian.
"Hei, kenapa menangis? Aku tidak kenapa-napa kok." Damian menghapus air mata Freya.
"Aku akan baik-baik saja jika bersama denganmu."
Freya mengangguk. Damian berusaha bangkit dan duduk. Freya pun membantunya.
"Sudah jangan menangis lagi. Wajahmu jelek kalau menangis," ledek Damian dan membuat Freya tertawa.
"Nah, begitu lebih baik. Setelah ini aku akan sering membuatmu tertawa. Berjanjilah kamu tidak akan pergi dariku."
Freya menganggukkan kepala.
"Berjanjilah tidak akan membuatku cemburu dan khawatir."
Freya kembali mengangguk.
"Freya... Menikahlah denganku!"
"Eh?"