
Di sebuah kamar yang bagai sebuah jeruji besi, seorang gadis meringkuk di sisi pojok dengan memeluk kedua lututnya. Sudah satu bulan ia berada disini karena mendapat hukuman dari sang ayah. Kini hukumannya telah selesai dan gadis itu bisa kembali beraktifitas normal meski tetap dibatasi oleh sang ayah.
"Nona, silakan keluar! Hukuman Nona sudah selesai!"
Gadis itu mendongakkan wajahnya yang sayu tanpa polesan make-up sedikitpun. Ia masih bergeming di posisinya. Ia tak berniat beranjak dari duduknya.
Perlahan dia berdiri dan menatap pria yang bernama Rasta, orang kepercayaan ayahnya. Dia berjalan melewati tubuh Rasta tanpa sepatah katapun yang terucap dari bibir pucatnya.
Dia adalah Marina. Gadis kaya yang memiliki gangguan kepribadian. Kurang mendapat perhatian dari orang tuanya membuat dirinya sering berbuat ulah agar diperhatikan oleh orang sekitarnya. Meski lahir dari keluarga kaya, itu semua tidak menjamin kita bisa bahagia.
"Dimana Papa?" tanya Marina. Matanya menyorot tajam pada asisten rumah tangga yang ada di rumahnya.
"Tuan sedang pergi ke luar kota, Nona," jawab Rasta.
Marina mengangguk. Ia kembali berjalan menuju kamarnya. Ia melihat sekeliling kamarnya yang nampak tak berubah sama sekali.
Marina menutup pintu kamarnya dan menuju tempat tidurnya. Ia mengambil ponselnya yang sengaja ia sembunyikan di laci nakas. Ponsel itu mati. Lalu Marina menyalakannya.
Ada beberapa pesan masuk disana. Pesan dari seseorang yang disewanya untuk mengawasi gerak gerik Nathan. Marina tersenyum menyeringai.
Ya, sebelum dirinya tertangkap oleh anak buah ayahnya, Marina telah lebih dulu memerintahkan orang bayaran untuk mengerjakan sisa pekerjaannya yang belum selesai.
Marina membuka satu persatu foto dan video yang dikirimkan oleh orang itu. Marina menggeram kesal. Kini ia tahu siapa gadis yang sudah merebut Nathan darinya.
"Brengsek! Jadi benar jika sekretaris j4lang ini adalah gadis yang sudah merebut Nathan dariku."
Marina ingin sekali berteriak dan mengumpati Sheila. Tapi itu tak mungkin dia lakukan. Anak buahnya selalu berjaga di depan kamarnya. Jika mendengar sebuah suara pasti mereka akan masuk.
"Lalu apa ini?" Marina membulatkna mata ketika melihat transformasi seorang Nathan yang berubah menjadi orang lain.
Marina mulai paham kenapa Nathan datang ke permukiman padat penduduk waktu itu.
"Jadi, dia menyamar huh?! Ini menarik sekali, Nate. Ternyata kau selama ini membohongi Sheila, huh!"
Marina tersenyum penuh kemenangan. "Baiklah, Nate. Jika kau ingin bermain, maka ... let's play the game!"
...💟💟💟...
Langit mulai gelap ketika dua insan masih setia berada diatas tempat tidur dengan sinar lampu temaram yang membuat suasana semakin syahdu. Sheila menatap Tarjo yang kini berada di atas tubuhnya. Pantulan cahaya malam membuat wajah pria itu terlihat indah di mata Sheila.
"Lakukanlah, Jo. Aku siap..." ucap Sheila dengan wajah yang sudah memerah. Menahan gejolak hasrat yang tidak bisa lagi mereka kuasai.
Entah apa yang ada di pikiran Tarjo, ia juga menatap gadis yang ada di kungkungannya ini. Ia mencumbu gadisnya dengan lembut. Ia memang terpacu untuk berbuat lebih karena semua sudah terjadi.
Ketika tangan Sheila mencoba membuka celana kain miliknya...
"Tidak, Shei! Aku tidak bisa!" ucap Tarjo tegas.
Sheila tertegun. Sungguh ia malu karena sudah membuat pria lugu ini hampir menjadi pria brengsek.
"Aku mencintaimu tapi tidak dengan cara seperti ini!"
Tanpa sepatah kata pun lagi Tarjo memungut kemejanya yang tergeletak di lantai dan memakainya kembali. Setelah kembali berpakaian, ia menyelimuti tubuh Sheila yang sudah tidak memakai piyama.
Ia mencium puncak kepala Sheila kemudian pergi meninggalkan gadis itu yang kini terisak. Sheila menyesali perbuatannya yang hampir saja kebablasan bersama Tarjo. Sheila memukuli dadanya yang terasa sesak.
Sementara Tarjo mengendarai sepeda motor bututnya dan langsung menuju ke apartemen miliknya. Pikirannya sudah buntu kala mengingat apa yang dilakukannya bersama Sheila tadi. Ia hampir saja menjadi pria brengsek yang merenggut mahkota kekasihnya.
Tiga hari telah berlalu, Nathan memilih untuk tidak berangkat kerja dan mengurung diri di kamar apartemennya. Penampilannya lusuh dan tak terurus.
Memikirkan bagaimana kondisi Sheila membuat hatinya sakit. Sheila rela merendahkan dirinya hanya demi seorang Tarjo.
Tak berbeda dengan Nathan, satu hari setelah Sandra memergoki Sheila bersama pria culun itu, Sandra memerintahkan anak buah Adi Jaya untuk menjemput Sheila paksa dari rumah kontrakan itu dan membawanya kembali ke rumah.
Sementara itu, Lian yang merasa ada yang aneh dengan putra bungsunya segera bertanya pada Boy. Ia meminta Boy jujur.
Boy mengalah. Ia meminta Lian dan juga Sandra untuk datang ke apartemen Nathan. Ia juga menghubungi Ivanna agar datang menghibur Nathan.
Hari itu dimana Nathan langsung memberitahu Boy dan menceritakan semuanya pada Boy. Boy juga tak menyangka jika Sheila berani menyerahkan harga dirinya kepada Tarjo, pria yang tidak benar-benar ada dalam hidupnya.
Boy mengerti perasaan Nathan dan membiarkan adiknya menenangkan diri untuk sementara waktu. Namun kini semua sudah tak bisa ditutupi lagi. Nathan harus jujur dan mengakui semuanya.
Boy sengaja mengundang Sandra karena wanita itu sudah pernah bertemu Tarjo. Masalah yang ditimbulkan adiknya, namun dia juga harus ikut campur karena tak ingin para orang tua kecewa dengan sikap Nathan yang sudah membohongi Sheila.
Bel pintu apartemen berbunyi. Boy segera membukanya. Ia mempersilakan dua wanita paruh baya yang masih cantik masuk ke dalam. Wajah tegang menghiasi wajah kedua wanita ini.
"Sebenarnya ada apa, Boy?" tanya Lian.
"Mama dan Tante Sandra akan mengetahuinya sebentar lagi. Mari!"
Kedua wanita ini terkejut bukan kepalang. Ia melihat satu sosok yang mereka kenali namun dalam tampilan yang berbeda.
...💟💟💟...
Marina mengirimkan foto-foto yang di dapatnya ke nomor ponsel Sheila. Dengan senyum merekah di bibirnya ia tersenyum penuh kemenangan.
Ia sangat yakin jika hubungan Nathan dan Sheila sebentar lagi akan berakhir. Dan ia bisa kembali ke dalam kehidupan Nathan. Ia tertawa keras untuk merayakan kemenangannya.
Sementara itu, Nathan yang sudah mengakui semua kebohongannya di depan ibunya dan ibunda Sheila, kini di minta Sandra untuk mengakui kesalahannya di depan Sheila. Ia tetap harus mengakui jika Tarjo adalah dirinya.
Dengan mengumpulkan keberaniannya, Nathan datang ke rumah Sheila dengan tampil sebagai Tarjo. Ia pikir Sheila tidak akan bersedia menemuinya namun ternyata ia salah.
Gadis itu kini berdiri di hadapannya. Dihadapannya sebagai seorang Tarjo. Nathan merasa aneh karena Sheila hanya menatapnya dalam diam. Sungguh berbeda dengan ekspektasinya yang mengira akan mendapat pelukan dari Sheila.
"Shei..."
Sheila menatap datar dan tak ada ekspresi apapun disana. Matanya memang berkaca-kaca, tapi gadis itu sebisa mungkin menahannya agar tidak terjatuh.
Di belakang Sheila, ada Sandra dan Adi Jaya yang menyaksikan dua insan yang masih saling diam itu.
"Shei, aku..."
"Siapa kau? Siapa kau sebenarnya?" tanya Sheila dengan wajah memerah.
"Shei, aku minta maaf..."
"Siapa kau sebenarnya? Mana yang diantara dirimu yang benar-benar mencintaiku? Siapa? Tarjo atau Nathan?"
Nathan menundukkan wajahnya. Ia sudah siap dengan konsekuensi yang sudah ia lakukan.
"Aku lelah, Nathan. Aku sudah lelah."
Sheila melepas cincin pertunangannya dan melemparnya ke tubuh Nathan.
"Kita sudahi sampai disini."
Sheila berbalik badan dan meninggalkan Nathan yang masih mematung.
#bersambung
*😥😥😥😥 finally, bubar juga dah drama ini... kok nyesek ya 😩😩😩