My Culun CEO

My Culun CEO
Kembalinya Tarjo



Usai drama menjadi 'teman' di taman rumah Nathan tadi, kini pria itu harus mengantar Sheila kembali ke rumah kontrakannya. Dan lagi-lagi kesunyian melanda dua insan yang masih saling bimbang itu.


Sheila dengan pikirannya sendiri yang tak mengira jika acara makan malam ini adalah untuk memberitahunya bahwa dua keluarga akan berlibur bersama ke luar negeri akhir tahun nanti. Baik Sheila maupun Nathan sama-sama menolak. Karena pekerjaan Nathan di akhir tahun sangatlah banyak pastinya.


Berkat bujukan para orang tua, akhirnya dua orang ini setuju untuk ikut liburan bersama. Ya meski dengan terpaksa. Dan yang paling membuat berdebar adalah mereka akan berlibur di kota Paris. Kota yang katanya dianggap romantis untuk banyak pasangan.


Tak terasa mobil Nathan telah tiba di depan rumah kontrakan Sheila. Keduanya masih saling diam dan Sheila yang tak juga turun.


Sheila menghela napas kasar. Ada banyak kata yang ingin ia ucapkan. Semuanya tertahan berbelit di lidahnya.


"Shei..." panggil Nathan yang membuat gadis itu menoleh.


"Apa ini rencanamu?" tanya Sheila.


Nathan jengah. Ia selalu dicurigai oleh gadis ini. "Apa aku terlihat seperti seorang pencuri? Aku sengaja mencuri waktumu, begitu?"


"Maaf..."


"Istirahatlah! Kita pikirkan lagi nanti soal liburan ini." Nathan keluar dari mobilnya dan berjalan memutar. Ia membukakan pintu untuk Sheila.


Sheila turun dari mobil Nathan. "Terima kasih," ucapnya.


"Hmm." Nathan segera kembali masuk ke dalam mobil. Ia menekan klakson dan mulai tancap gas meninggalkan area rumah Sheila.


Sepeninggal Nathan, Sheila melirik kearah rumah Tarjo. Masih gelap. Sheila membuka ponselnya dan mengirim pesan pada Tarjo.


"Kemana sih dia? Udah dua hari aku tidak melihatnya. Apa dia pulang kampung?" gumam Sheila.


Pesannya masih belum terbaca oleh Tarjo. Sheila masuk ke dalam rumah dan segera membersihkan diri agar bisa segera menuju alam mimpi.


Di tempat berbeda, Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ponselnya bergetar. Itu adalah ponsel milik Tarjo. Sejak kemarin ia mematikan ponsel itu dan baru ia hidupkan lagi sebelum mengantar Sheila.


Nathan menepikan mobilnya sejenak di pinggir jalan. Ia ingin membaca pesan apa saja yang dikirimkan Sheila.


Hati Nathan bergemuruh membaca semua pesan yang Sheila kirimkan. Gadis itu kehilangan sosok Tarjo.


Nathan memukul kemudinya. Selama mereka bersama tadi, Nathan tahu jika pikiran Sheila hanya tertuju pada Tarjo.


"Sekarang aku harus bagaimana? Berpikirlah, Nate!"


Nathan mengusap wajahnya. Ia membalas pesan Sheila.


..."Aku sedang kembali ke rumah orang tuaku. Ayahku sakit dan memintaku untuk pulang. Maaf aku lama tidak menghubungimu. Besok aku kembali kesana. Kamu jaga diri ya!"...


Sheila menatap layar ponselnya. Ia menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang.


"Hah! Entahlah, Jo. Apa aku harus bicara jujur denganmu?" gumam Sheila.


Sementara itu, Nathan baru saja tiba di apartemen miliknya. Ia segera menuju kamar mandi untuk mendinginkan pikirannya.


Tubuh polosnya ia guyurkan dibawah shower. Air dingin membuat otaknya sedikit lebih tenang.


Bayangan wajah Sheila kembali hadir. Kebersamaan Sheila dan Tarjo membuatnya tak bisa tenang. Ia harus segera memutuskan untuk mengakhiri ini semua atau terus melanjutkannya.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Siang ini, Nathan meminta Ivanna untuk menemuinya. Sudah tiga puluh menit berlalu namun Nathan masih diam seribu bahasa. Es krim di mangkuk sudah meleleh dan Nathan hanya mengaduknya.


Terlihat sekali jika Nathan sengaja menghindari Sheila. Makanya ia meminta Ivanna untuk menemaninya.


"Bicaralah! Jika kamu hanya diam, bagaimana aku bisa membantumu?" ucap Ivanna jengah.


"Aku harus bagaimana lagi, Na? Aku ingin Sheila menghilangkan bayang-bayang Tarjo. Tapi dia tidak bisa melupakan pria culun itu." Nathan terlihat frustasi jika memikirkan kisah cintanya.


Ivanna menatapnya iba. Bagaimanapun juga semua ini terjadi karena ide gila darinya. Ivanna ingin memberi semangat untuk tetap menjadi Tarjo sementara waktu. Tapi kata-kata Boy saat itu juga benar. Jika Sheila mengetahui dirinya telah dibohongi, kemungkinan besar gadis itu akan membenci Nathan.


"Ikuti saja kata hatimu, Nate. Aku akan selalu mendukungmu. Ya, meskipun banyak orang yang tak suka dengan ide gila ini. Tapi setidaknya baik kamu menjadi Nathan atau Tarjo, kamu selalu menunjukkan cinta pada Sheila. Itu artinya kamu memang serius dengan dia. Iya kan?" Untuk pertama kalinya Ivanna bicara dengan tenang dan tidak meledak-ledak.


Nathan menatap Ivanna lalu menganggukkan kepala. Hati kecilnya berkata jika dia harus menjadi Tarjo untuk menghibur Sheila. Ia tak ingin melihat Sheila terus murung karena kehilangan Tarjo.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Seharian ini Nathan seakan tak terlihat di mata Sheila. Ia memilih untuk bekerja diluar kantor. Setelah memilih untuk menjadi teman, Nathan malah bimbang karena telah mengambil keputusan itu.


Dan malam harinya, ia datang ke rumah Agus untuk meminjam sepeda motor pria itu lagi. Nathan berpamitan dengan berpenampilan sebagai Tarjo.


Tak sampai lima belas menit, Tarjo telah tiba di rumah kontrakannya. Ia melihat lampu rumah Sheila yang sudah menyala. Itu artinya gadis itu telah ada di rumah.


Dengan langkah yang ragu, Tarjo mengetuk pintu rumah Sheila. Terdengar sahutan dari dalam.


"Tarjo!" Sheila begitu gembira melihat kekasihnya. Ia langsung memeluk Tarjo.


Tarjo tersenyum getir dan membalas pelukan Sheila. Hal yang tidak akan bisa ia lakukan jika menjadi Nathan.


Sheila mengurai pelukannya. Ia menggandeng tangan Tarjo dan membawanya masuk.


"Ayo masuk! Kamu udah makan?" tanya Sheila.


Tarjo hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Tak tahu apa yang ada dipikirannya. Namun ia memilih untuk menarik tubuh Sheila mendekat padanya. Ia merindukan candunya.


Sheila cukup kaget dengan serangan dadakan dari Tarjo. Tapi ia mulai membalas apa yang dilakukan Tarjo.


Tarjo mengangkat tubuh Sheila agar duduk diatas meja. Pria itu kembali meraup manisnya bibir sang kekasih hati. Pikirannya terus tertuju pada apa yang Sheila katakan kemarin.


"Jangan menyentuhku sembarangan!"


Menjadi Nathan tak mungkin ia bisa melakukan ini. Melakukan sebuah ciuman panas dan panjang. Bahkan tangannya mulai menelusup masuk ke piyama yang dipakai Sheila. Ia mengelus punggung polos gadis itu.


Sheila melingkarkan tangannya dileher Tarjo. Ia amat merindukan sentuhan kekasihnya ini. Ia meremaas lembut rambut belakang Tarjo.


Mereka sama-sama berbalut gairah. Namun sekali lagi Tarjo tak ingin merusak gadisnya. Ia melepaskan tangannya dan juga tautannya. Ia langsung mendekap gadis yang dicintanya.


"Maaf... Aku sudah kelewat batas," bisiknya dengan tetap memeluk Sheila.


Mata Tarjo mengembun merasakan rasa bersalah yang dalam.


"Tuhan, apa yang harus kulakukan?"


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Dua sejoli ini kini sedang duduk di sofa rumah Sheila. Tarjo yang duduk tenang dan Sheila yang merebahkan kepalanya diatas paha Tarjo. Tangan Tarjo memainkan rambut Sheila dan membelainya dengan gerakan pelan.


Sheila menatap wajah Tarjo yang seakan masih merasa bersalah dengan kejadian tadi. Ia menimang-nimang untuk bicara jujur dengan Tarjo.


"Jo..."


"Hmm."


"Aku sudah dijodohkan oleh orang tuaku."


Usapan lembut tangan Tarjo dipuncak kepala Sheila pun terhenti. Ia tak menyangka jika Sheila akan berkata jujur.


"Aku sudah bertunangan, Jo."


Tarjo masih diam. Tatapannya menerawang jauh.


"Tapi aku hanya mencintaimu, Jo."


"Kamu yakin kamu tidak punya perasaan apapun pada tunanganmu itu?" tanya Tarjo pada akhirnya.


Bibir Sheila mengatup. Sungguh ia tak yakin dengan perasaannya pada Nathan. Meski kadang pria itu membuat Sheila berdebar dengan pesona dan kehangatannya.


Sheila segera bangun dan duduk. Ia menatap Tarjo. "Aku cintanya sama kamu, Jo," ucap Sheila tegas.


Tarjo melirik cincin di jari manis Sheila. "Tapi kamu memakai cincin pertunangan kalian. Itu artinya kamu sudah berkomitmen dengannya."


"Tidak, Jo! Ini hanya sebuah cincin. Dan ini gak ada artinya. Aku bisa melepasnya kapan saja."


Sheila segera melepas cincin berlian itu dan meletakkannya diatas meja. Tarjo menatap nanar cincin pertunangan mereka.


"Pasti calon suami kamu itu sangat kaya. Mana bisa aku membelikanmu cincin sebagus itu." Tarjo harus merendah agar Sheila tahu seberapa jauh perbedaan mereka.


"Tidak, Jo! Aku hanya mencintai kamu. Jangan bicara begitu!" Sheila memeluk tubuh Tarjo. Menelusupkan wajahnya ke dada Tarjo. Tangannya melingkari tubuh sang kekasih seakan tak ingin melepasnya.


Tangan Tarjo terulur membelai rambut Sheila. Ia juga mendekap erat tubuh gadisnya. Hatinya terluka. Sebagai Nathan hatinya terluka ketika mendengar Sheila hanya mencintai Tarjo. Sosok yang sengaja ia buat untuk menguji Sheila. Namun sekarang malah dirinya yang seakan sedang di uji.


Mereka berpelukan dengan masih duduk diatas sofa. Berkali-kali Tarjo mengecup puncak kepala Sheila. Buliran bening itu hampir saja membasahi wajah Tarjo. Tapi sebisa mungkin ia tahan. Ditengah kebahagiaan menjadi Tarjo, ia juga merasa miris untuk menjadi Nathan. Manakah yang harus ia pilih?


#bersambung. . .


*Bang Tarjo khilap😱😱😱inget bang, lagi puasa nih, hehehe


-Selamat Berpuasa untuk kalian yang menjalankan-


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜Š


semoga terhibur dengan kisah receh Nathan dan Sheila ini 😚😚😚