My Culun CEO

My Culun CEO
Pria Penuh Obsesi (2)



Vania mengatur napasnya usai meloloskan diri dari pria yang pernah ditemuinya beberapa waktu lalu. Vania kehilangan kacamata yang sudah menemaninya selama beberapa tahun ini. Beruntung dirinya selalu membawa kacamata cadangan kemanapun ia pergi.


Orang sepertinya yang amat ketergantungan dengan beberapa benda pastinya harus membawa benda cadangan agar ia tetap beraktifitas normal seperti biasa. Akhirnya Vania kembali ke ruangannya dan memutuskan makan bekal makan siangnya disana.


Sebenarnya Vania sudah tidak berselera lagi untuk makan karena memikirkan tentang apa yang baru saja dilihatnya. Tapi ketika mengingat pesan dari Josh, dirinya mau tak mau harus tetap makan agar bisa bekerja dengan baik. Ditambah lagi bosnya tidak suka jika pekerjaan bawahannya tertunda apalagi harus lembur. Itu adalah hal yang dilarang disini.


"Siapa dia ya? Kenapa dia bisa ada disini?" gumam Vania dalam hati.


Ia masih tak habis pikir ada orang yang berbuat mesum di dalam kantor. Bukankah Ford Company adalah perusahaan besar? Bagaimana bisa membiarkan karyawannya berbuat mesum di tempat sepi seperti itu? Begitulah pemikiran Vania saat ini.


Sementara itu, Damian akhirnya membawa Sitta masuk ke ruang kerjanya. Sebenarnya ia tak suka jika harus tampil di depan karyawannya bersama dengan seorang wanita. Karena imejnya sebagai pemimpin seakan turun drastis dari kredibilitasnya yang memang diatas rata-rata.


Namun kali ini Damian akan sedikit mengesampingkan itu karena ia butuh bantuan Sitta. Damian meminta Sitta duduk di sofa ruangannya.


Sitta merasa amat gembira karena akhirnya perjuangannya untuk bisa mendekati Damian akan segera terwujud. Damian adalah sosok pria idamannya. Terlepas dari dirinya yang pernah mengagungkan Nathan, kini Sitta beralih pada Damian yang juga memiliki kualitas yang sama dengan Nathan.


"Kenapa aku tidak bisa pindah kemari, Damian?" tanya Sitta yang sudah tak sabar dengan apa yang akan dibicarakan oleh Damian.


"Dengar! Aku tidak melarangmu untuk pindah kemari, hanya saja ... kau harus melakukan sesuatu dulu untukku," ucap Damian dengan mimik wajah serius.


"Heh?! Apa yang harus kulakukan untukmu, Damian?"


"Kau kenal Eduardo Moremans?"


Sitta mengangguk. "Aku tidak begitu mengenalnya tapi aku pernah mendengar namanya."


"Oke! Aku ingin minta tolong padamu. Saat ini Edo sedang menjalin kerjasama dengan Avicenna Grup. Dan aku ingin kau membuat kerjasama itu batal atau gagal!"


Sitta tercengang. "Hah?! Apa maksudmu? Kenapa aku harus menggagalkan proyek mereka?"


Sitta merasa mulai was-was dengan Damian. Ia merasa jika sifat Damian hampir mirip dengan Marina, sahabatnya yang kini dalam perawatan dokter. Sungguh ia tak menduga ternyata Damian memiliki sisi yang berbeda.


"Tidak ada alasannya! Aku hanya tidak suka Edo menjalin kerjasama dengan Nathan. Itu saja!"


Sitta nampak berpikir sejenak.


"Sial! Damian ternyata orang yang mengerikan. Bagaimana ini? Bagaimana jika Nathan marah kalau dia tahu aku yang menggagalkan kerjasama perusahaan dengan pihak luar," batin Sitta mulai dilema.


"Bagaimana Sitta? Aku yakin kau bisa melakukannya, heem?"


Meski ragu, Sitta tetap mengangguk. Ia takut jika Damian berbuat nekat kepadanya.


"Baguslah! Setelah kau berhasil, kau bisa langsung pindah kemari tanpa harus menggunakan ayahmu!" ucap Damian dengan membelai rambut Sitta.


Usai berbincang dengan Sitta, Damian menyuruh gadis itu pergi. Ia tak ingin menjadi bahan gosip para bawahannya.


Damian merogoh saku jasnya dan menatap kacamata retak yang ia temukan tadi.


"Hmm? Milik siapa ini? Apa ada bawahanku yang memakai kacamata?" gumam Damian.


Damian menekan tombol intercom dan meminta seluruh staf di lantai yang sama dengannya untuk berkumpul.


"Aku harus pastikan jika dia tidak akan membocorkan apa yang terjadi hari ini."


Seluruh staf yang satu lantai dengannya sudah di kumpulkan di ruang rapat. Damian memperhatikan satu persatu para karyawannya yang cocok dengan profil kacamata yang ia temukan.


Damian menatap mereka yang tertunduk tanpa bicara sepatah katapun.


"Tuan, ada apa ini?" tanya Josh yang baru tiba di ruang rapat.


"Sstt! Jangan berisik, Josh. Aku hanya ingin mengenal wajah stafku saja," alasan Damian.


Josh mengernyitkan dahi. Ia tak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Damian. Tapi Josh hanya diam dan menunggu bosnya sendiri yang bercerita.


"Saya ingin kalian yang satu lantai dengan saya, meningkatkan kinerja kalian. Kalian tahu kan Ford Company bukanlah perusahaan yang hanya terkenal di Indonesia saja, tapi juga di dunia. Saya ingin kalian bisa bekerja melebihi dari ekspektasi saya. Mengerti?!" ujar Damian dengan suara lantang.


"Mengerti, Tuan!" jawab mereka kompak.


"Bagus! Sekarang kembali bekerja dan jangan sampai ada lembur!"


Para karyawan segera keluar dari ruang rapat dengan masih menundukkan kepala mereka.


"Sial! Kenapa tidak ada yang cocok dengan kriteria si pemilik kacamata ini?" batin Damian menggerutu.


"Tuan, sebenarnya ada apa?" tanya Josh untuk yang kedua kalinya.


"Sudahlah, Josh. Bukan apa-apa. Kembali ke ruanganmu dan selesaikan berkas dengan Avicenna Grup," titah Damian.


"Saya sudah menaruhnya di meja Anda, Tuan."


Damian tersenyum. "Oke! Mari kita mulai invasi!" seru Damian dengan senyum yang lebar.


...***...


Di tempat lain, Sitta telah tiba di kantor Avicenna Grup. Setelah Marina hengkang dari gengnya, kini Sitta hanya bersama dengan Nita. Sebenarnya Nita hanya seorang pesuruh saja untuk mengerjakan apa yang diminta oleh Marina.


Namun setelah Marina pergi, kini Sitta mulai mengatur Nita dan suka bertindak semau dirinya. Ini adalah cerminan yang tidak bagus dari seorang Marina. Ia memberikan efek yang buruk terhadap teman-temannya.


"Hah?! Benarkah? Kenapa aku tidak pernah tahu?" tanya Sitta tak terima.


"Astaga, Sitta! Kemana saja kau? Gosip itu sudah beredar lama. Damian akan melenyapkan semua orang yang menghalangi jalannya."


Sitta bergidik ngeri. "Itu berarti dia benar-benar dipenuhi obsesi sama seperti Marina."


Nita tersenyum getir. "Kau sendiri tidak sadar jika dirimu juga hampir mirip dengan Marina. Kau memiliki obsesi yang sama untuk bisa mendapatkan Damian," sindir Nita.


Sitta hanya mencebik. "Sekarang bagaimana? Kita harus cari cara agar semua segera berlalu! Kau ada ide, Nit?"


Nita menggeleng. "Kau saja yang lakukan. Aku tidak tahu seperti apa dunia yang kau inginkan!"


Sitta mendengus kesal. Ia tak menyangka jika Nita yang tadinya penurut malah kini mulai membangkang. Sitta memiliki sebuah rencana yang cukup kotor untuk bisa menggagalkan kerjasama Edo dan Nathan.


...***...


Hari itu Nathan amat marah karena mendapati Edo yang sedang berbuat tak senonoh kepada salah satu stafnya yaitu Sitta. Ya, akhirnya Sitta mengorbankan dirinya demi Damian. Sudah tidak ada jalan mundur lagi baginya.


Edo menyangkal semua tuduhan yang dilayangkan oleh Sitta. Tapi akhirnya ia mengalah. Sedikit banyak Edo tahu jika semua ini adalah ulah Damian.


"Kita akhiri saja semua ini, Tuan Nathan. Saya sudah lelah!" ucap Edo kemudian meninggalkan Nathan yang masih tak mengerti dengan situasi yang terjadi.


Malam harinya, Edo mengendarai motornya untuk berkeliling sebagai abang ojol. Angin malam menerpa wajahnya. Bayangan permusuhannya dengan Damian kini semakin nyata.


Damian tidak akan menyerah. Dan Edo juga tidak mau meladeni. Biarlah saja dirinya mengalah.


Edo tiba di sebuah taman kota yang sudah mulai sepi. Ia duduk sendiri di bangku panjang disana.


Dari kejauhan sepasang mata memperhatikan Edo. Ia tersenyum kemudian berjalan mendekat.


"Ini, Bang Edo. Minumlah dulu! Aku rasa kamu haus!" ucap seorang gadis berkacamata sambil menyodorkan teh dingin dalam botol kepada Edo.


Sejenak Edo menatap gadis itu yang terlihat manis meski tanpa riasan di wajahnya.


"Thanks!" ucap Edo menerima pemberian gadis yang adalah Vania.


"Dari mana kamu tahu namaku?" tanya Edo.


"Dari aplikasi! Hehe."


"Kamu baru pulang kerja?"


Vania mengangguk. "Waktu itu kenapa abang langsung pergi? Aku kan belum membayar ongkos ojolnya!"


"Tidak perlu. Kamu simpan saja uangmu."


Vania membulatkan mata. "Wah, abang baik sekali. Terima kasih ya, Bang."


"Kamu bekerja di Ford Company kan?"


Vania kembali mengangguk.


"Apa bosmu menyeramkan?" tanya Edo tanpa disaring.


"Hah? Menyeramkan?! Aku tidak tahu, Bang. Aku belum pernah bertemu dengannya," jawab Vania jujur.


Edo menarik sudut bibirnya. "Kamu akan tahu ketika kamu bertemu dengannya nanti," gumam Edo dalam hati.


Keesokan harinya, Vania yang baru saja tiba di kantor, tiba-tiba di kejutkan dengan pengumuman jika tuan bos meminta semua karyawan untuk berkumpul di ruang rapat. Vania dengar tiga hari lalu bos mereka juga meminta semua staf untuk berkumpul, namun hari itu Vania tidak hadir karena perutnya tidak bisa dikompromi usai memakan bekal makan siangnya. Entah karena syok setelah melihat kemesuman rekan kerjanya atau memang ia memakan makanan yang terlalu pedas.


Vania duduk berdampingan dengan staf yang lain. Vania tersenyum ketika melihat Josh mulai memasuki ruangan diikuti seorang pria yang pastinya adalah bosnya.


Vania tersenyum kearah Josh, begitu juga sebaliknya. Namun seketika senyum Vania luntur ketika menatap pria yang berdiri di samping Josh.


"Selamat pagi semuanya!" sapa Damian pada seluruh stafnya.


"Selamat pagi, Tuan!" jawab semua staf kecuali Vania.


Sedari tadi Vania hanya diam dan terus memandangi Damian yang sedang berpidato. Tangan Vania saling bertautan dan begitu gugup.


"Bagaimana bisa? Jadi dia adalah bos disini?! Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Apa dia tahu jika waktu itu aku memergokinya?" batin Vania meronta tak tenang.


Damian yang sudah hapal dengan semua wajah stafnya yang waktu itu, akhirnya kini menemukan wajah baru yang sedang ia cari. Dia adalah si pemilik kacamata.


Damian menarik sudut bibirnya.


"Akhirnya kutemukan juga! Kena kau, Nona Vania Tanuja!" batin Damian sambil menatap tajam Vania.


#bersambung...


*Woah, maap yee kalo ceritanya berputar haluan, heheh. Tenang! Tidak kok! Semua akan berpusat pada satu tema saja yaitu si para pebucin yg memperjuangkan cinta mereka, hehe.


Jangan lupa selalu dukung karya ini yaa 😉😉 terima kasih 😘