My Culun CEO

My Culun CEO
Diantara Keraguan



Tidak ada kata yang bisa kuucapkan, Nate. Aku membisu. Aku sendiri bahkan terlalu takut ketika mengingat tentang jati diriku yang sebenarnya.


Aku juga sudah banyak berbohong pada Tarjo. Lalu, apa benar jika Tarjo juga menyimpan sebuah rahasia dariku? Pria sepolos itu? Bisakah dia menyimpan rahasia? Kenapa aku tidak mempercayai semua ini?


"Shei!"


Nathan menyadarkanku kembali ke dunia nyata. Dunia yang sekarang sedang kuhadapi.


"Aku rasa ... dia tidak akan melakukan hal seperti itu, Nate." Aku menjawab dengan ada sedikit keraguan disana.


Aku tidak bisa memahami ekspresi wajah Nathan. Apakah dia kecewa dengan jawabanku? Yang pasti setelah aku menjawab keingintahuannya, dia memilih pergi dari kamarku.


Aku mendesah kasar. Aku kembali beringsut ke tempat tidur. Aku memegangi ponselku yang masih menghitam. Tak ada apapun disana. Mungkin benar Tarjo tengah marah. Atau mungkin juga dia sedang sibuk. Aku memilih untuk mengistirahatkan tubuhku yang terasa lelah. Aku memejamkan mata berharap saat bangun nanti, aku mendapat kabar yang bagus.


...💟💟💟...


Langkah kakiku semakin berat, Shei. Aku tidak tahu semua ini benar atau salah. Yang pasti, sudah membohongimu adalah tindakan yang salah. Kapan aku bisa menghentikan semua ini?


"Nate!"


Itu adalah Kak Boy. Dia memanggilku. Aku kembali sadar dari lamunanku.


"Kau tidak pergi dengan Sheila?" tanya Kak Boy padaku.


Aku menggeleng. "Sheila ingin tidur lebih lama. Sepertinya dia kelelahan."


"Oh ya? Padahal dia terbiasa dengan penerbangan jarak jauh. Bukankah dulu dia tinggal di Amerika?"


Aku mengedikkan bahuku. Yang pasti setelah ini hanya ada aku dan Sheila saja di rumah besar ini. Semua orang nampak menikmati liburannya. Sedangkan aku? Aku masih berkutat dengan kebimbanganku sendiri.


"Kami semua akan pergi. Anak-anak ingin berjalan-jalan. Dan para wanita, ingin pergi berbelanja. Kau jaga Sheila ya! Jangan pernah berbuat sesuatu yang lebih atau kau..."


"Kak! Aku bukan pria yang seperti itu meskipun aku juga ingin."


"Good! Tetap jaga kepercayaan papa dan mama. Lalu, bagaimana dengan si culun itu? Kau sudah berhenti jadi dia kan?"


Aku membisu. Sama seperti yang Sheila lakukan tadi.


Kak Boy menggeleng pelan. Sepertinya dia tahu jika aku masih belum berhenti menjadi Tarjo.


"Ya sudahlah! Bertanggungjawablah dengan apa yang sudah kau lakukan, mengerti?"


"Iya, Kak."


Aku melambaikan tangan pada rombongan yang akan bersenang-senang.


"Jika Sheila ingin menyusul kami, kau antarkan saja dia ya, Nak!" pesan Mama padaku.


"Iya, Ma."


Mama mencium pipiku kemudian masuk ke dalam bus kecil yang sengaja disewa untuk liburan kali ini.


Aku masuk ke dalam rumah. Aku menatap kamar Sheila yang pintunya tertutup. Sepertinya benar dia tertidur lagi. Sebaiknya aku mengecek pekerjaan Harvey saja. Apa dia bisa menangani pekerjaan dengan baik atau tidak.


...💟💟💟...


Keesokan harinya,


Setelah kemarin tak ada lagi percakapan yang berarti diantara Nathan dan Sheila, hari ini Sheila memutuskan untuk berkeliling kota Paris.


Kemarin seharian ia hanya berdiam diri di rumah dan tidur. Sheila meminta Nathan untuk mengantarnya berkeliling. Tentu saja Nathan sangat bersedia.


Mereka hanya pergi berdua tanpa ada yang mengganggu. Sepertinya para orang tua sengaja melakukan ini Pada Nathan dan Sheila.


Nathan mengajak Sheila berkendara mengelilingi jalan-jalan terkenal di kota Paris. Nathan menjelaskan satu persatu bangunan yang berdiri di sepanjang jalan. Kini mereka memilih turun dari mobil agar bisa lebih menikmati liburan mereka.


Mereka berjalan menyusuri jalanan hingga tiba di Taman Luxembourg. Taman yang cukup luas ini banyak di kunjungi wisatawan. Nathan mengajak Sheila untuk duduk di salah bangku di taman itu. Namun Sheila menolaknya.


Kaki Sheila masih ingin terus melangkah. Hingga mereka tiba di sebuah kafe yang bersejarah, Cafe Le Procope.


Sheila tertarik untuk memasukinya. Tak hanya bisa menyantap makanan, disini kita juga bisa bernostalgia dengan sejarah Revolusi Perancis.


Sheila cukup menikmati suasana kafe. Nathan hanya menatap gadis itu tanpa berkedip.


"Ada apa? Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Sheila sambil menyeruput coklat hangatnya.


Nathan menggeleng. Ia sendiri tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Ia hanya ingin membuat gadis ini mengerti perasaannya.


"Kau ingin ke menara Eiffel?" tanya Nathan tiba-tiba.


"Ayo kita kesana!" ajak Nathan.


"Tapi..." Sheila tak bisa menolak karena tangan Nathan sudah menggenggamnya erat.


"Nate, untuk apa kita kesana?" tanya Sheila gugup. Menara Eiffel adalah ikon kota Paris. Dan disana biasanya banyak pasangan menghabiskan waktu berdua.


Sheila takut dan gugup. Ia takut jika jantungnya tak baik-baik saja jika Nathan mengajaknya kesana.


Hari sudah berganti malam. Suasana kota Paris di musim dingin sangatlah syahdu. Menara Eiffel tetap ramai dikunjungi banyak orang. Lampu-lampu menghiasi sekitaran tempat itu.


Sheila bersin karena tidak terbiasa dengan udara dingin. Sudah sangat lama sejak terakhir ia merasakan musim dingin saat tinggal di Amerika dulu.


"Nate, kita pulang saja ya!" pinta Sheila. Hidung Sheila memerah karena gadis itu terus mengusapnya.


"Kamu kedinginan?" Nathan melepas syal yang dipakainya dan ia lingkarkan di leher Sheila.


"Eh? Tidak perlu, Nate. Aku baik-baik saja," tolak Sheila tapi Nathan tetap memaksanya.


"Jangan membantah! Jika kau sakit maka aku akan sedih."


"Eh? Sedih?" Sheila menatap Nathan lekat. Matanya menyiratkan sebuah cinta yang dalam untuk Sheila. Ia segera berpaling. Ia tak ingin terbawa suasana.


Di sekitar mereka beberapa pasangab sedang bercumbu. Dan itu membuat Sheila risih.


"Shei!" panggil Nathan.


Sheila menoleh menatap pria itu.


"Bisakah kau melihat hatiku?" tanya pria itu dengan wajah memerah.


"Aku ingin memulai semuanya dari awal, Shei. Aku tahu kita memulainya dengan tidak baik. Kita terlalu banyak melakukan kesepakatan, aku tahu aku salah. Aku salah karena masih mengingat tentang Celia. Tapi, kini dihatiku hanya ada kamu, Shei. Percayalah!"


Sheila diam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Ia kembali memalingkan wajah namun Nathan mencegahnya. Ia merangkum wajah Sheila. Ia ingin puas menatap wajah gadisnya.


"Bicaralah! Aku akan terima apapun yang kau katakan."


"Nate..."


"Aku akan menerima apapun keputusanmu. Tapi, meski kau menolakku, aku akan tetap memperjuangkanmu."


"Aku ... aku bingung, Nate. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Ini pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta, dan ini membuatku bimbang."


Nathan tersenyum. "Tidak apa. Tanyakan saja pada hatimu. Apa kau memang memilihku atau pria itu!"


Sheila mengangguk. Nathan memberikan sebuah pelukan hangat untuk Sheila. Ia akan mencoba memahami keputusan Sheila.


Untuk hari ini semuanya cukup. Nathan cukup mengerti jika ia ada di dalam hati Sheila. Namun di sisi lain, Tarjo juga ada disana. Hmm, itu berarti memang kaulah cintanya Sheila, Nate.




...💟💟💟...


Liburan telah usai. Tahun yang baru sudah menanti. Kini semua orang kembali ke aktifitas masing-masing. Nathan makin sibuk karena di awal tahun banyak kontrak masuk untuk kerjasama.


Setiap hari ia keluar bersama Harvey dan meninggalkan Sheila sendiri di kantor. Di saat kesepian seperti ini, Sheila merasa merindukan Tarjo. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu.


Bahkan ternyata Tarjo sudah pindah dari rumah kontrakannya. Tidak ada yang tahu kemana perginya pria culun itu. Pernah Sheila bertanya pada karyawan bengkel, tapi mereka bilang Tarjo sudah mengundurkan diri dan pulang ke kampungnya.


Nomor ponselnya pun sudah tidak aktif. Sheila sedih karena harus berpisah dengan cara seperti ini.


Keraguannya kembali muncul. Ia ragu dengan hatinya yang katanya tertambat pada Nathan. Ia ragu sudah berhasil mengeluarkan Tarjo dari hatinya.


Tarjo adalah cinta pertama bagi Sheila. Orang bilang cinta pertama sulit untuk dilupakan.


"Jo, kamu harus menjelaskan semuanya padaku! Kamu tidak bisa pergi begitu saja seperti ini! Kamu dimana, Jo? Apa kamu tahu, aku begitu menderita..."


Sheila kembali menghubungi nomor Tarjo namun hasilnya masih sama. Ia membanting ponselnya.


Suara isak tangis memenuhi ruangan kerjanya. Sheila menangis sendirian disana.


Tanpa Sheila sadari, seseorang mendengar semua jeritan hatinya dari balik pintu.


#bersambung. . .