
Pukul lima pagi, Merlin mendatangi kediaman keluarga Avicenna dan membuat sedikit kehebohan disana.
"Apa yang sedang kau lakukan, hah?" Nathan terpaksa bangun dari tidurnya dan menemui Merlin.
"Maafkan saya, Tuan. Ada yang harus saya bicarakan dengan Tuan saat ini juga," ucap Merlin dengan membungkukkan badan.
Nathan mengusap wajahnya. Gadis di depannya ini memang terkenal gigih meski sudah mengalami banyak hal.
"Baiklah. Katakan apa yang ingin kau bicarakan!"
Merlin mengatakan semua rencana yang sudah di susunnya hingga tidak bisa tertidur nyenyak malam ini. Nathan hanya mendengarkan dengan seksama apa yang diminta oleh asisten putranya itu.
"Apa katamu?!" Suara menggelegar Nathan membuat Merlin berjingkat kaget.
"Tuan, saya mohon!" Merlin mengatupkan kedua tangannya.
"Kau pikir mengumpulkan para pemegang saham itu mudah, hah?! Mereka juga memiliki kesibukan! Si pemalas itu sudah diberi satu kesempatan untuk melakukan presentasi, tapi dia membuang kesmepatan itu begitu saja. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Karel ... akan memenangkan proyek terbaru perusahaan kali ini."
Ada nada tak terima dalam diri Nathan, namun ia harus tetap mengakui jika Karel memang lebih unggul dibandingkan Giga, putranya sendiri.
"Kali ini tuan Giga pasti berhasil!" tegas Merlin.
"Dari mana kau dapat keyakinan itu?" Nathan memicingkan matanya.
"Yang harus tuan lakukan adalah mengumpulkan para pemegang saham pukul sepuluh pagi nanti. Saya akan lakukan sisanya. Saya mohon!"
Tekad Merlin tak bisa di bantah lagi. Ia benar-benar ingin membantu Giga di depan ayah dan para pemegang saham.
"Baiklah. Akan kulakukan. Sebaiknya sekarang kau kembali ke rumahmu. Ini masih terlalu pagi untuk pergi bekerja."
"Baik, Tuan. Sekali lagi terima kasih." Merlin membungkukkan badannya sebelum pergi.
Di belakang Nathan, sedari tadi Lian memperhatikan tingkah Merlin dan kegigihannya. Lian menarik sudut bibirnya. Ia merasa senang karena kali ini cucunya mendapatkan asisten yang tepat.
#
#
#
Pukul delapan pagi, Merlin kembali ke rumah keluarga Avicenna dan meminta bantuan Heri untuk menyeret Giga keluar dari kamarnya. Meski pria itu terus meronta, namun Merlin dan Heri memegangi kedua lengan Giga dan membawanya keluar.
"Lepaskan aku! Aku tidak mau melakukan presentasi bodoh itu sekali lagi. Bukankah sudah kubilang aku tidak bisa melakukannya!" ronta Giga yang tidak di gubris oleh Merlin.
"Untuk kali ini, tolong percayakan semuanya kepada saya, Tuan!" ucap Merlin dengan memasukkan tubuh Giga ke dalam mobil.
"Hei, kau! Berani sekali melakukan ini padaku!" Giga masih terus berteriak.
"Cepat jalankan mobilnya, Her!" perintah Merlin.
Heri segera tancap gas dan menuju tempat yang sudah disiapkan oleh Merlin.
#
#
#
Tiba di tempat tersebut, Giga melongo karena ternyata Merlin membawanya ke sebuah kedai kopi yang masih tutup.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa membawaku kemari?"
Pertanyaan Giga tidak direspon sedikitpun oleh Merlin. Malah seseorang yang baru saja keluar dari kedai yang dengan santai menatap Giga dan bicara padanya.
"Jadi, dia bosmu?"
Itu adalah suara Resti. Ia sengaja datang ke kedai miliknya sepagi ini karena Merlin yang memintanya.
"Ayo, Tuan. Sebaiknya kita masuk dulu!" ajak Merlin.
Dengan malas Giga menuruti keinginan asistennya. Tiba di dalam kedai, Merlin menyiapkan segala perlengkapan untuk Giga.
"Apa?! Jadi, aku akan melakukan video konferensi?" tanya Giga tidak percaya.
Merlin, Resti dan Heri mengangguk mantap.
"Benar, Tuan. Aku yakin kita pasti bisa melakukannya. Tuan akan melakukan presentasi dari sini, dan akan di sambungkan dengan ruang meeting di kantor Avicenna." jelas Merlin.
Giga menggeleng. "Tidak! Tidak! Aku tidak bisa melakukannya!"
"Tuan pasti bisa!" tegas Merlin.
Kali ini Merlin tidak ingin di bantah lagi. Dia benar-benar ingin Giga sembuh dari traumanya. Mungkin tidaklah mudah, tapi semoga saja ini bisa menjadi jalan untuk mempermudahnya.
Usai mempersiapkan segalanya, Merlin pergi ke kantor Avicenna dan meninggalkan Giga bersama dengan Resti dan Giga. Secepat yang ia bisa, Merlin segera sampai di kantor sebelum pukul sepuluh.
Merlin berlarian dan segera memberikan file presentasi milik Giga kepada seluruh pemegang saham yang hadir dan juga investor. Merlin bertemu dengan Nathan dan kembali mendapat tatapan tajam dari pria itu.
Merlin membisikkan sesuatu kepada Harvey lalu memintanya menyalakan proyektor. Harvey memberi tahu kepada seluruh peserta rapat jika Giga akan mengadakan presentasi melalui sambungan video.
Tampak di layar Giga sudah siap dengan setelan jas rapi dan berkas presentasi yang sudah ia buat. Merlin berharap Giga bisa melakukan ini.
Dan benar saja, dengan lancar Giga menyampaikan ide mengenai proyek baru yang akan ia lakukan. Para pemegang saham terlihat antusias dengan ide Giga.
"Bagaimana bisa Anda memiliki ide untuk memilih Desa Selimut?"
Pertanyaan dari salah seorang investor berhasil dijawab dengan baik oleh Giga. Merlin tersenyum puas dengan hasil kerja kerasnya hari ini. Begitu juga dengan Nathan yang tampak bangga dengan putranya.
Berbeda dengan semua orang yang menyukai ide Giga, di salah satu sudut ruangan, Mira tampak mengepalkan tangan karena Giga berhasil mengalahkan putranya, Karel. Mira berpura tersenyum manis di depan Nathan meski sebenarnya dia sangat marah saat ini.
Rapat pun selesai. Semua orang menyukai ide dari Giga dan memilih ide dari Giga sebagai proyek yang selanjutnya. Di dalam ruangan Karel, Mira terlihat kesal dan menumpahkan kemarahan kepada putranya.
"Bagaimana bisa dia mendapat ide seperti itu? Harusnya kau bisa membaca gerak geriknya dong!"
"Maafkan aku, Ma." Karel hanya menunduk mendapat amukan dari ibunya.
"Maaf? Maafmu sudah tidak berguna lagi sekarang! Pokoknya kau harus bisa mengalahkan Giga! Mama tidak mau tahu! Bukankah kau memiliki mata-mata? Kenapa kau tidak pekerjakan saja dia, huh?!"
Karel hanya diam.
"Dengar! Mama tidak terima jika si culun itu harus menjadi pewaris Avicenna Grup selanjutnya. Kau harus bisa mengalahkan dia, Karel. Jangan diam saja!"
Karel hanya menghela napas panjang. Seumur hidup ibunya tidak pernah semarah ini kepadanya.
Sementara itu, Merlin kembali menemui Giga dan mengucapkan selamat kepada pria itu.
"Merlinda! Aku berhasil!" Saking bahagianya Giga tidak sadar jika dirinya langsung memeluk Merlin begitu Merlin tiba.
"Aku berhasil! Akhirnya aku berhasil. Terima kasih, Merlinda. Terima kasih." Giga amat terharu hingga tak menyadari air matanya yang mengalir.
Merlin yang sangat terkejut dengan pelukan Giga yang tiba-tiba hanya bisa diam dan membalas pelukan Giga.
"Aku tahu Tuan pasti bisa melakukannya!" ucap Merlin.
"Ehem!" Suara dehaman Resti seketika membuat Giga tersadar dan langsung melepas pelukannya.
"Ma-maaf. Aku terlalu senang tadi." Giga terlihat canggung dengan wajah yang memerah.
"Tidak apa, Tuan." Merlin menggaruk kepalanya yang tak gatal.
#
#
#
Malam harinya di rumah keluarga Avicenna,
Lian sedang duduk bersantai dengan Nathan di temani secangkir teh.
"Kudengar Giga berhasil memenangkan proyek kali ini." Lian membuka pembicaraan.
"Iya, Ma. Benar. Akhirnya dia bisa membuatku bangga."
Lian memukul Nathan dengan majalah yang di pegangnya. "Kau ini! Dia adalah putramu. Harusnya sejak dulu kau jangan meragukan kemampuannya."
"Mama! Sakit tahu! Kenapa memukulku? Aku ini sudah tua tidak pantas lagi dipukul!"
"Astaga! Harusnya aku selalu memukul kepalamu agar kau sadar jika putramu itu sangay berharga! Kau juga harus memberikan bonus kepada asisten Giga."
Nathan mengernyitkan dahinya.
"Maksud Mama Merlinda?"
"Iya. Aku tahu ada hal yang tak biasa dari gadis itu. Aku menyukai gadis itu."
"Hei, Ma. Giga sudah memiliki Carissa di hidupnya."
"Bukankah mereka sudah berpisah?"
"Hmm, entahlah. Kurasa Carissa masih mencintai Giga."
"Mama dengar Freya malah menjodohkan Carissa dengan Karel."
Nathan nampak terkejut. "Apa?! Yang benar saja! Bagaimana bisa seperti itu, Ma?"
"Entahlah. Kau tanyakan saja pada Mira."
Nathan terdiam dan nampak berpikir.
"Dengar! Jangan lakukan apapun dengan masa depan putramu! Biarkan dia sendiri yang memilih jalannya. Mengerti?!" Lian memberikan peringatan keras kepada Nathan.