
Seorang wanita cantik dengan pakaian seperti kurang bahan menghampiri Nathan dan duduk di sembarang kursi yang ada di ruang rapat. Nathan membulatkan mata melihat calon klien barunya yang berpenampilan terlalu terbuka menurutnya.
Aroma parfum yang sudah pasti mahal dan bermerk memasuki indera penciuman Nathan.
"Selamat siang, Tuan Nathan," sapa wanita cantik itu dengan suara dibuat semendayu mungkin.
Nathan hanya nyengir kuda dengan calon klien barunya ini. Ia mendelik kearah Harvey seakan bertanya, kenapa model begini kliennya?
Harvey hanya mengedikkan bahunya tanda ia juga tak tahu menahu jika akan kedatangan klien yang amat menggoda iman para pria itu.
"Ehem! Saya permisi sebentar!" Nathan berpamitan pada wanita itu dan memberi kode pada Harvey untuk mengikutinya.
Mereka masuk ke ruang kerja Nathan. Pria itu masih menatap dingin Harvey. Padahal asistennya itu sama sekali tidak tahu menahu soal ini.
"Bagaimana bisa perempuan seperti itu yang datang sebagai klien kita?" geram Nathan.
"Ma-mana saya tahu, Tuan! Dia adalah nona Rizka Hanggawan. Putri Grup HG dari Singapura."
Nathan memijat pelipisnya pelan. Ia harus berpikir jernih sekarang. Ia tak mungkin menemui klien yang berpakaian menurutnya tak pada tampatnya itu.
Nathan menuju ke ruang pribadinya. Ia mencari sesuatu yang bisa membuatnya bisa melewati ujian ini.
Nathan tersenyum senang kemudian keluar dari kamar pribadinya dan kembali menemui Harvey.
"Bagaimana, Tuan?" tanya Harvey yang takut diamuk lagi oleh Nathan.
"Tenang saja! Aku sudah temukan solusinya. Ayo kita kembali ke ruang rapat!"
Nathan berjalan cepat menuju ruang rapat yang tak jauh dari ruangannya. Ia berdeham agar si wanita itu menyadari kehadirannya.
"Maaf, sudah menunggu, Nona...?" ucap Nathan.
"Rizka, Rizka Hanggawan." Wanita cantik itu mengulurkan tangannya namun tak direspon oleh Nathan.
"Mohon maaf, Nona Rizka. Tolong ganti pakaian Anda dengan ini!" Nathan menyerahkan sebuah paper bag pada Rizka.
"Hmm? Apa maksud Anda, Tuan Nathan?" tanya Rizka tak paham.
"Jika Anda masih ingin melanjutkan rapat bersama saya, maka ganti dulu pakaian Anda menjadi yang lebih sopan. Lagipula, ini masih terlalu siang untuk pergi ke klub," sindir Nathan.
Rizka meradang, namun akhirnya ia tetap menerima paper bag dari tangan Nathan. Ia tak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan Nathan.
"Itu adalah setelan kerja milik istri saya. Saya rasa ukurannya tidak jauh berbeda dengan Anda," imbuh Nathan.
Rizka beranjak dari duduknya dan keluar dari ruang rapat lalu menuju ke toilet untuk berganti baju. Ketika berpapasan dengan para karyawan, beberapa dari mereka membicarakan Rizka yang memang berpakaian tidak pada tempatnya.
Di dalam toilet, Rizka menggerutu dan sangat kesal dengan sikap Nathan yang seakan merendahkannya. Padahal dirinya sendirilah yang membuat dirinya rendah di depan orang lain.
Rizka telah selesai mengganti baju minimnya dengan setelan kerja milik Sheila. Agak sedikit longgar karena Rizka memang bertubuh agak kecil dari Sheila.
"Awas saja kau, Nath! Aku pasti bisa menaklukanmu! Lihat saja nanti!"
Rizka keluar dari toilet dan kembali ke ruang rapat. Ia mencoba mengulas senyumnya yang paling manis untuk Nathan.
"Apa kita sudah bisa memulai rapatnya, Tuan Nathan?" tanya Rizka.
Nathan hanya melirik sekilas dan menganggukkan kepala. Mereka membahas soal pembangunan cabang Grup HG di Indonesia.
Sebenarnya Nathan masih tak habis pikir dengan perwakilan Grup HG ini, karena harusnya yang membangun proyek ini ditangani oleh Hang Cons saja karena mereka masih berkerabat dekat.
"Tidak, Tuan Nath. Aku lebih memilih Avicenna Grup karena aku tak mau disebut memanfaatkan keluarga. Dan Om Tony tidak keberatan aku memilih perusahaanmu," ucap Rizka dengan mengusap lengan Nathan.
Nathan tersenyum canggung. Ia segera menepis tangan Rizka yang seolah memberikan kode-kode tertentu kepadanya.
"Astaga, wanita ini benar-benar ya! Apa dia tidak tahu jika aku sudah menikah?" batin Nathan mulai kesal.
Setelah tiga jam membahas soal proyek baru yang akan Nathan tangani, Rizka pamit undur diri. Nathan mengingatkan untuk tidak melakukan kesalahan yang sama seperti hari ini. Rizka hanya mengangguk paham.
#
#
#
Pukul tujuh malam Nathan pulang ke apartemennya. Ia melihat Sheila sedang menyiapkan makan malam diatas meja makan.
Sheila menyapa Nathan. "Hai, Tuan Su. Kamu sudah pulang? Mandilah dulu setelah itu kita makan malam bersama."
Sheila memukuli dada Nathan yang selalu melakukan serangan mendadak.
"Ada apa denganmu?" tanya Sheila yang kini di tarik ke sofa ruang TV.
Nathan melepas jasnya dan membuangnya asal. Satu persatu kancing kemejanya juga ia lepas dan dibuang entah kemana.
"Astaga! Dia kenapa sih?" batin Sheila bertanya-tanya.
Nathan merebahkan tubuh Sheila di sofa. Beruntung Sheila memakai dress rumahan yang sangat mudah dilepas oleh Nathan dengan menariknya keatas.
"Tu-tuan Su? Kita akan melakukan itu disini?" tanya Sheila namun masih tak mendapat jawaban dari Nathan.
Nathan kembali membungkam bibir Sheila agar tak banyak bicara. Ia lepas sisa kain yang melekat di tubuh istrinya.
Sheila memejamkan mata merasakan betapa meletupnya gairah sang suami malam ini. Ia tidak ingat jika dirinya harus mandi dua kali jika begini. Sheila hanya menikmati apa yang suaminya berikan padanya.
Napas yang memburu dan terengah menandakan jika pertempuran telah usai. Sheila menatap Nathan yang terlihat frustasi.
"Ada apa denganmu?" tanya Sheila lembut.
"Bukankah ada yang mengatakan jika seorang suami melihat wanita yang menggoda imannya, lebih baik ia segera pulang dan menemui istrinya? Aku sudah lebih baik. Terima kasih, sayang..."
Nathan membawa Sheila dalam dekapannya. Mereka masih berada diatas sofa dan masih sama-sama polos.
"Jadi, di jalan kamu melihat wanita cantik dan seksi? Begitu?" tanya Sheila.
"Kita mandi bersama, lalu setelahnya kita makan malam!" Nathan tidak menjawab dan malah mengangkat tubuh Sheila menuju kamar mandi.
#
#
#
Dua jam kemudian,
Nathan dan Sheila telah selesai menyantap makan malam mereka. Kini mereka sedang duduk bersantai diatas tempat tidur.
Sheila yang berselancar di dunia maya dan Nathan yang sibuk dengan laptopnya. Mata Sheila membola melihat headline berita hari ini.
"Jadi, ini yang kamu maksud dengan wanita cantik dan seksi itu?" Sheila menunjukkan layar ponselnya pada Nathan.
"Dia adalah Rizka Hanggawan. Selama ini dia tinggal di Singapura. Dia sepupunya kak Radit, sahabatnya kak Rangga," cerita Sheila.
"Aku coba lihat media sosialnya!" Sheila masih asyik menjelajahi dunia maya.
"Wah, dia sangat cantik. Jadi, dia akan jadi klien baru kamu, Tuan Su?" tanya Sheila.
Nathan menghentikan aktifitasnya. Ia menatap Sheila.
"Iya. Kamu tidak keberatan?"
Sheila mengernyit. "Kenapa harus keberatan? Bukankah ini soal pekerjaan?"
"Dia itu bikin gerah dan meresahkan!" kesal Nathan.
"Ish, Tuan Su!" Sheila mendelik.
"Sayang, tentu saja aku masih mengerti batas! Makanya aku segera pulang dan memilih bercinta denganmu," bisik Nathan yang mendapat cubitan di pinggang pria itu.
"Aw! Sakit sayang!" keluh Nathan dengan suara manja.
Sheila membingkai wajah Nathan. "Nathan Avicenna adalah milikku! Dan hanya milikku!" Sheila mengecup singkat bibir suaminya.
"Iya, sayang..." Nathan membalas dengan sebuah kecupan di kening.
Sheila kembali bermain ponsel dan Nathan kembali fokus pada laptopnya.
"Aku akan bicara dengan kak Cecil. Aku tidak akan biarkan kerikil kecil masuk dalam hubunganku dan Nathan!" batin Sheila dengan melirik Nathan sekilas.
#bersambung...
Jangan lupa berikan Like, Komen, Gifts dan Vote juga rating bintang 5 yak 😘😘😘
...Terima kasih ...