My Culun CEO

My Culun CEO
Saling Berhadapan



Sheila membuka lemari es dan melihat ada bahan apa saja disana yang bisa ia masak. Seperti biasa ada beberapa sayuran disana. Karena Nathan sangat menyukai sayuran.


Sheila mulai eksekusi bahan-bahan makanan yang ada. Sambil memasak pikirannya melayang dan kembali ingat dengan apa yang dikatakan oleh Cecilia.


Kakak ipar Sheila sudah banyak makan asam garam terlebih tentang hubungan pria dan wanita. Pernikahan pertamanya kandas karena orang ketiga. Meski begitu, Cecilia adalah wanita yang tegar. Itulah daya tariknya hingga seorang Rangga bisa jatuh cinta padanya.


Tak butuh waktu lama untuk memasak makanan sederhana untuk makan malam mereka berdua. Sheila terdiam sambil menatap ponselnya. Ada banyak panggilan tak terjawab dari Danny. Ada beberapa pesan juga yang Danny kirimkan untuknya.


Kembali Sheila ingat nasihat Cecilia ketika tadi mengantarnya ke apartemen Nathan.


"Selidiki semuanya dengan benar, Shei. Jangan sampai hanya karena kesalahpahaman, hubunganmu dan Nathan di pertaruhkan. Ketika seorang wanita memutuskan untuk mencintai, maka dia juga harus siap untuk tersakiti. Tapi, kita harus kuat dan tegar. Kuatkan hatimu, Shei. Tegarlah! Kakak yakin kamu bisa menemukan jawaban dari semua yang terjadi."


Sheila melangkah menuju kamar Nathan. Dilihatnya pria itu masih terlelap. Pastinya bebannya sangat berat. Dia harus memikirkan perusahaan dan juga hubungan mereka. Ditambah kehadiran Celia yang membuat semuanya makin rumit.


Sheila mengambil ponsel Nathan yanh tergeletak. Ia menempelkan sidik jari Nathan disana untuk membuka kunci ponselnya.


Sheila membuka riwayat panggilan telepon Nathan. Ada beberapa panggilan dari nomor tak dikenal pagi ini. Lalu Sheila membuka pesan masuk di ponsel Nathan.


Ada beberapa pesan dari Harvey. Lalu pesan dari nomor tak dikenal. Sheila membaca pesan itu yang dikirim malam tadi.


+6285XXXX: "Niel, ini aku Celia. Maaf jika aku mengganggu waktumu. Kemarin ada orang yang datang ke rumahku, namanya Danny. Aku tidak tahu apa maksudnya mendatangiku. Tapi dia bilang dia tidak ingin aku menyakiti wanita yang dicintainya. Siapa dia, Niel? Apa dia musuhmu? Sepertinya dia punya niat yang jahat terhadapmu."


Sheila membulatkan mata. Ia terdiam memandangi Nathan.


"Jadi, ini alasannya kenapa kamu memukul kak Danny? Lalu kak Danny? Ternyata dia sudah tahu soal Celia. Dia bahkan tahu dimana rumah Celia. Apa hanya aku saja orang bodoh disini?" batin Sheila dengan perasaan marah dan kecewa.


Sheila membuka ponsel miliknya dan membalas pesan dari Danny.


Sheila: "Aku baik-baik saja, Kak. Kakak tidak perlu khawatir. Besok aku akan berangkat kerja."


Sheila menghela napas. Benar apa yang dikatakan Cecilia. Ia tak boleh lemah sekarang. Ia harus kuat agar bisa lulus dalam ujian cinta kali ini.


Getar ponsel Nathan membuat Sheila terkejut. Sebuah panggilan dari Harvey. Sheila memutuskan untuk sedikit menjauh dan menjawabnya.


"Halo, Harv."


"Eh? Sheila?"


"Iya, ini aku. Nathan sedang tidur. Ada apa?"


"Em, begini Shei. Duh, bagaimana mengatakannya ya?"


"Katakan saja!" ucap Sheila tegas. Rasanya ia tak ingin menjadi orang bodoh disini.


"Shei, ada seorang gadis yang mencari tuan Nathan. Namanya..."


"Celia!" jawab Sheila cepat.


"Ha? Kau tahu?"


"Apa maunya?"


"Dia bilang dia mengkhawatirkan tuan Nathan. Dia memintaku untuk memberitahu dimana alamat tuan Nathan."


"Kalau begitu beritahu saja!" tegas Sheila.


"Eh? Kau yakin?"


"Huum. Jangan bilang jika aku ada disini."


"Baiklah, Shei."


Panggilan berakhir. Sheila tersenyum puas.


"Baiklah, Celia. Kita selesaikan sekarang juga! Aku tidak akan membiarkanmu merusak hubunganku dengan Nathan!" batin Sheila dengan geram.


#


#


#


Setelah memberitahu Celia dimana tempat tinggal Nathan, Harvey jadi paranoid. Ia takut jika akan ada pertengkaran terjadi antara Sheila dan Celia. Akhirnya ia menemui Naina dan memintanya untuk ikut ke apartemen Nathan.


"Hah?! Kau sudah tidak waras?! Ke apartemen tuan Nathan? Tidak tidak!" tolak Naina.


"Tapi, Na. Aku takut terjadi sesuatu. Aku bisa merasakan hawa dingin dari suara Sheila."


"Dengar ya! Aku mengenal Sheila selama bertahun-tahun. Dia bukan orang yang suka dengan kekerasan. Dia gadis yang pintar dan terpandang. Tidak mungkin Sheila menyerang Celia seperti yang kau takutkan!"


Harvey merasa kalah. Tidak mungkin dia bisa membantah Naina. Lagipula tidak mungkin ada keributan jika Nathan juga ada disana.


Sebuah perlakuan Naina yang jarang dia lakukan sejak mereka dekat. Harvey mengulas senyumnya karena sepertinya Naina akan mulai menerima dirinya.


Di sisi lain, Celia tiba di apartemen Nathan. Sesuai dengan alamat yang diberikan Harvey, Celia menuju lantai 20 dimana Nathan tinggal.


Kakinya terhenti di depan kamar 2002. Dengan sedikit ragu Celia menekan bel pintu kamar itu.


Dari dalam kamar, Sheila tersenyum seringai mengetahui jika Celia telah tiba disana. Ia mengatur napas agar bisa bicara dengan tenang saat menyambut Celia.


Pintu kamar terbuka. Wajah Celia sangat gembira karena akan bertemu dengan Nathan.


"Cari siapa ya?"


Suara Sheila membuat Celia terbelalak kaget. Sejenak Celia mematung karena sangat gugup.


"Sheila?" lirih Celia.


"Anda cari siapa?" ulang Sheila. Ia berpura-pura tidak mengetahui apapun soal Celia.


Gadis berponi itu bingung harus menjawab apa pertanyaan yang Sheila ajukan.


"Apa kamu ingin bertemu dengan tunanganku?" tanya Sheila mempertegas kepemilikan Nathan. (Set dah 😁😁)


Celia menautkan kedua tangannya. Ia sangat gugup seperti maling yang ketahuan ingin mencuri.


"Nathan sedang tidur. Seharian ini dia kacau karena ulah seseorang."


"Eh?" Celia tercengang.


Sheila menatap Celia. Kini mata mereka saling pandang.


"Dengar, aku tidak tahu seperti apa hubunganmu dengan Nathan di masa lalu. Aku tahu dia memang mencarimu untuk suatu alasan. Entah itu cinta atau hanya persahabatan. Tapi, kini Nathan memilihku. Jadi, jika kamu masih menganggap dia sebagai sahabatmu, maka ... biarkan dia memilih jalannya sekarang. Dan jangan membuatnya bingung dengan perasaan yang telah berlalu."


Mata Celia berkaca-kaca. Ia merasa kalah untuk melawan Sheila.


"Tapi ... dia sendiri yang datang padaku. Dia membantuku untuk keluar dari masalahku. Dia..."


"Apa kamu pernah bertanya seperti apa perasaan Nathan padamu? Apa dia memang masih mencintaimu, atau sudah melupakanmu?"


"Itu...."


"Apa kamu hanya menyimpulkannya sendiri?" tanya Sheila dengan masih menatap Celia yang kini tertunduk.


"Aku tahu cinta pertama memang sulit untuk dilupakan. Dan jika aku harus bersaing dengan masa lalu Nathan, aku akan tetap kalah..."


Celia mendongak dan menatap Sheila.


"Tapi aku ... tidak akan menyerah! Aku percaya jika aku bisa mengalahkan masa lalu itu. Aku percaya padanya!" tegas Sheila.


Setelahnya Celia pamit undur diri. Sheila menutup pintu dan bersandar disana. Ia mengatur napasnya. Air matanya lolos dan langsung dihapusnya. Ia harus kuat sekarang. Hatinya harus setegar batu karang.


"Terima kasih, Shei..."


Suara berat Nathan membuat Sheila menegapkan posisi berdirinya.


"Nate, kau sudah bangun? Kau dengar semua yang tadi..." ucap Sheila terbata.


Nathan mengangguk. "Iya, aku dengar semuanya."


"Apa kau marah?" tanya Sheila.


"Tidak! Aku senang karena kau percaya padaku."


"Ah, sudahlah! Aku sangat lapar. Ayo kita makan dulu."


Sheila menarik tangan Nathan dan membawanya ke meja makan. Ia meminta Nathan duduk.


Sheila menata piring dan sendok diatas meja. Ia mengambil nasi dan lauk lalu diberikan pada Nathan.


Pria itu berdiri dan memeluk Sheila. "Terima kasih, sayangku. Tetaplah disampingku!"


Sheila tersenyum lega. "Iya. Jika aku menjauh, tolong kamu mendekat, Nate."


Nathan mengurai pelukannya.


"Mari kita menikah, Shei..." ucap Nathan dengan merangkum wajah Sheila.


"Heh?!"


#bersambung...