
Usai acara pernikahan yang cukup menguras tenaga, Nathan dan Sheila kembali ke aktifitas mereka. Sheila kini harus ikut tinggal bersama Nathan di apartemen milik suaminya itu.
Hari ini barang-barang Sheila dipindahkan ke tempat tinggal baru mereka. Sebenarnya Roy mengusulkan agar Nathan membeli rumah biasa saja, bukan tinggal di apartemen. Namun nyatanya Sheila tak keberatan tinggal dimanapun bersama suaminya.
Sheila sedang menata barang-barangnya di kamar ganti milik Nathan yang cukup luas itu. Sementara sang suami sedang sibuk memasak di dapur untuk makan malam mereka berdua.
Nathan tak keberatan jika harus memasak untuk keluarga kecil mereka yang baru saja diresmikan. Pria itu cukup mahir dalam mengolah makanan hingga membuat Sheila terpana.
Sheila yang telah selesai menata barang kini menatap lekat suaminya yang berkutat di dapur. Wajah Sheila merona melihat betapa sempurnanya suaminya itu. Dia tampan, pandai berbisnis, dan bisa memasak. Ah, benar-benar suami idaman.
"Ehem! Sudah selesai menatapnya?" interupsi Nathan yang membuat Sheila menunduk malu.
"Apa kamu akan berdiri disana terus? Ayo sini! Kamu sajikan makanan ini di atas meja," ucap Nathan.
Sheila mengangguk kemudian menghampiri suaminya. "Kamu masak apa, Tuan Su?"
"Tuan Su?" Nathan bingung.
"Tuan Suami maksudnya," ringis Sheila memperlihatkan giginya.
"Kamu ini, ada-ada saja!" Nathan mengacak pelan rambut Sheila lalu mengecupnya.
"Ayo makan!" ajak Nathan dengan menggenggam tangan Sheila. Sungguh sebuah hal sepele yang membuat hati sang istri menghangat.
"Terima kasih. Harusnya aku yang masak, tapi malah kamu..." Sheila merasa tidak enak hati.
"Tidak apa. Kita bisa memasak bersama jika kamu mau."
Sheila mengulas senyumnya. Sungguh beruntung dia mendapatkan suami seperti Nathan.
#
#
#
Usai makan malam, Sheila dan Nathan saling berpelukan di tempat tidur di iringi obrolan ringan yang mengisi hari mereka malam ini. Nathan bercerita tentang keluarganya. Kisah yang dulu pernah ia ceritakan pada Sheila saat dirinya menjadi Tarjo adalah benar.
Sheila mengeratkan pelukannya ketika mendengar kisah masa kecil Nathan yang harus berjauhan dengan kedua orang tua kandungnya. Ia tak pernah mengira jika kehidupan seorang Nathan Avicenna penuh dengan perjuangan.
Nathan membelai rambut Sheila dan memainkannya dengan penuh kasih. Sesekali ia mengecup puncak kepala istrinya yang merasa sedih dengan kisah hidupnya.
"Itu semua sudah berlalu. Sekarang aku sudah bahagia. Dan kebahagiaanku makin bertambah setelah mengenalmu. Lalu kini menikah denganmu," ujar Nathan jujur.
"Maaf ya jika aku banyak menyakitimu..." lirih Sheila.
"Tidak. Justru aku yang banyak menyakitimu."
"Ehm, Tuan Su..." ucap Sheila sambil memainkan jarinya di dada Nathan. Ia ingin bicara sesuatu namun agak ragu.
"Hem? Ada apa, sayangku?"
"Aku ingin meminta izin darimu. Apa aku masih boleh bekerja?" tanya Sheila ragu.
"Bekerja ya? Bagaimana ya?" Nathan berpura-pura berpikir. Ia sudah tahu jika Sheila akan bicara soal ini.
"Jika kamu tidak mengizinkannya juga tidak apa. Aku bisa menjadi istri rumah tangga yang baik," ucap Sheila pasrah.
"Dengan Danny ya? Kurasa tidak apa."
Sheila terbelalak. Ia langsung duduk dan menatap Nathan. "Kamu serius? Aku boleh bekerja?"
Nathan mengangguk. "Kurasa Danny bisa menjagamu!"
"Eh? Maksudnya? Kamu menyuruh kak Danny untuk menjagaku? Menjaga istri orang, begitu?" Sheila masih tak paham dengan maksud pembicaraan Nathan.
"Iya, begitulah. Kemarilah! Kenapa kamu malah terkejut begitu sih?" Nathan menarik tubuh Sheila dan kembali memeluknya.
"Besok tolong kamu pergi ke panti asuhan bersama Danny. Kamu bawa barang-barang dan makanan untuk anak-anak panti," ujar Nathan.
"Kamu tidak ikut?"
Nathan menggeleng. "Aku sudah cuti beberapa hari dan banyak pekerjaan tertunda. Makanya aku minta tolong padamu."
Sheila sedikit ragu untuk mengiyakan. Tentu saja ia tahu apa penyebabnya.
"Bukankah disana ada Celia? Kamu memintaku untuk menemui Celia?" tanya Sheila.
"Heh?! Kita akan jadi mak comblang lagi?"
Nathan tertawa. "Tentu saja tidak secara langsung, sayang! Danny adalah pria yang baik. Kurasa dia bisa melindungi dan menjaga Celia."
Sheila mengangguk paham. Meski ia merasa sedikit cemburu karena suaminya masih peduli pada Celia, tapi ia masih percaya pada Nathan. Ya, mereka sudah menikah. Dan kepercayaan adalah hal utama di dalam sebuah pernikahan.
"Tidurlah! Malam ini aku tidak akan melakukan apapun. Aku akan menunggu hingga kita punya waktu untuk berbulan madu." Nathan mengecup puncak kepala Sheila berulang kali.
Sheila merasa sangat beruntung karena dicintai sebesar ini oleh seorang Nathan Avicenna. Sheila memejamkan mata dengan memeluk Nathan hingga menuju ke alam mimpi.
#
#
#
Keesokan harinya, Sheila kembali berkutat dengan pekerjaan di kantor AJ Foods bersama Danny. Ia masih butuh banyak bimbingan dari seniornya itu.
Mereka banyak berdiskusi tentang produk apa lagi yang akan diminati masyarakat. Sheila juga melakukan riset terlebih dahulu bersama beberapa orang tim yang ia bentuk.
Pukul tiga sore Sheila kembali ke kantor dan beristirahat sejenak. Rencananya sore nanti ia akan berkunjung ke panti asuhan bersama Danny.
Sebenarnya Danny sedikit aneh dengan permintaan Sheila, namun ia tak kuasa menolak. Kenapa Sheila tidak pergi dengan suaminya saja? Begitu pikir Danny.
"Nathan sedang sibuk, Kak. Jadi, aku minta kakak temani aku."
"Suamimu tidak marah?" tanya Danny memastikan.
Sheila menggeleng. "Dia bilang jika kakak bisa menjagaku."
Danny terkekeh kecil. "Ya sudah, sebaiknya kita bersiap. Kamu sudah bawa semua barang yang akan disumbangkan?"
Sheila mengangguk. Ia tersenyum karena Danny bersedia mengantarnya. Semoga saja rencananya dan Nathan bisa berhasil.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Danny dan Sheila tiba di panti asuhan Kasih Bunda. Tempat dimana Nathan kecil pernah tinggal disini bersama Celia.
Danny cukup terkejut melihat sosok yang dikenalinya. Danny menatap sosok Celia yang kini mengulas senyum padanya. Danny baru tahu jika Celia kini tinggal di panti asuhan ini.
"Hai, Celia!" sapa Sheila.
"Hai, Shei. Kamu bawa apa saja untuk anak-anak panti? Terima kasih banyak ya!"
Sheila menggeleng. "Tidak banyak kok. Ini adalah amanat dari suamiku. Dia ingin datang kesini tapi dia sedang sangat sibuk. Jadi ya begitulah." Sheila berusaha mencairkan suasana yang tercipta.
"Oh ya, aku temui anak-anak dulu ya!" pamit Sheila lalu masuk ke dalam bangunan panti.
Celia menyapa Danny dengan sebuah tatapan dan senyuman. Danny menghampiri Celia sambil mengedarkan pandangan.
"Aku tidak tahu jika kamu tinggal disini," ucap Danny untuk mengusir kecanggungan.
Celia kembali mengulas senyumnya. "Iya. Inilah rumahku. Inilah tempat yang akan selalu menerimaku dengan segala kekurangan yang aku miliki."
Danny mengangguk paham. Sungguh ia mulai simpati dan kagum pada gadis ini.
"Jadi, bagaimana bisa kamu datang bersama Sheila? Memangnya Niel tidak marah kamu pergi dengan istrinya?" tanya Celia. Ia tahu jika Nathan memang sangat pencemburu.
"Entahlah. Sheila bilang Nathan percaya jika aku akan menjaga istrinya." Danny mengedikkan bahunya.
Celia tertawa lepas. Entah apa yang membuatnya merasa jika yang dikatakan Danny adalah hal yang lucu.
Danny ikut tertawa karena melihat Celia tertawa.
"Itu artinya kamu diminta untuk menjaga istri orang!" Celia kembali melanjutkan gelak tawanya.
Danny mulai merasakan ada getaran aneh ketika melihat Celia tertawa.
#bersambung
*Jangan lupa dukungannya ya kesayangan 😘😘
Berikan Like, Komen, Vote dan Gift. Mumpung hari senin, yuk yg mau sedekah VoTe utk Nathan dan Sheila
...Terima kasih...