My Culun CEO

My Culun CEO
#157 - Aku Tak Bisa Melakukannya



Freya mengepalkan tangannya melihat ketiga gadis yang dulu sering membullynya. Sungguh sebuah takdir yang miris karena harus bertemu lagi dengan mereka meski dengan keadaan yang sudah berbeda.


"Apa?! Kau mau apa, hah?!" tantang seorang gadis bernama Trias dengan menyenggol lengan Freya.


"Berani sekali kau berteriak pada Trias, hah?! Apa kau sudah bosan hidup?" sahut gadis bernama Rere.


"Ckckck, si culun akan tetap menjadi culun meski penampilannya sudah berubah. Menyedihkan!" timpal gadis satunya lagi bernama Ratu.


Freya menatap mereka satu persatu dengan berani. Sungguh ia sudah jengah dengan sikap mereka yang tak pernah berubah.


"Berhentilah memainkan hal seperti ini!" ucap Freya memberanikan diri.


"Kalian pikir kalian hebat hanya karena sudah mengejekku? Apa keuntungannya untuk kalian? Kepuasan? Kalianlah yang menyedihkan!" pekik Freya hingga membuat para pengunjung butik melihat kearah mereka.


Kartika, sang pemilik butik akhirnya turun tangan untuk menangani keributan yang terjadi. Kartika mengenal sosok Freya. Tentu saja suaminya adalah rekan bisnis dari keluarga Moremans.


Kartika mewanti-wanti ketiga gadis itu untuk tidak datang lagi ke butik miliknya. Kartika meminta seorang penjaga keamanan untuk mengusir mereka bertiga.


Kartika menepuk bahu Freya. "Kau tidak apa-apa?" tanya Kartika.


"Eh?" Freya masih tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi.


"Freya? Kau baik-baik saja?" ulang Kartika bertanya pada Freya.


Freya menatap Kartika. "Bibi Kartika..." Freya menangis lalu memeluk Kartika.


Sementara Aisha hanya bisa melongo karena gemetaran dengan apa yang baru saja terjadi pada nonanya.


#


#


#


Freya kembali ke rumahnya yang terasa sunyi. Tak ada sambutan dari sang mama yang biasanya hangat menyambutnya.


Freya menghela napas kasar. Ia langsung menuju ke kamar lalu merebahkan tubuh lelahnya. Hari ini cukup melelahkan untuk tubuh dan hatinya.


Entah kenapa pagi tadi Freya tidak datang untuk menemui Damian. Apakah ada yang salah dengan Freya?


"Maafkan aku, Damian... Entah kenapa aku mulai takut jika harus bersama denganmu. Aku mencintaimu. Tapi aku masih takut..." gumam Freya kemudian memejamkan mata. Freya terlelap tanpa mengganti baju kerjanya.


Keesokan harinya di rumah keluarga Ford,


Hari ini Damian akan kembali bekerja seperti biasa. Sudah cukup ia beristirahat. Kini ia harus menata kembali hidupnya.


Damian yang sudah rapi dengan setelan kerjanya, melihat Jonathan yang pergi dengan terburu-buru. Damian yang penasaran akhirnya mengejar Jonathan.


"Ayah! Ada apa? Kenapa terburu-buru?" tanya Damian.


"Damian, Ayah baru saja mendapat kabar dari panti jompo jika sakit kakekmu kambuh. Ayah akan segera menemuinya."


"Apa? Kalau begitu aku juga ikut, Yah."


Rencana Damian untuk pergi ke kantor akhirnya ia batalkan. Ia menghubungi Josh agar bisa menghandle pekerjaannya.


Damian dan Jonathan mengendarai mobil yang berbeda. Selama perjalanan, Damian merasa bersalah pada Joseph. Sungguh ia menyesal karena sudah lama tidak menjenguk kakeknya itu dan hanya memikirkan urusan hatinya saja.


Ponsel Damian bergetar. Sebuah panggilan dari Freya. Damian yang sedang fokus menyetir, tidak menjawab panggilan dari Freya. Bukan karena sengaja. Tapi lebih kepada ia tidak merasakan getaran yang berasal dari ponselnya.


Di sisi lain, Freya merasa kecewa karena Damian tidak menjawab panggilannya.


"Ini masih pagi. Apa dia sudah sibuk bekerja?" gumam Freya yang juga akan berangkat ke kantor.


"Akan kuhubungi nanti saja lagi. Aku ada rapat pagi ini." Freya mengambil tas dan segera pergi.


#


#


#


Malam ini, Freya mengundang Edo dan Rizka untuk makan malam di rumah. Sudah lama Freya tidak memasak.


Kali ini ia sangat menikmati menyiapkan hidangan untuk acara makan malam nanti. Pukul tujuh malam, Edo dan Rizka datang dan disambut oleh Freya.


"Terima kasih sudah bersedia datang," ucap Freya.


"Sudah lama Abang merindukan masakan kamu, Dek!" Edo mengacak rambut Freya pelan.


"Kalau begitu ayo kita langsung makan saja!"


Acara makan malam pun berlangsung dengan khidmat. Edo sangat menyukai masakan buatan Freya, begitu juga dengan Rizka.


"Dek, sebenarnya ada apa kamu mengundang kami kemari? Abang yakin pasti ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan. Iya kan?" terka Edo.


Freya mengangguk. "Iya, Bang. Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian."


"Ada apa? Sepertinya ini hal yang serius," sahut Rizka.


"Emh, begini. Aku ... ingin keluar dari More Trans," ucap Freya sambil menatap kedua orang di depannya.


"Keluar dari perusahaan? Jangan bercanda, Dek!" Edo terkejut dengan pernyataan Freya yang tiba-tiba.


"Iya, Bang. Aku tidak mau dianggap sebagai aji mumpung karena tiba-tiba aku jadi keluarga Moremans dalam waktu singkat."


"Maksud kamu apa, Dek? Kamu memang anggota keluarga Moremans. Itu hanya omongan segelintir orang yang iri dengan keberhasilanmu." Edo tak terima jika ada yang merendahkan Freya.


Edo dan Rizka saling pandang.


"Baiklah. Lalu apa maumu?" tanya Edo mencoba mencari solusi.


"Aku ingin memulai usahaku sendiri, Bang. Aku ingin merintisnya dari awal. Apa abang menyetujuinya?" Freya berkata dengan harap-harap cemas.


Edo melirik Rizka sejenak. "Abang tidak akan melarang. Tapi apa yang ingin kamu lakukan? Apa kamu yakin bisa melakukannya?"


Freya mengangguk mantap. "Aku yakin aku pasti bisa, Bang."


Edo dan Rizka tidak bisa membantah keinginan Freya.


"Lalu, bagaimana dengan hubunganmu dan Damian?" tanya Edo lagi.


"Masalah itu ... aku dan dia yang akan menyelesaikannya."


#


#


#


Tiga hari kemudian,


Freya memutuskan untuk membeli sebuah apartemen untuk dirinya tinggal. Dengan dibantu Naina dan Harvey, Freya memindahkan barang-barang yang dirasanya perlu saja. Ia tidak membawa banyak barang.


"Kenapa kamu memutuskan pindah, Frey?" tanya Naina.


"Gak ada apa-apa kok, Kak. Aku hanya ingin memulai semuanya dari nol saja," jawab Freya dengan memperlihatkan deretan giginya.


"Terima kasih atas bantuan kakak dan kak Harvey," lanjutnya.


"Iya, sama-sama. Kalau begitu, aku dan Harvey pamit dulu ya! Jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungiku."


"Iya, Kak. Sekali lagi terima kasih."


Sepeninggal Naina dan Harvey, Freya merebahkan tubuhnya di sofa. Ia menghembuskan napas lega karena kini ia akan memulai kehidupannya yang baru.


Bunyi getaran ponselnya membuat Freya kembali duduk dan mengambil benda pipih itu. Dilihatnya nama Damian tertera di layar ponselnya.


Freya mengambil napas sebelum menjawab.


"Halo..." Terdengar suara Damian dari seberang telepon.


Suara yang begitu dirindukan Freya.


"Halo... A-ada apa?" tanya Freya.


"Bisa kita bertemu?"


"Emh, bisa. Mau ketemu dimana?"


"Aku sudah ada di depan rumahmu."


Panggilan berakhir. Freya bahkan lupa untuk mengabari Damian jika dirinya kini sudah pindah ke apartemen.


Dengan secepat kilat Freya menuju ke rumahnya dengan mobil. Ia tak ingin Damian menunggu lebih lama lagi.


Freya keluar dari mobil dan melihat Damian masih berdiri di depan rumahnya.


"Damian! Kenapa tidak masuk?" ucap Freya dengan terengah.


"Tidak. Aku tahu kamu sudah pindah ke apartemen."


"Eh? Maaf aku belum memberitahumu."


"Tidak apa. Aku mengerti." Damian menatap Freya. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


"Aku juga," sahut Freya.


"Baiklah, kau duluan saja!"


Freya mengajak Damian masuk kedalam rumah namun Damian menolaknya. Akhirnya mereka menuju ke sebuah cafe yang tak jauh dari rumah Freya.


"Katakan!" perintah Damian.


"Aku ... aku sudah keluar dari perusahaan. Dan aku juga sudah keluar dari rumah. Aku ingin memulai kehidupanku sendiri."


"Lalu?"


"Aku tahu aku mencintaimu, Damian. Tapi ... aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan atau tidak. Aku sangat percaya diri di awal, tapi..."


Damian hanya diam dan mendengarkan Freya.


"Aku ingin mewujudkan mimpiku sendiri terlebih dulu. Maaf jika aku belum bisa mewujudkan mimpimu..."


Damian menghela napas. "Aku juga sedang berhati-hati denganmu."


"Eh? Sejak kapan?"


"Sejak kau menolak untuk menikah denganku. Meski kau bilang ingin menemaniku, tapi ... aku tahu semuanya pasti sulit untukmu. Aku mengerti. Aku terlalu memaksakan kehendakku padamu."


Kini giliran Freya yang terdiam.


"Aku juga akan menjalani kehidupanku sendiri. Aku akan pindah ke Paris besok. Kakek sedang sakit dan Ayah memintaku untuk ikut dengannya. Apa kau keberatan?" tanya Damian dengan menatap Freya lamat.