My Culun CEO

My Culun CEO
Dua Hati yang Berseberangan



Tok tok tok


Sheila terkejut karena ada yang mengetuk kaca mobilnya. Ia membuka kaca dan melihat seseorang yang tak asing baginya.


"Kak Danny?"


Sheila memutuskan keluar dari mobil. Ia menatap Danny bingung yang kini juga sedang menatap dirinya.


"Kamu tidak apa-apa, Shei?" tanya Danny memeriksa kondisi Sheila.


"A-aku tidak apa-apa kok, Kak. Kenapa memangnya?"


Danny bernapas lega. "Syukurlah! Aku lihat mobilmu berkendara dengan cepat. Lalu aku mengikutimu. Dan tiba-tiba saja mobilmu berhenti di pinggir jalan. Aku pikir terjadi sesuatu denganmu."


Sheila tersenyum canggung. "Aku baik-baik saja, Kak. Kakak dari mana?"


"Aku diminta kak Rangga untuk menemui klien. Kamu sendiri dari mana?"


"Aku dari kafe kak Cecil. Ini mau pulang ke rumah."


"Ya sudah, hati-hati menyetirnya ya!" Seperti biasa Danny mengacak rambut Sheila gemas.


Danny memperhatikan hingga mobil Sheila kembali melaju. Barulah dirinya juga melajukan mobilnya.


Di tempat berbeda, Nathan kembali ke kantor usai bertemu klien di luar bersama Marina. Desas desus hubungan Nathan dan Marina kian gencar.


Tak ingin salah dalam berspekulasi, Harvey akhirnya bertanya pada bosnya itu.


"Tuan, apa benar Tuan dan nona Marina..."


"Ck, kau ini! Apa kau juga ikut bergosip dengan mereka, huh?! Tidak ada apapun diantara aku dan Marina! Mengerti?!" tegas Nathan.


"Ma-maaf, Tuan. Aku kan hanya memastikan saja. Apa Tuan tidak ingin menghalau gosip ini? Jika semakin gencar, maka..."


"Sudahlah! Aku bisa mengurus semua itu. Kau tenang saja! Sekarang kembalilah bekerja!"


Harvey memberi hormat kemudian keluar dari ruangan Nathan. Diliriknya sekilas meja yang dulu di tempati Sheila. Ia menghela napas. Rasanya bosnya itu kembali ke perangainya yang sebelumnya. Kembali dingin dan tak tersentuh.


"Entah kenapa aku lebih suka saat kau ada disini, Shei..." batin Harvey.


...💟💟💟...


Malam itu usai dari kafe Cecilia dan bertemu dengan Danny, ternyata Sheila tidak langsung pulang ke rumah. Entah kenapa ia membelokkan mobilnya ke arah rumah kontrakannya. Dia menatap sendu rumah yang telah menjadi saksi banyak cinta yang terajut olehnya dan Nathan.


Rasanya baru kemarin dirinya pindah kesini dan merasakan begitu dicinta oleh seorang pria untuk pertama kalinya. Ia duduk di teras rumah kontrakannya dan memandangi langit malam.


Semakin lama ia semakin terlarut dalam perasaannya. Bohong jika dirinya mengatakan tidak merasakan apapun terhadap Nathan. Bohong jika dirinya tidak merindukan pria itu.


Bahkan di malam yang sunyi ini, ia memohon kepada bintang jatuh.


"Bintang jatuh, bintang jatuh. Tolong sampaikan salamku untuknya. Egoku terlalu besar jika aku bilang tidak menginginkannya. Maaf karena aku masih belum bisa mengakuinya. Tolong katakan padanya jika aku juga mencintainya..."


Sheila memohon sambil menutup matanya. Buliran bening itu mengalir dari sudut matanya yang terpejam.


Sheila kembali membuka mata dan terbelalak kaget karena seseorang yang dirindunya ada di depan mata.


"Nathan...?"


Pria itu tersenyum ke arah Sheila. Namun seketika senyum itu pudar seiring dengan menghilangnya bayangan pria yang dirindunya.


Sheila tersenyum getir. "Mikir apa sih kamu, Shei? Sampai-sampai kamu membayangkan jika dia ada disini."


Sheila segera bangkit dari duduknya. Ia memilih untuk pulang saja. Sudah cukup ia mengenang masa-masanya bersama Tarjo alias Nathan.


Tak berselang lama setelah kepergian Sheila, sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Tarjo. Orang itu turun dari mobil dan menatap dua rumah yang kini gelap dan sunyi.


Kenangan tidak akan bisa dihapus. Kerinduan makin menyeruak kala memori berkasih saat itu tiba-tiba datang. Apa yang semesta inginkan dari mereka?


Sosok yang adalah Nathan menatap nanar dua rumah yang membuat dirinya jatuh kedalam lubang cinta yang begitu dalam. Puas memandangi rumah itu, Nathan memutuskan pulang ke apartemennya.


...💟💟💟...


Keesokan harinya, Sheila keluar kamar dan berniat sarapan pagi bersama kedua orang tuanya. Ia menyapa ramah kedua orang yang telah membuatnya terlahir ke dunia.


"Pagi, Ma. Pagi, Pa..." Sheila mengecup kedua pipi orang tuanya bergantian.


Adi Jaya cukup terkejut dengan perubahan sikap Sheila. Sepertinya putri manjanya telah kembali.


"Hmm, harum banget, Ma. Mama masak apa?" tanya Sheila.


"Hanya nasi goreng saja, Shei. Kamu mau langsung makan?" tanya Sandra.


"Iya, aku kelaparan, Ma!" rengek Sheila dengan suara manjanya.


Sandra tersenyum melihat tingkah putrinya yang mulai kembali ceria.


Di sela aktifitas makannya, Sheila menimang nimang untuk bicara dengan ayah dan ibunya.


"Umm, Pa. Kalau aku kerja di kantor kak Rangga gimana?" tanya Sheila dengan hati-hati.


Adi Jaya menatap Sandra.


"Jadi kamu ingin kembali bekerja?" tanya Adi Jaya.


"Papa setuju saja. Bukankah sejak awal Papa memang ingin kamu memegang AJ Foods? Karena kakakmu Rangga sudah fokus di AJ Grup."


Sheila manggut-manggut.


"Mama juga setuju saja, Nak. Asalkan itu positif, mama akan dukung kamu."


Sheila tersenyum. "Terima kasih, Ma, Pa. Kalau gitu Sheila mau siap-siap dulu."


"Iya, sayang..."


Sandra dan Adi Jaya menatap putrinya.


"Mungkin dengan begini dia akan sedikit melupakan masalahnya dengan Nathan," lirih Sandra.


"Iya, Ma. Dia harus punya kegiatan yang positif agar bisa menata masa depannya."


"Jangan memaksanya lagi, Pa. Toh jika memang Sheila dan Nathan berjodoh, pasti gak akan kemana, Pa."


...💟💟💟...


Sheila menemui Danny di kafe Chocolatte Lover untuk membicarakan soal pekerjaan Sheila. Awalnya Danny meminta Sheila untuk datang ke gedung AJ Foods saja, namun Sheila menolaknya.


Ia tak ingin dianggap sebagai karyawan istimewa. Ia ingin menjadi karyawan biasa dulu sebelum benar-benar memimpin AJ Foods nantinya.


"Baiklah, Shei. Ini ada beberapa berkas mengenai AJ Foods. Aku sudah bicara dengan kak Rangga. Dia bilang kamu akan menempati posisi manajer operasional sama seperti Bu Cecil dulu."


Sheila manggut-manggut mendengar penjelasan Danny.


"Jika kamu masih bingung, kamu.bisa bertanya pada bu Cecil. Karena sampai sekarang beliau masih membantu di bagian operasional perusahaan."


"Hmm, oke Kak. Aku paham. Kakak tenang saja, aku orangnya cepat belajar kok." Sheila meringis memperlihatkan deretan gigi depannya.


"Iya, aku percaya." Danny sangat suka mengacak pelan rambut panjang Sheila. Dilihatnya gadis ini sudah mulai membaik dari kondisi sebelumnya pasca berpisah dengan Nathan.


Saat sedang asyik mengobrol, dua orang pelanggan masuk ke dalam kafe dan mengedarkan pandangan. Si pelanggan pria nampak melihat ke arah meja milik Sheila dan Danny.


Dilihatnya gadis itu sedang tersenyum lebar sambil menyantap makanan yang tersaji.


"Nate, kamu yakin kita akan ketemu klien disini?" tanya Marina dengan mengedarkan pandangan.


Ya, kedua pelanggan yang baru memasuki kafe adalah Nathan dan Marina. Mata Nathan terus tertuju pada gadis yang beberapa hari ini mengusik tidurnya.


Terlihat Danny dan Sheila sudah selesai menyantap hidangan dan akan beranjak dari duduknya.


"Shei, aku ke kasir dulu ya!" pamit Danny.


"Aku tunggu di mobil, Kak." Sheila melangkah menuju pintu keluar.


Tak disangka langkah Sheila terhenti karena melihat sosok yang amat dirindunya.


"Nathan?" lirih Sheila.


Sejenak mata mereka bertemu. Meski tak ada satupun kata yang terucap dari bibir keduanya.


"Hai, Sheila. Kamu disini juga? Kamu apa kabar?" tanya Marina berbasa-basi dengan melingkarkan tangannya ke lengan Nathan.


"Aku baik," jawab Sheila singkat. Tatapan matanya tertuju pada gestur tubuh yang diisyaratkan Marina seolah memberitahu Sheila jika Nathan adalah miliknya.


"Shei, ada apa?" Danny tiba-tiba muncul dibelakang Sheila.


Tatapan Nathan kini tertuju pada Danny. Sejak awal dia tidak pernah menyukai Danny.


"Gak ada apa-apa, Kak. Ayo kita pulang!" ucap Sheila dengan menundukkan wajahnya.


"Permisi, kami duluan!" ucap Danny kepada Nathan. Tangannya terulur dan menggenggam tangan Sheila. Danny membawa Sheila keluar dari kafe dengan tangan yang saling bertautan.


Nathan menggeram kesal. Ia menepis tangan Marina dan bersiap untuk mengejar Sheila.


"Nate! Kamu mau kemana?" Marina menghentikan langkah Nathan.


"Klien kita sebentar lagi datang," lanjutnya.


Rahang Nathan mengeras. Ia sungguh cemburu melihat Sheila bersama Danny. Apalagi melihat perlakuan hangat Danny yang menggenggam tangan Sheila.


Nathan mengalah. Ia masuk ke dalam kafe dan memilih duduk di meja yang sudah dipesannya.


Kini dua hati yang berseberangan sedang merasakan kegundahan. Akankah mereka berlabuh di peraduan yang sama kembali?


#bersambung...


...Danny - Sheila



...


...Nathan - Harvey...