My Culun CEO

My Culun CEO
#1 2 5 - Damian & Vania



"Apa benar Vania adalah adik kandungmu?"


Vicky menatap Edo tajam setelah mendengar pertanyaan pria itu. Vicky menghela napas.


"Apa urusannya denganmu? Lagipula aku tidak mengenalmu!" jawab Vicky.


Edo mengepalkan tangannya. Ia berharap jika semua ini tidaklah nyata.


"Dua belas tahun lalu, aku kehilangan adikku dalam sebuah kecelakaan. Polisi bilang adikku meninggal dunia. Kami berusaha menerima semua kenyataan pahit itu. Hingga akhirnya Vania muncul di depan ibuku. Dia menyebut nama Freya ketika melihat Vania. Seorang ibu memiliki firasat yang kuat tentang anaknya. Jika Vania memang benar adikmu, maka..."


"Kenapa tidak lakukan saja tes DNA?"


Edo mulai tersulut emosi bicara dengan Vicky.


"Apa kau tahu kesulitan apa saja yang dialami Vania karena ulahmu?"


Vicky sedikit terkejut.


"A-ada apa dengan Vania?" tanya Vicky panik.


Edo tersenyum seringai. "Kau sudah membuat Vania kehilangan semuanya. Pekerjaan, kepercayaan, dan dia dikucilkan karena kakaknya seorang kriminal."


"Hah?!"


"Tapi kau tenang saja. Aku akan selalu bersama Vania. Kau tidak perlu khawatir. Tebuslah kesalahanmu lalu berubahlah jadi manusia yang lebih baik."


Vicky diam dan nampak berpikir.


"Masalah Vania ... kau harus mencari jawabannya sendiri. Apakah Vania adalah adikmu atau bukan!"


"Maaf waktu kunjungan sudah habis!" ucap seorang petugas


Vicky kembali berbalik dan pergi bersama petugas rumah tahanan.


"Tunggu! Kenapa tidak kau katakan saja Vania adikmu atau bukan?" seru Edo namun Vicky sudah jauh melangkah. Pria itu malah melambaikan tangan pada Edo.


"Sial!" umpat Edo. Kini ia harus mencari cara agar mendapat jawaban yang pasti tanpa harus bertanya pada Vicky.


Sementara itu di rumah, Vania kembali merawat Liliana dengan telaten. Setelah meminum obatnya, Liliana kembali terlelap.


Vania sedikit bisa bernapas lega. Vania menemui Imah. Ingin sekali ia mendapat jawaban atas apa yang sedang terjadi saat ini.


"Bi..."


"Eh, Non Vania. Ada apa? Apa nyonya butuh sesuatu?"


Vania menggeleng. "Tidak, Bi. Nyonya Liliana sudah tidur setelah meminum obatnya."


Vania memegangi kedua tangan Imah. "Bi, tolong katakan padaku yang sebenarnya. Siapa Freya?"


Imah menepis tangan Vania. "Bibi tidak berhak menceritakannya, Non."


"Tapi aku benar-benar bingung, Bi. Tolonglah!" pinta Vania dengan mata berkaca-kaca.


Imah merasa kasihan dengan Vania. Gadis ini sudah begitu baik dengan merawat Liliana yang kembali diserang traumanya. Imah harus memutuskan sesuatu.


"Berjanjilah Non akan merahasiakan masalah ini."


Vania mengangguk patuh.


"Nona Freya adalah putri nyonya Liliana. Dia adalah adik tuan Edo."


"Hah?!" Vania kaget.


"Nona Freya dinyatakan meninggal dalam kecelakaan 12 tahun lalu saat tuan besar dan nyonya berlibur ke Indonesia. Saat itu tuan Edo tidak mengetahui insiden ini karena dia masih ada di luar negeri."


Vania tertegun sejenak. "Bi, apa wajah Freya mirip denganku?" tanya Vania asal.


"Bibi tidak ingat, Non."


"Apa ada foto Freya?" Vania makin penasaran.


"Tidak ada, Non. Tuan besar meminta seluruh pelayan untuk membuang foto non Freya karena itu bisa membuat nyonya kembali mengalami trauma."


Vania kembali diam. Jika dirinya adalah Freya, maka ... harusnya ada ingatan Freya yang muncul dalam pikirannya.


"Non, tapi tuan Edo masih punya foto nona Freya."


"Eh? Serius, Bi? Dimana Bi?"


"Ada di ruang kerja tuan Edo, Non. Biasanya tuan Edo disana saat malam hari."


Vania mengangguk. Ia melirik jam dinding.


"Masih pukul sepuluh pagi," batin Vania.


"Bi, hari ini belanja apa saja, Bi?" tanya Vania.


"Banyak, Non. Memangnya kenapa?"


"Aku akan membuat sesuatu untuk bang Edo lalu membawanya ke kantor."


#


#


#


Satu jam kemudian, Vania telah membungkus semua makanan yang ia masak kedalam kotak makan.


"Bi, jika nyonya Liliana bangun, bilang saja aku ke kantor bang Edo antar makanan."


"Beres, Non. Terima kasih lho! Bibi juga dapat masakan Non Vania. Bibi tidak sangka ternyata Non pintar masak."


Vania tersenyum. "Sudah ya, Bi. Aku pergi dulu."


"Iya, Non. Bibi sudah bilang Pak Joni untuk mengantar Non ke kantor."


Vania berjalan keluar rumah lalu masuk ke dalam mobil. Vania menatap kotak makan yang akan ia berikan untuk Edo. Sebelumnya Vania sudah memastikan jika Edo sedang berada di kantor.


Tiba-tiba Vania ingat sesuatu. Ia meminta pak Joni untuk berhenti di minimarket karena ingin membeli sesuatu.


Vania turun dari mobil dan membeli minuman kaleng kesukaan Edo. Vania keluar dari minimartket dan kembali masuk ke mobil.


Sepasang mata yang mengenali Vania begitu terkejut karena Vania masuk ke dalam mobil mewah.


"Itu kan ... Vania? Akhirnya kutemukan juga."


Pria yang tak lain adalah Damian segera melajukan mobilnya mengikuti mobil yang ditumpangi Vania.


Tiga puluh menit berkendara, akhirnya mobil yang membawa Vania tiba di depan halaman utama sebuah gedung yang bertuliskan More Trans.


Damian yang mengikuti Vania pun cukup terkejut.


"Ini kan kantor Edo? Apa Vania kini bekerja disini?" gumam Damian kemudian keluar dari mobil.


Damian berlari kecil agar tidak kehilangan jejak Vania.


"Vania!" panggil Damian.


Vania yang baru saja turun dari mobil seketika menoleh kearah Damian.


Gadis itu diam mematung menatap Damian. Begitu juga dengan Damian.


Hati Vania terasa sakit ketika mengingat apa yang sudah dilakukan Damian terhadapnya. Namun satu hatinya memanggil nama Damian untuk mendekat.


"Vania..."


Vania langsung pergi dari sana ketika Damian berjalan menghampirinya.


"Vania, tunggu!" Damian berhasil mencekal lengan Vania.


Vania segera menepis tangan Damian.


"Vania, aku ... aku minta maaf atas apa yang terjadi..."


"Hentikan, Tuan! Anda tidak perlu meminta maaf padaku. Dan sekarang urusan kita sudah selesai!"


Vania kembali melangkah namun Damian menghadangnya.


"Tunggu!"


"Apa yang Tuan inginkan?" tanya Vania geram.


"Aku menyukaimu, Vania. Tidak! Aku mencintaimu. Aku sangat menyesal sudah menyakitimu dan aku ingin memperbaiki semuanya. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Vania. Aku..."


"Vania!"


Sebuah suara lain menginterupsi kalimat Damian.


"Bang Edo?" gumam Vania.


Edo segera membawa tubuh Vania ke belakang tubuhnya. "Mau apa lagi kau, huh? Apa masih belum cukup kau sudah membuat Vania menderita?"


Edo menatap bengis kearah Damian.


"Edo, aku mohon izinkan aku bicara dengan Vania! Aku..."


"Apa? Kau menyesal? Sudah terlambat, Damian. Sebaiknya sekarang kau pergi. Kau memang pria terburuk yang pernah kukenal."


"Bang..." Vania tidak mau terjadi keributan lagi dengan mereka.


"Tidak apa, Vania. Aku tidak akan membiarkan pria ini mengganggu hidupmu lagi!" ucap Edo dengan menunjuk Damian.


"Edo, apa hakmu melakukan ini padaku?"


"Aku tidak akan membiarkan Vania menderita karena ulahmu! Dan satu hal lagi, jangan harap kau bisa menemui Vania lagi setelah ini!"


Edo segera memanggil security dan meminta mereka untuk mengusir Damian dari sana.


Edo segera membawa Vania masuk dan menuju ke ruangan kerja miliknya.