My Culun CEO

My Culun CEO
#167 - Bahagiaku adalah Kamu



.....Tiga tahun sebelumnya.....


Nathan dan Sheila kembali ke apartemen mereka usai menemui Naina dan Harvey. Tiba di dalam kamar, Sheila merebahkan tubuhnya di ranjang empuk tempat mereka berbagi kisah.


Sheila menatap Nathan yang terus terlihat dingin dan tak acuh. Sheila menghela napas kasar.


"Tuan Su, kemari!" Sheila menepuk tempat tidur di sampingnya.


Nathan masih sibuk melepas dasi dan jasnya. Tahu dengan kecemberutan sang suami, Sheila langsung beranjak dan menghampiri pria itu.


"Apa kau masih marah? Aku sudah minta maaf..." ucap Sheila dengan membantu Nathan membuka jas dan dasinya.


"Tega sekali kau terus pergi, hah?" kesal Nathan menatap Sheila.


Sheila mendesah kasar. "Kondisi papa tidak dalam keadaan baik. Lalu mama juga ikut sakit karena menemani papa. Aku harus menjaga mereka karena kak Cecil tidak mungkin pergi kesana. Kumohon mengertilah!" Sheila memeluk Nathan untuk memberinya rasa tenang.


"Baik, aku akan memaafkanmu tapi dengan satu syarat."


Sheila melepas pelukannya. "Apa syaratnya? Jangan aneh-aneh, Tuan Su."


"Kita bulan madu lagi."


"Eh?"


"Ya sudah kalau tidak mau." Nathan melepas tangan Sheila dan langsung masuk ke kamar mandi.


"Hah! Ya ampun! Susah sekali bicara dengannya," gumam Sheila lalu duduk di tepi ranjang. Ia meraih ponselnya dan menghubungi Liam. Akan lebih baik jika di berkonsultasi dengan Liam terlebih dahulu sebelum mengambil sikap.


#


#


#


Nathan keluar dari kamar mandi dengan kondisi segar bugar dengan rambut yang sengaja ia biarkan basah. Sheila melongo melihat suaminya yang begitu tampan dan menggoda.


Mereka sudah lama tidak bertemu karena Sheila harus ikut ke Amerika selama pengobatan Adi Jaya. Sheila merasa sedih karena harus meninggalkan Nathan. Makanya sekarang ia ingin mencari solusi atas masalah rumah tangga mereka yang saling berjauhan. Sulit rasanya jika harus menjalani hubungan jarak jauh.


"Kau tidak mandi, Shei?" tanya Nathan yang sengaja membuat Sheila gerah.


"Eh? I-ini a-aku mau mandi." Sheila segera beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.


Nathan menghadang Sheila. "Sebaiknya kau bisa memberikan jawaban setelah keluar dari kamar mandi," bisik Nathan di telinga Sheila yang membuat bulu kuduk Sheila meremang.


"I-ya, Tu-tuan Su." Sheila mendorong dada liat Nathan pelan. Ia tak mau suaminya terus menggoda karena ia pastinya akan tergoda.


#


#


#


Dua puluh menit berlalu, Sheila keluar dari kamar mandi dan mendapati Nathan berdiri di depan kamar mandi.


"Tuan Su! Kau mengejutkanku! Kenapa berdiri di depan kamar mandi?" tanya Sheila dengan memegangi dadanya yang berdebar. Sheila keluar dengan sudah memakai setelan piyamanya.


Nathan memindai penampilan Sheila dari ujung kaki ke ujung kepala.


"Kenapa sudah memakai piyama?" tanyanya.


"Memangnya kenapa? Aku tidak sepertimu yang keluar kamar mandi dengan hanya memakai handuk!" Sheila tak mau kalah.


"Nyonya Sheila! Aku adalah suamimu! Aku berhak melihat semuanya. Lagipula aku memang sudah melihat semuanya dan merasakan semuanya!"


Sheila melotot dan refleks menutupi bagian dadanya dengan tangan. Entah kenapa suasana yang tadinya membuat Sheila ingin berdamai kini malah memanas karena sama-sama tidak mau mengalah dalam berargumen.


Dua jam kemudian...


Sheila menggeliat pelan karena Nathan terus menghimpit tubuhnya. Perdebatan kecil yang terkadang mereka lakukan akhirnya membawa mereka dalam sebuah perdebatan diatas ranjang. Aah, memang begitulah cinta. Meski saling sindir dan tak mau mengalah, tetap saja kedua insan harus mengalah di akhir setelah mendapat kepuasan masing-masing, hehehe.


"Tuan Su! Kau sudah tidur?" tanya Sheila menepuk pipi Nathan pelan.


"Hmm, tidurlah! Aku lelah! Besok saja kita bicara lagi."


"Ck, kau ini! Tadi bilangnya aku harus memberi jawaban. Tapi malah kau mengajakku berdebat dan sekarang malah..." Wajah Sheila memerah mengingat bagaimana tadi mereka memulai pergulatan panas mereka.


"Akh! Sial! Aku malu sekali!" Sheila membelakangi Nathan dan tidur dalam selimut.


Nathan yang mendengar gumaman Sheila langsung memeluk istrinya dari belakang.


"Tidak perlu malu. Aku suka kau agresif seperti tadi. Aku tahu kau juga merindukanku kan? Tidak usah gengsi, Shei. Aku bahkan lebih merindukanmu." Nathan kembali memejamkan mata usai bicara. Sheila malah makin merona dengan kata-kata Nathan barusan.


#


#


#


Boy menatap adiknya dengan mata yang menyipit. Setelah mendapat kabar dari Harvey jika pekerjaan adiknya ini berantakan beberapa bulan terakhir, kini adiknya itu malah datang kepadanya dan menghiba di depannya.


"Seharusnya kau perbaiki dulu pekerjaanmu baru setelah itu kau meminta cuti, Nathan! Perusahaan ini bukan hanya milikmu, tapi milik seluruh karyawan." Boy akhirnya memberi ceramah panjang lebar kepada adiknya.


"Maaf, Kak. Aku ... benar-benar tidak bisa fokus bekerja karena terus memikirkan Sheila yang jauh dariku," bela Nathan.


"Dasar bucin!"


"Kakak juga bucin! Tidak perlu mengataiku kalau kakak sendiri juga bucin!"


"Apa katamu?!" Boy ikut tersulut emosi meski masih bisa di redamnya. Ia tahu bagaimana sifat adiknya ini. Selalu tidak ingin kalah dalam berdebat.


"Baiklah!" Boy mengalah. "Sekarang apa yang kau inginkan?" tanya Boy yang tak ingin membuat mood Nathan memburuk. Itu bisa berbahaya untuk kesehatannya.


"Aku akan pergi berbulan madu bersama Sheila. Kakak tahu kan kami tidak punya waktu berdua sejak papa Adi sakit dan harus di bawa ke Amerika. Ini semua juga karena rekomendasi dari paman Maliq dan kak Dion yang meminta mama Sandra membawa papa kesana," cerita Nathan panjang lebar.


"Iya, baiklah. Kakak akan bertanggung jawab. Untuk sementara kakak akan memegang kuasa atas Avicenna Grup dibantu Harvey. Kau juga harus terus memantau perkembangan perusahaan dari jauh. Avicenna Grup adalah warisan dari kakek buyut Donald. Kita harus bisa mampu mengembangkannya dengan baik." Boy juga tak mau kalah dengan bicara panjang lebar.


"Iya, Kak. Aku tahu. Terima kasih karena kakak mau mengerti. Rumah tanggaku sedang diujung tanduk, aku harus segera melakukan sesuatu."


Boy mengarahkan kepalan tangannya kearah Nathan. "Diujung tanduk kepalamu! Kalian saling mencintai kenapa harus takut? Sekarang pergilah! Setelah berbulan madu, kalian harus membawa kabar baik. Mengerti?"


"Siap, Kak!"


#


#


#


Tiga bulan kemudian...


Nathan merasa cemas karena Sheila masih mengurung diri di kamar mandi. Tadi ia bilang jika hanya ingin mandi. Namun sudah setengah jam berlalu, Sheila belum keluar juga dari kamar mandi.


"Shei! Sayang! Sheila! Kau baik-baik saja kan? Tolong buka pintunya, sayang!" Nathan mengetuk pintu dan terus memanggil nama Sheila.


Sementara di dalam kamar mandi, Sheila memandangi benda pipih yang baru saja dipakainya. Dengan menghela napas berat, Sheila membuka pintu kamar mandi dan melihat Nathan ada disana.


"Sayang, kau baik-baik saja?" Nathan merangkum wajah Sheila.


Sheila mengangguk pelan. Nathan membawa Sheila duduk di tepi ranjang.


Sheila menunjukkan benda pipih yang sedari tadi di pegangnya.


"Maaf, hasilnya masih tetap sama." Sheila mulai terisak.


Nathan menatap nanar benda pipih yang menunjukkan satu garis disana. Ia berusaha menenangkan istrinya.


"Sayang, itu tidak masalah. Kita masih bisa mencobanya." Nathan merangkum wajah Sheila.


Sheila menggeleng. "Sudah sebulan sejak kita berbulan madu. Lalu bulan berikutnya juga masih sama. Aku merasa bersalah padamu. Aku merasa tidak bisa membuatmu bahagia."


"Ssstt! Jangan bicara begitu. Kebahagiaanku adalah kamu. Aku tidak peduli dengan semua ini. Tolong jangan bersedih. Bagaimana kalau kita bicarakan ini dengan kak Boy? Dia adalah dokter kandungan yang jenius. Aku yakin kita bisa mendapat solusi darinya."


Tangis Sheila terhenti. "Kau yakin?"


Nathan mengangguk. "Aku juga akan memeriksakan diriku. Kita akan menghadapi ini bersama." Nathan memeluk Sheila dengan erat.


"Terima kasih, Tuan Su. Terima kasih."