
Sheila terbangun dari tidurnya karena mendengar suara gaduh dari luar kamar rawat Nathan. Karena tadi Nathan mengajaknya untuk kembali rebahan, akhirnya Sheila ikut kembali terlelap dalam dekapan hangat suaminya itu.
Sheila melepaskan perlahan tangan Nathan yang memeluk dirinya dan turun dari brankar. Ia mengenali suara yang sedang berdebat di luar kamar. Itu adalah suara ibu mertuanya, Berlian.
Sheila membuka pintu dan melihat hal yang lagi-lagi membuatnya syok. Berlian nampak meronta dan terus meracau. Ibu mertuanya itu sepertinya memiliki masalah dengan kondisi mentalnya juga.
Sheila tertegun melihat Boy dan Roy, ayah mertuanya berusaha menenangkan Lian. Dokter Liam datang dan segera memberikan obat penenang pada Lian.
Sheila melirik Nathan yang ternyata sudah terbangun dan menatapnya dengan tatapan kosong dan datar. Sheila bingung harus berbuat apa.
Ternyata dibalik hebatnya keluarga Avicenna tersimpan banyaknya misteri didalamnya. (Untuk yang ingin tahu peliknya masalah keluarga Avicenna bisa baca di novel 'Jantung Hati Sang Dokter Tampan')
Sheila merasa semua ini tidak jauh berbeda dengan keluarganya yang juga banyak menyimpan masalah yang ditutupi dari publik. (Untuk yang ingin tahu masalah apa saja dalam keluarga Adi Jaya, bisa baca novel '99 Cinta Untukmu')
Kaki Sheila terasa lemas. Tangan gemetar. Dan tubuhnya juga ikut gemetar. Nathan tak berkutik dan hanya menatapnya saja.
Sheila mulai merasa takut. Takut karena ternyata keluarga Avicenna tak seperti yang ia kira. Bahkan kini kondisi mental ibu mertuanya pun ikut dipertanyakan.
"Sheila!" panggil Boy ketika Lian telah berhasil dibawa ke ruangan lain.
"Hah?!" Sheila mencoba mengatur napasnya. Rasanya sesak.
"Kau baik-baik saja?" tanya Boy.
Sheila kembali menatap Nathan yang masih diam dan tak bicara apapun. Bahkan pria itu seperti bukan sosok yang biasa Sheila kenal.
"Aku akan mengantarmu pulang. Ayo!"
Boy tak ingin Sheila makin syok dengan situasi ini. Sebelum pergi Boy menatap Nathan yang tampaknya tak keberatan jika dirinya membawa Sheila.
#
#
#
Beberapa hari kemudian,
Sheila berdiam diri di kamarnya di rumah keluarga Adi Jaya. Sejak hari itu, Boy mengirim Sheila kembali ke rumah orang tuanya untuk sementara waktu hingga situasi kondusif.
Boy menceritakan semua yang terjadi dengan Nathan. Boy meminta Adi Jaya dan Rangga mengambil alih pekerjaan Sheila karena ini demi kebaikan semuanya.
Sheila masih mengurung diri di kamarnya. Ia memikirkan banyak hal tentang pernikahannya dengan Nathan.
Sheila mulai merindukan sosok Nathan. Sosok yang sudah membuatnya jatuh hati dengan berjuta pesonanya.
Namun hatinya juga masih merasa takut ketika terakhir kali ia melihat Nathan dengan tatapan yang tak biasa. Sheila ingin jadi penyembuh bagi Nathan. Tapi ia tak tahu harus mulai dari mana.
Kini ada setitik nila yang membekas dalam hubungan mereka. Akankah hati akan tetap menyatu?
Sementara di sisi Nathan, pria itu kini tinggal di rumah keluarganya dan dibawah pengawasan Boy dan Roy. Mereka sengaja memisahkan Nathan dengan Sheila untuk sementara waktu agar mereka bisa berpikir dengan jernih mengenai kelanjutan hubungan mereka yang baru seumur jagung.
Nathan harus berjuang untuk sembuh dan kembali meminum obatnya agar bisa lepas dari jerat bayang-bayang traumanya. Meski rasanya sangat malas untuk kembali meminum obat, namun Nathan tak punya pilihan lain.
Kondisinya berangsur membaik. Ia memiliki tekad kuat untuk bisa mempertahankan Sheila di sisinya.
"Jika kau sudah siap untuk menemui Sheila, maka lakukanlah!" ucap Boy.
Nathan mengangguk. Hatinya juga sudah amat rindu dengan istrinya itu. Ia berjanji tidak akan membuat Sheila takut lagi.
Dan hari ini, dengan persiapan hati yang matang, Nathan datang ke rumah Sheila untuk menemuinya.
"Aku pikir mungkin saja kamu kangen dengan Tarjo," ucap Nathan dengan mengulas senyumnya.
Sheila tersenyum. Senyum haru hingga ia juga menitikkan air mata. Nathan datang dengan sosok Tarjo. Sheila menerima semuanya. Baik Nathan maupun Tarjo, Sheila menerimanya.
Sheila berlari menghampiri Nathan lalu memeluknya. Tangis Sheila pecah dalam dekapan Nathan sebagai Tarjo.
"Aku merindukanmu, Shei..."
Kata-kata itu sering diucapkan Nathan ketika menjadi Tarjo. Tangis Sheila makin keras mendengar semua kata-kata manis Tarjo.
#
#
#
Di bawah sinar rembulan, dua sejoli ini duduk di bangku balkon kamar Sheila. Mereka saling berpegangan tangan. Kepala Sheila disandarkan pada bahu Nathan.
"Maaf karena sudah membuatmu mengalami hal buruk," ucap Nathan.
"Tidak! Semua keluarga pasti memiliki rahasia, bukan?"
"Aku pastikan semuanya tidak akan terulang, Shei. Aku akan berjuang untuk bisa menghilangkan semua trauma itu."
Sheila duduk menghadap Nathan.
"Maafkan aku..." lirih Sheila.
"Aku tidak menyangka kamu memiliki trauma yang sangat mendalam soal ditinggalkan. Tapi, kamu tahu kan? Aku tidak akan meninggalkanmu. Percayalah!"
Nathan membalas tatapan Sheila.
"Aku percaya. Dan aku harusnya tahu soal itu." Nathan membawa tubuh Sheila mendekat lalu memeluknya erat.
"Keluargaku juga memiliki masa lalu yang kelam. Aku terlahir dari istri kedua. Hubungan mama dan kak Rangga tidaklah baik sebelum ini. Kak Rangga selalu membenci mama karena menganggap mama telah menghancurkan pernikahan papa dengan ibunya. Tapi aku beruntung karena kak Rangga tidak pernah membenciku dan bahkan sangat mencintaiku. Itu sebabnya aku tidak memiliki banyak teman. Karena aku takut mereka mengetahui tentang masa lalu keluargaku, dan juga siapa diriku." cerita Sheila.
"Mama harus mengalami kepahitan karena harus membesarkan anak seorang diri di usia masih sangat muda. Mama dan papa menghadapi masalah tak biasa karena papa membutuhkan seorang pewaris untuk bisnisnya. Mungkin apa yang terjadi padaku menurun dari trauma yang dialami mama. Sangat takut ditinggalkan dan kembali hidup sendiri." cerita Nathan.
Sheila menggenggam tangan Nathan erat. "Kita sama-sama memiliki nila di dalam hidup kita. Dalam keluarga kita. Kita harus saling menguatkan untuk bisa menatap masa depan."
Nathan mengangguk. Ia memberikan sebuah kecupan hangat untuk Sheila.
Lama kelamaan semuanya makin menuntut dan saling bergairah. Sheila pasrah jika malam ini Nathan menginginkan dirinya.
Pria itu membawa Sheila ke atas tempat tidurnya. Baru kali ini kamar Sheila menjadi saksi bisu bersatunya dua insan yang saling mencinta dan mendamba ini.
"Aku mencintaimu, Sheila..." ucap Nathan setelah penyatuan mereka berakhir. Napas mereka masih memburu setelah pergulatan beberapa saat itu.
"Aku juga mencintaimu, Nathan Avicenna..." balas Sheila yang masih berada dalam kungkungan tubuh Nathan.
Kegiatan panas malam ini di tutup dengan sebuah ciuman hangat dan penuh cinta yang Nathan persembahkan untuk sang istri.
"Seperti apapun masa lalumu, ingatlah jika aku adalah masa depanmu. Dan masa depan adalah kita sendiri yang menentukan."
#bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘😘