
Merlin berjalan gontai menuju ke kamar Giga. Pagi ini rasanya ia kurang bersemangat setelah mengetahui kenyataan sebenarnya tentang Giga.
Merlin menatap bingkai foto besar yang terpasang di ruang tamu. Ia baru menyadarinya. Itu adalah foto Giga saat kecil bersama dengan kedua orang tuanya. Merlin sangat mengenali sosok anak lelaki yang ada di sana. Dia memang Giga. Bocah lelaki culun yang pernah menjadi korban penculikan ayahnya.
Merlin memghela napas kasar. Dalam hati ia terus bergumam.
"Maafkan aku. Tolong maafkan aku..."
Merlin kembali melangkah hingga tiba di depan kamar Giga. Ia menghela napas sebelum mengetuk pintu kamar Giga.
Tangannya terangkat bermaksud akan mengetuk pintu. Namun ternyata pintu itu terbuka dan menampakkan sosok Giga disana.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin memukulku?" Giga mendelik sambil setengah sewot.
Merlin segera menurunkan tangannya. "Tidak, Tuan. Saya hanya..."
"Hah, sudahlah! Ayo berangkat! Bukankah kau takut jika ayahku memecatmu?" Giga berjalan melewati tubuh Merlin.
Merlin menatap sendu pria yang membelakanginya.
"Maafkan aku, Tuan. Aku janji aku akan menebus semua kesalahanku padamu." Merlin kembali membatin. Kemudian ia menyusul langkah Giga.
Selama perjalanan menuju ke kantor, tidak ada seorang pun yang bersuara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya...
"Apa jadwalku hari ini?" Giga akhirnya bersuara meski tangan dan matanya menatap layar ponselnya.
"Hei, Merlinda. Aku bicara denganmu!" Suara Giga mulai memekikkan telinga Merlin dan sang supir.
"Eh? Maaf, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Merlin menjawab dengan gugup.
"Hah! Kau ini! Sepertinya kau tidak menyukai pekerjaanmu. Kau terlalu banyak melamun!"
"Ti-tidak, Tuan. Sekali lagi saya minta maaf."
"Sudahlah. Lupakan saja! Cepat bacakan jadwalku hari ini."
Merlin segera membuka buku catatannya. Ia membacakan semua detil yang sudah di catatnya dengan rapi.
"Hmm, jadi aku harus menemui Kak Aurel saat jam makan siang nanti?" Giga mengusap dagunya.
"Benar, Tuan. Nona Aurel menelepon dan meminta saya mengatur jadwal untuk bertemu Tuan."
"Di rumah sakit?"
"Iya, Tuan."
Giga menarik napas dalam. "Apa kau tahu aku tidak suka keramaian?"
Merlin terdiam. Ia sama sekali masih tidak paham dengan sikap Giga yang selalu menutup diri.
"Apakah ini karena trauma masa lalunya?" batin Merlin.
Tiba di rumah sakit Avicenna, Giga dan Merlin berjalan menuju ke ruangan Aurel yang berada di lantai tiga. Rumah sakit Avicenna kini diambil alih oleh Aurel setelah Boy memutuskan pensiun sebagai dokter dan pimpinan rumah sakit.
Giga berjalan tegap menuju ke ruangan Aurel. Merlin dengan sigap berdiri di belakang Giga karena pria itu terus merasa waspada. Entah apa yang sebenarnya di rasakan oleh pria itu.
Giga mengetuk pintu ruangan Aurel yang adalah direktur utama rumah sakit Avicenna. Aurel yang sudah tahu kedatangan Giga segera menyambut adik sepupunya itu.
"Kau sudah datang. Ayo masuk!" Aurel mempersilakan Giga masuk bersama Merlin.
Aurel menunjuk sofa di ruangannya. "Kita bicara disini saja."
"Ada apa kakak memintaku datang kemari. Tumben sekali!" Giga nampak melihat sekeliling ruangan Aurel.
"Tentu saja karena ada yang ingin kubicarakan denganmu. Ini mengenai..." Aurel menjeda kalimatnya. Ia melirik Merlin lalu menatap Giga. Sepertinya tatapan mata Aurel sudah langsung terbaca oleh Giga.
"Merlinda, kau tunggulah diluar. Aku harus bicara dengan Kak Aurel."
Merlin mengangguk patuh kemudian berpamitan. Dengan sangat terpaksa ia harus menunggu diluar ruangan.
"Ada apa sih, Kak? Sepertinya misterius sekali." Giga tak sabar dengan apa yang akan dikatakan Aurel.
"Aku baru melihat asisten barumu. Apa dia bisa dipercaya?" Aurel bertanya dengan menatap pintu.
"Entahlah. Aku juga berpikir jika dia adalah mata-mata yang dibayar oleh Karel."
"Nah kan! Sudah kuduga! Karel dan ibunya tidak akan kembali kemari jika tidak memiliki rencana yang besar."
"Apa maksud kakak?"
Giga sedikit kesal dengan kalimat Aurel. "Dari mana kakak tahu?"
"Kau ini selalu kalah start dengan Karel. Makanya aku memintamu datang kemari. Aku punya ide bagus yang pastinya akan disetujui oleh para pemegang saham dan juga investor. Kau akan mengalahkan Karel dalam hal ini."
Giga mengernyit bingung.
"Kau ingat dengan Desa Selimut?"
Giga mengangguk tidak yakin. "Seingatku itu adalah desa terpencil yang bahkan tidak terdeteksi oleh aplikasi maps."
"Tepat sekali! Disanalah kau akan memulai proyekmu. Saat papaku masih muda, dia berhasil membangun rumah sakit di desa itu. Aku yakin ini adalah ide bagus untuk mengalahkan Karel dan ibunya. Ini! Aku sudah melakukan riset disana." Aurel menunjukkan beberapa lembar kertas di depan Giga.
"Bangunan sekolah?" gumam Giga.
"Iya. Kau akan membangun sarana pendidikan disana. Aku yakin ide ini sangat disukai oleh para investor. Disana masih begitu menyatu dengan alam bahkan hingga saat ini. Aku sangat yakin jika kau bisa melakukannya."
Giga terdiam. "Tapi, bukankah akan sulit untuk mendapatkan izinnya?"
"Tidak! Pendekatan terhadap warga desa adalah yang paling utama. Kita sudah berhasil membangun rumah sakit disana. Tidak menutup kemungkinan jika mereka bisa menerima ide darimu ini." Aurel menatap Giga dengan penuh keyakinan.
"Ah, Kakak! Aku tidak tahu! Lagipula ini bukan ide dariku. Ini ide dari kakak. Bagaimana bisa aku menggunakannya?"
Aurel memukul lengan Giga. "Anak nakal! Apa kau tidak ingin mengalahkan Karel? Meski hanya 1 kali saja!"
Giga kembali diam. Ia memikirkan setiap kata yang diucapkan Aurel barusan. Tak kunjung ada jawaban, tiba-tiba suara interkom di ruangan Aurel berbunyi. Sebuah panggilan untuk Aurel karena ada pasien yang harus segera di tangani.
"Aku pergi dulu ya, Ga. Ada keadaan darurat. Kau pikirkan saja lagi dulu semuanya. Tapi aku berharap kau bisa menerima saran dariku ini." Aurel berlalu dari ruangannya meninggalkan Giga yang masih bergeming dengan pikiran yang entah melayang kemana.
Dalam situasi yang membuatnya bingung, Giga terbiasa untuk berbicara dengan Sheila, ibunya. Giga langsung menghubungi Sheila dengan panggilan video.
Giga menceritakan semua ide yang dikatakan Aurel padanya tadi. Sheila setuju dengan ide Aurel. Sheila bahkan meminta Giga untuk mencari konsep yang bagus untuk pengembangan ide dari Aurel.
Sheila percaya jika Giga adalah anak yang cukup cerdas. Hanya saja banyak yang memicu Giga untuk jadi seorang pemalas.
Giga mengakhiri panggilan setelah merasa yakin dengan apa yang akan diambilnya. Giga merapikan penampilannya dan berjalan keluar dari ruangan Aurel.
Namun ketika Giga membuka pintu, ia tak mendapati Merlin ada di depan ruangan Aurel. Mata Giga memindai mencari keberadaan Merlin.
"Merlinda! Kau dimana?" seru Giga mulai berkeringat dingin.
"Merlinda!" Wajah Giga mulai panik. Tangannya gemetar merasakan keramaian yang terjadi di rumah sakit.
Meski di depan ruangan Aurel tidak ada siapapun, namun itu malah membuat Giga semakin panik.
"Merlinda! Kau dimana?" seru Giga yang tidak mendapat sahutan dari siapapun. Giga berjalan perlahan menuju lift.
Sementara itu, Merlin ternyata kembali ke tempat parkir dimana ada Heri, si supir disana. Kedatangan Merlin membuat Heri mengernyit.
"Nona, apa yang kau lakukan disini? Dimana Tuan Giga?" Heri bertanya dengan celingukan.
"Tuan Giga masih di ruangan Nona Aurel. Memangnya kenapa?" Merlin terlihat santai. Ia bahkan merasa jika Giga sudah keterlaluan karena menyuruhnya menunggu di depan ruangan.
"Nona, apa kau tahu, Tuan Giga memiliki gangguan psikis dengan yang namanya keramaian. Kita harus kesana menemuinya." Heri segera berlari.
"Hah! Ya ampun! Apa lagi ini?" Dengan malas Merlin berjalan mengikuti langkah Heri.
Seketika Merlin tertegun ketika mengingat jika Giga memiliki trauma akibat masa lalunya. Secepat kilat Merlin berlari dan menuju ke ruangan Aurel. Namun ia tak mendapati Giga disana.
"Kemana dia?" Merlin bergumam kemudian kembali berlari di lorong-lorong rumah sakit sambil menajamkan penglihatannya.
Merlin kembali ke lantai bawah dan menebak siapa tahu saja Giga sudah turun. Diantara kerumunan orang-orang yang berlalu lalang, Merlin melihat sosok Giga yang meringkuk ketakutan dengan memeluk kedua lututnya.
"Tuan Giga!" Merlin berjalan cepat menghampiri pria itu.
"Tuan! Kau tidak apa-apa?" Suara Merlin membuat Giga mendongak.
Seketika saja Giga refleks memeluk Merlin. Gadis itu terkejut dengan tindakan tiba-tiba dari Giga.
"Tuan..." lirih Merlin.
"Jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan aku!" Giga bergumam dengan tubuh yang sudah gemetar.
Merlin bisa merasakan seberapa berat trauma yang pernah dirasakan oleh Giga. Tangannya kemudian terulur dan mengusap punggung Giga dengan gerakan lembut. Berusaha menenangkan pria itu yang masih terus meracau.
#bersambung
*Buat kalian yg ingin ikut Giveaway di novel ini, silakan masuk ke GC/groupchat Emak Femes ya. Klik profil emak lalu tinggal klik masuk Grup. Disana akan dijelaskan dengan detil, bagaimana cara mengikuti Giveaway. Terima kasih.