
Hari ini Sheila tak fokus dalam bekerja setelah tadi berdebat kecil dengan Nathan mengenai pemberian hadiah dari Rizka. Rasanya tak rela jika harus bertengkar hanya karena masalah yang sepele. Namun permasalahan tentang Rizka tak bisa di anggap sepele juga.
Gadis itu rasanya terang-terangan ingin merebut Nathan dari dirinya dan itu tak bisa ia biarkan. Ketika asyik dengan lamunannya, ponsel Sheila berbunyi. Sebuah pesan masuk dari kakak iparnya, Cecilia.
Sheila membuka pesan dari Cecil. Pesan dari Cecil adalah sebuah foto yang diambil dari media online dengan judul headline 'Perjodohan Keluarga Ford dan Hanggawan'.
Sheila tak membaca semua berita itu karena tiba-tiba Danny datang dengan membawa berkas ditangannya.
"Shei, kau sedang sibuk?"
Sheila menggeleng. "Ada apa, Kak?"
"Apa kak Rangga sudah memberitahumu mengenai ini?"
Danny menyodorkan sebuah berkas dan Sheila membacanya.
"Ford Company?" tanya Sheila bingung.
"Iya, sepertinya kak Rangga tertarik untuk bekerja sama dengan mereka. Kau tahu kan kakakmu itu memiliki obsesi yang tinggi. Dia ingin kau bisa menangani proyek ini jika kita jadi bekerja sama."
Sheila mengangguk paham. "Tapi, Ford Company tidak pernah berkecimpung dalam dunia makanan."
"Justru itu! Kak Rangga berpikir optimis jika kita bisa mendapatkan kontrak kerja sama dengan mereka."
"Hmm, baiklah. Kita pikirkan soal itu nanti saja ya. Aku harus menyelesaikan laporan mingguan ini," ucap Sheila.
"Baiklah. Aku hanya ingin memberitahumu soal ini. Kalau begitu aku kembali ke ruanganku dulu!"
#
#
#
Kembali ke Ford Company,
Damian sangat bersemangat untuk menemui gadis yang sedang dipikirkannya. Ia berjalan dengan tegap dan senyum yang mengembang.
Begitu tiba di ruang tunggu, Damian menyambut hangat gadis yang sudah ada di dalam.
"Aku tidak menyangka ternyata akhirnya kau datang ju...ga!"
Mata Damian membola melihat siapa yang ada didepannya.
"Kau!" seru Damian.
Gadis yang tak lain adalah Rizka tersenyum seringai. "Jadi kau menungguku?"
"Jangan gila! Mana mungkin aku menunggumu!" elak Damian.
"Haah! Baiklah! Aku akan langsung ke intinya saja. Aku menolak perjodohan ini!"
"Kau pikir aku menerimanya?" geram Damian.
"Oh, baiklah. Itu artinya kita berada di kubu yang sama. Bagaimana kalau kita bekerjasama untuk membatalkan pertunangan ini?"
"Hmm? Caranya?"
"Kau bicara dengan ayahmu, dan aku bicara dengan ayahku!" usul Rizka.
"Yeah, tapi Jonathan bukan orang yang mudah diajak bicara!"
"Excuse me!" Rizka melotot.
"Maksudku ayahku!" Damian menggaruk tengkuknya. Baru kali ini Rizka melihat ada pria yang tidak sopan saat memanggil ayahnya sendiri.
"Kalau begitu kita kacaukan saja pesta pertunangan kita?" usul Rizka lagi.
"Dengan cara bagaimana?" tanya Damian.
Rizka mengedikkan bahunya. "Yang penting kini aku tahu jika kau tidak menerima perjodohan ini. Itu membuatku sedikit lega."
Rizka berpamitan usai mengatakan semua maksudnya. Damian menggeleng pelan dengan tingkah Rizka yang terlalu angkuh.
#
#
#
Berita perjodohan Damian dan Rizka akhulirnya sampai juga di telinga Joseph, sang kakek. Awalnya ia meminta Celia untuk mencari berita tentang cucunya. Namun Celia menolak karena ia tahu pasti akan terjadi kehebohan jika Joseph sampai tahu mengenai berita ini.
Tapi Joseph bukanlah pria jompo yang bodoh. Ia tahu jika pasti ada yang tidak beres yang sedang terjadi dengan keluarga Ford terutama cucunya.
Dengan berat hati Celia memberitahu yang sebenarnya kepada Joseph. Pria tua itu meminta Celia untuk mengantarnya ke hotel tempat acara pertunangan Damian dan Rizka berlangsung.
Semua persiapan memang terkesan mendadak. Tapi tidak ada yang tidak mungkin untuk keluarga seperti Ford dan Hanggawan.
Joseph datang ditemani Celia menuju ballroom hotel yang sudah penuh dengan banyak tamu undangan disana. Joseph berjalan tegap menuju meja utama yang terdapat kedua keluarga dan juga dua insan yang akan bertunangan malam ini.
"Dasar anak kurang ajar!" Joseph memukul kepala Jonathan dari arah belakang.
"Kakek?!" seru Damian.
"Berani sekali kau menjodohkan cucuku tanpa sepengetahuanku, hah?!" ucap Joseph berapi api.
Semua orang terkejut melihat kedatangan Joseph yang tiba-tiba. Jonathan bangkit dari duduknya. Rasa sakit di kepalanya tak sebanding dengan rasa malunya.
"Batalkan perjodohan ini!" seru Joseph.
Mata Rio membulat sempurna. Kedatangan Joseph membuat semua rencananya berantakan.
Damian dan Rizka hanya saling pandang.
"Daddy! Jangan bicara sembarangan! Semua pihak sudah setuju dengan perjodohan ini. Dan lihatlah semua tamu undangan itu? Mereka adalah kolega bisnis kita. Kita akan malu jika sampai perjodohan ini batal!" lirih Jonathan dengan nada penekanan di akhir kalimatnya.
"Kakek!" Damian menghampiri Joseph dan memintanya untuk tetap tenang.
"Katakan pada kakek apa kau setuju dengan perjodohan ini? Dan kau gadis cantik, apa kau setuju dengan perjodohan ini?" tanya Joseph pada Damian dan Rizka.
"Dad, kita bicarakan ini di ruang tertutup saja! Terlalu banyak orang jika kita membicarakan masalah keluarga secara publik begini!" pinta Jonathan.
"Baiklah! Kita harus bicara! Damian, dan kau nona cantik, kau harus ikut juga beserta ayahmu!" delik Joseph pada Rio.
#
#
#
"Aku tidak menyangka jika kakekmu bisa begitu keren," ucap Rizka ketika akhirnya perdebatan telah usai dengan akhir yang sama bahagia bagi kedua insan muda.
Damian tertawa. "Aku sendiri juga tidak tahu kenapa ikatan batinku dengan kakek begitu kuat, tapi tidak dengan ayahku."
"Selamat ya! Kau akhirnya terbebas dari perjodohan ini!" ucap Rizka sambil mengulurkan tangannya.
"Kau juga!" Damian menyambut uluran tangan Rizka.
"Semoga kita bisa menjadi teman," lanjut Damian.
"Hmm, kurasa bisa."
"Lalu apa rencanamu setelah ini? Kudengar kau membangun bisnis di kota ini."
Rizka mengangguk. "Iya, aku membangun cabang HG Grup disini. Tapi kontrak kerjasamanya sudah selesai. Dan aku akan kembali ke negaraku saja."
"Wah, aku tidak menyangka jika kau mudah menyerah. Bukankah kau menyukai seseorang?"
Rizka tertawa kecil. "Aku memang menyukai seseorang. Tapi dia sudah dimiliki oleh orang lain. Aku menyadari kesalahanku setelah bertemu dengan pria lugu dan culun. Dia membuatku sadar jika sebaiknya aku mengejar cinta yang sesungguhnya, bukan cinta yang semu."
Usai saling bercerita mereka pun memutuskan untuk saling berpisah dan berpamitan. Setelah ini mereka akan menjalani kehidupan mereka masing-masing.
#
#
#
Di tempat berbeda, Sheila baru saja keluar dari kamar mandi dan akan menuju tempat tidur yang sudah ada Nathan disana. Sheila melihat wajah Nathan berkerut saat menatap tablet pintarnya.
Sheila naik keatas ranjang dan memeluk suaminya.
"Tuan Su, ada apa?" tanya Sheila sambil menatap wajah serius Nathan.
"Coba lihat ini!" Nathan memperlihatkan tablet pintarnya pada Sheila.
"Jadi, pertunangan mereka batal?" ucap Sheila.
"Yah, begitulah. Rizka mengirim pesan ke nomor Tarjo jika dia akan kembali ke Singapura besok pagi. Apa aku perlu menemuinya sebagai Nathan?"
Sheila memeluk suaminya erat dan menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam.
"Kurasa tidak perlu menemuinya. Kau tidak ada hubungan apapun dengannya kecuali hubungan kerja," ketus Sheila.
"Bagaimana kalau kita menemuinya bersama?" usul Nathan.
"Tidak, Tuan Su. Aku tidak mau!" Sheila makin menelusupkan kepalanya ke dada Nathan. Seolah memberi kode alam.
Nathan sebenarnya paham dengan kode dari Sheila namun ia masih ingin mengerjai Sheila dan mengabaikannya saja. Ia kembali menatap tab pintarnya dan mengecek pekerjaannya.
"Tuan Su..." Sheila memainkan jari-jari lentiknya di dada sang suami.
"Biasanya kau sangat bersemangat jika aku menggodamu, kenapa sekarang..."
Nathan masih fokus dengan tab pintarnya.
"Tuan Su! Sini tab-nya! Mengganggu saja!"
Dengan cepat Nathan menghindari serangan Sheila.
"Sayang, jangan ganggu dulu!"
"Ish!" sungut Sheila kemudian merebahkan dirinya membelakangi Nathan.
Nathan terkekeh tertahan karena Sheila marah padanya. Dengan pelan ia meletakkan tablet pintarnya diatas nakas lalu menelusup masuk dengan perlahan memeluk tubuh Sheila dari belakang.
"Sayang... Kau sudah tidur?"
Sheila terdiam. Ia kesal pada Nathan. Ia berpura memejamkan matanya.
"Sayang..." bisik Nathan sensual dan menciumi tengkuk Sheila.
Tak ada respon, Nathan malah membalik tubuh Sheila agar berhadapan dengannya. Ia tahu jika Sheila belum tidur.
Dengan gemas ia menciumi bibir Sheila yang selalu berasa manis baginya. Mata Sheila membola karena Nathan terus menciumnya.
"Sayang..." ucap Nathan dengan bibirnya yang masih menyentuh bibir Sheila.
"Aku sudah memesankan tiket bulan madu untuk kita. Kita akan berangkat besok pagi."
Sheila mengernyit heran. Suaminya ini memang selalu punya cara untuk membuat moodnya naik dan turun.
"Sekarang kita tidur saja ya! Siapkan tenagamu untuk mendapat serangan bertubi dariku nanti."
Nathan mengakhiri ciumannya dengan lembut kemudian membawa Sheila dalam dekapannya. Bahkan kini Sheila tak bisa berkata apa-apa karena Nathan selalu memberinya kejutan.
#bersambung