
Nathan merebahkan tubuhnya di ranjang begitu tiba di apartemennya. Rasanya hari ini ia lelah sekali setelah berkutat dengan pekerjaan, lalu setelahnya masalah Celia.
Nathan merasa iba dengan teman masa kecilnya itu. Benarkah hanya iba? Atau ada hal lain yang Nathan rasakan?
Mati-matian mencari gadis masa lalunya dan kini setelah bertemu rasanya banyak hal yang harus ia pertimbangkan. Ada Sheila disisinya sekarang. Dan ia jelas tahu hatinya mencintai Sheila.
Lalu sekarang? Setelah mengetahui jika hidup Celia menderita dan penuh perjuangan, akankah Nathan goyah atau tetap melangkah maju bersama Sheila?
Kepalanya berdenyut ketika mengingat besok ia harus memberi pelajaran pada Sandy. Pria yang katanya calon suami Celia itu bahkan tidak mempunyai hati sama sekali.
"Bagaimana jika Celia sampai menikah dengan pria brengsek itu? Pasti hidupnya akan sangat menderita."
Nathan menatap langit-langit kamarnya dan membayangkan hal buruk terjadi pada Celia. Ya, ia meyakinkan dirinya jika ini hanyalah rasa kasihan. Hanya sebatas itu saja. Dan ia ingin Sheila bisa memahami itu. Ia akan bicara dengan Sheila jika waktunya tepat.
Pagi harinya, Nathan terbangun lalu segera membersihkan diri. Ia harus siap menghadapi pria brengsek bernama Sandy. Sandy hanya menginginkan uang, maka akan Nathan berikan. Tapi tidak semudah itu ia memberikan uang dengan cuma-cuma. Akan ada konsekuensi yang harus diterima Sandy.
Nathan menghubungi Choky dan memintanya mengirim anak buah ke gedung Avicenna Grup. Entah apa yang akan Nathan lakukan dengan itu. Wajahnya hanya menampilkan seringai yang cukup membuat orang bertanya-tanya.
#
#
#
-Gedung Avicenna Grup-
Sandy telah tiba di gedung megah dan kokoh bertuliskan 'Avicenna Grup'. Gayanya yang pecicilan membuat para penjaga keamanan berwaspada dengan kehadirannya.
Security lobi menanyai keperluan Samdy datang kesana. Karena dari penampilannya, ia tak terlihat seperti akan melamar kerja.
"Aku ingin bertemu dengan Tuan Nathan Avicenna. Apa dia ada?" ucap Sandy dengan gaya yang menyebalkan.
Security saling bertatapan dan seketika kepala Sandy ditutup oleh kain hitam dari belakang. Tubuhnya di seret menuju ke sebuah gudang milik Avicenna Grup yang tak jauh dari sana.
Sandy meronta minta dilepaskan. Namun apalah daya, ada beberapa orang yang memegangi tubuhnya. Ia tak kuasa untuk memberontak.
"Lepaskan! Siapa kalian? Apa kalian adalah orang suruhan Nathan Avicenna, huh?!" tanya Sandy dengan kepala yang masih tertutup kain hitam.
Suara langkah kaki terdengar di telinga Sandy.
"Tuan!" Seseorang menyapa orang yang baru saja datang itu.
"Buka kainnya!" perintah orang itu yang tak lain adalah Nathan.
"Kau! Berani sekali kau berbuat curang seperti ini, hah?!" teriak Sandy.
Nathan menggeleng. "Sandy Bramantyo. Itu kan namamu? Kaulah yang brengsek karena kau memanfaatkan kelemahan Celia!" geram nathan.
"Cih, apa hubunganmu dengan gadis bodoh, itu hah! Apa kau adalah kekasihnya? Atau dia adalah gadis simpananmu?"
"Tutup mulutmu!" Nathan melirik ke arah beberapa pria yang memegangi lengan Sandy dan tanpa disuruh mereka langsung memukuli Sandy tanpa ampun.
Sandy mengaduh kesakitan. "Ampun! Lepaskan aku! Apa maumu?" tanya Sandy dengan napas terengah.
"Lepaskan Celia! Lalu aku juga akan membebaskanmu dan memberimu sejumlah uang!"
Sandy tersenyum seringai. "Hanya itu saja?" tanyanya.
"Iya. Tapi kau akan tahu akibatnya jika kau berani melanggar perjanjian denganku. Kau tidak akan bisa lolos. Kau mengerti?"
Sandy mengangguk.
"Aku sudah mengurus pembatalan pernikahanmu dengan Celia melalui orang tuamu. Beruntung aku tidak menghancurkan bisnis ayahmu juga. Ini semua karena mereka adalah orang baik dan hanya anaknya saja yang brengsek."
Nathan meminta anak buah Choky untuk membawa Sandy pergi.
"Tahan dia selama tiga jam lalu berikan cek ini padanya!" Nathan memberi perintah pada Choky.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu!"
Nathan mengangguk kemudian ikut pergi dari gudang itu.
#
#
#
Malam harinya, Nathan kembali menemui Celia di minimarket. Kali ini Nathan sengaja mengundang kedua orang tua Sandy untuk hadir di toko.
Celia yang bingung dengan kedatangan Nathan berserta kedua orang tua Sandy hanya bisa melongo.
"A-ada apa ini?" tanya Celia bingung.
"Begini Celia..." Ayah Sandy memulai pembicaraan.
"Kami sudah membatalkan pernikahanmu dan Sandy. Dan kami rasa, sebaiknya kamu tidak perlu lagi bekerja di toko ini," jelas Bramantyo.
"Hah?! A-apa maksudnya?" Celia menatap kedua orang tua Sandy lalu kemudian Nathan.
"Sekarang cepat bereskan barang-barangmu! Kamu akan pindah dari sini!" perintah Nathan.
"Tapi..." Celia ragu.
"Sudah, tidak ada tapi!"
Tanpa bisa menolak Celia pergi ke kamar lalu membereskan barang-barang miliknya. Tak banyak barang yang ia miliki.
"Saya harap putra bapak tidak mengganggu Celia lagi!" ucap Nathan.
Bramantyo mengangguk. Ia sungguh malu karena putranya itu selalu membuat ulah.
"Niel..." panggil Celia. Ia terus menundukkan wajahnya.
"Pak, Bu. Maaf jika selama ini saya banyak melakukan kesalahan. Saya berterimakasih karena bapak dan ibu sudah mengizinkan saya untuk tinggal dan bekerja di toko ini," ucap Celia.
"Ayo!" aja Nathan.
Celia berjalan di belakang Nathan. Sebenarnya ia merasa tidak enak dengan keluarga Bramantyo, kedua orang tua Sandy memang sangat baik. Hanya saja Celia tidak tahan dengan sikap Sandy yang selalu menyiksanya. Mungkin sekarang adalah saatnya Celia lepas dari bayang-bayang Sandy dan keluarganya
"Niel, kita mau kemana?" tanya Celia.
"Aku menyewakan sebuah rumah untukmu."
"Hah?! Rumah? Tidak, Niel!" Celia menolak. Ia sungguh sudah merepotkan Nathan.
"Tidak apa. Ayo!" Nathan membukakan pintu mobilnya. Celia masuk dan duduk dalam diam.
Mobil mulai melaju dan satu jam kemudian mereka tiba di sebuah rumah minimalis di perumahan pinggir kota. Celia menatap rumah itu sekilas.
"Kamu tidak apa kan tinggal disini sendiri?" tanya Nathan.
Celia menggeleng. "Aku sudah terbiasa hidup sendiri, Niel. Tapi...kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu membatalkan pernikahanku dengan mas Sandy? Bagaimana jika ayah dan ibu angkatku tahu? Mereka pasti akan murka." Celia kembali menundukkan wajahnya.
"Sudahlah, jangan berpikir macam-macam. Kita masuk dulu ya!"
Nathan membawa tas Celia masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana? Apa kamu suka?"
"Kenapa aku harus tidak menyukainya, Niel? Kita baru saja bertemu kembali tapi kamu...sudah melakukan banyak hal untukku."
"Kita sudah lama saling mengenal. Ingat kan dulu kamu selalu merengek padaku. Oh ya, rumah ini sudah dilengkapi perabotan jadi kamu tidak perlu membeli perabotan lagi."
Celia tersenyum. "Terima kasih, Niel. Aku tidak tahu harus bagaimana jika kamu tidak datang..."
"Celia..."
"Hmm?"
"Aku mencarimu..."
"Eh?"
"Selama bertahun-tahun aku mencarimu. Tapi aku tidak menemukanmu."
"Niel..."
Nathan merangkum wajah Celia. "Aku senang bisa bertemu denganmu lagi."
Celia mengulas senyumnya. "Terima kasih karena kamu mencariku."
Mata mereka saling beradu. Saling mengungkap rasa namun entah apakah itu. Merasa semuanya seolah canggung, Nathan segera memutus kontak mata dengan Celia. Ia beralasan harus pergi ke toilet.
"Permisi, aku ke toilet dulu!" ucap Nathan kemudian berlalu.
Celia menghela napasnya. Ia memegangi dadanya yang terasa berdebar.
Bunyi getaran ponsel memecahkan keheningan di rumah baru itu. Celia melirik ponsel Nathan yang ia letakkan diatas meja.
Celia melirik sekilas layar ponsel yang menyala. Matanya membulat dan raut kecemasan tergambar disana.
"Calon istri?" gumam Celia.
#bersambung
*Jiyaaah galau galau deh 😆😆😆