My Culun CEO

My Culun CEO
#1 2 2



Josh membawa Vania ke suatu tempat agar bisa membuatnya lebih tenang. Sebuah rooftop apartemen miliknya dipilih sebagai tempat pelarian yang bagus.


Vania sempat bingung kenapa Josh membawanya kesana. Tapi kini ia mulai sadar jika disini tempatnya cukup tenang dan bisa membuat kita mengeluarkan semua kesedihan kita.


"Aku suka datang kesini saat sedang suntuk."


Josh menatap menerawang jauh. Gedung-gedung tinggi itu seolah menertawakan Vania dan Josh.


Benar, Vania kalah. Ia sudah kalah. Vania kembali menangis tersedu. Ia tidak memiliki wajah lagi untuk menghadapi dunia.


"Menangislah, Vania. Tapi setelah itu kau harus kuat. Kau tidak bisa mengatur akan seperti apa hidup berjalan. Terkadang semua tidak sesuai dengan harapan kita."


Josh duduk disamping Vania.


"Aku punya seorang adik. Dia gadis yang manis dan lugu. Ketika pertama kali melihatmu, aku teringat akan dirinya."


Tangis Vania terhenti. Ia menyeka air matanya dan mendengarkan cerita Josh.


"Mungkin karena dia lugu, makanya teman-temannya selalu ingin mengerjainya. Lagi dan lagi yang lemah tidak akan bisa menang melawan yang kuat. Mereka berkuasa, dan kami hanya orang biasa. Adikku tidak bisa melawan mereka. Tapi, saat melihatmu ... aku tahu kau memiliki tekad yang kuat. Kau bukan orang yang lemah meski kau terlihat lemah. Makanya saat itu, aku sudah memilihmu karena aku tahu kau kuat. Kau bisa menghadapi dunia kerja ini meski kau terluka dan tertatih. Kau bisa bangkit meski air mata mendera."


Vania diam. Ia berpikir sejenak.


"Aku tidak sekuat itu, Tuan Josh. Aku pikir aku akan mulai menyerah dari sekarang. Untuk apa terus memperjuangkan sesuatu yang jelas-jelas mustahil di depan kita."


Vania menatap Josh.


"Kau benar. Tapi, aku bangga padamu. Kau sudah berhasil sejauh ini. Bersemangatlah! Besok kau harus bisa menatap dunia dengan kedua kakimu sendiri."


Vania mengangguk. "Iya, Tuan. Terima kasih karena sudah percaya padaku. Ngomong-ngomong, dimana adikmu sekarang? Apa dia kini sudah berubah menjadi kuat?"


"Dia sudah tiada."


"Eh? Ma-maaf..."


"Orang-orang itu sudah merenggutnya dariku. Membuatnya putus asa hingga dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya..."


Air mata Vania kembali mengalir. Namun ia segera menyekanya.


"Terima kasih, Tuan Josh. Terima kasih karena sudah percaya padaku. Aku tidak akan lemah lagi mulai sekarang. Aku akan menghadapi dunia mulai dari sekarang..." batin Vania dengan tekad yang berapi-api.


#


#


#


Vania tiba di rumah kontrakannya setelah Josh mengantarnya. Tak ia sangka jika hari ini akan berakhir dengan begitu buruk.


Vania memandangi tempat tinggal barunya yang baru beberapa hari ia tempati. Rasanya begitu sunyi dan kosong.


Vania kembali menangis mengingat apa yang terjadi hari ini. Hidupnya sudah berakhir sekarang.


"Sekarang aku sudah resmi jadi pengangguran!"


Tangis Vania makin pecah. "Kakak! Kak Naina! Apa yang harus kulakukan?"


Vania meraung-raung sendirian di dalam rumah. Ia memukuli dadanya yang terasa sesak.


"Kak Naina... Hiks hiks hiks. Aku harus bagaimana? Karirku sudah hancur sekarang! Huaaa!"


Vania tersedu sendiri tanpa ada yang menemani. Karena lelah menangis, akhirnya Vania malah tertidur di sofa ruang tamu. Ia masih memakai pakaian kerjanya yang dulu sangat ia banggakan.


Hari pun telah berubah gelap. Vania yang masih ingin memejamkan mata tiba-tiba saja mendengar suara gaduh dari arah luar rumahnya. Vania pun terbangun.


"Ada apaan sih?" Vania mengusap sisa-sisa air mata yang ada di wajahnya.


Penampilannya sungguh kacau kali ini. Ia berjalan tertatih karena mendengar keributan diluar rumahnya.


Vania membuka pintu dan melihat banyak orang berkumpul di depan rumahnya. Termasuk juga ketua RT setempat.


"Nah itu dia orangnya! Akhirnya nongol juga!"


"Cepat usir dia dari sini, Pak RT!"


"Betul, Pak RT! Jangan sampai warga sini jadi kena tulahnya karena dia!"


"Tenang bapak-bapak, Ibu-ibu! Kita bisa bicarakan baik-baik masalah ini!" Pak RT berusaha menengahi perdebatan.


"Pak, sebenarnya ada apa ini?" tanya Vania dengan polosnya.


"Dasar kriminal! Kakaknya kriminal, adiknya pasti juga kriminal!"


DEG


Vania tertegun. Seakan mengulang kejadian beberapa jam yang lalu, kini Vania kembali dihadapkan dengan gunjingan orang-orang tentang kakaknya.


"Tenang semuanya! Kalian jangan asal menuduh!" Pak RT masih membela Vania.


"Halah! Buktinya dia baru saja di pecat dari tempat kerjanya. Sudah pasti ini karena keluarganya yang berjiwa kriminal!"


"Betul itu! Usir dia dari sini! Cepat usir dia!"


Edo yang sudah mendengar kabar mengenai Vania segera menuju ke rumah kontrakan gadis itu. Ia memarkirkan mobilnya di depan gang lalu berlari masuk.


Ia terkejut melihat banyak orang yang mengerumuni rumah kontrakan Vania. Ia segera membelah kerumunan orang-orang itu.


"Ada apa ini?" tanya Edo dengan suara lantang.


Semua warga meminta Vania segera pindah dari rumah kontrakannya. Berbagai macam cacian dan makian mereka layangkan pada Vania.


Edo menatap Vania yang hanya diam tanpa mau membantah apapun.


"Diam semuanya!" ucap Edo sedikit berteriak.


"Vania akan pindah dari sini. Jadi sebaiknya kalian bubar! Jika kalian masih mengacau disini maka saya akan panggilkan polisi!" teriak Edo.


Seketika semua orang membubarkan diri kecuali ketua RT setempat.


"Mbak Vania, saya mohon maaf atas sikap para warga sini. Saya tahu mbak Vania adalah orang yang baik. Tapi, apalah daya saya. Sebaiknya mbak segera pindah dari sini. Sekali lagi saya minta maaf."


"Iya, Pak RT jangan khawatir. Saya akan bawa Vania pergi," tegas Edo.


Edo menghampiri Vania yang masih mematung. Ia meraih tangan Vania dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Vania!" Edo memegangi kedua bahu Vania.


Vania mendongak menatap Edo. Matanya yang masih sembab kini kembali memerah.


"Kemasi barang-barangmu dan kita pergi dari sini. Ya?"


Vania kembali menangis di depan Edo.


"Abang!" seru Vania lalu kembali menangis. Bahkan tangisannya makin keras ketika Edo memeluknya.


"Jangan cemas! Ada aku disini! Jangan takut!"


Edo mengusap punggung Vania yang bergetar. Ia mendekap gadis itu dengan erat.


Setelah puas menangis, Vania keluar dari rumah itu dan berpamitan pada ketua RT. Edo merangkul bahu Vania dan membawanya ke mobil.


Vania hanya diam dan menatap jalanan selama perjalanan. Ia sendiri tidak tahu lagi harus pergi kemana.


Edo melirik Vania sambil tetap fokus menyetir.


"Jangan takut Vania. Aku akan selalu ada bersamamu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji!" ucap Edo dalam hati.


Air mata Vania sudah mengering namun raut kesedihan masih tergambar disana. Vania merasa hidupnya sudah berakhir sekarang.


Mobil Edo memasuki pelataran rumah mewah yang dijaga banyak bodyguard. Edo turun dari mobilnya dan berjalan memutar untuk membuka pintu mobil.


"Vania, sudah sampai!" ucap Edo yang membuat Vania tersadar.


"Eh?"


"Ayo turun!"


Vania turun dari mobil dan melongo melihat keindahan rumah itu.


"Ini rumah siapa, Bang?" tanya Vania.


"Ini rumahku! Lebih tepatnya rumah orang tuaku. Ayo masuk!"


"Tapi, Bang..."


"Sudahlah ayo!" Edo meraih tangan Vania dan membawanya masuk.


Mulut Vania menganga melihat ruangan yang ada di rumah itu. Warna-warna emas menjadi warna dominan disana. Sebuah kemewahan yang tercipta di mata Vania.


"Edo! Kau sudah pulang, Nak!" sapa Liliana menghampiri Edo.


"Iya, Ma. Oh ya, Ma. Kenalkan ini Vania! Dia akan tinggal disini. Boleh kan, Ma?"


"Selamat malam, Tante. Saya Vania," sapa Vania ramah.


Liliana hanya diam memandangi Vania dari atas hingga bawah. Vania merasa bingung dengan arti tatapan ibunda Edo ini.


"Ma, ada apa?" tanya Edo karena ibunya tidak merespon.


"Freya..."


"Eh? Mama bicara apa..."


"Freya! Kamu Freya kan?" Liliana memegangi kedua bahu Vania.


"Freya! Akhirnya kamu kembali, Nak!" Liliana memeluk Vania. Sedangkan gadis itu masih bingung dengan sikap Liliana yang terkesan berlebihan.


Dan yang membuat Vania bingung adalah...


"Siapa Freya?"