
Sheila membulatkan mata ketika bibir milik Nathan kembali mencuri sebuah ciuman darinya. Meski tadi sikap pria itu membuat Sheila ingin mengumpatinya, namun perlakuannya kali ini sangatlah berbeda. Ia sama sekali tidak menyakiti Sheila meski gadis itu sempat mengatainya kasar.
Sheila masih diam dan tak membalas ciuman pria itu. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Satu sisi ingin menolak karena teringat akan sosok Tarjo. Lalu satu sisi ia juga menginginkan sebuah sikap hangat seorang Nathan.
Sheila mengerjapkan mata ketika Nathan terus menyesap dan melumaat bibirnya. Sepertinya pria itu menuntut sebuah balasan dari Sheila.
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" batin Sheila dilema.
Satu menit telah berlalu. Berlanjut menit ke dua.
Fine! Sheila mengalah. Pertahanannya runtuh sudah. Akhirnya Sheila membalas pagutan Nathan. Ia memejamkan mata untuk bisa merasakan sentuhan yang katanya adalah sebuah cinta seperti yang dikatakan Naina.
Di sela ciumannya, Nathan tersenyum tipis karena Sheila membalasnya. Satu tangannya kini turun menarik pinggang Sheila agar lebih mendekat padanya. Satu tangannya masih setia di tengkuk Sheila.
Tangan Sheila mengepal karena merasakan sensasi aneh dalam hatinya. Detak jantungnya seakan berlarian kesana kemari. Dan entah bagaimana memulainya, kedua tangan Sheila kini sudah melingkar di leher Nathan. Meremaas rambut belakang Nathan dengan gerakan yang lembut.
Tangan Nathan memeluk erat tubuh Sheila. Ia membawa tubuh Sheila keluar dari pantry dan menuju ke kamar pribadi di ruangan itu dengan masih saling bertautan.
Ouch! It's a long long kiss ever that they did.
Nathan melangkah menuju ke ranjang dan merebahkan tubuh Sheila secara perlahan. Suara decapan itu kini terasa terdengar karena ruangan itu tertutup dan kedap suara. Napas mereka terengah ketika ciuman panas itu akhirnya terhenti.
Nathan menahan bobot tubuhnya dengan tangan. Ia menatap Sheila yang kini berada dibawahnya. Ia menyeka bibir Sheila yang basah dan bengkak karena ulahnya.
Sheila memalingkan wajahnya dan tak berani menatap Nathan. Sungguh semua ini membuatnya berdebar tak karuan.
"Aku mencintaimu, Sheila."
Satu kalimat yang akhirnya membuat Sheila menoleh pada Nathan. Matanya menerobos masuk kedalam mata coklat Nathan. Tidak ada kebohongan disana. Sheila tahu itu.
"Tapi aku tidak mencintaimu," ketus Sheila dan mendorong tubuh Nathan. Ia bangun dan duduk di tepi ranjang.
Nathan berdiri dan menatap gadis itu.
"Jika kau tidak mencintaiku, kenapa membalas ciumanku?" tanya Nathan merasa menang.
Sheila mengerjapkan mata. "Itu karena kau memaksaku!" alasan Sheila.
"Aku tidak memaksamu, Shei."
"Tapi kau menuntut minta di balas!" Rasanya wajah Sheila sudah seperti tomat cherry yang sedang ranum. Kenapa mereka malah membahas soal ciuman? Hihihi.
Nathan berlutut di depan Sheila. Gadis itu terkejut dengan sikap Nathan yang kini kembali berubah hangat.
"Aku serius dengan ucapanku. Pikirkanlah! Lagipula kita akan bertunangan, lalu menikah," ucap Nathan.
"Masih belum! Kita masih bisa mengubah semuanya."
"Oh ya?" Nathan menatap gadis yang menurutnya sedang bertingkah menggemaskan itu.
"Apa kau lupa? Aku punya kekasih."
"Kalau begitu selesaikan urusanmu dengannya dan kembali padaku," ucap Nathan santai.
Sheila menatap Nathan jengah.
"Percuma saja, Shei. Seberapa kerasnya kau berusaha. Pernikahan ini akan tetap terjadi." Nathan bangkit dari posisi jongkoknya. Ia berdiri membelakangi Sheila.
"Kenapa kau mencintaiku? Bukankah kau membenciku?" tanya Sheila.
"Aku tidak membencimu, Shei. Aku hanya tidak bisa bersikap didepan seorang gadis. Karena aku tidak pernah mengenal gadis manapun sedekat ini. Kau adalah yang pertama."
Sheila kembali membulatkan mata.
"Maaf karena tadi aku marah padamu. Aku terlalu cemburu," aku Nathan.
Nathan melirik jam tangannya. Ia harus pergi karena ada rapat penting.
"Aku harus pergi. Ada rapat penting diluar kantor."
Sheila menganggukkan kepala. Nathan mendekat dan memberikan sebuah kecupan manis di kening Sheila.
"Tolong pikirkanlah!" tutup Nathan sebelum keluar dari kamar pribadinya itu.
Sheila masih mematung di tepi ranjang. Ia mencubit tangannya untuk memastikan apakah semua ini nyata atau tidak.
"Aw!" Sheila meringis. "Ini bukan mimpi!" Sheila menutup wajahnya karena malu dengan apa yang barusan terjadi bersama Nathan.
#
#
#
Sheila masih menunggu kedatangan taksi online yang dipesannya di lobi gedung. Matanya mengedar menatap mobil yang mulai mendekat kearahnya.
Itu adalah mobil Nathan. Ia baru saja kembali dari meeting di luar. Seharian ini Sheila merasa tak tenang setelah insiden pagi tadi. Ia ingin segera cepat pulang karena tak ingin bertemu muka dengan Nathan.
Tapi ternyata takdir selalu membawa mereka kembali bertemu. Nathan turun dari mobil dan menghampiri Sheila.
"Shei, kau sedang apa?"
"Umm, aku sedang menunggu taksi online," jawab Sheila kikuk.
"Ah, kau tidak membawa mobilmu."
Sheila mengangguk. "Mogok! Mesinnya tidak mau menyala."
Nathan paham dengan kondisi Sheila. Dia hanya karyawan biasa dan tidak bisa membayar biaya perawatan mobil mewahnya itu.
"Kalau begitu naiklah! Aku akan mengantarmu pulang."
"Eh? Tidak perlu. Aku sudah memesan taksi tadi," tolak Sheila.
Nathan membuka dompetnya dan menyerahkan 5 lembar uang 100 ribuan pada Agus.
"Pak, nanti kalau taksi online Sheila datang, taksinya bapak pakai saja untuk bapak pulang," ucap Nathan.
"Baik, Tuan." Agus menerima uang itu dengan sedikit membungkuk.
"Ayo, Shei." Nathan membuka pintu mobil.
"Tapi, Pak..." Sheila masih berusaha menolak.
"Jika kau masih protes juga maka aku akan membungkam mulutmu disini sekarang juga!" ancam Nathan.
Sheila melongo tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nathan. Pria itu selalu berhasil memaksa Sheila.
Dengan sedikit kesal Sheila masuk kedalam mobil dan duduk dengan tenang disamping Nathan.
"Nah, begitu dong! Patuhlah pada calon suamimu," ucap Nathan penuh percaya diri.
Sheila mengalah karena tak ingin terus berdebat dengan Nathan. Apalagi jika pria ini benar-benar akan membungkam bibirnya di tempat terbuka seperti itu. Bisa-bisa hatersnya bertambah banyak.
#
#
#
Tiba di rumah kontrakan Sheila, Nathan turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Sheila. Gadis itu turun dengan memutar bola matanya malas.
"Bersikap biasa aja lah! Aku malah takut dengan sikap manismu ini!" ujar Sheila.
"Kenapa? Memangnya aku tidak boleh bersikap manis pada kekasihku sendiri?"
"Apa?! Kekasih? Sejak kapan aku menjadi kekasihmu?" ketus Sheila sambil membuka kunci rumahnya.
"Sejak pagi tadi. Aku tahu kau juga merasakannya, Shei."
"Merasakan apa?"
"Merasakan ini!"
Tanpa aba-aba lagi-lagi Nathan meraih bibir manis milik Sheila itu. Semuanya terjadi begitu cepat. Kali ini Sheila bertekad tidak akan membalas. Ia ingin menunjukkan jika dirinya bukanlah milik Nathan.
Sekuat tenaga Sheila menahan hasratnya. Ia tetep kukuh dengan pendiriannya. Berkali-kali ia mendorong tubuh Nathan menjauh. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Sheila pasrah. Ia akui dirinya juga menikmati sentuhan yang diberikan Nathan.
Satu menit
Dua menit
Tiga menit
Ouch! Nathan melakukannya dengan sangat baik. Ia mempelajari ini dari drama-drama yang ditontonnya.
Sheila mendorong kasar tubuh Nathan. Ia memegangi bibirnya yang terasa kebas.
"Sudah cukup, Nathan! Aku sudah punya kekasih dan aku tidak ingin mengkhianatinya," tegas Sheila.
"Oh ya? Kalau begitu aku bisa menjadi kekasih keduamu," jawab Nathan enteng.
"Apa katamu?!" Sheila terpekik tak percaya dengan kalimat Nathan.
#bersambung