
Setelah cukup lama dalam diam sambil menatap tunangannya yang sedang berpelukan dengan pria lain, akhirnya Nathan membuka pintu balkon dengan cukup kasar hingga membuat dua orang yang sedang berada di balkon terkejut dan segera saling melepaskan diri.
Nathan menatap tajam Danny. Ia tahu jika pria ini memiliki rasa untuk Sheila.
"Nathan? Ngapain kamu disini?" tanya Sheila yang lagi-lagi menanyakan pertanyaan yang sama.
"Aku mencarimu. Papa dan Mama juga mencarimu," jawab Nathan dengan masih menatap tajam Danny.
"Baik, aku akan kesana sekarang. Terima kasih, Kak." Sheila menyerahkan jas milik Danny dan segera berlalu pergi dari sana.
Dua orang pria itu masih saling menatap dengan tatapan sengit. Sepertinya mereka akan jadi musuh mulai sekarang.
"Sheila adalah tunanganku. Jadi, kau tidak perlu memberi perhatian padanya," tegas Nathan.
"Jika kau tunangannya harusnya kau tidak membiarkannya menangis di hari pertunangannya. Aku sudah mengenal Sheila sejak dia masih kecil. Aku tahu semua tentang dia."
"Tapi aku tetaplah tunangannya dan aku calon suaminya!" tegas Nathan sekali lagi.
"Baiklah. Aku mengerti." Danny mengangkat kedua tangannya.
"Tapi kau harus ingat! Jika kau membuatnya menangis lagi, aku tidak akan tinggal diam!" Danny melengos pergi setelah mengatakan semuanya pada Nathan.
Pemuda itu masih mengatur napasnya yang naik turun. Ia tak menyangka jika kisahnya dengan Sheila tak hanya terhalang oleh Tarjo, tapi kini ada Danny yang mulai masuk dalam kehidupan Sheila.
Nathan menyusul langkah Sheila yang kini sudah bersama dengan para orang tua. Mereka sudah bersiap untuk pulang ke rumah karena malam semakin larut.
"Nak Nathan, tolong antar Sheila pulang ya!" ucap Sandra.
"Ma, aku naik mobil kalian saja! Kenapa juga pulang sama dia?" rengek Sheila.
"Tidak apa kan, Nak Nathan?" tanya Sandra dengan tatapan penuh arti.
"Iya, Tante. Tidak apa. Pulanglah denganku, Shei." Nathan menarik pinggang Sheila dan menempelkan tubuhnya.
Sheila mendelik namun ia tak bisa menolak. Ada para orang tua yang harus dijaga hatinya.
"Ya sudah, kalau begitu kami pamit dulu ya!"
Sheila bercipika cipiki dengan para mama dan juga kakak iparnya. Setelah semuanya pergi, tinggalah dirinya bersama Nathan. Sheila mendelik lagi kearah Nathan.
"Cepat antar aku pulang! Aku capek!" ketus Sheila dan berjalan lebih dulu.
Nathan menarik tangan Sheila.
"Apa lagi sih?!" sungut Sheila.
"Pakai ini!" Nathan memakaikan jasnya pada tubuh Sheila yang terbuka.
"Nggak usah, aku..."
"Jangan membantah! Tadi saja kau menerima jas dan pelukan dari pria lain, tapi kenapa kau malah menolak permintaan calon suamimu sendiri?"
Sheila terdiam kemudian menjawab. "Kak Danny bukan orang lain! Dia seperti kakakku!"
"Seperti kakak tapi bukan kakak asli kan? Tidak perlu harus peluk-peluk segala dong!" protes Nathan.
"Jadi, kau mengawasiku?" tanya Sheila memicingkan mata.
"Ya, aku adalah calon suamimu. Aku harus mengawasi dan menjaga calon istriku kan?"
"Berhenti memanggilku calon istri! Kau masih punya pilihan dan aku juga masih bisa memilih!" Sheila kembali melangkah.
"Aku akan tetap memilihmu!" seru Nathan.
Sheila membeku ditempatnya. Melihat Sheila mematung, Nathan segera meraih tangan Sheila dan menggenggamnya.
"Sudah! Jangan kebanyakan melamun! Kita pulang saja atau kau ingin ke suatu tempat dulu?"
"Aku capek!" Hanya itu jawaban Sheila.
Tiba di lobi, mobil Nathan telah siap dan ia segera membukakan pintu untuk Sheila. Ia memutar dan mengucap terima kasih pada petugas vallet.
Tak ada percakapan selama perjalanan menuju rumah keluarga Adi Jaya. Malam ini Sheila menginap di rumah orang tuanya.
Tak butuh waktu lama untuk membuat Sheila tertidur seperti biasa. Nathan tersenyum melihat gadisnya yang kelelahan. Lelah hati dan juga tubuhnya.
"Aku akan buktikan jika hanya kamu saja yang ada di hatiku..."
Nathan meraih tangan Sheila lalu mengecupnya.
#
#
#
Keesokan harinya, hari libur seperti ini biasanya di gunakan orang-orang untuk berlibur dan melepas penat. Nathan yang terus uring-uringan tentang masalahnya dengan Sheila, meminta Ivanna untuk menemuinya di kedai es krim langganan mereka.
Kali ini Nathan terlihat sangat bersemangat memakan eskrimnya. Ivanna mengernyitkan dahi dengan sikap Nathan yang berbeda.
"Katakan ada apa?" tanya Ivanna.
"Tunggu sebentar! Aku harus mendinginkan pikiranku dulu!" balas Nathan.
Ivanna terkekeh dan menggeleng pelan. "Kau ini baru saja bertunangan tapi sudah kelihatan galau. Ada apa sih?"
"Aku dan Sheila sedang tidak baik-baik saja."
"Sheila tahu soal Celia," lirih Nathan.
"Celia? Siapa Celia?" tanya Ivanna.
"Kau masih ingat dengan gadis yang pernah kuceritakan padamu?"
Ivanna berpikir sejenak. "Gadis panti asuhan itu? Teman kecilmu?"
"Iya. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi Sheila bilang saat tidur aku memanggil namanya." Nathan mengacak rambutnya.
Ivanna memiringkan kepalanya. "Kau masih memikirkan tentang dia?"
"Sebelum aku menerima perjodohan ini, aku masih berusaha mencari Celia. Aku akan membatalkan perjodohan ini jika aku menemukan Celia," cerita Nathan.
"Wah! Kau memang tidak terduga." Ivanna geleng-geleng kepala.
"Aku tidak menemukannya, Na. Makanya aku menerima perjodohan ini!"
BRAK!
"Kau sudah tidak waras, hah!" Ivanna tersulut emosi.
"Na, apa kau juga marah seperti Sheila?" Nathan ketakutan melihat kemarahan Ivanna.
"Tentu saja! Mana ada cewek yang mau digituin. Dasar gila kamu!" Ivanna memukul kepala Nathan dengan sendok eskrimnya.
"Aw! Na! Sakit!" Nathan mengusap kepalanya.
"Sakit mana dengan hati Sheila?" sungut Ivanna.
"Dia tidak tahu soal masalah ini. Dia hanya tahu jika aku memiliki wanita lain selain dirinya."
"Sama aja!" Ivanna semakin murka.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Aku tidak tahu. Yang jelas kau jangan mendekati Sheila dulu. Dia pasti marah denganmu."
"Kau tahu, Sheila juga didekati oleh pria lain."
"Maksudmu Tarjo?"
"Bukan. Asisten kak Rangga. Namanya Danny. Beberapa kali aku melihat Sheila bersamanya."
"Dan kau cemburu?" selidik Ivanna. "Kau yakin sudah melupakan Celia? Kau sudah mencarinya sejak 10 tahun yang lalu, Nate. Kau yakin akan memilih Sheila dan melupakan Celia?"
Nathan terdiam. Ia teringat kata-kata Sheila yang mengatakan jika Celia masih ada dalam hatinya. Tapi, bahkan ia tidak tahu dimana gadis itu berada. Apakah dia masih sendiri atau sudah menikah?
"Hmm, begini saja. Satu-satunya jalan yang aman agar kau tetap bisa bersama Sheila ... adalah dengan menjadi Tarjo," usul Ivanna.
Nathan terdiam dan menatap Ivanna. Sepertinya sahabatnya ini memang punya segudang solusi untuk masalah Nathan.
Sebuah senyum terukir di wajah dingin Nathan. "Kau benar, Na. Kau memang selalu bisa diandalkan!"
Nathan mencubit kedua pipi Ivanna dengan gemas.
"Hei, lepaskan tanganmu! Aku ini wanita bersuami!" sungut Ivanna.
"Astaga, Na! Kau selalu saja galak!" Nathan mengerucutkan bibirnya.
"Dan kau selalu saja bodoh!" Ivanna menyentil kening Nathan kemudian tertawa lepas.
Nathan tidak marah ketika Ivanna mengatainya. Karena itu adalah cara Ivanna untuk menunjukkan rasa sayang pada sahabatnya.
"Terima kasih, Na." Nathan tersenyum lega.
#
#
#
Malam harinya, Nathan sudah kembali menjadi Tarjo dan kembali tinggal di rumah kontrakannya yang sempit. Ia mengirim pesan pada Sheila.
Tarjo: "Aku sudah di rumah kontrakan. Kapan kamu kembali?"
Cukup lama Tarjo menunggu pesan balasan dari Sheila. Ia mulai was was karena Sheila biasanya langsung membalas pesan darinya.
Tak lama terdengar suara deru mobil dari arah rumah Sheila. Tarjo sangat senang dan langsung keluar dari rumahnya.
Firasat Tarjo benar jika itu memang Sheila. Gadis itu cukup terkejut melihat kehadiran Tarjo dengan senyum yang mengembang di wajah culunnya.
"Tarjo? Kamu udah disini?" tanya Sheila bingung.
Tanpa menjawab, Tarjo langsung mendekat dan memeluk gadis itu dengan erat. Sheila membulatkan mata mendapat sebuah pelukan dari Tarjo.
"Aku merindukanmu, Shei..."
#bersambung
*Hahaha, dasare pinteran ah si Nathan or Tarjo 😆😆😆
Kok aku kerasa lucu pas bikin part akhirnya 😅😅