My Culun CEO

My Culun CEO
Peristiwa Menegangkan



Sitta dan Nita mendatangi Marina yang sedang mondar mandir tak jelas. Marina sedang menyusun rencana agar bisa kabur dari pengawasan anak buah ayahnya.


Dengan percaya diri Marina mengatakan semua rencananya pada kedua sahabatnya itu. Awalnya, baik Nita maupun Sitta sedikit ragu dengan rencana Marina. Pastinya anak buah ayah Marina adalah orang-orang pilihan dan tak mudah untuk di kelabui.


Sekali lagi Marina meyakinkan kedua sahabatnya agar mengikuti semua instruksi darinya. Mereka pasti berhasil.


Nita dan Sitta saling pandang. Entah mereka memiliki firasat yang bagus atau tidak mengenai ini. Mereka sendiri tadi sudah berjanji jika ini adalah terakhir kalinya mereka membantu Marina.


"Baiklah, kami setuju," jawab Sitta.


Marina tersenyum senang. Ia segera bertukar peran dengan Sitta karena bentuk tubuh Sitta tak jauh berbeda dengan Marina.


Marina akan menyamar menjadi Sitta dan melesat pergi dengan mobil milik Sitta. Lalu Sitta, pergi mengendarai mobil Marina untuk mengelabui anak buah ayah Marina.


Marina tersenyum seringai. Ia yakin kali ini ia pasti berhasil.


"Pergi menjauhlah dari kota! Jangan sampai mereka berhasil menemukan kalian. Oke?" tegas Marina.


Nita dan Sitta hanya bisa mengangguk. Mereka siap menjalankan aksi mereka.


Dengan berjalan seperti Sitta, Marina menuju mobil milik Sitta dan masuk kesana. Ia memberi kode pada Sitta untuk masuk ke dalam mobil Marina dan pergi dari sana bersama Nita tentunya.


"Kamu yakin kita bakal ngelakuin ini, Sitta?" tanya Nita.


"Mau gimana lagi? Ini yang terakhir! Dan kita jangan lagi terlibat sama cewek psycho itu!"


Sitta segera menyalakan mesin mobil, lalu menginjak pedal gas dan keluar dari area parkir Avicenna Grup. Benar saja, begitu mobil milik Marina keluar, ada dua mobil hitam yang mengikutinya.


Marina tersenyum seringai. Ia segera melajukan mobil milik Sitta berlawanan arah dan menuju ke titik dimana mobil Nathan berada.


#


#


#


Sheila dan Tarjo masih bicara di ruang tunggu bengkel milik Fajri. Mereka saling mengungkap rasa dan juga kejujuran. Ya meskipun diantara mereka tak sepenuhnya jujur. Ada beberapa hal yang mereka tutupi.


Suara perut Sheila dan Tarjo menginterupsi obrolan mereka. Mereka berdua tertawa karena ternyata mereka belum makan siang.


Sheila mengajak Tarjo ke pondok bakso yang dilihatnya di seberang jalan ketika menuju ke bengkel. Tanpa bisa menolak, Tarjo ikut dengan Sheila dengan mengendarai mobil Sheila.


Kembali Tarjo dibuat kagum dengan kesederhanaan Sheila yang tak malu makan di warung pinggir jalan seperti ini. Mulut yang penuh bakso, membuat Tarjo menarik sudut bibirnya.


"Gadis ini adalah gadis yang unik."


Sejak menjadi Tarjo, Nathan sudah mengagumi Sheila. Banyak hal tak terduga dari seorang Sheila.


Namun ia juga kembali sedih ketika mengingat betapa Sheila belum sepenuhnya menerima Nathan sebagai tunangannya. Mungkin saat ini, inilah yang terbaik. Menjaga sang tunangan sebagai sosok orang lain. Meski itu menyakitkan hati.


Usai makan siang bersama, Sheila mengantar Tarjo kembali ke bengkel. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Sheila juga harus segera kembali ke kantor. Ia tak ingin bos setengah-setengahnya marah karena ia tak kunjung kembali setelah beristirahat.


Tarjo turun dari mobil Sheila. Ia melambaikan tangan mengucap perpisahan dengan sang kekasih. Ia menghela napas kasar. Hari ini rasanya cukup menegangkan untuk Tarjo.


Tarjo segera berbalik badan dan akan berterima kasih pada Tino dan Toro yang sudah membantunya. Namun saat berbalik badan, mata Tarjo membulat sempurna melihat siapa yang ada di depannya.


Sorot mata tajam dan sedikit kemarahan terpancar disana. Kedua tangan disilangkan dan menggeleng pelan. Tarjo meringis menatap sosok itu.


"Nathan!"


Seru orang itu yang membuat Tarjo terkejut.


#


#


#


Marina tiba di sebuah permukiman padat penduduk. Tak ada rumah mewah sepanjang perjalanan ia masuk kemari.


Matanya berkelana menatap titik di ponselnya yang telah berhenti sejak tadi. Marina melihat mobil Nathan terparkir di sebuah garasi rumah yang tidak terlalu kumuh. Rumah itu cukup bagus dan berbeda dari rumah yang lainnya.


"Hmm, rumahnya lumayan bagus. Itu berarti gadis itu gak terlalu miskin."


Marina memarkirkan mobil Sitta agak jauh dari rumah yang disinggahi Nathan. Ia berjalan perlahan dan terkesan mengendap-endap. Tak lupa ia mengenakan sebuah kacamata hitam dan syal yang ia ambil dari mobil Sitta. Ia memakainya sebagai penutup kepala.


Marina berjongkok di depan pagar rumah. Ia melihat tak ada aktifitas apapun didalam rumah itu. Terlihat sepi dan sunyi. Seakan penghuninya sedang tidak ada di tempat.


"Bener gak sih Nathan ada disini?"


Marina mulai ragu. Tapi ia akan menunggu hingga Nathan benar-benar keluar dari dalam rumah itu.


#


#


#


Sitta panik. Ia makin menginjak pedal gas agar bisa menghindari orang-orang yang mengejarnya. Menurutnya, ia akan terkena masalah jika orang-orang itu berhasil menangkapnya.


Di dalam mobil hitam yang mengikuti mobil Marina, Rasta dan anak buahnya mengernyit heran. Kenapa juga mobil nonanya melaju kencang menuju keluar dari kota. Mobil itu bahkan masuk ke jalan tol yang menuju luar kota.


"Sepertinya ada yang gak beres! Cepat kita salip mobil nona Marina!" perintah Rasta pada sang supir.


Dengan segera mobil yang ditumpangi Rasta melesat cepat mengejar mobil Marina.


Di mobil Marina, Sitta makin panik karena mobil hitam di belakangnya berhasil menyamai laju kendaraannya.


Bunyi klakson terus menggema meminta Sitta untuk berhenti.


"Gimana ini, Nit?"


Nita sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya berpegangan pada pegangan mobil.


"Aku gak tahu, Sit. Apa kita nyerah aja?"


Sitta bimbang. Menyerah rasanya bukanlah ide yang bagus. Tapi terus berkejaran seperti ini juga bisa membahayakan dirinya. Apakah dia siap untuk celaka hanya demi seorang Marina yang mereka pikir sebagai gadis psycho?


Sitta memejamkan mata sejenak untuk berpikir. Ia tak bisa melakukan ini lagi. Sudah cukup semua kekacauan yang terjadi karena ulah Marina.


Dengan sekuat tenaga, Sitta menginjak pedal rem dan membuat suara ban berdecit dengan cukup kencang. Beruntung suasana cukup lengang di jalanan itu.


Mobil Rasta juga berhenti tak jauh dari mobil Marina. Beberapa orang langsung turun dari dalam mobil termasuk Rasta.


Mereka menghampiri mobil Marina dan mengetuk kaca mobilnya.


"Nona! Nona Marina! Tolong turun!" Rasta berucap sambil mengetuk kaca mobil.


Nita yang masih syok dengan kejadian tadi hanya bisa membeku. Ia tak menyangka jika Sitta akan menyerah begitu saja.


Diliriknya Sitta yang juga masih syok dengan perbuatannya tadi. Tangan Nita terulur mengelus punggung Sitta.


"Sit, sebaiknya kita hadapi mereka dan ceritakan yang sebenarnya."


Sitta masih bergeming. Ia tak menghiraukan kalimat Nita ataupun ketukan yang terus menggema dari luar mobil.


"Sitta!"


Sekali lagi Nita memanggil sahabatnya itu. Hingga akhirnya Sitta tersadar dan dia menatap Nita.


"Ayo kita lakukan!"


Dengan hati yang sudah disiapkan lebih dulu, Sitta dan Nita membuka pintu mobil lalu keluar.


Rasta dan anak buahnya terkejut karena ternyata bukan nona mereka yang ada di dalam mobil.


"Siapa kalian? Kenapa bisa mengendarai mobil Nona Marina?" tanya Rasta dengan rahang yang mengeras. Kali ini ia berhasil dikerjai oleh nonanya.


"Jangan sakiti kami! Kami akan ceritakan semuanya pada kalian!" ucap Sitta.


Sementara di sisi Marina, gadis itu masih mengendap-endap di depan rumah yang ia duga ada Nathan didalamnya. Sudah hampir satu jam berada disana dan ia tak juga melihat tanda-tanda keberadaan Nathan disana.


Hingga akhirnya suara getar ponselnya membuatnya terkejut. Sebuah panggilan dari Sitta.


Marina segera mengangkatnya.


"Halo, gimana? Kalian berhasil kabur dari pak Rasta kan?" tanya Marina dengan antusias.


"Halo, Sitta! Kok diam aja? Gimana hasilnya? Kalian berhasil kabur kan?"


"Marina!"


DEG


Itu adalah suara ayahnya. "Pa...pa...?"


"Cepat kembali ke rumah atau papa akan membawamu secara paksa dari sana!"


"Hah?!"


Marina terkejut. Beberapa orang berpakaian hitam telah mengepungnya. Marina pasrah. Ia tak bisa kabur lagi.


#bersambung


*hihihi, kira2 si gadis psiko ini bakalan nyerah gak ya buat dapatin Nathan?


*terus, siapa ya orang yang tadi memergoki Nathan jadi Tarjo? Tebak-tebak ayo genks


...Happy end of month 😘😘...