My Culun CEO

My Culun CEO
#147 - Kekasih Bucin Vs Kakak Posesif



Freya dan Damian tiba di rumah sakit dan langsung menuju ke ruangan Liliana. Tiba disana, Freya langsung memeluk Liliana. Freya sangat senang karena ibunya telah pulih.


Damian menyapa Liliana dan Laurent  ramah. Ia mencium punggung tangan kedua orang tua Freya.


Freya tak mengira jika Damian memang sudah banyak berubah. Gadis itu menarik sudut bibirnya melihat keakraban yang ditunjukkan Damian dengan orang tuanya. Tentu saja Damian sudah mengenal kedua pasangan paruh baya ini sejak dirinya masih remaja.


"Frey, kamu temani Nak Damian saja. Biar mama diantar papa saja. Lagipula harusnya kamu gak perlu kesini. Bukannya kamu masih harus bekerja?" ujar Liliana.


"Mama!" protes Freya.


"Iya, Frey. Lagipula kalian masih di jam kantor. Gak enak kan kalau harus keluyuran," timpal Laurent.


Freya menatap Damian. Pria itu hanya membalas dengan sebuah senyuman.


"Iya, Om, Tante. Aku akan antar Freya kembali ke kantor," ucap Damian.


Freya tak bisa menolak lagi. Ia hanya pasrah dan mengikuti keinginan kedua orang tuanya.


Saat ini mereka dalam perjalanan kembali ke kantor More Trans. Tapi tiba-tiba saja Damian memutar ke arah yang berbeda.


"Kita mau kemana?" tanya Freya kaget.


"Hari ini aku ingin berdua saja denganmu," balas Damian dengan menatap lurus ke depan.


"Tapi pekerjaanmu...?"


"Tidak apa. Ada Josh yang akan menghandle semuanya."


"Kita mau kemana?"


"Kamu suka pergi kemana?"


Freya nampak berpikir sejenak. "Entahlah. Aku jarang bepergian."


"Bagaimana kalau ke taman hiburan?"


Mata Freya membola. "Jangan-jangan masa kecilmu kurang bahagia ya?" Freya terkekeh


"Hmm, masa kecilku memang tidak bahagia."


Freya menghentikan tawanya. "Maaf..." lirihnya.


"Tidak apa-apa. Itu sudah berlalu kan? Jadi untuk apa mengenang masa lalu."


Freya menatap iba pada pria yang ada di sampingnya ini. Tangannya terulur untuk mengusap lengan Damian.


"Maaf selama ini aku berpikiran buruk tentangmu."


Damian tersenyum. "Tidak apa. Semua orang memang berpikiran buruk tentangku."


Freya jadi makin bersalah ketika Damian dengan pasrah mengatakan jika semuanya 'tidak apa-apa'.


"Ayo turun! Edo bilang dia dan adiknya suka sekali pergi ke taman hiburan." Damian membukakan pintu mobil untuk Freya.


Gadis itu turun dan mengikuti langkah Damian yang sudah di depan loket pembelian tiket. Ia tersenyum penuh kelegaan melihat Damian yang bersemangat.


"Ayo, Frey!" seru Damian sudah tak sabar mencoba seluruh wahana.


Pria itu berlarian dari satu wahana ke wahana lainnya. Mereka berdua sangat senang dan bergembira.


Masa kecil yang terasa hilang kini telah kembali untuk diulang. Damian melepas jasnya.


"Haaaah! Panas juga ya! Padahal sudah mau sore." Damian mengibas tangannya.


"Disana ada penjual kaus. Kamu mau membelinya?" tawar Freya.


"Bagaimana kalau kita beli kaus couple saja?" ajak Damian dengan menaikturunkan alisnya.


Freya mengernyit. "Aku rasa itu..."


"Ayo!" Damian menarik tangan Freya. Mereka menuju ke stand penjual kaus. Damian memilih motif yang sama.


"Nah ini bagus!" ucap Damian. "Ayo kita ganti baju!" lanjutnya.


Mereka menuju ke kamar kecil dan mengganti pakaian kerja mereka dengan kaus yang di beli tadi.


Damian keluar lebih dulu dan menunggu Freya.


"Wah, kita memang sangat cocok, Frey!" ucap Damian.


"Apanya yang cocok? Ini seperti kekanakan saja!"


"Biarin! Ayo!" Damian merangkul bahu Freya dan mereka berjalan bersama.


"Kita mau kemana lagi?" tanya Freya.


"Bagaimana kalau kita naik bianglala raksasa itu?"


"Heh?!"


"Kamu tahu, aku dengar Nathan dan Sheila berciuman saat menaiki bianglala. Kurasa kita perlu mencobanya juga," bisik Damian.


"Hei! Jangan macam-macam ya!" ancam Freya dengan mengepalkan tangannya.


Damian tertawa keras mendapati wajah Freya yang sudah seperti kepiting rebus.


#


#


#


Freya menenteng tas belanjaan dan menuju ke unit apartemen milik Damian. Ia menekan bel lalu tak lama sesosok pria tampan membuka pintu.


"Hai, sayang. Kamu sudah datang? Ayo masuk!"


Damian menarik tangan Freya lembut lalu menutup pintu. Ia langsung memeluk Freya.


"Aku merindukanmu!" ucap Damian.


"Ish! Bukankah setiap hari kamu datang ke kantorku dan menggangguku?" balas Freya dengan membalas pelukan kekasihnya.


"Kamu bawa apa?" tanya Damian.


"Aku belanja bahan makanan. Kamu bilang akhir-akhir ini kamu tidak makan dengan benar. Perutmu sakit, benar kan?" Freya menuju dapur dan menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.


"Kamu duduk saja disana, aku akan memasak untukmu."


Damian tidak mendengarkan Freya dan malah berdiri di samping gadis itu.


"Aku akan membantumu memasak. Apa yang bisa kulakukan?"


Freya tersenyum. "Bantu kupas bawang dan mengirisnya."


"Yes, Chef!"


Freya tertawa dan menggeleng pelan. Mereka memasak dengan kompak. Sesekali Damian membuat suasana dapur kacau karena selalu mengganggu Freya.


Hingga akhirnya satu jam kemudian, semua menu makanan telah terhidang di atas meja makan. Damian menatap Freya penuh rasa terima kasih.


"Terima kasih, sayang. Aku malah merepotkanmu," ucap Damian memegangi kedua bahu Freya.


"Hmm, tidak perlu berterimakasih. Aku hanya melakukan apa yang aku bisa."


Damian tersenyum. "Emh, Frey..."


"Hmm, ada apa?"


"Apa aku ... boleh menciummu?"


Freya tertunduk malu. "Apa kamu harus bertanya dulu?" lirihnya masih menunduk.


"Aku takut kamu marah."


"Tidak. Aku gak akan marah."


Damian menjimpit dagu Freya agar mata mereka saling beradu. Damian merangkum wajah mungil Freya dan mengusap pipinya dengan ibu jari.


"Aku mau makanan pembukaku dulu," ucap Damian kemudian menempelkan bibirnya pada bibir Freya.


Damian melakukannya dengan sangat lembut hingga Freya bisa merasakan sebuah cinta yang besar dalam diri Damian untuknya. Sebisa mungkin Freya membalas sapuan bibir Damian meski masih terasa kaku.


Ini adalah ciuman pertama mereka setelah satu bulan mereka bersama. Damian begitu menjaga Freya dan tak ingin membuat gadisnya marah.


Bunyi bel apartemen yang berulang kali membuat Freya mendorong tubuh Damian pelan.


"Ada tamu. Kamu lihat dulu saja sana!" perintah Freya.


"Akh! Siapa sih yang mengganggu?" gerutu Damian kemudian pergi membuka pintu.


"Dimana Freya?" Sosok itu langsung masuk tanpa permisi setelah Damian membuka pintu.


"Freya!" teriak seseorang yang tak lain adalah Edo.


"Abang?" Freya terkejut melihat kakaknya tiba-tiba datang.


"Apa yang kau lakukan, hah?! Kau menyuruh adikku datang ke apartemenmu dan memasak? Yang benar saja! Kau pikir adikku itu pembantumu, hah?!" tanya Edo mencecar Damian.


"Abang! Dengar dulu! Ini gak seperti yang abang pikir. Aku kesini atas keinginanku sendiri. Damian sakit, dan aku hanya memasakkan makanan untuknya," jawab Freya.


"Halah! Itu hanya akal-akalan dia saja! Ayo pulang!" Edo menarik tangan Freya.


"Edo! Jangan begini! Aku tidak akan melakukan apapun kepada Freya. Kau bisa percaya padaku!" Damian ikut menahan tangan Freya.


"Ah! Alasan saja!" Edo tetap menarik tangan Freya.


"Freya!" Damian menarik tangan Freya yang satunya.


"Dam! Lepaskan!" perintah Edo.


"Biarkan aku memeluknya sebelum dia pergi," pinta Damian.


Edo tak kuasa menolak. Ia tahu jika Damian sangat mencintai adiknya. Akhirnya ia mengalah.


Damian segera memeluk Freya. Pemandangan itu membuat Edo tak kuasa untuk ikut terharu. Ia seakan menjadi orang yang jahat karena memisahkan dua orang sejoli yang saling mencintai.


"Baiklah. Aku mengalah!" ucap Edo.


Freya dan Damian mengurai pelukan mereka.


"Antarkan Freya pulang setelah kalian selesai makan malam!" ucap Edo kemudian berlalu.