My Culun CEO

My Culun CEO
Masa Lalu yang Membayangi



Sheila tertawa geli saat berbalas pesan dengan Harvey. Ternyata asisten kekasihnya itu cukup friendly dan kocak. Asyik dengan memainkan ponselnya, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah dua jam sejak ia mengirimkan pesan untuk Nathan.


Sheila melihat kontak Nathan kembali dan ternyata pesannya sudah terbaca. Namun belum juga di balas oleh pria itu. Karena merasa kantuk mulai menyerang, akhirnya Sheila memutuskan untuk memejamkan matanya. Berharap bertemu sang pujaan hati di dalam mimpi.


Di sisi Harvey, ia tersenyum kecil setelah berbalas pesan dengan tunangan bosnya. Cukup aneh karena kini mereka dekat. Pesan terakhir dari Sheila adalah nomor ponsel Naina yang dikirimkan kepadanya.


Harvey tersenyum senang. Itu artinya ia bisa mendekati Naina dengan perlahan. Mengingat tentang Sheila, sebenarnya Harvey sempat terpesona dengan sosok Sheila yang apa adanya dan tak memberi kesan jika dirinya adalah putri keluarga kaya.


Namun sekali lagi, Harvey tentu saja tak punya nyali untuk mendekati Sheila. Putri bungsu pemilik AJ Grup. Mendengar nama keluarganya saja sudah membuat bulu kuduk merinding disko.


#


#


#


Di sebuah mini market, Nathan masih tertegun memandangi kasir mini market yang memanggil namanya dengan panggilan yang berbeda. Dan hanya ada satu orang yang memanggilnya begitu.


"Ce-celia?" ucap Nathan gagap.


Gadis kasir itu tersenyum. "Ternyata kamu masih mengingatku..."


Nathan menelan ludahnya.


"Totalnya empat puluh ribu," ucap gadis kasir itu.


Nathan menyerahkan uang satu lembar 50 ribu kepada Celia dengan tangan gemetaran.


Ya, dia adalah Celia. Teman masa kecil Nathan sekaligus gadis yang selama ini dicari olehnya.


Tak disangka mereka akan bertemu dalam situasi yang tidak terduga.


"Ini kembaliannya. Ini barangnya. Terima kasih sudah berbelanja disini!" Celia mengucap terima kasih dan sedikit memberi hormat.


Nathan masih terdiam. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini.


"Apa kamu ingin mengobrol?" tawar Celia.


Sejenak Nathan mencerna apa yang dikatakan Celia lalu kemudian mengangguk.


Mereka duduk di bangku panjang depan minimarket. Celia menyodorkan sekaleng minum softdrink untuk Nathan.


"Terima kasih. Tapi aku belum membayarnya nih!" Nathan terkekeh.


"Tidak perlu. Aku yang traktir," balas Celia.


Nathan melirik Celia sekilas. Gadis ini tidak banyak berubah. Selalu suka mengepang rambutnya dan juga memiliki poni depan untuk menutupi bekas luka di dahinya.


Celia kecil begitu menderita hingga akhirnya dititipkan di panti asuhan. Dia datang tak berselang lama setelah Nathan juga di bawa kesana oleh Noel Alexander, musuh ayahnya.


Setelah Nathan kembali bertemu dengan keluarganya, pria itu masih sering datang berkunjung untuk bertemu Celia. Mereka semakin dekat dan tak terpisahkan.


Namun seiring berjalannya waktu dan Nathan harus mengejar studinya, ia tak punya waktu lagi untuk berkunjung ke panti asuhan. Ternyata saat itu Celia sudah diadopsi yang sekarang merawatnya.


Tapi selama bertahun-tahun Nathan mencarinya, tak pernah menemukan jejak Celia di kota ini.


"Jadi, kamu masih tinggal di kota ini?" tanya Nathan mencairkan suasana.


"Aku baru pindah kemari lagi. Mungkin sekitar dua mingguan."


"Ooh."


Hening.


Tak ada lagi yang mampu berkata-kata. Seolah malam ini menjadi saksi jika dua sahabat kembali bertemu.


"Aku sering melihatmu di televisi. Kamu cukup terkenal ya?" puji Celia.


"Ah, benarkah? Tidak juga." Nathan menggaruk tengkuknya.


"Ah iya. Kalau begitu aku juga akan pamit pulang. Oh ya, kamu tinggal dimana?"


"Di belakang toko ada kamar. Aku tinggal disana."


Nathan mengangguk. "Kalau begitu, aku pamit ya! Terima kasih atas minumannya."


Celia tersenyum. Masih sama dengan senyum yang dulu selalu mengembang untuk Nathan.


"Senang bertemu denganmu lagi, Niel..." ucap Celia.


Nathan mengangguk kemudian masuk kedalam mobilnya. Ia melihat Celia masuk kembali kedalam toko. Barulah ia melajukan mobilnya pergi dari sana.


#


#


#


Siang hari itu, Sheila mengajak Nathan untuk makan siang bersama. Sebenarnya Sheila sengaja mengajak Nathan keluar karena ada hal yang ingin ia bicarakan. Ini terkait tentang dirinya yang ingin kembali bekerja.


Mereka berdua makan dalam diam. Sheila nampak menikmati menu makan siangnya dengan lahap. Gadia itu memang tidak pernah jaim dalam bersikap.


Sheila melirik Nathan yang ternyata sedari tadi hanya diam tanpa menyentuh makanannya.


"Nate!" panggil Sheila.


"Nathan Avicenna!" panggil Sheila sedikit lebih keras.


"Ha? Kenapa Shei?" tanya Nathan dengan wajah aneh.


"Kenapa tidak makan? Kamu bilang hari ini banyak meeting sama klien, makanlah yang banyak."


Sheila menyendok makanan milik Nathan dan menyuapkan ke mulutnya.


"Aaa! Buka mulutmu!" perintah Sheila.


"Shei! Aku bisa makan sendiri!" ucap Nathan dengan sedikit membentak.


Sheila terdiam. Hari ini Nathan sangat aneh menurutnya. Niatnya untuk meminta izin untuk kembali bekerja jadi buyar. Biarlah dia mengambil keputusan sendiri tanpa persetujuan Nathan. Lagi pula mereka belum menikah, begitu pikir Sheila.


Nathan berpisah dengan Sheila karena mereka mengendarai mobil masing-masing. Sebelum pergi, Nathan memeluk Sheila erat.


"Maaf ya tadi aku membentakmu. Mungkin aku terlali stres dengan banyaknya pekerjaan," ucap Nathan.


"Iya, tidak apa. Jika kau lelah sebaiknya istirahat dulu! Aku pergi dulu ya! Aku sudah janji akan membantu kak Cecil di kafenya." Sheila mengurai pelukannya.


"Iya, hati-hati di jalan ya!"


Sheila mengangguk. Ia memasuki mobilnya dan segera melesat pergi dari sana.


Melihat kepergian mobil Sheila, Nathan mulai merutuki kebodohannya.


"Sial! Kenapa aku malah kepikiran Celia saat bersama dengan Sheila?" Nathan mengusap wajahnya.


"Kenapa ada banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya?"


Nathan mondar mandir tak jelas di depan mobilnya. Kemudian ia memutuskan.


"Iya, sebaiknya aku meluruskan semuanya dengan Celia. Lalu setelahnya aku bisa bersama Sheila dengan tenang."


Nathan masuk kedalam mobilnya lalu melaju menuju minimarket tempat Celia bekerja kemarin.


#bersambung....


*Buat yg mau tau kisah Nathan kecil, ada di novel Jantung Hati Sang Dokter Tampan 😊😊


Terima kasih atas dukungan kalian 😘😘