
Freya membuka mata di pagi hari dan mendapati jika dirinya bukan di kamar apartemennya. Bau harum masakan menyeruak masuk kedalam indera penciumannya.
Freya segera bangkit dan memperhatikan sekeliling. Ternyata benar, dia tidak berada di kamarnya sendiri.
Freya memegangi kepalanya yang terasa berdengung.
"Oh, astaga! Apa yang terjadi semalam? Sepertinya aku gak minum banyak, kok bisa pusing begini sih?"
Freya mulai sadar jika dirinya ada di rumah Naina. Kemarin malam ia memang berniat akan datang ke rumah Naina usai berpesta dengan para bawahannya.
Freya masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh mukanya. Seulas senyum terbit di bibirnya. Ini adalah kamar lamanya ketika tinggal bersama Naina dulu.
Freya keluar dari kamar dan menemui Naina yang sedang memasak di dapur.
"Kak!" panggil Freya.
"Pagi, Frey. Kamu sudah bangun?" tanya Naina yang mulai kesulitan beraktifitas karena perutnya yang mulai membesar.
"Pagi, Kak. Maaf ya semalam aku..."
"Tidak apa. Lagipula sudah lama kamu gak bersenang-senang dan terus bekerja. Sesekali bolehlah melepas penat."
Freya meringis. Ia membantu Naina untuk membawa makanan yang sudah matang itu.
"Kak Harvey mana?" tanya Freya yang tidak melihat keberadaan suami Naina itu. Ya, Harvey dan Naina telah menikah dan kini sedang menunggu kelahiran buah cinta mereka yang pertama.
"Biasa dia sedang olahraga keliling komplek. Kamu mandi dulu sana! Setelah itu kita sarapan bersama. Tadi asisten kamu si Aisha datang bawa barang-barang kamu. Dia bilang semalam kamu menghubunginya dan meminta dibawakan barang-barangmu pagi-pagi sekali."
Freya menepuk jidatnya. "Astaga! Aku sama sekali gak ingat, Kak!"
"Makanya kalau gak kuat minum, ya jangan minum terlalu banyak, Frey."
"Kak, aku ingat kalau aku gak minum banyak. Beneran!"
Naina mencebik. "Kalau gak minum banyak harusnya kamu masih ingat dengan apa yang kamu lakukan semalam. Coba aku tes! Kamu ingat gak siapa yang mengantarmu kesini?"
Freya mengernyit bingung. "Memang siapa, Kak?"
"Aih, sudah sana mandi dulu saja. Nanti kita bicara lagi. Sebentar lagi Harvey juga pulang." Naina mendorong tubuh Freya kembali masuk kedalam kamar.
Naina hanya menggeleng pelan dengan tingkah adik gadisnya yang satu ini.
Lima belas menit kemudian, Freya keluar kamar dan menemui Naina juga Harvey yang sudah menunggunya di meja makan.
"Hai, Kak Harv!" sapa Freya.
Sejak perusahaan yang ia dirikan melaju dengan pesat, Freya lebih sering tersenyum dan bergembira. Naina menyukai perubahan dalam diri Freya yang pastinya lebih baik dari sebelumnya.
"Sudah ingat belum, semalam diantar siapa?" tanya Naina mengulang pertanyaannya.
Freya menggeleng. Ia menatap suami istri ini bergantian.
"Sepertinya aku harus memukul kepalanya dulu, Harv!" Naina maju dan hendak memukul kepala Freya dengan sendok.
"Hei, sudah sayang. Jangan memukul Freya!" Harvey melerai dan mencegah istrinya berbuat kekerasan.
"Kakak! Apaan coba? Main kasar begitu!" Freya mengerucutkan bibirnya.
"Itu agar kamu sadar dengan apa yang kau lakukan semalam!" kesal Naina.
"Sudah sudah! Jangan berdebat di depan makanan. Tidak baik!" lerai Harvey lagi.
Akhirnya mereka menyelesaikan sarapan terlebih dahulu dan tidak membahas soal semalam. Namun ternyata, Freya masih tetap penasaran dengan apa yang terjadi semalam terhadap dirinya.
"Kak, ceritakan apa yang terjadi semalam?" rengek Freya di depan Naina yang sedang mencuci piring bekas makan mereka.
"Huft! Baiklah, akan kuceritakan! Ayo duduk di sofa saja."
Naina menceritakan semua hal yang terjadi semalam dari mulai Freya datang hingga akhirnya jatuh pingsan karena pengaruh alkohol. Freya hanya bisa menutupi mulutnya yang menganga dengan tangan. Ia menggeleng pelan dengan kegilaan yang dilakukannya semalam.
"Bagaimana? Sudah ingat?" tanya Naina.
Freya mengangguk pelan. "Maaf ya, Kak. Aku ingat jika semalam aku memang bertemu dengan bang Vicky di depan tempat karaoke. Tapi aku gak ingat kalau dia yang mengantarkan aku kemari."
"Hah?! Benarkah?" Freya merasa sangat malu dengan Vicky. Mereka memang pernah tinggal bersama sebagai kakak adik, tapi Freya tak mengira jika dirinya akan melakukan hal gila di depan Vicky.
"Kamu masih ingat tentangnya?" tanya Naina yang membuat Freya tersentak.
"Orang bilang kata-kata orang yang lagi mabuk biasanya jujur. Ia mengungkapkannya benar-benar dari hati. Apakah itu artinya ... kamu masih memikirkan Damian?"
Freya terdiam. Bahkan semalam ia memanggil nama Damian ketika mabuk.
"Oh, ya ampun! Ini benar-benar memalukan!" batin Freya meringis.
"Frey, apa kamu masih mencintai Damian? Kalian sudah berpisah selama satu tahun ini dan kamu masih memanggil namanya. Bukankah itu artinya..."
"Entahlah, Kak. Saat ini yang aku pikirkan adalah ... aku ingin meraih impianku dulu."
Naina menggenggam kedua tangan Freya.
#
#
#
Freya pulang ke apartemennya dan sudah ada Edo juga Rizka beserta putra mereka disana. Freya sangat senang dengan kedatangan keponakan gembulnya yang baru berusia empat bulan itu.
Freya menggengong Rafasya dan menciumi pipi gembul bocah lelaki itu.
"Semalam Naina menghubungi Abang. Dia bilang kamu mabuk dan menginap di rumahnya," ucap Edo.
"Ah! Kenapa semua orang suka sekali membahas soal itu? Sudahlah, Bang. Aku tidak akan minum lagi. Oke?" Freya memilih pergi dari sana dan membawa Rafasya kedalam kamarnya.
Sementara di belahan bumi lain, Damian baru saja selesai berolahraga di sekitar komplek rumahnya. Tak lupa ia juga mengajak Joseph untuk ikut dengannya.
Sejak pindah ke Paris, para gadis yang tinggal di dekat komplek rumahnya selalu saja berusaha menggoda pria yang semakin tampan dan matang itu. Namun semua hal itu tak pernah di gubris oleh Damian.
Kesehariannya disini sangatlah datar. Setiap hari hanya mengurus pekerjaan dan perusahaan. Bahkan kini Damian memiliki usaha sendiri selain dari perusahaan milik ayahnya.
"Ini hari libur, Dam. Pergilah bersenang-senang dengan teman-temanmu," ucap Joseph.
"Teman? Aku tidak punya teman disini, Kek. Aku akan berjualan saja di kedai," balas Damian lalu masuk ke dalam kamarnya.
Joseph menggeleng pelan dengan tingkah cucunya yang semakin hari semakin menyukai kesendirian. Jonathan menghampiri ayahnya dan meminta Joseph untuk membiarkan Damian melakukan apapun yang sesuai dengan keinginannya.
#
#
#
Di sebuah kedai kecil di pinggiran kota Paris, Damian membuka sebuah kedai makanan tradisional yang berasal dari Indonesia yaitu surabi. Makanan yang di masak dengan tungku tanah liat ini memiliki rasa yang unik menurut Damian.
Dirinya tertarik untuk membuka kedai surabi karena bertemu dengan orang tua yang menjual surabi saat dirinya masih berada di Indonesia. Entah kenapa ia merindukan cita rasa makanan khas Indonesia yang syarat akan rempah-rempah.
Damian belajar untuk membuat surabi dan menjualnya sendiri. Damian juga mengubah penampilannya menjadi pria culun agar tidak terlalu mencolok. Meski harus kembali menyamar, namun Damian menyukai hal ini.
"Selamat datang di kedai surabi Eya." Damian menyapa pelanggannya dengan ramah.
"Tunggu sebentar, aku sedang menunggu temanku dulu."
"Baik, Nona."
"Oh ya, temanku ini juga berasal dari Indonesia. Dia adalah bintang top Hollywood." Pelanggan pertama Damian ini bercerita tentang temannya yang juga berasal dari Indonesia.
Tak lama setelah wanita itu mengobrol dengan Damian, sesosok gadis dengan penampilan sempurna masuk ke dalam kedai.
"Hai, Rachella!" sapa wanita itu.
"Hai, Jasmine!" sapa balik Rachella.
DEG
Damian terpaku di tempatnya. Wanita cantik di hadapannya memang benar-benar Rachella, sahabat kecilnya.