My Culun CEO

My Culun CEO
#138 - Membuatnya Penasaran



"Selamat siang semuanya, maaf saya datang terlambat..."


Freya mematung melihat orang yang ada di depannya.


"Nona Freya?" panggil orang itu.


"Tuan Josh?" lirih Freya. Ia mengerjapkan mata dan menyadarkan dirinya. Gemuruh di hatinya mulai mereda.


"Maaf ya saya datang terlambat. Kepadatan kota membuat saya tidak bisa datang tepat waktu. Mari kita langsung mulai saja rapat hari ini."


"Eh? Ah iya. Maaf. Silakan Tuan Josh!" ucap Freya.


Josh tahu jika Freya pastinya mengharapkan seseorang yang hadir dalam rapat siang ini. Ada sedikit rasa kecewa dalam hati Freya. Tapi ia berusaha menutupinya.


Selama rapat berlangsung, Freya tidak bisa fokus. Aisha beberapa kali harus menyadarkan Freya untuk kembali ke dunia nyata.


Dua jam telah berlalu. Freya mengantarkan Josh hingga ke lobi depan gedung. Tidak biasanya Freya mau bersusah payah mengantar klien hingga ke lobi depan.


"Terima kasih, Tuan Josh. Maaf ya jika saya tidak seperti abang Edo dalam bekerja." ujar Freya.


"Tidak apa, Nona. Saya mengerti. Kalau begitu saya permisi dulu, Nona Freya. Mari!"


Freya mengepalkan tangan. Bahkan bibirnya tak bisa mengatakan apapun jika dirinya penasaran dengan kondisi Damian.


"Kenapa Josh yang mewakili Damian? Apa terjadi sesuatu dengan Damian?"


Semua hal itu hanya bisa Freya ucapkan dalam hati.


"Haaaah!" Freya mendesah kasar.


"Ada apa, Nona?" tanya Aisha yang merasa ada yang aneh dengan bosnya.


"Tidak ada. Ayo kita kembali!" Freya kembali berjalan menuju ruangannya.


Dari kejauhan, Udin alias Damian sedang mengawasi Freya yang sudah kembali duduk di kursi kebesarannya. Wajahnya tampak murung setelah kepergian Josh.


Udin mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Josh.


"Halo, Josh. Bagaimana?"


"Lancar, Tuan."


"Hmm, baguslah. Lalu soal..."


"Nona Freya? Dia tampak sedikit kaget karena bukan tuan yang menemuinya langsung."


"Ya aku bisa melihat itu dengan jelas."


"Kalau begitu hentikan saja semuanya, Tuan. Kurasa nona Freya sudah mulai kehilangan sosok Tuan."


"Tidak bisa, Josh. Pokoknya kau jangan mengatakan apapun padanya. Aku sengaja ingin membuatnya penasaran dengan diriku."


"Tuan Damian..."


"Sudah! Pokoknya kau turuti saja rencanaku! Jangan katakan apapun padanya. Mengerti?!"


"Baik, Tuan."


Panggilan berakhir. Udin menatap Freya yang sedang melamun. Ada secercah senyum yang terbit di bibirnya. Ia kembali ke bilik kecil ruangannya untuk beristirahat sejenak.


#


#


#


Malam harinya, Damian kembali ke apartemennya dan langsung merebahkan tubuhnya. Ia sudah melepaskan aksesorisnya sebagai Udin.


"Huft! Kira-kira sampai kapan aku akan melakukan ini? Apa memang aku harus berhenti seperti yang dikatakan Josh?"


Damian menatap langit-langit kamarnya.


"Ah, tidak tidak! Aku tidak bisa menyerah sekarang. Aku harus bisa membuat Freya sadar jika dia memang mencintaiku."


Damian memejamkan mata karena tubuhnya sudah amat lelah.


Di tempat berbeda, Freya baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Ia kembali teringat dengan sosok Damian.


Freya menepuk pipinya. "Sadar, Freya! Sepertinya Damian itu hanya ingin mempermainkanmu saja. Dia tidak serius denganmu. Datang dan pergi seenaknya saja! Memangnya dia siapa?! Dasar brengsek!"


Freya menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. "Keluarkan dia dari pikiranmu, Freya. Dan fokus saja pada tujuanmu! Semangat!" Freya menyemangati dirinya sendiri sebelum memejamkan mata.


Pagi ini Freya ada janji dengan dokter Diana. Seperti biasa, Freya melakukan sesi hipnoterapi untuk bisa mengembalikan memori masa lalunya.


Dengan rileks dokter Diana mensugesti Freya dengan cerita yang sudah ia susun rapi yang pastinya bersumber dari keluarga dekat Freya, yaitu Edo dan Liliana.


Satu jam telah berlalu. Freya mulai membuka matanya kembali.


"Bagaimana?" tanya dokter Diana.


"Lumayan, Dok. Meski aku belum sepenuhnya bisa mengingat."


"Tidak apa, perlahan saja." Dokter Diana menggenggam tangan Freya.


"Tapi ... ada satu hal yang aku ingat. Sepertinya itu ... sebelum terjadinya kecelakaan itu."


"Aku ... mengingat tentang seseorang. Aku berada di rumah sakit saat bertemu dengannya. Tapi, aku tidak tahu siapa dia."


"Tidak apa. Semuanya butuh proses. Nona jangan terlalu memaksakan diri."


Freya mengangguk. Kemudian ia berpamitan pada dokter Diana. Sudah pukul sembilan pagi dan dia harus segera ke kantor.


Tiba di parkiran rumah sakit, Freya kini tak lagi melihat Vicky yang membukakan pintu mobil untuknya. Edo sudah memindahkan Vicky ke bagian pengiriman barang.


Ada sedikit rasa kehilangan dalam dirinya. Tapi ini lebih baik dari pada Freya merasa terus diawasi dan tidak bisa bebas.


"Jalan, Pak. Kita langsung ke kantor saja!" ucap Freya.


"Baik, Non!"


Setelah berkendara selama tiga puluh menit, Freya tiba di kantor dan langsung menuju ke ruangannya. Ketika memasuki ruang kerjanya, Freya melihat Udin yang masih membersihkan ruangan.


"Maaf, Nona Bos. Tadi saya sudah bersihkan, tapi ini saya ulangi lagi agar lebih bersih." ucap Udin.


"Tidak apa. Lagipula saya tidak alergi debu kok."


"Baiklah, Nona. Kalau begitu saya permisi!"


"Tunggu Udin!"


"Iya, Nona Bos? Apa ada yang Nona butuhkan?"


"Terima kasih ya. Kau boleh pergi!"


Udin membungkuk kemudian keluar.


#


#


#


"Hari ini Nona Bos ingin makan apa?" tanya Udin ketika waktu sudah memasuki jam makan siang.


Freya beralih sejenak dari pekerjaannya lalu menatap Udin.


"Bukankah aku pernah bilang ingin mentraktirmu? Bagaimana kalau sekarang saja?"


"Eh?"


"Ayo! Ya?"


Udin menggaruk tengkuknya. "Baiklah, Nona Bos."


Freya tersenyum lebar kemudian beranjak dari kursinya.


Mereka menuju ke sebuah resto biasa yang menyediakan menu masakan rumahan.


"Aku tidak tahu apa yang kamu sukai, jadi aku membawamu kemari saja."


Udin meringis. "Iya, Nona Bos. Ndak apa-apa. Segini saja saya sudah sangat bersyukur. Apa Nona tidak merasa aneh makan dengan saya?"


"Aneh bagaimana?"


"Nona Bos makan dengan seorang office boy."


"Memangnya kenapa? OB adalah pekerjaan mulia kok. Jangan meremehkan pekerjaan yang terlihat remeh. Kau adalah orang yang berjasa untuk kita semua. Coba bayangkan saja jika tidak ada OB, kita semua pasti akan kesulitan." Freya terkekeh sambil membayangkan semua staf membersihkan ruangan mereka.


Udin menatap Freya yang akhirnya bisa tertawa juga. Ia sendiri tak menyangka ternyata sosok Udin bisa membuat Freya tertawa lepas.


"Akhir-akhir ini apa ada yang Nona pikirkan?" tanya Udin.


"Hmm begitulah."


"Apa ini masalah hati?"


Freya menatap Udin. "Dari mana kau tahu?"


"Dari mata Nona!"


Freya tersenyum simpul. "Apa itu terlihat jelas?"


"Hooh, Nona Bos."


"Tapi kau seakan tahu jika aku sedang mengalami kebingungan. Kau mengganti pengharum ruangan di ruang kerjaku. Kau memberiku secangkir teh hangat saat di rooftop. Kau bisa tahu jika aku sedang ingin makan makanan jepang. Apa kau seorang cenayang?"


"Semua hanya kebetulan saja, Nona."


Freya menatap Udin. Sebuah senyum terbit di bibirnya. Pria sederhana ini mampu membuat Freya tenang dengan semua kata-kata yang di ucapkannya.


"Terima kasih ya," ucap Freya.


"Jika Nona butuh teman untuk bercerita, saya bisa mendengarnya."


Freya tersenyum kemudian mengangguk.


"Duh, saya seperti ketiban durian runtuh, nona. Beruntung sekarang nona tidak bersama dengan pengawal nona. Jika tidak ... saya pasti sudah tewas di tangannya."


Freya terbahak. Dan itu membuat Udin bernapas lega karena mulai bisa masuk dalam kehidupan Freya.