My Culun CEO

My Culun CEO
Siapa yang Salah?



Edo menceritakan semua kisah masa lalunya kepada Vania. Tentunya dengan masih menutupi jati diri sebenarnya sebagai seorang putra dari keluarga Moremans.


Entah kenapa Edo merasa nyaman dengan Vania. Gadis berkacamata ini memang tidaklah secantik gadis-gadis diluaran sana yang selalu mengejarnya, tapi Vania bisa membuat dirinya terbuka. Padahal selama ini Edo sangat jarang bercerita bahkan dengan ibunya sendiri.


"Terima kasih kau mau mendengarkan ceritaku," ucap Edo.


"Sama-sama, Bang."


Edo melirik jam tangannya. "Sudah malam, sebaiknya aku pulang. Kau pasti lelah. Beristirahatlah!"


Vania mengangguk paham. Edo bangkit dari duduknya dan berpamitan dengan Vania. Ketika mengantar Edo hingga ke depan rumah, saat itu Naina juga tiba di rumah.


Edo menyalakan mesin motornya kemudian tancap gas. Naina menatap Vania dengan memicingkan matanya.


"Siapa dia, Van?" tanya Naina dengan sedikit menggoda.


"Dia abang ojol, Kak. Kakak baru pulang? Lembur lagi ya?" tanya Vania.


"Iya. Sebentar lagi akhir bulan, jadi kantorku banyak lembur. Eh, Van. Sepertinya wajah abang ojol tadi tidak asing. Pernah lihat dimana ya?" Naina nampak berpikir.


"Sudahlah, Kak. Kakak sudah makan? Aku tadi masak nasi goreng."


Vania membawa Naina menuju ke meja makan. Naina membersihkan diri lalu kembali bercengkerama dengan Vania. Naina masih penasaran dengan sosok Edo.


"Eh, siapa nama abang ojol tadi?" tanya Naina kembali.


"Namanya Bang Edo, Kak. Ada apa sih, Kak?"


"Emh, tidak ada. Hanya merasa pernah lihat saja. Eh, kacamatamu baru ya?"


"Eh?" Vania salah tingkah. "Iya, Kak. Ini pemberian dari Tuan Damian."


"Hah?! Serius? Damian Ford? Wah, kau sangat beruntung, Vania. Damian itu kan pria most wanted saat ini, Van," ucap Naina berbinar.


"Ya ampun, Kak. Biasa aja kok," jawab Vania santai.


"Lalu pria tadi? Bagaimana ceritanya kau bisa mengenalnya?"


"Jadi, ceritanya gini..."


Vania menceritakan awal mula pertemuannya dengan Edo kepada Naina.


...***...


Hari ini Edo menemui Sheila di kantor AJ Foods karena mereka sudah sepakat untuk bekerja sama. Sheila dan Danny sangat menyukai terobosan yang diajukan oleh Edo.


Mereka bertiga keluar dari ruang rapat dengan masih berdiskusi tentang proyek yang akan mereka kerjakan bersama.


Menurut Sheila, Edo adalah orang yang menyenangkan dan memiliki banyak ide dalam berinovasi. Langkah mereka terhenti karena mendapati sosok yang sedang menatap tajam kearah mereka.


Sosok itu adalah Damian yang juga memiliki janji dengan Sheila dan Danny.


Edo sengaja maju menghampiri Damian. Ia sengaja mengulurkan tangannya menawarkan sebuah jabat tangan.


"Apa maksudmu?" tanya Damian dengan sorot mata tajam.


"Tidak ada maksud apapun. Aku hanya ingin berjabat tangan denganmu. Dan juga ... aku tidak menyangka jika kau bekerjasama dengan AJ Foods juga," ucap Edo datar.


Di belakang mereka berdua, Sheila dan Danny memperhatikan interaksi yang terjadi antara dua pria blasteran itu.


"Kak, mereka ternyata saling kenal?" bisik Sheila pada Danny.


"Iya, Shei. Aku sudah mencari tahu soal mereka. Ternyata mereka berdua itu bersahabat. Tapi lima tahun lalu ada kejadian yang membuat mereka berseteru hingga sekarang," jawab Danny dengan berbisik juga.


Damian mengakhiri perbincangannya dengan Edo dan menghampiri Sheila.


"Selamat siang, Nona Sheila," sapa Damian dengan senyum manisnya.


"Selamat siang, Tuan Damian. Mari kita langsung ke ruang rapat!" Bukan Sheila yang menjawab tapi malah Danny.


Danny menyeret Damian menuju ke ruang rapat hingga membuat Sheila terkekeh geli dengan sikap Danny. Sheila menghampiri Edo dan mengucapkan terima kasih. Edo mengangguk paham lalu pergi meninggalkan gedung AJ Foods.


Selama dalam perjalanan menuju kantornya, Edo terus memikirkan tentang hubungannya dengan Damian. Terasa sesak hatinya jika mengingat permusuhan mereka.


Padahal dulu mereka berdua selalu menghabiskan waktu bersama ditambah dengan Samuel. Mereka bertiga sudah bersahabat sejak masih SMP.


Edo mengusap wajahnya kasar. Ingin rasanya menghentikan semua masalah ini dan kembali berdamai dengan Damian. Tapi sepertinya ada bongkahan batu besar yang menghalangi jalannya.


"Haaah! Sebenarnya ini salah siapa?!" kesal Edo dengan memukul kemudi.


...***...


Usai rapat bersama Sheila, Damian terus mengembangkan senyumnya. Damian mulai menunjukkan perasaannya terhadap Sheila. Damian benar-benar jatuh hati dengan sosok Sheila sejak pertama bertemu.


Damian membujuk Sheila untuk makan malam bersama. Namun Sheila menolaknya. Sheila sendiri tak memiliki kesempatan untuk mengatakan jika dirinya telah bersuami. Damian membuatnya tak bisa bicara karena pria itu selalu dominan dalam bertindak.


Meski mendapat penolakan dari Sheila, Damian masih belum menyerah. Ia akan mencobanya lain waktu. Lagipula kontrak kerjasama mereka masih panjang.


"Saya menunggu keputusan Nona untuk bisa melebarkan sayap hingga ke luar negeri. Nona tenang saja. Saya yang akan mengurus semuanya!" ucap Damian sebelum beranjak pergi.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, Nona."


Damian segera menuju ke Avicenna Grup setelah dari AJ Foods. Ia benar-benar ingin mengalahkan Edo dalam hal berbisnis. Ia tak peduli dengan pandangan orang mengenai dirinya. Yang jelas ia hanya tak ingin dikalahkan oleh Edo.


Hari telah berubah petang ketika Damian dan Nathan mengakhiri pembicaraan mereka. Sebenarnya masih ada beberapa poin yang ingin ditanyakan Damian. Tapi ternyata Nathan mengakhiri rapat mereka untuk hari ini.


"Maafkan saya, Tuan Damian. Saya harus segera pulang ke rumah karena istri saya sudah menunggu. Sebaiknya Tuan juga pulang. Pastinya keluarga Tuan sudah menunggu di rumah," ucap Nathan yang akhirnya menyerahkan semuanya pada Harvey.


Sepeninggal Nathan, Damian tidak berniat untuk melanjutkan rapat. Ia juga memilih untuk pulang saja.


Namun tiba-tiba langkah Damian terhenti dan menatap Josh.


"Kenapa, Tuan? Apa ada yang ketinggalan?" tanya Josh.


"Bukan, Josh. Tapi, aku baru tahu jika Nathan Avicenna sudah memiliki istri. Kapan dia menikah? Aku tidak pernah mendengarnya," tanya Damian sambil memiringkan kepalanya.


"Saya juga tidak tahu pasti. Tapi yang jelas memang ada rumor jika tuan Nathan sudah menikah. Tapi dia menjaga privasi istrinya agar tidak diketahui publik," jawab Josh.


"Oh, begitu. Baiklah. Sudah lupakan saja. Antarkan aku kembali ke rumah ya!"


"Baik, Tuan."


Tiga puluh menit berkendara, Damian tiba di rumahnya. Ia mengucap terima kasih pada Josh yang telah mengantarnya.


Damian masuk ke dalam rumahnya dan terkejut karena mendapati ayahnya ada di rumah. Setahu dirinya sang ayah harusnya masih ada di luar negeri untuk mengurus bisnis disana.


"Kau baru pulang, Nak?" sapa Jonathan.


"Hmm." Damian hanya menjawab dengan dehaman.


"Duduklah dulu, Nak. Ada yang ingin Ayah bicarakan denganmu."


"Aku lelah! Aku ingin istirahat!"


BRAK!


Jonathan menggebrak meja ruang tamu.


"Inikah yang kau lakukan?!" Jonathan menghampiri Damian dan melemparkan lembaran kertas kearah Damian.


"Ayah sudah cukup bersabar untuk menghadapimu, Damian! Tapi kini tidak lagi!"


Damian membuang muka. Sungguh ia tak ingin berdebat sekarang.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau selalu merebut proyek yang harusnya jadi milik Edo? Apa maumu, hah?! Kau benar-benar membuatku malu didepan Laurent!" napas Jonathan tersengal. Ia amat murka dengan putra tunggalnya ini.


"Aku melakukannya karena tak suka dengan Edo yang selalu mengalahkanku! Aku tidak akan kalah darinya. Dan akan kupastikan dia kalah!" ucap Damian sengit.


"Kau! Sampai kapan kau akan bersikap kekanakan seperti ini!"


"Siapa yang membuatku jadi seperti ini? Ayah! Ayahlah yang sudah membuatku jadi seperti ini! Ayah yang sudah membuat Edo makin membenciku karena cara kotor yang ayah lakukan! Ini semua adalah salah Ayah!" teriak Damian.


PLAK!


Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Damian. Damian terdiam dan tak lagi bicara. Matanya memerah karena marah. Ya, ia menyalahkan semua pada ayahnya. Ayahnya yang membuat Edo menyalahkan dirinya.


Ayahnya yang sudah menyuap semua orang agar melupakan peristiwa lima tahun lalu. Dan membuat Damian lolos dari jerat hukuman.


Semua itu Jonathan lakukan agar nama keluarganya tidak hancur. Ia hanya ingin melindungi Damian. Tapi ternyata semua cara itu malah membuat Damian semakin membenci sosok ayahnya.


Jonathan mengusap wajahnya. Ia tak bermaksud untuk menyakiti putranya. Sungguh Jonathan sangat menyayangi Damian. Tapi mungkin apa yang ia lakukan adalah cara yang salah.


"Maafkan Ayah, Nak!" lirih Jonathan yang masih bisa didengar oleh Damian.


"Jangan lagi mencampuri urusanku! Kau hiduplah dengan caramu, dan aku akan hidup dengan caraku!" ucap Damian kemudian berlalu.


#bersambung


*Visual Vania



*Visual Edo 😍😍



*Visual Josh



*Visual Damian lagi 😍😍



*Bang Edo pas jadi abang ojol