
Pagi ini, Giga bersiap untuk berangkat ke kantor sesuai dengan permintaan ayahnya. Sebenarnya rasa malas masih menggelayutinya.
Sejak Karel masuk ke dalam lingkaran keluarga Avicenna, sejak itu pula Giga memiliki pesaing yang ternyata tidak bisa dianggap remeh. Karel selalu berhasil mendahului Giga.
Beberapa pencapaian yang di dapat Karel, membuat pria yang lebih tua satu tahun dari Giga itu menuai banyak pujian. Ditambah, pesona ketampanan Karel juga tak kalah dengan Giga.
Giga yang dulu selalu memakai kacamata, kini sudah melepasnya. Tentu saja Nathan melakukan semuanya untuk membuat Giga terbebas dari kacamata yang membingkai mata indahnya.
Pesona Giga sebagai salah satu keturunan Avicenna sangat terpancar jelas. Namun entah kenapa sejak kepergian Carissa untuk meraih gelar masternya di luar negeri tiga tahun lalu, membuat Giga banyak berubah.
Giga yang dulu hanya bersikap datar kepada Carissa, nyatanya mulai luluh karena kegigihan gadis itu. Giga mulai membuka diri dan hatinya.
"Abang tenang saja, aku hanya belajar saja disana. Hatiku akan selalu untuk Abang."
Kata-kata Carissa selalu terngiang dalam benaknya. Awalnya Giga masih percaya dan bersikap biasa dengan kepergian Carissa. Mereka memegang janji untuk saling setia satu sama lain.
Namun tiba-tiba...
"Abang, maaf... Aku harus belajar untuk mengelola perusahaan. Jadi, aku tidak bisa kembali setelah lulus. Maafkan aku, Bang. Tapi jangan khawatir, kita pasti akan baik-baik saja," ucap Carissa dengan percaya diri.
"Jika itu keputusanmu, maka ... aku rasa kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Sebaiknya kau gapailah dulu mimpimu disana. Dan aku akan menjalani hidupku disini."
Giga dengan tegas memutuskan hubungan mereka yang sudah terjalin selama hampir sepuluh tahun.
Kejadian setahun silam itu kembali membuka luka lama Giga tentang peristiwa yang sudah hampir dilupakannya. Memori lima belas tahun silam kembali menghantui.
Giga mulai menghindari orang-orang. Ketakutan untuk bertemu banyak orang membuatnya memilih menghindar. Ia melakukan keseharian yang sesuai dengan keinginannya. Ia tidak suka diatur dan diperintah.
Tapi untuk masalah perusahaan, Giga bisa mentolerir. Karena itu berkaitan dengan karirnya di masa depan.
"Hmm, kemana anak itu? Kenapa belum datang juga?" sungut Nathan yang sudah menunggu di ruang rapat bersama dengan yang lainnya.
Karel dan Mira bahkan sudah duduk di kursi mereka masing-masing. Para pemegang saham mulai berdatangan dan menyalami Nathan beserta Karel dan Mira.
Nathan meminta Harvey untuk menghubungi supir Giga dan menanyakan keberadaan pria itu.
"Kata orang di rumah tuan Giga sudah berangkat 30 menit yang lalu," bisik Harvey.
"Kenapa kau malah menelpon orang rumah? Kenapa bukan si Heri saja?"
"Heri tidak akan menjawab panggilan ketika sedang menyetir, Tuan."
"Haah! Ya sudah. Kau cepat persiapkan keperluan presentasi hari ini."
#
#
#
Rapat sedang berlangsung. Terlihat Karel sedang berdiri di depan para investor untuk mempresentasikan ide darinya untuk keperluan proyek Avicenna Grup yang baru.
Giga hanya diam dan mendengarkan apa yang sedang di bicarakan oleh Karel. Ide dari Karel memang cukup brilian. Terlihat jika Karel memang genius dalam menciptakan terobosan baru untuk perusahaan.
"Terima kasih." Karel mengakhiri presentasinya dan membungkukkan badan sebentar dan kembali ke tempat duduknya.
Mira menepuk bahu putranya pelan sebagai tanda jika ia sangat bangga kepada Karel. Giga hanya mencebik melihat hal itu.
"Lalu, bagaimana denganmu, Manajer Giga?" tanya Nathan kini menyorot tajam putranya. Meski status Giga adalah putranya, tetap saja di kantor, Nathan bersikap profesional sebagai atasan.
"Aku belum memiliki ide apapun. Pakai saja ide Karel tadi," jawab Giga santai sambil menunjuk Karel dengan ekor matanya.
Karel mendesah kasar melihat sikap Giga yang masih saja kekanak-kanakan.
Hingga rapat usai dengan ultimatum keras dari Nathan.
"Kami akan memberimu waktu satu bulan untuk memberikan ide seperti yang dilakukan oleh Karel. Jadi, gunakan waktumu sebaik mungkin. Kau mengerti?" tegas Nathan.
Giga hanya mengangguk patuh. Percuma saja membantah keinginan ayahnya itu. Begitu pikirnya.
#
#
#
"Friska, aku akan menemui klien di luar. Jika ada yang mencariku bilang saja begitu," pesan Karel pada asistennya.
"Baik, Tuan."
Karel berjalan keluar gedung dan melihat Giga yang sedang masuk ke dalam mobil. Giga langsung pergi setelah rapat usai. Karel tak habis pikir kenapa Giga bersikap seperti itu.
"Jika semua ini karena Carissa ... maka seharusnya keluarga Avicenna tidak akan berbesanan dengan keluarga Ford," batin Karel.
Kemudian Karel pun ikut melajukan mobilnya yang sudah siap sedia menunggu di lobi. Karel lebih suka menyetir sendiri dari pada harus memakai supir.
Perjalanan Karel terhenti karena sebuah kerumunan yang tiba-tiba membuat jalanan macet. Karel melirik jam tangannya. Sudah tidak ada waktu lagi karena ia harus segera bertemu dengan kliennya.
"Ada apa sebenarnya?" Karel memilih turun dari mobilnya dan menghampiri kerumunan tersebut.
Karel melihat seorang gadis yang dengan berani membuat seorang pria penyebab kecelakaan akhirnya mengakui perbuatannya dan meminta maaf. Sudut bibir Karel terangkat melihat keberanian si gadis.
"Pak, ada apa sebenarnya?" tanya Karel kepada salah seorang pria paruh baya yang ada disana.
Karel manggut-manggut tanda mengerti. Pihak berwenang akhirnya datang dan membawa si pemuda ugal-ugalan tadi. Suasana kembali tenang dan kerumunan pun bubar.
Karel mencari keberadaan gadis tadi namun ternyata gadis itu sudah menghilang. Karel kembali ke mobilnya dan melajukan mobilnya menuju tempat pertemuan dengan kliennya.
#
#
#
Di sebuah tempat karaoke, seorang gadis berlari tergesa-gesa untuk memasuki tempat kerjanya. Ia bernapas lega karena bosnya tidak memergoki dirinya terlambat.
"Huft! Syukurlah aku tidak terlambat. Ini semua gara-gara pria tadi," gumamnya menggerutu.
"Ehem! Kau terlambat lagi, Merlinda!" Suara seseorang yang mengejutkan si gadis bernama Merlinda.
Merlin berbalik badan dan meringis menunjukkan deretan giginya yang rapi.
"Maaf, Bos. Tadi ada sedikit insiden di jalan menuju kemari," alasan Merlin.
"Benarkah? Kali ini apa lagi? Apa kau menangkap penjahat lagi, huh? Sudahlah! Jangan bersikap seperti pahlawan! Ada polisi dan pihak berwenang lainnya. Kau tidak perlu ikut campur urusan mereka. Sekarang cepatlah kau layani tamu!" omel si bos panjang lebar. Pria tambun itu selalu saja memarahi Merlin karena memang gadis itu selalu berani membantah.
"Baik, Bos." Merlin tak ingin memperpanjang masalah. Masih di izinkan kerja di tempat ini merupakan keberuntungan untuk Merlin.
Mencari pekerjaan di kota besar tidaklah mudah. Dan Merlin sudah menekuni profesi pemandu lagu di tempat karaoke ini selama setahun belakangan. Biasanya ia bekerja serabutan karena ternyata ijazah kuliahnya tidak bisa banyak membantu.
Sejak memutuskan untuk kembali ke kota ini agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak, Merlin berjuang menghidupi dirinya sendiri dengan bekerja paruh waktu selama kuliah. Dan setelah lulus kuliah, tetap saja ia tak juga mendapatkan pekerjaan yang bagus yang bisa meningkatkan taraf hidupnya.
"Sayang, kenapa melamun?"
Merlin tersadar dari lamunannya kala tamu pria yang sedang di temaninya malah mendaratkan tangannya di paha mulus Merlin yang memakai rok diatas lutut. Posisi duduk yang tadinya berjauhan entah sejak kapan pria yang sudah berumur itu tiba-tiba sudah berada di dekat Merlin.
Dengan gerakan cepat, Merlin menyingkirkan tangan pria itu dengan cukup kasar.
"Tolong jangan begini! Saya tahu saya hanyalah pemandu lagu disini. Tapi saya tidak akan menurunkan harga diri saya untuk pria badjingan seperti Anda!" sarkas Merlin.
"Brengsek! Dasar j@lang! Berani sekali kau bicara begitu, hah? Kau pikir kau siapa? Para gadis sepertimu rata-rata melakukan open BO untuk mendapat penghasilan tambahan. Aku yakin kau juga melakukan hal yang sama."
Pria itu memandangi penampilan Merlin dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Brengsek! Kondisikan matamu jika kau tidak mau aku membuatmu buta!" Merlin segera beranjak dari duduknya.
"Maaf, waktu kalian sudah habis. Silakan keluar dari sini!" ucap Merlin masih berusaha meredam emosinya.
Pria itu dan teman-temannya tertaea terbahak mendengar penuturan Merlin. Pasalnya mereka adalah kawan dari si pemilik tempat karaoke dan memang sudah sering datang. Namun biasanya bukan Merlin yang melayani mereka. Ini adalah kali pertama Merlin melayani pria-pria yang dianggapnya brengsek itu.
Merlin kesal mendengar tawa mereka. Ia pun memutuskan berjalan keluar dari ruangan yang berbau alkohol itu.
Namun belum mencapai pintu, tangan Merlin di cekal oleh salah seorang pria.
"Hei, mau kemana? Apa kau tidak mau uang, hah? Layani kami dengan servis mulutmu, lalu kami akan melepaskanmu. Atau kau bisa mendapatkan uang lebih banyak jika mau menemaniku tidur. Bagaimana?"
Merlin memejamkan matanya. "Sampah masyarakat seperti kalian memang harus dimusnahkan!" geram Merlin kemudian menatap ke lima pria yang ada disana.
#
#
#
Sementara di ruang berbeda, Karel merasa risih karena ternyata kliennya meminta bertemu di sebuah tempat karaoke. Pria yang terkenal dengan perilaku sucinya itu akhirnya memilih menolak untuk bekerja sama.
Ya, imej Karel selama ini adalah pria dengan kesempurnaan tanpa cela. Tentu saja dia tidak pernah datang ke tempat-tempat seperti ini sebelumnya.
Belum memulai apapun Karel sudah kembali keluar dari tempat karaoke itu.
"Apa-apaan dia? Apa dia pikir semua pelaku bisnis menyukai hal berbau mesum? Dasar sampah! Aku tidak akan mau bekerja sama dengannya lagi," sungut Karel berapi-api. Biasanya dia hanya mengucapkan kata-kata yang baik saja. Namun kali ini rasanya berbeda.
Tiba-tiba ia memikirkan gadis yang ditemuinya tadi. Karel merasa jika gadis itu memiliki pendirian dan tekad yang kuat.
"Lepaskan! Aku bisa pergi sendiri! Dasar brengsek!" teriak seorang gadis yang membuat perhatian Karel teralihkan.
"Mulai detik ini kau dipecat!" seru seorang pria tambun di depan si gadis.
"Tanpa di pecatpun aku akan mengundurkan diri dari tempat terkutuk ini!" serunya tak mau kalah. Kemudian berjalan keluar dengan penampilan lusuh.
Karel yang terdiam beberapa saat akhirnya tersadar dan tak mendapati gadis itu ada disana.
"Kemana dia? Aku harus bisa bertemu dengannya lagi!" gumam Karel.
#bersambung
...***...
"Mohon maaf sudah lama tidak UP. Beberapa minggu ini emak banyak mendapat kabar duka dari keluarga suami 🙏🙏
kisah ini masih akan berlanjut meski sudah diberi label END"
Terima kasih untuk kalian yg sudah menanti kisah ini 🙏🙏 dukungan dari kalian sangat berarti untukku.