My Culun CEO

My Culun CEO
D I L E M A



Hari ini adalah hari jumat. Tinggal satu hari sebelum acara pertunanganku dengan Nathan di gelar.


Masih belum ada pembicaraan apapun dengannya mengenai acara besok. Aku sendiri? Entah apakah aku sudah yakin dengan semua ini atau tidak.


Sikap Nathan memang mulai berubah terhadapku. Ia tidak lagi sedingin gumpalan es. Tapi, aku sendiri belum yakin dengan apa yang kurasakan.


Yang aku tahu, aku masih memiliki Tarjo di sisiku. Dan aku tidak ingin mengkhianati dia.


Lalu, akan seperti apa hubunganku dan Tarjo setelah aku bertunangan dengan Nathan? Apakah aku harus mengakhiri hubungan kami?


Tentu saja tidak. Sejak awal hatiku memang tertambat padanya. Dan aku ingin berusaha untuk tetap setia. Ya meski kenyataannya secara tak sengaja aku sudah mengkhianati hubungan ini dengan bersikap lebih pada Nathan. Apalagi jika mengingat tentang....


Ah sudahlah. Aku tak ingin memikirkannya. Anggap saja aku berciuman dengan temanku. Tapi, teman tidak akan saling berciuman, bukan? Ah, membuatku pusing saja!


Kulihat pria itu sedang sibuk dengan ponselnya. Ia sedang berbicara di telepon dan membelakangiku. Ditambah lagi aku tidak tahu apa yang dia bicarakan. Karena pintu yang menghalangi ruangan kami.


Saat sedang melamun, Harvey tiba-tiba mengejutkanku. Beruntung aku tidak kena serangan jantung, hehe terlalu lebay.


"Ada apa, Harv?" tanyaku padanya.


"Aku tidak menyangka kau tidak menghukum mereka bertiga dengan hukuman berat. Kupikir kau akan membuat mereka dikeluarkan dari perusahaan ini," ucap Harvey sambil terkekeh.


"Tidak. Bahkan aku juga tidak berniat untuk memotong gaji mereka. Itu karena Pak Nathan memintaku untuk memberikannya ide menghukum mereka," balas Sheila dengan tersenyum.


"Kau bisa saja melakukan hal yang lebih, Shei. Kau putri Adi Jaya. Dan siapa yang tidak mengenal ayahmu juga kakakmu."


Aku melototkan mataku mendengar penyataan Harvey.


"Jadi, kau sudah tahu?" tanyaku.


"Iya, Tuan Boy yang memberitahuku. Saat pertama kali kau bekerja disini, beliau menghubungiku dan bertanya tentang sekretaris baru Tuan Nathan."


"Jadi, kau juga tahu soal..."


"Perjodohan kalian?" Harvey tersenyum. "Tentu saja tahu."


Aku terdiam. Ternyata Harvey sudah mengetahui penyamaranku.


"Kulihat Tuan Nathan banyak berubah setelah mengenalmu."


"Eh?"


"Dulu bahkan dia tidak pernah peduli pada gadis manapun. Bahkan Nona Marina selalu mengejar Tuan Nathan, tapi dia sama sekali tidak peduli. Setelah kejadian kemarin, aku melihat sendiri bagaimana dia begitu marah saat kau terluka karena mereka. Kau sudah mengalihkan dunianya, Shei. Kuharap kau bisa menerimanya."


Aku kembali menatap Nathan yang masih bicara di telepon. Dia terlihat berbalik badan. Lalu mata kami bertemu. Aku tidak tahu apa maksud tatapannya saat ini. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku menatapnya.


#


#


#


Sore harinya, aku bersiap untuk pulang. Kali ini aku akan pulang bersama Kak Danny. Kulihat Nathan masih sibuk di ruangannya.


Aku rasa aku tidak perlu berpamitan dengannya. Aku segera beranjak pergi begitu Kak Danny meneleponku. Aku berjalan cepat menuju lobi.


Kulihat kak Danny sudah menungguku di samping mobilnya.


"Hai, Kak."


"Hai, Shei. Gimana kerjaan?" tanya Kak Danny. Dia memang selalu perhatian. Bahkan kakakku sendiri tidak pernah menemuiku lagi sejak aku keluar dari rumah.


"Ya gitu deh. Biasa aja!" jawabku asal.


"Oh ya, mobilmu sudah selesai dari bengkel. Sudah dikirim ke rumah Tuan Adi seperti keinginanmu."


"Terima kasih, Kak. Ayo, pulang!" ajakku.


Mobil Kak Danny mulai meninggalkan gedung Avicenna Grup. Entah apa yang akan terjadi esok setelah hari pertunanganku dengan Nathan. Yang jelas, aku tidak akan berhenti bekerja hanya karena hal ini.


Saat sudah menempuh setengah perjalanan, aku baru sadar jika ponselku tidak ada di dalam tas.


"Kenapa, Shei?"


"Ini, Kak. Kayaknya ponselku ketinggalan di kantor deh. Bisa tolong putar balik, Kak?"


Kak Danny tersenyum lalu mengacak rambutku.


"Tentu saja bisa."


Aku meringis. "Terima kasih, Kak."


Mobil Kak Danny dengan terpaksa harus memutar karena aku. Di jaman sekarang ini, mana ada orang yang tahan tanpa memegang ponsel. Iya kan?


"Tunggu bentar ya, Kak. Aku nggak lama kok," ucapku ketika mobil tiba di lobi Avicenna Grup.


Kak Danny hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Aku segera berlari dan menuju lift dengan terburu. Beruntung kantor sudah sepi, jadi aku leluasa berlarian di lorong-lorong kantor.


Begitu memasuki ruanganku, aku melihat Nathan masih di meja kerjanya. Aku masuk karena ingin tahu keadaan Nathan yang ternyata sedang tertidur diatas meja dengan tangan dijadikan bantal.


Aku tersenyum melihatnya. Baru pertama kali aku melihatnya tertidur begini.


"Kau pasti capek banget ya harus mengurus perusahaan sebesar ini," gumamku sambil memerhatikan wajah tidur Nathan.


Aku memutuskan untuk berbalik badan. Kak Danny pasti sudah menungguku.


"Celia..."


DEG


Aku mendengar Nathan bergumam. Aku kembali menatapnya. Apa yang dia katakan tadi?"


"Celia..."


Aku mendekatinya, berharap jika aku salah dengar.


"Celia..."


Pelipis Nathan berkeringat. Bahkan dia sampai menyebut nama wanita itu dalam tidurnya. Pasti gadis itu sangat penting baginya. Lalu... Siapa aku baginya? Siapa aku di hatimu, Nathan?


Aku kembali berlari kecil meninggalkan ruangan Nathan. Tak lupa aku mengambil ponselku lebih dulu.


Aku mengatur napas ketika didalam lift. Aku menyandarkan tubuhku di dinding lift. Aku berharap semua ini tidaklah nyata.


Ketika pintu lift terbuka, aku segera berjalan cepat menuju mobil Kak Danny. Aku tak bicara apapun pada Kak Danny selama perjalanan menuju rumah kontrakanku.


Sesekali Kak Danny melirikku. Dia pasti curiga telah terjadi sesuatu padaku.


"Ada apa, Shei?"


"Heh?! Apa Kak?"


"Kamu kenapa? Setelah mengambil ponsel kamu terus diam. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"


"Nggak ada, Kak. Lagipula aku udah nggak bisa mundur lagi. Hanya tinggal menunggu waktu buat besok."


Entah kenapa aku bicara begitu pada Kak Danny.


"Apa kamu ragu dengan pertunangan ini?"


Pertanyaan Kak Danny membuatku memikirkan banyak hal. Siapa Celia? Apa dia wanita yang pernah Nathan ceritakan? Dia pernah bilang jika dia memiliki kekasih. Mungkinkah itu dia? Lalu dimana Celia?


"Shei!"


"Hah?!"


"Kok malah melamun?"


"Ah, nggak apa-apa, Kak."


Dan ternyata mobil kak Danny telah tiba di depan rumah kontrakanku.


"Terima kasih ya, Kak."


"Iya, sama-sama. Besok kamu ke hotel sama siapa?"


"Sama Kak Rangga dan Kak Cecil."


"Oh, begitu. Baiklah."


Aku berpamitan pada Kak Danny lalu keluar dari mobilnya.


#


#


#


Keesokan harinya, aku bertandang ke rumah Tarjo seperti biasa. Aku memintanya untuk membeli bubur ayam saja untuk sarapan kami.


Setelah Tarjo kembali membeli bubur ayam, kami duduk berhadapan sambil menyantap sarapan kami. Aku sudah menyiapkan teh manis hangat untuk kami berdua.


Masih belum ada yang bicara. Aku sendiri hanya mengaduk-aduk bubur tanpa memakannya. Hanya sedikit yang kucicipi. Rasanya hambar. Seperti hatiku.


"Shei..."


"Hmm?"


"Hari ini ada acara apa?" tanya Tarjo.


"Acara apa maksudmu?"


"Biasanya kan kita..."


"Oh, iya gini, Jo. Hari ini aku harus pulang ke rumah orang tuaku. Katanya ada acara gitu di rumah saudara, hehe."


"Oh, begitu ya. Aku juga mau pulang kampung dulu."


Aku mengangguk paham. Dia sudah lama tidak kembali ke rumahnya karena sibuk disini bersamaku.


"Baiklah, kalo gitu aku balik ya, Jo. Aku mau siap-siap dulu. Bye Jo!"


Aku segera berjalan pergi meninggalkan Tarjo yang sepertinya bingung dengan sikapku. Maafkan aku, Jo. Mungkin nanti aku akan memberitahumu soal pertunanganku ini.


Pukul sembilan pagi kak Cecil dan Kak Rangga datang menjemputku. Kak Cecil nampak melihat-lihat rumah kontrakanku. Ini pertama kalinya mereka datang kemari.


"Lumayan juga, Shei," ucap Kak Rangga sarkas.


"Mas, jangan begitu. Rumah ini lumayan bagus kok. Pantas saja sewanya mahal," Kak Cecil selalu saja membelaku.


"Oh ya, mobilmu sudah dibawa ke rumah. Kita akan ke rumah papa dan mama dulu. Nanti sore baru kita menuju ke hotel. Bersemangatlah adikku!" Kak Rangga mencubit kedua pipiku dengan gemas.


"Kakak! Apaan sih? Sakit tahu!" Aku mengusap pipiku.


Sepertinya Kak Rangga tahu jika aku sedang tidak baik-baik saja. Baru saja aku mulai menerima semua keputusan perjodohan ini dan menerima takdirku. Lagi dan lagi sebuah keraguan muncul setelah aku mengetahui fakta tentang Nathan kemarin...


Kini, aku mulai dilema . . .


Haruskah aku mundur?


#bersambung