
Damian memandangi sekeliling bilik kecil yang kini jadi ruang kerjanya. Ia tersenyum kecil melihat semuanya telah berubah 180 derajat. Dan semua ini terjadi karena satu nama, yaitu Freya.
Gadis yang berhasil membuat dunia Damian jungkir balik hingga membuat dirinya melakukan hal di luar nalar. Damian segera bersiap mengganti pakaiannya dengan seragam office boy.
Tiap lantai memiliki tiga orang office boy. Damian si junior ternyata mendapat sambutan yang hangat dari para seniornya.
"Hai, aku Doni," sapa seorang pemuda yang terlihat lebih muda dari Damian bernama Doni.
"Aku Jono," sapa pemuda yang lainnya.
Damian menerima uluran tangan dari keduanya.
"Namaku Samsudin, panggil saja Udin," ucap Damian.
Mereka berdua mengangguk.
"Kamu terlihat lebih tua dari kami. Berapa usiamu?" tanya Doni.
"Aku 25 tahun."
"Wah, kalau begitu kamu adalah abang kami. Tapi dalam hal pekerjaan kami adalah senior, hehe." timpal Jono.
"Iya, gak apa. Santai saja." Damian berusaha ramah. Dia memang ramah pada semua orang.
"Abang sudah di kasih tahu mbak Aisha belum, apa-apa saja yang harus dilakukan disini?" tanya Doni.
Damian menggeleng. "Belum. Mbak Aisha bilang aku disuruh bertanya pada kalian."
"Jadi begini..." Jono menjelaskan secara detil apa saja yang harus dilakukan oleh office boy dilantai 7 terutama yang berhubungan dengan Freya, si bos di lantai 7.
Jono menjelaskan apa saja yang disukai Freya dan apa yang tidak disukai gadis itu. Damian menarik sudut bibirnya. Akhirnya sedikit demi sedikit ia mulai tahu tentang gadis pujaannya.
#
#
#
Keesokan harinya, Damian berangkat lebih pagi dari kedua rekan kerjanya. Hari pertama kemarin Damian hanya menjadi penonton bagi kedua rekan kerjanya. Damian memperhatikan cara kerja mereka dan bagaimana melayani para karyawan yang terkadang memiliki permintaan aneh.
Jono bercerita jika dirinya pernah mencarikan makanan yang sedang di nyidamkan oleh seorang karyawati yang sedang hamil. Dengan susah payah Jono berusaha hingga berhasil. Jono merasa dia menjadi ayah dari bayi yang sedang dikandung itu.
Sontak cerita Jono membuat Damian terbahak. Ternyata banyak cerita unik di balik sebuah pekerjaan yang terkadang di pandang orang sebelah mata ini. Padahal jasa mereka sangat besar.
Damian mulai membersihkan ruangan para staf di bagian keuangan. Ada sobekan kertas yang berisi curahan hati sang karyawan yang amat mengagumi kinerja Freya sebagai atasan. Ada semburat senyum terbit di bibir Damian.
"Aku memang tidak salah memilih Freya untuk jadi calon istriku," batin Damian.
Damian terkekeh sendiri ketika mengingat bagaimana semua ini akhirnya terjadi. Damian menyapu dan mengepel ruangan itu lalu membersihkan seluruh meja.
Peluh mulai menetes di pelipisnya. "Ternyata capek juga ya jadi tukang bersih-bersih seperti ini. Tapi tidak apa. Dengan begini aku jadi lebih menghargai hidupku yang lebih baik dari mereka." lirih Damian sambil membawa peralatan tempurnya keluar ruangan.
"Siapa kamu?"
Sebuah suara membuat Damian mematung tak bergerak. Suara dari arah belakangnya sangatlah ia kenali.
"Saya tanya siapa kamu?"
Damian berbalik badan dengan perlahan. Ia melihat Vicky yang tengah menatapnya dengan tajam.
"Saya adalah office boy baru disini, Pak." jawab Damian dengan logat jawanya.
"Oh pantas saja! Saya harus memeriksa kamu!" ucap Vicky mendekati Damian.
"Eh? Memeriksa bagaimana, Pak?" Damian mulai panik. Wajahnya sudah bercucuran keringat sekarang.
"Semua orang baru disini harus melalui pemeriksaan lebih dulu untuk memastikan apakah kamu adalah ancaman untuk nona Freya atau bukan."
"Eh? Saya cuma office boy, Pak. Mana berani saya macam-macam, Pak." Damian mulai gugup.
"Tidak perlu takut jika kamu tidak bersalah."
Vicky mulai menggerayangi tubuh Damian. Memeriksa apakah apa ada hal yang membahayakan atau tidak.
"Aduh, mati aku! Kenapa bodyguard ini menyebalkan sekali sih?!" gerutu Damian dalam hati.
Vicky sengaja memperlambat pemeriksaannya. Ia ingin melihat reaksi Damian yang sedang diperiksa.
"Sial! Cepetan sedikit napa!" batin Damian meronta.
"Hentikan, Bang!" Suara lembut menginterupsi kegiatan Vicky. Itu adalah suara Freya.
Damian tersenyum mendengar suara yang amat dirindunya itu.
"Nona, saya hanya memastikan jika orang ini tidak berbahaya disini," alasan Vicky.
"Dia hanya seorang OB, Bang. Jangan di besar-besarkan," ucap Freya.
"Maaf, Nona." Vicky membungkuk ketika Freya melewatinya.
Damian ikut membungkukkan badannya ketika melihat Freya berjalan di depannya.
Vicky memberi kode pada Damian untuk segera pergi dari sana. Damian pergi dengan membawa alat pel dan teman-temannya. Ia kembali ke bilik kecil yang menjadi ruang istirahatnya.
Sementara itu, Freya terdiam dan memandangi sosok OB baru yang seakan menarik perhatiannya. Penampilannya culun dan sederhana. Freya mengingat jati dirinya yang dulu sebelum menjadi putri keluarga Moremans.
Freya tersenyum. Ia masuk kedalam ruangannya. Aroma sejuk yang berbeda menyeruak masuk ke indera penciumannya.
"Aroma apa ini? Sangat menenangkan," gumam Freya.
"Apa OB tadi yang mengganti wewangian di ruanganku?" lanjutnya.
Freya kembali mengulas senyum. "Kenapa dia bisa tahu aku menyukai aroma menenangkan seperti ini? Siapa tadi namanya? Aku tidak melihat jelas nametag-nya."
Freya meregangkan otot sejenak kemudian duduk di kursi kebesarannya. Ia mulai berkutat dengan pekerjaannya.
#
#
#
Tak terasa waktu sudah menunjukkan saatnya jam makan siang. Freya masih sibuk berkutat dengan layar datar di depannya.
Freya terbiasa sibuk bekerja hingga terkadang melupakan makan siangnya. Ia hanya air mineral yang disediakan di atas mejanya.
Di sisi lain, Damian berjalan menuju ruangan Freya dengan membawa sekotak makanan untuk gadis itu. Namun ketika tiba disana, tentu saja Damian di hadang oleh Vicky.
"Berhenti! Mau kemana?" tanya Vicky dingin.
"Ya mau ke ruangan nona Bos lah, masa mau ke toilet," ucap Damian dengan nads bercanda.
"Apa yang kamu bawa itu?" tanya Vicky ketika melihat bungkusan di tangan Damian.
"Oh ini? Ini pesanan makan siang nona Bos. Saya datang membawakannya."
"Tapi sepertinya nona Freya tidak memesan apapun! Biasanya dia menghubungi saya jika dia butuh sesuatu."
"Ya kalau butuh makanan ya menghubungi OB lah, masa pengawal." Damian berusaha bermain cantik di depan Vicky. Padahal dalam hati ia sudah sangat kesal karena Vicky seakan tidak mau kalah dalam berargumen.
"Baiklah! Serahkan makanannya pada saya!" perintah Vicky.
"Yo jangan tho! Kan nona Bos yang memesan, saya harus pastikan nona Bos menerimanya tanpa ada komplain. Saya sendiri yang harus memastikannya." kukuh Damian.
"Dengar ya!" Vicky melirik kearah nametag Damian.
"Dengar ya, Udin! Khusus untuk nona Freya saya sendiri yang akan memastikan semuanya aman! Jadi saya yang akan mengantar makanan ini ke nona Freya!"
"Eh ndak bisa begitu. Ini adalah tanggung jawab saya untuk memastikan makanan ini diterima oleh nona bos!" Damian benar-benar pintar berkilah.
Hingga akhirnya pintu ruangan Freya terbuka dan muncullah sosok yang di tunggu Damian.
"Ada apa ini? Kenapa ribut di depan ruangan saya? Mister V, ada apa ini?" tanya Freya dengan suara tegas namun lebut.
"Maaf Nona. OB baru ini memaksa masuk ke ruangan Nona. Dia bilang Nona memesan makanan untuk makan siang dan dia ingin mengantarnya langsung untuk Nona. Saya hanya memastikan jika makanan itu baik dan tidak beracun."
Damian mengepalkan tangan mendengar alasan Vicky.
"Racun gundulmu! Aku sangat mencintai Freya mana mungkin aku meracuninya!" sungut Damian dalam hati.
Freya cukup terkejut dengan apa yang dijelaskan Vicky. Ia mengingat-ingat apakah memang dirinya memesan makanan atau tidak. Tapi seingatnya, ia tidak memesan makanan apapun.
"Baiklah, kemarikan makanannya. Aku memang memesannya."
Damian berbinar senang dan menyerahkan kotak makanan pada Freya.
"Terima kasih ya, Udin," ucap Freya sambil membaca nametag di dada kanan Damian.
"Iya, nona bos. Sama-sama. Kalau begitu saya permisi. Jangan lupa dimakan ya, nona bos."
Damian pamit undur diri dari depan ruangan Freya. Sementara gadis itu menatap kepergian Udin dengan sebuah senyum kecil di wajahnya.
"Bang, lain kali tidak perlu terjadi hal seperti ini lagi ya. Malu kan kalau ada yang lihat. Lagipula ini hanya masalah sepele." lerai Freya.
"Tapi, Nona... Saya hanya memastikan jika semua itu tidak membahayakan nona."
"Ini hanya makanan, Bang. Dan aku lihat OB baru itu cukup rajin dan bertanggung jawab dalam pekerjaannya."
"Maafkan saya, Nona."
Freya mengangguk. "Sebaiknya abang istirahat dulu saja. Aku akan makan siang di ruanganku."
"Baik, Nona." Vicky pamit dari hadapan Freya.
Gadis itu masuk ke dalam ruangannya lalu duduk di sofa. Sebenarnya ia merasa heran dan ingin bertanya kenapa si OB baru melakukan hal ini padanya. Tapi Freya bukan tipe orang yang tidak menghargai orang lain.
Freya membuka kotak bungkusan makanan yang ternyata berlabel restoran jepang. Mata Freya berbinar.
"Dari mana dia tahu kalau aku lagi pengen makan makanan jepang?" gumam Freya.
"Sepertinya aku harus berterimakasih padanya."