
Rizka mulai menggeliat dan membuka matanya. Ia mengerjap perlahan sambil mencoba memahami apa yang terjadi semalam dengan dirinya dan Edo.
Rizka melihat sampingnya dan melihat Edo masih terlelap. Rizka menutupi wajahnya dengan selimut. Dirinya masih dalam keadaan polos sekarang karena terlalu lelah hanya sekedar memakai kembali pakaiannya yang masih berserakan di lantai.
Wajah Rizka merona mengingat malam hangat yang mereka lewati bersama semalam. Rizka tak menyangka jika kini dirinya sudah benar-benar menjadi milik Edo seutuhnya.
Rizka beranjak dari tempat tidur dengan hati-hati. Masih sedikit perih di area sensitifnya ketika ia akan bergerak.
"Apa memang seperti ini rasanya?" batin Rizka.
"Tapi, aku senang karena aku memberikannya untuk suamiku," lanjutnya dalam hati.
Rizka bangkit dari ranjang dan menuju ke kamar mandi. Rizka harus membersihkan diri terlebih dahulu sebelum ia menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Usai bebersih, Rizka menuju dapur kecil yang ada di kamar hotel itu. Sepertinya Edo sudah mempersiapkan semuanya dengan baik.
Rizka membuka lemari kecil yang ada di dapur. Tidak ada apapun disana selain roti dan selai. Mau tak mau Rizka harus memakan itu karena perutnya juga sudah meminta untuk di isi.
"Sayang..." panggil Edo yang baru terbangun. Ia memakai kimono dan menghampiri Rizka.
"Kamu masak?" tanya Edo.
"Tidak. Tidak ada yang bisa di masak juga. Hanya roti. Tidak apa kan kamu sarapan roti saja?"
"Tentu tidak apa. Aku terbiasa makan roti juga untuk sarapan. Kamu sudah mandi?" Edo memegangi rambut Rizka yang masih basah.
"Iya. Aku kan harus bangun pagi untuk menyiapkan semua kebutuhan suamiku," balas Rizka.
"Haaah! Padahal aku ingin mengajakmu mandi bersama," keluh Edo.
"A-apa?!"
"Jangan kaget begitu. Aku sudah melihat semuanya, jadi tidak perlu malu!" Edo menatap Rizka intens.
"Tapi ... aku belum terbiasa." Rizka tertunduk malu.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu jika kamu belum terbiasa. Kalau begitu aku mandi dulu ya." Edo mengecup kening Rizka sebelum berlalu.
Ada rasa bersalah dalam hati Rizka ketika melihat Edo pergi dengan rasa kecewa. Ya meskipun suaminya mau memaklumi, tapi tetap saja ini semua terjadi karena dirinya yang masih terlampau malu dan belum terbiasa dengan kehadiran Edo dalam kesehariannya.
#
#
#
Tok tok tok
"Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Tuan," ucap Josh menginterupsi Damian yang sedang memeriksa berkas.
"Hmm, siapa?"
Seorang wanita cantik tinggi semampai masuk ke dalam ruangan Damian.
"Hai, Dam. Masih ingat denganku?" sapa wanita cantik itu dengan senyum mengembang.
"Rachella?" gumam Damian.
"Akhirnya kita bisa bertemu lagi. Kira-kira sudah berapa lama ya? Lima tahun mungkin?"
"Kau pergi setelah pemakaman Samuel," ucap Damian dingin.
"Emh, kantormu lumayan juga. Aku terkejut saat mendengar jika kau memutuskan pindah ke Indonesia. Aku pikir kau akan terus menetap di Jerman."
"Ah, Tuan Damian sudah ditunggu oleh klien. Mari Tuan!" ucap Josh.
Damian bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Rachella.
"Maaf Rachella, aku harus pergi! Sebaiknya kau pulang saja!" ucap Damian sambil mempersilakan gadis bernama Rachella itu keluar dari ruangannya.
Sepeninggal Rachella, Damian berterimakasih pada Josh yang sudah membantunya.
"Terima kasih, Josh."
"Sama-sama, Tuan."
"Kenapa dia bisa datang kesini? Sejak kapan dia di Indonesia?" tanya Damian menuntut sebuah jawaban pasti dari Josh.
Asisten Damian ini adalah pria yang cerdas. Sudah pasti semua hal yang Damian tanyakan harus bisa ia jawab.
Josh membuka tablet pintarnya dan menyerahkannya pada Damian.
"Tuan Andi dikabarkan jatuh sakit. Jadi, nona Rachella di haruskan pulang ke tanah air," jawab Josh.
Damian selesai membaca berita mengenai kembalinya Rachella ke dalam kehidupannya. Ia mengembalikan tablet pintar milik Josh.
#
#
#
Esok harinya, Rachella kembali datang ke kantor Damian. Tentu saja Josh tidak bisa mencegah kehadiran wanita cantik yang sudah dikenal Damian sejak kecil ini.
"Hai, Dam!"
Tanpa sungkan Rachella langsung duduk di sofa ruangan Damian.
Dengan marah Damian menutup berkas lalu menghampiri Rachella.
"Mau apa lagi kau kemari?" tanya Damian.
Rachella bangkit dari duduknya dan berdiri berhadapan dengan Damian.
"Rileks, Dam. Kita sudah lama tidak bertemu dan kau masih saja bersikap dingin padaku. Aku sedih!" rajuk Rachella.
Damian membuang muka. Rachella mengusap dada Damian.
"Aku sudah tiba di Indonesia sejak seminggu lalu. Dan juga aku datang ke pernikahan Edo. Aku tidak menyangka dia akan lebih dulu menikah dari pada kau. Apa kau masih terus menunggunya?"
"Iya, aku masih terus menunggunya. Dan aku sudah mendapat apa yang kuinginkan, jadi..."
"Damian!"
Sebuah suara membuat kedua orang yang ada di ruangan itu menoleh.
"Freya?" gumam Damian.
Mata Freya menelisik gadis yang sedang bersama dengan kekasihnya. Gadis dengan postur tubuh sempurna dan memiliki wajah yang sangat cantik dengan rambut berwarna coklat terang.
"Siapa dia?" tanya Freya dengan menunjuk gadis itu.
"Hai, Freya! Kau tidak ingat denganku? Aku Rachella, sahabat kecil Damian." Rachella menghampiri Freya dan mengulurkan tangannya.